NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

9. TGD.9

Bus antar kota itu menderu, membelah jalanan aspal yang berkelok-kelok menuju arah utara. Di dalamnya, Shelly duduk dengan mata yang tak lepas menatap jendela. Pemandangan gedung-gedung tinggi yang kaku kini telah berganti menjadi deretan pohon kelapa dan hamparan hijau yang sangat ia rindukan. Hatinya membuncah. Setiap putaran roda bus terasa lambat bagi Shelly yang sudah tidak sabar ingin menghirup aroma tanah desanya setelah enam bulan yang panjang dan melelahkan di belantara beton.

Di pangkuannya, sebuah tas plastik berisi sepatu sekolah baru untuk si bungsu dan sebuah kemeja batik baru untuk Bapak yang ia beli dari hasil menyisihkan uang saku beasiswanya selama satu semester. Shelly sengaja tidak memberi tahu jam pastinya ia akan sampai. Ia ingin memberikan kejutan kecil bagi keluarganya.

---

Saat bus berhenti di simpang tiga desa, matahari sudah mulai condong ke barat. Shelly turun, memanggul tas ranselnya dan menarik koper tua yang kini terasa lebih ringan karena bebannya telah berganti menjadi rasa rindu. Ia memilih berjalan kaki menuju rumahnya. Udara desa yang segar dan bebas polusi langsung menyapa paru-parunya, memberikan kesejukan yang tidak pernah ia temukan di asrama kota.

"Loh, Shelly? Shelly Anindya sudah pulang, Nduk?" tegur seorang tetangga yang sedang menggembala kambing di pinggir jalan.

Shelly tersenyum lebar dan mengangguk sopan. "Enggeh, Bude. Libur kuliah sebentar."

Berita kepulangan "anak pintar" itu seolah menyebar lebih cepat dari angin. Sepanjang jalan menuju rumah, orang-orang menyapa Shelly dengan nada bangga. Di desa mereka, Shelly adalah simbol harapan—bukti bahwa anak petani pun bisa menginjakkan kaki di universitas ternama.

---

Setibanya di depan halaman rumah kayu itu, Shelly terpaku. Segalanya masih sama. Jemuran baju Ibu yang tertiup angin, tumpukan kayu bakar di samping rumah, dan sepeda tua Bapak yang bersandar di pohon mangga. Dari arah dapur, tercium aroma gorengan tempe yang sangat ia kenali. Shelly melangkah pelan menuju pintu depan yang terbuka.

"Assalamu’alaikum..." ucap Shelly dengan suara bergetar.

Keheningan sejenak pecah saat terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah dapur. Ibu muncul dengan tangan yang masih basah karena baru saja mencuci piring. Begitu melihat sosok gadis di depan pintu, Ibu mematung. Matanya berkaca-kaca, lalu tangis harunya pecah seketika.

"Shelly! Anakku..." Ibu langsung menghambur memeluk Shelly erat-erat. Aroma keringat Ibu dan bumbu dapur yang menempel di bajunya terasa seperti parfum paling wangi di dunia bagi Shelly.

"Ibu... Shelly kangen sekali," bisik Shelly di pelukan Ibunya.

Tak lama, si bungsu yang baru pulang bermain bola di lapangan lari terbirit-birit masuk ke rumah. "Kakak! Kakak beneran pulang!" teriaknya sambil langsung menubruk kaki Shelly. Shelly tertawa sambil mengusap kepala adiknya yang penuh keringat.

"Mana Bapak, Bu?" tanya Shelly setelah melepas rindu dengan Ibu dan adiknya.

"Bapakmu masih di sawah sepetak itu, Nduk. Tadi katanya mau menyelesaikan pembersihan saluran air sebelum maghrib. Abangmu juga di sana bantuin," jawab Ibu sambil menghapus air mata di pipinya. "Ayo masuk, Ibu buatkan teh hangat dulu. Kamu pasti capek sekali."

"Nggak, Bu. Shelly mau ke sawah sekarang. Shelly kangen Bapak," ujar Shelly mantap. Ia hanya meletakkan koper di ruang tamu, lalu segera berlari kecil menuju sawah yang letaknya tak jauh di belakang perkampungan.

---

Di kejauhan, di antara hamparan padi yang mulai menguning, Shelly melihat dua sosok pria yang sangat ia cintai. Bapak sedang membungkuk di pinggiran galengan, sementara Abangnya sedang memikul cangkul. Shelly berdiri di pinggir pematang, lalu berteriak sekuat tenaga.

"Bapaaaaakkkk! Abannnggg!"

Pria tua itu mendongak, menyipitkan mata untuk menghalau silau matahari sore. Begitu menyadari siapa yang berdiri di sana, Bapak menjatuhkan aritnya. Ia berjalan tergesa-gesa, melintasi lumpur sawah tanpa peduli kakinya yang kotor.

