Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL MASA PELATIHAN DASAR
Kereta api berhenti tepat waktu di Stasiun Bandung pada pukul 10.30 pagi. Evan turun dengan membawa koper dan tasnya, melihat sekeliling dengan rasa kagum pada pemandangan kota yang lebih ramai dan tinggi dari Cirebon. Tak lama kemudian, sebuah bus berwarna hijau tua dengan lambang Angkatan Darat Indonesia datang menjemputnya dan beberapa calon prajurit lainnya.
"Salam prajurit muda!" ujar Sersan Jaya yang menjaga bus dengan suara yang kuat. "Silakan naik dan tempatkan barang bawaanmu dengan rapi di bagian belakang. Kita akan segera tiba di Akademi Militer Kodam III/Siliwangi."
KEHADIRAN DI AKADEMI
Setelah perjalanan sekitar 45 menit, bus memasuki gerbang akademi yang megah dengan pagar tinggi dan menara pengawal di kedua sisinya. Di dalam, hamparan lahan hijau luas terlihat dengan berbagai fasilitas pelatihan – lapangan olahraga, gedung kelas, asrama, dan area latihan khusus yang sudah terlihat ramai dengan calon prajurit dari berbagai daerah Indonesia.
"Sampai tujuan!" teriak Sersan Jaya saat bus berhenti di halaman utama. "Semua calon prajurit turun sekarang! Bariskan diri dengan rapi sesuai abjad nama!"
Evan segera menuruni bus dan bergabung dengan barisan yang mulai terbentuk. Suasana di akademi terasa sangat berbeda dari kehidupan yang ia kenal – setiap orang bergerak dengan cepat dan teratur, seragam militer terlihat rapi, dan suara perintah terdengar jelas di setiap sudut.
Setelah barisan terbentuk dengan rapi, seorang Perwira Mayor yang mengenakan seragam dengan banyak piala penghargaan datang menghadap mereka.
"Saya adalah Mayor TNI Rudianto, Komandan Pelatihan untuk angkatan ini," ujarnya dengan suara yang lantang dan jelas terdengar oleh semua orang. "Selamat datang di Akademi Militer Kodam III/Siliwangi. Mulai saat ini, kalian bukan lagi warga sipil biasa – kalian adalah calon prajurit yang akan melayani negara dengan segenap hati."
Setelah sambutan singkat, calon prajurit dibagi menjadi beberapa kelompok dan diarahkan ke ruangan kelas untuk mendapatkan pengenalan tentang aturan dan tata tertib akademi. Evan masuk ke Kelompok 3, bersama dengan 29 calon prajurit lainnya dari berbagai daerah seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.
"Ini bukan tempat liburan atau sekolah biasa," jelas instruktur Sersan Anita kepada kelompok Evan. "Di sini, kalian akan diajarkan tentang disiplin, kesetiaan, kerja sama tim, dan tanggung jawab yang tinggi terhadap negara dan masyarakat."
Ia membacakan aturan-aturan penting dengan suara yang tegas:
- Waktu: Semua aktivitas harus dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tidak ada keleluasaan untuk terlambat.
- Seragam: Seragam harus selalu rapi dan bersih. Kerapian adalah bagian dari kedisiplinan.
- Kebersihan: Asrama dan lingkungan akademi harus selalu dijaga kebersihannya. Setiap orang bertanggung jawab atas area yang menjadi tanggung jawabnya.
- Kerja sama: Tidak ada yang bisa berhasil sendiri di sini. Kalian harus belajar untuk bekerja sama sebagai satu tim yang solid.
- Hormat: Hormati perwira, instruktur, dan sesama calon prajurit. Kesopanan adalah dasar dari kehormatan seorang prajurit.
"Ini hanya sebagian kecil dari aturan yang harus kalian patuhi," tambah Sersan Anita. "Seluruh buku peraturan akan diberikan kepada kalian nanti. Pelajari dengan baik dan patuhi setiap poinnya – karena setiap pelanggaran akan memiliki konsekuensi yang sesuai."
Setelah pengenalan aturan selesai, Evan dan teman-teman sekelompok diarahkan ke ruang perlengkapan untuk menerima seragam dan perlengkapan pelatihan. Ia menerima seragam PDH (Pakaian Dinas Harian), seragam olahraga, seragam latihan lapangan, serta perlengkapan seperti alas tidur, perlengkapan makan, dan peralatan tulis.
"Simpan semua barang bawaanmu dengan rapi di loker yang telah diberikan," instruksi dari Sersan Budi yang mengawasi pemberian perlengkapan. "Barang pribadi yang tidak diperbolehkan akan disimpan di gudang hingga akhir masa pelatihan. Ini termasuk barang elektronik seperti ponsel pintar, musik player, dan barang dekoratif lainnya."
