NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Ruang rapat utama Pratama Group terasa seperti oven yang siap meledak.

Suhu udara diatur rendah, namun ketegangan di dalamnya membuat semua orang berkeringat dingin.

Di tengah meja oval yang besar, sebuah monitor raksasa menampilkan barisan kode enkripsi yang bergerak cepat—sebuah labirin logika yang telah melumpuhkan operasional di Yogyakarta.

Beberapa ahli matematika senior dan peretas top yang didatangkan khusus hari itu tampak duduk dengan bahu merosot.

Di depan mereka, laptop-laptop canggih masih menyala, menampilkan pesan kesalahan yang sama: [ACCESS DENIED].

"Mustahil," gumam salah satu profesor matematika dari universitas ternama sambil menyeka kacamata tebalnya. "

"Ini bukan sekadar algoritma linear. Ini adalah sistem organik yang berubah setiap kali kita mencoba memasukkan kunci. Siapa pun yang membangun sandi ini adalah seorang jenius yang sangat paranoid."

Mita berdiri di pojok ruangan, melipat tangan di dada dengan napas memburu.

Ia menatap para ahli itu dengan tatapan merendahkan, meski di dalam hati ia ketakutan setengah mati.

"Jadi, tidak ada satupun dari kalian yang bisa membukanya?" bentak Mita.

"Kami membayar kalian mahal bukan untuk mendengar kata 'mustahil'!"

Pratama, yang duduk di kursi utama, hanya diam membeku.

Matanya sesekali melirik ke arah pintu. Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka, dan Diandra (dalam raga Gia) melangkah masuk dengan santai, menggendong tas ranselnya di satu bahu.

Kehadirannya membuat seluruh ahli di ruangan itu menoleh.

"Siapa anak ini? Apakah dia bagian dari tim kebersihan?" tanya salah satu peretas dengan nada mengejek.

Diandra tidak menjawab. Ia berjalan lurus menuju kursi kosong di barisan depan, tepat di depan monitor utama.

Ia meletakkan sebuah flashdisk tua di atas meja marmer yang mewah itu.

"Sesi ujiannya masih dibuka, kan?" tanya Diandra sambil menatap Pratama.

"Silakan," jawab Pratama pendek, mengabaikan geraman tidak setuju dari Mita.

Diandra menarik kursi, duduk dengan tenang, dan mulai mengetik di keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Bunyi ketikan jari-jarinya di atas papan ketik terdengar seperti senapan mesin yang ritmis, memecah keheningan ruangan yang mencekam itu.

Para ahli senior mulai bangkit dari duduk mereka, mendekat dengan rasa penasaran yang bercampur dengan skeptisisme.

Mereka ingin melihat bagaimana seorang siswi SMA akan gagal di tempat mereka telah tumbang.

Diandra menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang terlalu besar untuk tubuh kecil Gia.

Ia melipat tangan, matanya menatap tajam ke arah dua kandidat terakhir—pria-pria paruh baya bergelar doktor yang kini mulai berteriak frustrasi di depan monitor.

"Ini tidak masuk akal! Variabelnya terus berubah setiap sepuluh detik!" seru salah satu dari mereka sambil membanting tetikus ke meja.

Mita mendengus kasar, wajahnya memerah karena malu di depan para petinggi.

"Cukup! Kalau para ahli saja tidak bisa, apalagi anak ingusan ini. Pak Pratama, hentikan sandiwara ini dan cari solusi lain!"

Diandra berdiri perlahan. "Minggir," ucapnya singkat dengan nada yang begitu dingin hingga sang profesor refleks mundur.

Diandra duduk di depan komputer utama. Ia menatap barisan kode itu seperti menatap kawan lama.

Jari-jemarinya mulai menari di atas papan ketik. Bukan lagi suara ketikan biasa, melainkan simfoni kecepatan yang luar biasa.

Tap. Tap. Tap. Enter.

Layar yang tadinya berwarna merah peringatan, tiba-tiba berubah menjadi hijau neon yang menyejukkan.

[ENCRYPTION BROKEN. SYSTEM ONLINE.]

Seluruh orang di ruangan itu menahan napas. Mita terbelalak hingga hampir terjatuh. Namun, yang tidak mereka ketahui adalah apa yang dilakukan Diandra di balik layar perintah yang bergerak cepat itu.

Sambil memulihkan akses Yogyakarta, Diandra menyuntikkan baris kode hexadecimal tersembunyi.

Ia membangun sebuah "Pintu Belakang" (Backdoor) yang sangat canggih.

Ia mengunci beberapa fungsi vital perusahaan yang akan aktif kembali secara otomatis dalam 30 hari, kecuali ia sendiri yang memasukkan kunci pembaruan.

Ia tidak hanya ingin menyelamatkan perusahaan; ia ingin memastikan bahwa selama ia berada di tubuh Gia yang rapuh ini, Pratama Group—dan terutama Mita—akan selalu berlutut memohon bantuannya.

