Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dengan penuh percaya diri, Romeo mengangkat tubuh Alya bergaya bridal style lalu membawanya menuju mobil. Orang-orang di lokasi itu langsung terperangah, tak terkecuali Zaki pria yang sejak lama memendam rasa pada Alya serta gadis yang tadi sempat menghina Alya. Kekesalan jelas terpancar dari wajah mereka, karena dugaan mereka meleset jauh. Sosok yang berdiri di hadapan mereka bukanlah pria tua berperut buncit, melainkan seorang pria tampan, gagah, dan begitu memikat.
Sebelum benar-benar melangkah pergi, Romeo sempat menoleh ke belakang, sementara Alya masih berada dalam dekapannya.
“Jangan lagi menyebar fitnah tentang kekasihku. Sekali saja kalian mengulanginya, bersiaplah menanggung konsekuensinya.” ucap Romeo dingin penuh ancaman.
Mereka menelan ludah dengan susah payah. Keempat gadis itu kini diliputi kegugupan. Aura yang terpancar dari Romeo begitu kuat bukan aura mistis, melainkan wibawa dominan dan posesif yang tanpa sadar menyalakan rasa iri mereka terhadap Alya.
Usai melontarkan ultimatum kepada teman-teman kampus istrinya, Romeo mengalihkan pandangannya pada Alya, sorot matanya mengandung sedikit kekesalan.
“Tuan, apakah kita menuju rumah sakit?” tanya Bima ragu, suaranya terdengar hati-hati.
“Tidak usah. Langsung saja bawa dia pulang. Aku masih ada rapat sebentar lagi.” jawab Romeo dingin, seolah tak ingin diperdebatkan.
“Baik, Tuan.” jawab Bima singkat sambil mengangguk patuh.
Dalam hati, Bima mengumpat. Tuan besarnya benar-benar kejam sudah jelas istrinya tengah pingsan, namun tak sedikit pun terlihat rasa iba.
“Bima, mau tunggu apa lagi?” panggilnya agak keras ketika Bima justru terdiam, menatap lurus ke depan tanpa bergerak.
“Maafkan saya, Tuan.” ucap Pak Bima gugup.
Sepanjang jalan, Romeo berulang kali melirik Alya. Hatinya diliputi rasa bersalah membiarkan istrinya pingsan begitu saja. Jika saja wanita itu mengidap penyakit berat, dia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Sayangnya, semua itu luput dari perhatiannya.
“Ke rumah sakit. Cepat. Aku tidak mau menanggung akibat jika dia mati di sini.” ujarnya ketus.
Tanpa sepatah kata, Bima mengangguk patuh. Setir langsung ia putar, membawa mereka menuju rumah sakit tempat keluarga Andreas biasa menjalani perawatan.
Begitu mobil berhenti, Romeo segera turun dan menggendong Alya keluar. Tanpa membuang waktu, ia membawanya ke IGD. Namun setibanya di sana, kondisi Alya tak juga berubah wanita itu masih terbaring tak sadarkan diri, entah apa penyebabnya.
“Lakukan apa pun yang perlu di lakukan. Aku ingin dia sadar.” perintah Romeo dingin pada dokter itu.
“Kalau lo mengizinkan, gue ambil darah pasien ini buat pemeriksaan lab.” kata Zidan sambil menyiapkan alat.
“Lakukan saja.”
“Gue perlu tahu penyebabnya. Kejadian apa yang bikin dia akhirnya pingsan?” ucap Zidan serius.
“Seingat gue, dia baik-baik aja. Terus langsung pingsan.” ujar Romeo tanpa emosi.
Mengerti akan sikap Romeo, Zidan tak bertanya lagi. Fokusnya beralih pada Alya yang wajahnya nyaris tak berwarna, dengan tangan dan kaki yang dingin menusuk.
Hasil laboratorium Alya keluar setelah penantian yang membuat Romeo gelisah. Meeting yang sudah dijadwalkan terpaksa ia tunda ia tak mau memikul kesalahan jika keadaan Alya memburuk.
