Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 -Langkah Pertama Pion Hitam dan Gladi Bersih
Ruang makan keluarga Anta pagi itu didominasi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen. Suasananya sedingin AC sentral yang menyala di sudut ruangan. Pak Hardi duduk di ujung meja, matanya fokus pada layar tablet yang menampilkan grafik saham, sementara Bunda mengolesi roti dengan selai kacang dalam diam.
Rama duduk tegak di kursinya. Seragam putih abu-abunya sudah terpasang sempurna, lengkap dengan dasi dan kacamata minus. Namun, ada yang berbeda dari pancaran matanya pagi ini. Nasihat Nayla di warung es dawet kemarin sore telah memicu sebuah revolusi sunyi di dalam kepalanya. Acak-acak permainannya.
"Rama," suara bariton Pak Hardi memecah keheningan, tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Sabtu besok, kosongkan jadwalmu. Pak Darmawan mengundang kita main golf di country club. Siska juga akan ikut. Ayah mau kamu mendampinginya berkeliling dan ngobrol berdua."
Rama meletakkan sendoknya. Ia mengambil serbet, menyeka sudut bibirnya dengan gerakan pelan dan terukur. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, namun ia menekan insting jalanannya dan memanggil keluar otak Ketua Klub Sains-nya.
"Maaf, Ayah," jawab Rama, suaranya tenang, datar, namun tegas. "Rama tidak bisa ikut hari Sabtu besok."
Gerakan tangan Pak Hardi yang sedang menggeser layar tablet seketika terhenti. Ia mendongak, menatap anak tunggalnya dengan kening berkerut tajam. "Apa maksudmu tidak bisa? Ayah sudah bilang ini agenda penting. Acara sekolah apa pun bisa kamu batalkan atau wakilkan."
"Rama ada jadwal gladi bersih untuk ujian praktik drama Bahasa Indonesia, Yah," Rama balas menatap mata ayahnya tanpa berkedip. "Tugas ini punya bobot tiga puluh persen untuk nilai akhir semester. Kalau Rama absen, nilai Rama tidak akan sempurna. Selain itu..."
Rama menjeda kalimatnya, menggunakan intonasi negosiasi bisnis yang sering ia dengar dari ayahnya sendiri. "...Ayah selalu mengajarkan bahwa keluarga Anta memegang teguh komitmen dan profesionalisme. Rama sudah berjanji pada guru dan teman kelompok Rama. Kalau Rama membatalkannya secara sepihak demi bermain golf, bukankah itu akan mencoreng reputasi integritas yang selalu Ayah banggakan?"
Keheningan yang mencekam langsung jatuh menyelimuti meja makan. Bunda bahkan sampai berhenti mengunyah rotinya, menatap ngeri ke arah Rama. Selama delapan belas tahun hidupnya, ini adalah kali pertama Rama menggunakan logika ayahnya sendiri untuk membantah perintah mutlak tersebut.
Pak Hardi terdiam kaku. Rahangnya mengeras. Ia mencari celah untuk membantah, namun argumen Rama ditutup rapat oleh nilai-nilai yang selalu ia doktrinkan sendiri. Memaksa Rama bolos akan membuatnya terlihat menjilat ludah sendiri soal kedisiplinan dan nilai sempurna.
"Baik," desis Pak Hardi akhirnya, memancarkan aura ketidaksukaan yang pekat. "Selesaikan gladi bersihmu. Tapi malamnya, kamu harus ikut makan malam lanjutan. Ayah tidak mau dengar alasan lagi."
"Baik, Ayah," Rama menunduk sopan. Ia meraih tas ranselnya, mencium punggung tangan kedua orang tuanya, dan melangkah keluar menuju mobil jemputan.
Begitu pintu mobil tertutup, Rama menyandarkan punggungnya ke jok dan mengembuskan napas panjang. Sebuah senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya. Langkah pertama pion hitam telah digerakkan. Sangkar emas ini mungkin belum hancur, namun Rama baru saja berhasil mendobrak satu jerujinya. Dan rasanya... luar biasa melegakan.
