Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Masa Kecil
Dinding marmer kamar mandi yang dingin menjadi saksi bisu betapa hancurnya pertahanan diri Almira. Air dari pancuran masih mengalir, membasahi daster sutra yang kini terasa seberat beban hidupnya. Di luar pintu, gedoran tangan Alex mulai melambat, berganti dengan suara parau pria itu yang terus memanggil namanya. Namun, perhatian Almira teralihkan oleh getaran ponsel yang ia letakkan di atas wastafel.
Awalnya ia ingin membiarkannya mati, mengira itu adalah rentetan notifikasi kebencian lainnya. Namun, sebuah nama muncul di layar kunci—nama yang sudah bertahun-tahun tidak ia dengar, nama yang membawanya kembali ke masa-masa ketika hidupnya hanya sebatas sawah hijau dan tawa di pinggir sungai desa.
"Sari".
Sari adalah sahabat masa kecilnya, teman sebangku saat SD, orang yang tahu betapa susahnya Almira berjuang merawat ibunya yang sakit sebelum akhirnya ia terpaksa merantau menjadi pelayan. Dengan tangan gemetar, Almira meraih ponsel itu dan membuka pesan WhatsApp yang masuk.
"Al... ini beneran kamu? Aku liat di berita, di TokTok, di mana-mana foto kamu kepajang. Mereka bilang kamu istrinya Alexander Eduardo. Al, kenapa kamu nggak pernah cerita? Dan kenapa orang-orang itu jahat banget mulutnya sama kamu?"
Air mata Almira kembali luruh, tapi kali ini rasanya berbeda. Bukan air mata kemarahan, melainkan air mata kerinduan akan rumah yang sesungguhnya.
Belum sempat ia membalas, ponselnya berdering. Sari menelepon. Almira ragu sejenak, namun kebutuhan akan suara yang mengenalnya sebagai "Almira si gadis desa", bukan "Almira si penggoda harta", membuatnya menekan tombol hijau.
"S-Sari..." suara Almira tercekat.
"Almira! Ya Tuhan, Al! Kamu beneran nggak apa-apa?" Suara Sari terdengar cemas di seberang sana. "Aku sedih banget baca komentar orang-orang yang nggak tahu apa-apa itu. Mereka bilang kamu cuma mau hartanya? Mereka nggak tahu kan dulu kamu rela nggak makan siang demi beli obat buat Ibu? Mereka nggak tahu seberapa tulusnya dan menderitanya kamu?"
Mendengar pembelaan itu, pertahanan Almira runtuh sepenuhnya. Ia terisak hebat di bawah kucuran air. "Sari... aku takut. Aku merasa nggak pantes di sini. Semua orang benci aku. Mereka bilang aku beban buat Alex."
"Dengerin aku, Al," Sari memotong dengan tegas. "Kamu itu kuat. Kamu itu berlian, mau ditaruh di lumpur atau di istana, kamu tetep berharga. Jangan dengerin netizen yang hidupnya cuma bisa menghujat. Mereka iri karena nggak punya hati selembut kamu. Al, kalau kamu ngerasa duniamu di sana terlalu berisik, pulanglah sebentar ke desa. Kita semua di sini kangen kamu."
Obrolan itu terhenti sejenak saat Sari ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Tapi Al... ada hal lain yang harus kamu tahu. Gara-gara berita ini trending, ada orang-orang asing dateng ke desa kita. Mereka nanya-nanyain soal masa lalu kamu, soal bapak kamu... mereka nyari celah buat jatuhin kamu lebih dalem lagi."
Jantung Almira berdegup kencang. "Siapa, Sari?"
"Mereka nggak bilang, tapi mereka pake mobil mewah, mirip orang-orang kantor gitu. Mereka bahkan nyoba nyuap Pak RT buat dapet catatan lama keluarga kamu. Al, sepertinya mereka mau pake masa lalu keluargamu buat nyerang kamu secara hukum."
Almira menutup mulutnya dengan tangan. Ia segera sadar, ini adalah bagian dari rencana Nadia Mahendra. Nadia tidak hanya ingin menyerang mentalnya lewat media sosial, tapi juga ingin menggali "aib" atau kemiskinan masa lalunya untuk membuktikan di pengadilan waris bahwa ia berasal dari garis keturunan yang tidak layak bersanding dengan Eduardo.