Evan merasa sedikit berat hati harus menyerahkan ponselnya, karena itu adalah satu-satunya cara untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga dan Rina. Namun ia memahami bahwa ini adalah bagian dari proses untuk membentuk kedisiplinan dan fokus pada pelatihan.
"Ini adalah untuk kebaikan kalian semua," jelas Sersan Budi melihat ekspresi beberapa calon prajurit yang kecewa. "Dengan tidak memiliki akses ke barang elektronik, kalian bisa lebih fokus pada pelatihan dan belajar untuk bersosialisasi secara langsung dengan teman sekampungmu."
Asrama yang ditempati oleh Kelompok 3 adalah ruangan luas yang bisa menampung 30 orang dengan ranjang yang disusun rapi berbarengan. Setiap ranjang memiliki loker kecil untuk menyimpan barang pribadi dan meja kecil untuk belajar.
Evan ditempatkan di ranjang nomor 15, di sebelah seorang pemuda bernama Rio dari Medan yang juga diterima dalam program khusus Korps Medis. Rio memiliki wajah yang ramah dan segera menyapa Evan dengan hangat.
"Salam kenal, Evan. Saya dengar kamu diterima dengan kategori terbaik ya?" ujar Rio dengan senyum. "Semoga kita bisa saling membantu selama pelatihan ini."
"Salam kenal juga, Rio," jawab Evan dengan senyum kembali. "Tentu saja, kita harus saling mendukung satu sama lain."
Dalam waktu singkat, mereka sudah mulai bekerja sama untuk menata asrama – menyusun ranjang dengan rapi, menyimpan barang dengan tertib, dan membersihkan area sekitar. Meskipun baru saja bertemu, suasana kebersamaan sudah terasa kuat di antara anggota kelompok.
"Sekarang kalian sudah melihat kehidupan baru kalian di sini," ujar Sersan Anita yang datang memeriksa asrama. "Mulai besok pagi pukul 04.00, kita akan mulai dengan latihan pagi yang keras. Istirahatlah dengan baik malam ini, karena besok akan menjadi hari yang panjang dan menantang."
Malam itu, setelah makan malam yang sederhana namun bergizi di mess akademi, Evan dan teman-teman sekelompok berkumpul di asrama untuk berkenalan lebih jauh satu sama lain. Mereka berbagi cerita tentang latar belakang masing-masing, alasan ingin menjadi tentara, dan harapan mereka untuk masa depan.
Banyak dari mereka memiliki alasan yang berbeda – ada yang ingin melayani negara, ada yang ingin mendapatkan pendidikan yang baik melalui beasiswa militer, dan ada juga yang ingin mengikuti jejak keluarga yang juga pernah menjadi prajurit.
"Saya ingin menjadi dokter militer untuk membantu prajurit yang bertugas di daerah terpencil," ujar Rio ketika gilirannya bercerita. "Ayah saya adalah seorang prajurit yang pernah bertugas di Papua, dan dia sering bercerita tentang betapa sulitnya mendapatkan layanan kesehatan yang baik di sana. Saya ingin mengubah itu."
Evan juga berbagi cerita tentang Kakek Darmo, warisan ilmu tradisional yang diterimanya, dan impiannya untuk menggabungkannya dengan ilmu kedokteran modern dalam layanan kesehatan militer. Teman-temannya mendengarkan dengan penuh kagum dan minat, banyak yang bertanya tentang ilmu pengobatan tradisional yang ia pelajari.
"Sangat menarik sekali," ujar salah satu teman sekelompok. "Saya tidak menyangka bahwa ilmu tradisional bisa begitu kompleks dan bermanfaat. Semoga kamu bisa mengembangkannya di sini dan membantu banyak orang."
Sebelum waktu tidur tiba pukul 21.00, Evan mengambil waktu sebentar untuk duduk di sudut asrama, melihat foto keluarga yang ia bawa dalam kotak kayu kecil dari ayahnya. Ia juga menyentuh kedua kalung di lehernya, merasakan kekuatan dan dukungan dari leluhurnya.
"Saya sudah sampai di sini, Kakek," bisiknya dengan hati yang penuh tekad. "Meskipun kehidupan di sini sangat berbeda dan pasti akan ada banyak tantangan, saya siap menghadapinya. Saya akan menjalani setiap pelatihan dengan sungguh-sungguh dan tidak akan pernah melupakan tujuan saya untuk membantu orang lain."
Ketika bel waktu tidur berbunyi, Evan segera menata tempat tidurnya dan berbaring dengan mata tertutup. Ia merasakan kelelahan setelah hari yang panjang dan penuh dengan hal baru, namun juga merasa semangat dan siap untuk menghadapi hari pertama pelatihan dasar yang akan datang esok pagi.