"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Harapan yang Menolak Mati
Di taman belakang asrama yang gelap, hanya diterangi oleh lampu temaram dari jendela gedung, pertahanan Achell akhirnya runtuh. Gadis yang tadi berdiri tegak menantang Victor, kini terduduk lesu di bangku kayu, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya pecah, suara yang pilu dan sesak, memenuhi kesunyian malam.
"Achell... sudahlah, jangan menangis lagi. Kau membuatku ingin membakar Rolls-Royce pria itu sekarang juga!" Sophie duduk di sampingnya, mengelus punggung Achell dengan penuh perasaan. "Kau tidak salah. Semua orang melihat bahwa itu hanya fitnah murahan dari si ular Beatrice dan wanita hijau itu."
Achell menggeleng kuat-kuat di balik tangannya. "Bukan itu, Soph... Bukan fitnahnya yang menyakitkan."
"Lalu apa?" tanya Sophie gemas.
"Tatapan matanya," bisik Achell dengan suara serak. "Dia tidak membelaku. Sedikit pun. Dia menatapku seolah-olah aku memang mampu melakukan hal rendah seperti itu. Sepuluh tahun aku di sisinya, Soph. Sepuluh tahun! Tapi dia lebih memilih 'prosedur' daripada percaya padaku."
Julian berdiri di depan mereka, menyandarkan tubuhnya pada pohon besar dengan tangan terlipat. Matanya menatap Achell dengan iba yang mendalam. "Rachel, berhentilah mencari pembenaran untuk sikapnya. Pria itu sudah menunjukkan siapa dirinya sebenarnya."
"Tapi mungkin dia hanya bingung, Julian!" seru Achell tiba-tiba, menatap Julian dengan mata yang merah dan bengkak. "Mungkin dia hanya tidak ingin terlihat pilih kasih di depan banyak orang. Dia punya reputasi yang harus dijaga. Aku... aku yakin jauh di dalam hatinya, dia tahu aku tidak melakukannya."
Sophie menghela napas panjang, menatap langit dengan jengkel. "Astaga, Achell! Kau baru saja dipermalukan di depan seluruh sekolah, dituduh mencuri, dan dia diam saja! Berhenti menjadi bodoh! Berhenti mencarikannya alasan!"
"Aku tidak bisa!" Achell menangis lagi, kali ini lebih keras. "Aku ingin membencinya, sungguh. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak membutuhkannya. Tapi saat dia memanggil namaku tadi, hatiku masih berharap dia akan menarikku ke pelukannya dan meminta maaf. Aku benci diriku sendiri karena masih berharap padanya!"
Julian berjongkok di depan Achell, memegang kedua tangan gadis itu yang dingin. "Dengarkan aku, Rachel. Harapan itu bukan tanda kau bodoh, itu tanda bahwa hatimu tulus. Tapi kau harus tahu kapan harus berhenti memberikan air pada bunga yang sudah mati. Victor bukan lagi pelindungmu. Dia hanyalah orang asing yang kebetulan membiayai sekolahmu."
Achell terdiam, napasnya masih tersengal. Ia menunduk, menatap jari-jarinya. "Dia akan datang, kan? Besok... sebelum liburan, dia pasti akan datang ke sini untuk meminta maaf secara pribadi. Dia tidak mungkin membiarkan ini berakhir begini."
Sophie dan Julian saling berpandangan. Mereka melihat binar harapan yang masih tersisa di mata Achell sebuah harapan yang terasa sangat menyedihkan di tengah pengkhianatan yang baru saja terjadi.
"Jika itu membuatmu merasa lebih baik, tidurlah dengan pemikiran itu," ucap Julian lembut, meski ia tahu kemungkinan itu hampir nol. "Tapi jika besok dia tidak datang, berjanjilah padaku satu hal, Rachel."
"Apa?"
"Berjanjilah untuk mulai belajar membencinya. Sedikit saja," pinta Julian.
Achell tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, meski dalam hati ia tahu, mencintai Victor adalah satu-satunya hal yang ia kuasai sejak usia lima tahun. Membencinya terasa seperti harus belajar bernapas dengan paru-paru yang rusak.
Malam itu, Achell tidur dengan menggenggam sapu tangan pemberian Victor yang masih tersimpan di saku gaunnya. Ia menangis sampai tertidur, bermimpi bahwa Victor akan datang mengetuk pintu asramanya, berlutut, dan mengatakan bahwa ia menyesal.
Di saat yang sama, di sebuah bar mewah di pusat kota London, Victor Louis Edward sedang menatap gelas wiskinya yang kelima. Bayangan wajah hancur Achell terus menghantuinya.
"Kau keterlaluan, Victor," gumamnya pada diri sendiri.
Tangannya bergerak mengambil ponsel di saku, hendak menelepon asrama. Namun, keangkuhannya kembali berbisik: Jangan merendahkan dirimu. Dia hanya butuh waktu untuk tenang. Dia akan mengerti nanti.
Victor meletakkan kembali ponselnya. Ia memilih untuk menenggelamkan rasa bersalahnya dalam alkohol, tanpa tahu bahwa di asrama sana, ada seorang gadis yang terjaga sepanjang malam, menatap gerbang sekolah, menunggu mobil hitam yang tidak akan pernah datang.