"Makasih, Sari. Makasih udah kasih tahu aku. Jaga dirimu di sana ya," ucap Almira sebelum menutup telepon.
Almira mematikan air pancuran. Ia berdiri, menatap bayangannya di cermin. Matanya bengkak, tapi ada kilatan baru di sana. Suara Sari mengingatkannya bahwa ia punya akar, ia punya identitas yang nyata, bukan sekadar karakter yang diciptakan netizen di internet.
Ia membuka pintu kamar mandi. Alex masih di sana, duduk di lantai bersandar pada tempat tidur dengan kepala tertunduk. Begitu melihat Almira keluar dalam keadaan basah kuyup, Alex langsung berdiri dan menyelimutinya dengan handuk besar.
"Al... maafkan aku. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan mereka," ucap Alex, suaranya penuh penyesalan.
Almira menatap suaminya. "Mereka menyerang desaku, Alex. Orang-orang suruhan Nadia mencari informasi di sana. Mereka ingin membuktikan bahwa aku tidak layak bukan hanya karena harta, tapi karena asal-usulku."
Alex mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka sudah kelewat batas."
"Alex," Almira memegang lengan suaminya. "Aku ingin pulang. Bukan untuk lari, tapi untuk menghadapi masa laluku sebelum mereka menggunakannya untuk menghancurkanmu. Aku harus memastikan mereka tidak menyakiti orang-orang di desaku."
Alex terdiam sejenak. Ia melihat tekad di mata istrinya yang selama ini ia anggap rapuh. "Kita tidak bisa pergi begitu saja, Al. Wartawan ada di mana-mana. Jika kita ke desa sekarang, itu akan jadi sirkus media."
Alex kemudian memanggil Rendy. "Rendy, siapkan helikopter pribadi di atap gedung kantor dalam satu jam. Kita akan pergi ke Bogor, tapi lewat jalur udara. Buat pengalihan isu dengan mengirim iring-iringan mobil kosong ke arah villa Puncak."
"Siap, Tuan," jawab Rendy cepat.
Namun, saat Rendy hendak keluar, ia tampak ragu. "Tuan... ada satu hal lagi. Pihak Mahendra sepertinya sudah mendapatkan akses ke catatan medis lama ayah Nyonya Almira. Mereka mencoba membangun narasi bahwa ada utang keluarga yang belum lunas yang bisa dijadikan dasar tuntutan penyitaan aset jika digabungkan dengan ketentuan warisan Anda."
Almira tersentak. Utang? Ayahnya memang orang miskin, tapi ia tidak pernah tahu soal utang besar.
Alex memeluk Almira erat. "Biarkan mereka mencoba, Al. Mereka lupa satu hal: Alexander Eduardo tidak pernah kalah dalam permainan yang ia buat sendiri. Jika mereka ingin bermain kotor di masa lalumu, aku akan membeli masa lalu itu dan membakarnya."
Malam itu, di bawah perlindungan kegelapan, mereka bersiap berangkat. Adrian digendong oleh perawat kepercayaan di bawah pengawasan ketat pengawal. Almira mengenakan pakaian sederhana, kerudung yang menutupi wajahnya, mencoba menghilangkan identitas "Nyonya Eduardo" sejenak.
Saat mereka melangkah menuju mobil yang akan membawa mereka ke landasan helikopter, Almira sempat melirik ponselnya sekali lagi. Komentar netizen masih mengalir deras, namun sekarang ia tidak lagi membacanya dengan air mata. Ia membacanya dengan kesadaran bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang hanya tahu kulitnya saja.
"Kamu siap?" tanya Alex saat mereka sudah berada di dalam helikopter, deru mesin mulai memekakkan telinga.
Almira mengangguk, menggenggam tangan Alex kuat-kuat. "Aku siap menghadapi apa pun, Alex. Asal kamu jangan pernah percaya pada apa yang mereka katakan tentangku."
Helikopter itu lepas landas, meninggalkan gemerlap lampu Jakarta yang kejam menuju kegelapan hutan dan perbukitan. Di bawah sana, Nadia Mahendra mungkin sedang merayakan kemenangannya di media sosial, namun ia tidak tahu bahwa Almira baru saja mendapatkan kembali kekuatannya lewat sebuah telepon sederhana dari seorang sahabat kecil.