“Gue tahu sekarang kenapa dia bisa sampai pingsan.” kata Zidan, menyodorkan lembar hasil pemeriksaan.
“Bilang aja penyebabnya. Gue nggak bisa baca istilah-istilah itu.” katanya datar.
“Masalah utamanya karena dia nggak makan cukup lama. Kadar glukosanya turun, energi buat otak dan tubuh nggak terpenuhi. Dampaknya, tekanan darahnya kacau. Asam lambungnya juga meningkat, makanya dia sampai nggak sadar.” papar Zidan.
Hening menyergap Romeo. Ia mulai mengingat-ingat, mungkinkah Alya tak menyentuh makanan sejak malam.
“Menurut lo, sudah berapa lama dia nggak mengisi perutnya?” ujarnya serius.
“Udah hampir tiga hari. Darahnya sangat rendah,jujur aja, dia punya hubungan apa sama lo?” ucap Zidan serius.
“Perempuan itu istri gue.”
“Tunggu, istri? Lo menikah kapan? Perasaan lo pacaran sama Tania, kan?” tanya Zidan tak percaya.
“Itu bukan urusan lo. Yang jelas, dia istri gue. Jangan nyari masalah yang nggak ada, ngerti?” kata Romeo dingin.
Melihat sorot mata Romeo mengeras, Zidan memilih diam. Terlalu berisiko memancing emosi seorang donatur penting di tempat ia bekerja.
“Jadi, dia harus opname atau bisa langsung pulang? Gue nggak punya waktu lama.” ujarnya dingin.
“Tunggu sampai infusnya habis aja, itu udah cukup. Kalau lo mau dia dirawat di sini, juga bisa. Nanti gue yang jagain.” ucap Zidan tenang.
Raut Romeo mengeras. Ada rasa jengkel yang tiba-tiba muncul ketika ia menyadari Alya mampu menarik kepedulian banyak orang. Padahal, di matanya, Alya tak punya daya tarik apa pun.
“Gue nggak bisa lama-lama. Nanti sopir gue yang jemput dia.” ucapnya datar sambil melangkah pergi.
“Lo beneran pergi dan ninggalin istri lo?” tanyanya kaget.
“Gue masih punya urusan yang jauh lebih penting. Kondisinya juga nggak kritis,administrasinya nanti Satria yang ngurus.” Setelah itu, ia langsung pergi, meninggalkan Zidan yang hanya bisa menatapnya tak percaya.
“Lo egois, Rom. Nikah tapi nggak mau tanggung jawab.” gumamnya pelan, pandangannya tertuju pada Alya yang terbaring lemah.
Perlahan Alya membuka mata. Selang infus telah ia lepaskan, meninggalkan rasa perih samar di pergelangan tangannya. Tatapannya menyapu ruangan yang sunyi. Hatinya perih ia seorang istri, tapi sendirian.
“Sampai segininya dia nggak peduli sama gue. Tapi mau gimana lagi, berharap ke dia cuma buang-buang perasaan.” lirih Alya dalam hati.
Tak lama kemudian, Pak Bima dan Satria akhirnya datang setelah semua urusan administrasi Alya selesai mereka urus.
“Sekarang jam berapa?” tanya Alya lirih begitu melihat Pak Bima dan Satria.
“Kalau Nona sudah cukup kuat, saya antar kembali ke rumah.” kata Bima dengan hormat.
“ Romeo minta li langsung pulang. Soal anak-anak, biar gue yang urus.” terang Satria pelan, menangkap perubahan raut wajah Alya.
“Aku nggak bisa pulang dulu. Aku sudah berjanji sama mereka.” ucapnya pelan.
“Ini perintah Romeo. Lo harus pulang.” kata Satria tegas.
“Pak Bima, boleh tahu sekarang jam berapa?” ucap Alya mengalihkan perhatian.
“Sudah pukul sebelas.” ucap mereka serempak.