Diandra memutar kursinya, menatap Mita yang kini terpaku pucat.

"Sistem sudah kembali normal, Ibu Mita," ucap Diandra dengan senyum miring.

"Tapi saran saya, jangan biarkan orang-orang 'kompeten' pilihan Anda menyentuh sistem ini lagi, atau semuanya akan terkunci secara permanen. Dan kali ini, bahkan saya pun tidak akan bisa menolong."

Pratama mengepalkan tangannya di bawah meja, menyembunyikan rasa bangga yang luar biasa. Istrinya benar-benar seorang predator korporat yang tak terkalahkan, bahkan dalam wujud seorang remaja.

"Diko," suara Pratama menggema, "Buat kontrak konsultan khusus untuk Gia sekarang juga. Dia akan bekerja di bawah pengawasan langsung saya."

Mita ingin memprotes, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

Ia merasa seolah-olah hantu Diandra baru saja bangkit dan menampar wajahnya di depan semua orang.

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat setelah Pratama dan para petinggi lainnya keluar untuk memproses administrasi.

Diandra sengaja memperlambat gerakannya saat merapikan tas ranselnya, ia tahu seekor ular tidak akan membiarkan mangsanya pergi begitu saja tanpa mencoba sebuah negosiasi busuk.

"Gia!"

Suara Mita terdengar tajam dan mendesak.

Diandra berhenti, namun tidak berbalik. Ia membiarkan Mita melangkah mendekat dengan bunyi sepatu hak tinggi yang menghentak keras di atas lantai marmer.

Mita merogoh tas tangannya yang bermerek dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.

Dengan gerakan angkuh, ia melemparkan amplop

itu ke atas meja di depan Diandra.

"Di dalam sana ada lima puluh juta rupiah," ucap Mita dengan nada memerintah.

"Ambil uang itu, pulang ke rumah petakmu yang kumuh, dan tolak tawaran konsultasi dari Mas Pratama. Katakan padanya kamu mendadak sibuk dengan ujian sekolah atau apa pun. Aku tidak peduli."

Diandra perlahan berbalik. Ia menatap amplop cokelat itu, lalu beralih menatap wajah Mita yang penuh dengan kecemasan yang ditutupi oleh kesombongan.

"Hanya lima puluh juta?" tanya Diandra datar.

Mita mengernyitkan dahi.

"Apa? Kamu pikir itu sedikit? Itu lebih banyak dari uang jajanmu selama sepuluh tahun, bocah!

Ambil uang itu dan menghilanglah dari hadapan Pratama!"

Diandra terdiam sejenak, lalu tawa kecil yang kering keluar dari bibirnya.

Tawa yang terdengar sangat meremehkan, tipe tawa yang dulu selalu membuat Mita merasa terintimidasi saat berhadapan dengan kakaknya.

"Kenapa kamu tertawa?!" bentak Mita, wajahnya memerah.

"Aku tertawa karena ternyata setelah sekian lama, harga dirimu dan rasa takutmu masih semurah ini, Ibu Mita," ucap Diandra sambil mendorong amplop itu kembali ke arah Mita dengan ujung jarinya.

"Kamu..."

"Simpan saja uangmu untuk membeli obat penenang," potong Diandra, melangkah maju hingga ia berdiri sangat dekat dengan Mita.

"Karena setelah aku menandatangani kontrak dengan Pak Pratama, hidupmu tidak akan pernah tenang lagi. Aku tidak butuh uang recehmu. Aku lebih tertarik melihat bagaimana kamu akan menjelaskan kegagalan-kegagalanmu selanjutnya di depan dewan direksi."

"Beraninya kamu! Kamu tidak tahu siapa aku!" Mita mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan.

Namun, dengan gerakan yang lebih cepat, Diandra mencengkeram pergelangan tangan Mita di udara.

Kekuatan cengkeramannya membuat Mita meringis kesakitan.

"Aku tahu persis siapa kamu," bisik Diandra tepat di telinga Mita, suaranya sedingin es.

"Kamu hanyalah pencuri yang takut tertangkap. Dan kabar buruknya, pemilik rumah ini sudah kembali untuk menagih semuanya."

Diandra melepaskan tangan Mita dengan sentakan kasar, membuat wanita itu terhuyung ke belakang menabrak kursi.

Tanpa menoleh lagi, Diandra menyandang tasnya dan berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah yang mantap.

Di pintu keluar, ia melihat Pratama yang berdiri bersandar di dinding, rupanya sudah mendengarkan sebagian besar percakapan itu.

"Kamu terlalu kasar padanya, Sayang," goda Pratama dengan senyum tipis di bibirnya.

"Dia layak mendapatkan yang lebih buruk, Mas," jawab Diandra sambil berlalu.

"Siapkan kontraknya. Aku ingin mulai membersihkan parasit-parasit di perusahaan ini secepat mungkin."

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!