Shelly berlari menyongsong Bapaknya. Di tengah galengan sawah, mereka bertemu. Shelly meraih tangan Bapak yang berlumpur dan menciumnya dengan penuh khidmat. Bapak kemudian memegang kedua bahu Shelly, menatap wajah anaknya dengan binar kebanggaan yang tak terlukiskan.

"Kamu makin kurus, Nduk. Tapi matamu makin bersinar," ucap Bapak dengan suara parau. "Terima kasih sudah berjuang di sana. Bapak dengar nilaimu bagus sekali."

"Semua karena doa Bapak," jawab Shelly sambil tersenyum.

Abangnya menyusul, memberikan tepukan bangga di pundak Shelly. "Tuh kan, apa Abang bilang. Orang pintar nggak akan kalah sama kerasnya kota. Selamat ya, Dik. Abang bangga sama kamu."

Sore itu, mereka berjalan pulang bersama-sama. Shelly berjalan di antara Bapak dan Abangnya, mendengarkan cerita tentang sawah, tentang harga pupuk yang naik, dan tentang bagaimana seisi desa membicarakan keberhasilannya. Shelly menyadari satu hal: keberhasilannya di kampus bukan hanya miliknya sendiri, tapi merupakan napas baru bagi seluruh keluarganya.

---

Malam harinya, rumah kayu itu terasa sangat hidup. Ibu memasak ayam jago yang paling besar, persis seperti janji Bapak di telepon waktu itu. Mereka makan lesehan di ruang tengah dengan lampu kuning yang temaram namun hangat.

"Ini buat Adek," kata Shelly sambil memberikan kotak sepatu. Mata adiknya berbinar melihat sepatu baru yang bermerek itu—sesuatu yang selama ini hanya bisa ia lihat di televisi.

"Dan ini buat Bapak," lanjut Shelly menyerahkan kemeja batik. "Pakai ini ya Pak kalau ada acara di desa. Bapak harus kelihatan gagah sebagai bapaknya calon sarjana."

Bapak menerima kemeja itu dengan tangan bergetar. "Harusnya uangnya kamu simpan buat makan di sana, Nduk. Bapak masih punya baju lama."

"Gak apa-apa, Pak. Shelly pengen Bapak seneng," jawab Shelly lembut.

Setelah makan malam, di sela-sela obrolan, Shelly mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya. Itu adalah cetakan nilai hasil studinya yang telah ia bingkai dengan plastik sederhana. Ia menunjukkannya kepada Bapak dan Ibu.

"Lihat Pak, Bu. Nama Shelly ada di sini, dan nilainya semua A. Beasiswa Shelly akan terus diperpanjang sampai Shelly lulus nanti. Sawah kita aman, Pak. Jangan pernah terpikir untuk menjualnya lagi ya."

Bapak terdiam lama menatap angka-angka di kertas itu. Meski beliau tidak sepenuhnya paham istilah-istilah di sana, beliau paham satu hal: anaknya telah membuktikan bahwa kemiskinan tidak bisa membelenggu mimpi.

"Nduk," ucap Bapak pelan, "Tadi siang, ada orang dari kabupaten datang. Mereka bilang, prestasi kamu di kota terdengar sampai ke dinas pendidikan. Mereka bilang kamu bisa jadi teladan buat anak-anak desa lainnya. Bapak merasa jadi orang paling kaya di dunia malam ini, bukan karena harta, tapi karena punya anak seperti kamu."

Shelly memeluk Bapak dan Ibunya bergantian. Malam itu, di bawah atap rumah yang dulu sering bocor saat hujan, Shelly merasa sangat tenang. Liburan ini bukan sekadar istirahat, melainkan momen untuk mengisi kembali jiwanya yang sempat kering di kota. Ia diingatkan kembali mengapa ia harus berjuang: untuk mereka, untuk rumah ini, dan untuk martabat keluarganya yang kini tegak berdiri.

---

Selama dua minggu liburannya, Shelly tidak menghabiskan waktu dengan berleha-leha. Di pagi hari, ia kembali mengenakan caping dan membantu Bapak di sawah. Di sore hari, ia mengumpulkan anak-anak desa di balai desa, mengajari mereka membaca dan bercerita tentang keajaiban ilmu pengetahuan.

"Kalian semua bisa ke kota, bisa kuliah seperti Kakak. Syaratnya cuma satu: jangan pernah malu jadi anak petani, dan jangan pernah malas untuk belajar," pesan Shelly kepada anak-anak itu.

Saat masa liburan hampir habis, Shelly bersiap untuk kembali ke kota untuk semester kedua. Kali ini, ia tidak berangkat dengan rasa takut. Ia berangkat dengan bekal semangat yang lebih besar. Ia membawa lebih banyak sambal teri buatan Ibu, doa yang lebih kuat dari Bapak, dan tekad yang sudah sekeras baja.

Perjalanan pulang kampung ini telah menguatkan akarnya, sehingga saat ia kembali ke "hutan" beton nanti, ia akan tumbuh lebih tinggi lagi, hingga suatu hari nanti, ia bisa membawa seluruh keluarganya melihat dunia dari puncak kesuksesannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!