“Jam pulang mereka setengah dua belas. Nanti keburu mereka keluar, lebih baik langsung jemput si kembar.” kata Alya tegas.
“Gue cuma nyampein pesan. Kalau lo keras kepala, itu urusan lo.” ucapnya dingin lalu melangkah pergi.
Tanpa memikirkan ucapan Satria, Alya fokus pada tujuan. Mobil melaju ke arah sekolah si kembar yang berada cukup jauh. Perjalanan terasa lama karena jam istirahat siang mulai tiba, membuat jalanan ramai.
Sesampainya di sekolah si kembar, Alya merapikan diri sejenak, memoles tipis riasan di wajahnya. Wajahnya masih tampak pucat, dan ia tak ingin si kembar menjadi bahan cibiran hanya karena penampilannya.
Tanpa ragu, Alya memasuki lobi sekolah. Tatapan orang-orang kembali tertuju padanya. Ia berjalan anggun, memancarkan wibawa yang tak bisa diabaikan. Kacamata hitam menutupi matanya bukan karena perlu, tapi sebagai tameng terakhir dari sisa-sisa lelah yang ia rasakan.
“Ibu akhirnya jemput kami!” teriak si kembar bahagia, langsung menghampirinya.
Tanpa ragu, Alya berjongkok dan membuka kedua lengannya, menyambut si kembar dalam pelukan hangat.
“Aku senang banget, akhirnya dijemput ibu!” ucap Selina ceria.
“Pelajarannya bisa diikuti semua?” Alya bertanya penuh perhatian.
Wajah Serena mengeras saat menyadari banyak mata tertuju pada ibunya. Ia berdiri tegak, sorot matanya dingin dan penuh peringatan. Ia membenci siapa pun yang berani menatap ibunya terlalu lama.
“Tentu bisa! Tadi aku dapat bintang.” kata Selina bangga.
Menyadari Serena tak seceria Selina, Alya pun menoleh ke arah si sulung yang sejak tadi memilih diam.
“Kok kelihatannya murung, Sayang?” Alya bertanya lembut sambil tersenyum menenangkan ke arah Serena.
“Orang-orang itu nggak punya sopan santun, lihat Ibu terus.” kata Serena dingin.
Menyadari sindiran itu datang dari seorang anak kecil, orang-orang yang semula menatap Alya pun segera mengalihkan pandangan. Padahal hal itu wajar saja Alya memang tampak berbeda. Cantik, modis, dan memancarkan aura keibuan. Hanya suaminya sendiri yang bersikeras menganggap Alya tak memiliki daya tarik apa pun.
“Nggak apa-apa kalau orang melihat kita, Sayang. Yang penting kita tetap bersikap baik.” katanya lembut sambil tersenyum.
Tanpa aba-aba, sebuah suara menggema memanggil Serena dengan nada tinggi.
“Serena!” suara Gibran menggema, langkah kakinya dipercepat.
Bugh!
Serena terhuyung lalu jatuh ke belakang dengan benturan yang membuat Alya refleks berteriak panik.
“Sayang, bilang ke Ibu sakitnya di mana?” Alya menahan napas cemas.
Tubuh Serena basah oleh susu yang dibawa Gibran, cairannya tumpah dan membasahi seragamnya.
Dengan wajah pucat, Serena menggeleng kecil menahan pusing karena benturan sebelumnya. Sementara itu, mata Calista menangkap adegan berbeda, baginya Gibranlah yang tampak terjatuh lebih dulu.
“Gibran! Sayang, ada apa ini? teriak calista dengan suara bergetar, nyaris histeris.
Anak berparas blasteran itu tak mampu berbuat apa-apa selain menangis, tangannya mencengkeram dada seolah menahan sakit. Amarah Calista pun memuncak, sorot matanya tajam mengarah pada Serena dan Alya yang berdiri tanpa ekspresi.
“Memang anak tanpa didikan ibu itu begini, tak tahu sopan santun! Lihat anakku jatuh gara-gara ulahmu!” bentak Calista tepat di depan wajah Serena.
Alya tak bisa tinggal diam ketika anak sambungnya difitnah. Tangannya bergerak cepat, menahan dan menepis tangan Calista yang terlalu dekat dengan wajah Serena.
“Sebagai orang dewasa, Anda seharusnya tahu cara menjaga ucapan,putri saya tidak salah, dan saya tidak akan membiarkan siapa pun merendahkannya.” kata Alya tegas.
Sorot mata Calista mengeras, ekspresinya menolak mentah-mentah ucapan Alya. Keberanian wanita itu jelas menusuk harga dirinya.
“Sadar diri sedikit!Kau bukan ibu kandungnya. Jangan bertingkah angkuh hanya karena menikah dengan mahar mahal!” bentak Calista.
“Sebagai ibu sambung, aku justru memastikan anak-anakku tumbuh dengan etika,bukan diajari menyalahkan orang lain, terlebih memfitnah.” ucap Alya dingin.
Amarah Calista membuncah. Ia ingin menghancurkan mental Alya, memaksanya mundur dari peran ibu sambung bagi si kembar, namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Daripada menuduh, lebih baik dengarkan penjelasan anak Anda.” ucap Alya datar namun tajam.
“Aku tidak akan tinggal diam!Jika putraku kenapa-napa, kalian berdua akan aku seret ke hadapan hukum!” teriak Calista dengan wajah merah padam.
“Saya tidak takut ancaman,ada saksi mata dan kamera pengawas di sini. Jadi berhati-hatilah jika putri saya menjadi korban, tuntutan balik akan saya ajukan, termasuk atas tuduhan tak berdasar Anda.” kata Alya dingin.
Amarah Calista bercampur gusar. Meski ia bersikeras percaya pada Gibran, sikap Alya yang tanpa gentar melawannya tadi membuat benih ragu mulai tumbuh.
“Masih sakit, Nak?” suara Alya terdengar pelan dan penuh perhatian. Serena tak menjawab, matanya masih terpaku pada Gibran yang mulai gelisah.
“Aku nggak apa-apa, Ibu. Serena mau pulang saja.” ucapnya pelan sambil menunduk.
Tanpa berkata apa pun lagi, Alya menggandeng si kembar keluar dari area sekolah. Namun Selina sempat menoleh, menatap Calista dan Gibran dengan pandangan tajam penuh arti.
“Jangan senang dulu,papaku bakal datang dan kamu akan bertanggung jawab, Gibran.” kata Selina tajam.
Selina pun berlari menyusul ibu dan kakak kembarnya. Sementara itu, Calista mengepalkan tangannya erat, amarahnya membuncah hingga akhirnya.....
"Kejadiannya tidak seperti yang Anda tuduhkan,anak Anda yang berlari kencang dan menabrak Serena.” ujar Amanda datar.
Jantung Calista berdegup keras. Ia tak menyangka ada saksi yang melihat kejadian tersebut, walau Alya telah mengatakannya lebih dulu. Tak ingin memperpanjang masalah, Calista segera mengajak Gibran pulang.
Alya tak pernah tahu bahwa sejak awal ia berada dalam pantauan. Orang suruhan Romeo merekam segalanya dan mengirimkannya langsung pada sang tuan.
“Ini tidak biasa,perempuan itu berani.” senyumnya terbit tipis.
Di balik ketenangannya, Romeo menyimpan tekad kejam. Tak ada toleransi bagi siapa pun yang melukai anaknya, dalam bentuk apa pun.
“Menghina putriku adalah kesalahan fatal,aku akan memastikan kau membayar mahal, Calista di hadapan kedua anakku.” ucapnya pelan.
“Satria,lakukan pengambilan alih perusahaan Calista. Aku tak ingin ada celah. Dan pastikan putra Calista tak lagi berada di sekolah itu.” katanya tanpa menoleh.
“Baik,malam ini semua yang Anda minta sudah beres, Romeo.” jawab Satria singkat.