Siang harinya, aula serbaguna SMA Taruna Citra disulap menjadi panggung teater dadakan. Suara riuh murid-murid kelas XII IPA 1 menggema memantul di dinding aula. Pak Budi duduk di kursi barisan depan, memegang papan dada untuk menilai gladi bersih kelompok Rama dan Nayla.
Di sudut belakang panggung, Nayla sedang sibuk merapikan properti. Gadis itu mengenakan kardigan ungu pastel andalannya, dipadukan dengan rok plisket hitam. Ia menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekat, dan napasnya seketika tercekat.
Rama berjalan ke arahnya. Cowok itu sudah melepas kacamata minusnya, kancing kerah kemejanya dibuka dua, dan rambutnya sengaja dibuat sedikit berantakan. Ia mengenakan trench coat cokelat gelap dan topi fedora yang mereka beli di pasar loak kemarin. Penampilannya benar-benar bertransformasi. Bukan lagi si anak teladan, melainkan siluet sang bos mafia dari dunia gelap yang penuh misteri. Auranya begitu karismatik dan mendominasi.
"Gimana?" tanya Rama santai, berhenti tepat di depan Nayla dan membetulkan letak kerah mantelnya. "Udah mirip detektif atau bos sindikat rahasia?"
Nayla menelan ludah dengan susah payah. Pipinya mendadak terasa hangat. "L-lumayan. Nggak jelek-jelek amat. Jangan kegeeran lo."
Rama terkekeh pelan, menyadari kegugupan majikannya itu. Ia menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Nayla hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal.
"Gue udah nerapin saran lo tadi pagi," bisik Rama, suaranya sangat rendah hingga hanya bisa didengar oleh gadis itu.
Mata Nayla melebar. "Saran yang mana?"
"Gue balik papan caturnya," senyum miring andalan Rama muncul. "Gue nolak perintah bokap gue buat jalan bareng anak rekan bisnisnya weekend ini. Gue pakai alasan gladi bersih ini buat skakmat dia pakai logikanya sendiri."
Binar kebanggaan langsung menyala di mata bulat Nayla. Gadis itu refleks mengangkat tangannya dan memberikan high-five pelan ke telapak tangan Rama. "Gila! Babu gue ternyata punya nyali juga ngelawan majikan besarnya. Keren lo, Bos. Gimana rasanya?"
"Bebas," Rama menatap manik mata Nayla lekat-lekat. "Rasanya gue mulai bisa napas lagi."
"Woy, pemeran utama! Malah pacaran di pojokan! Naik panggung buruan, Pak Budi udah melotot tuh!" teriakan melengking Dika dari arah tangga panggung langsung menghancurkan gelembung dunia pribadi mereka berdua.
Nayla buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk mengambil naskah kertasnya dengan wajah semerah kepiting rebus. Rama mendengus kesal, menatap Dika dengan pandangan membunuh yang membuat teman sebangkunya itu kicep seketika dan kabur ke balik tirai.
Gladi bersih pun dimulai. Rama melangkah ke tengah panggung, pencahayaan aula dibuat sedikit temaram. Saat dialog dimulai, Rama tidak perlu banyak berakting. Karakter si 'X' adalah representasi dari kehidupan aslinya sebagai bos The Ghost. Suara baritonnya yang dalam, intonasinya yang dingin namun penuh wibawa, serta gerak-geriknya yang efisien sukses membuat seisi aula terhipnotis.
Nayla masuk di adegan kedua. Sebagai saksi mata yang tak sengaja mengetahui identitas si X, Nayla membawakan dialognya dengan emosi yang sangat pas. Kepanikan, ketakutan, namun juga keberanian yang keras kepala.
Sampailah mereka pada adegan klimaks di mana si X harus menyembunyikan karakter perempuan itu dari kejaran musuh. Sesuai naskah, Rama menarik lengan Nayla, menarik gadis itu ke sudut panggung yang disetting seolah-olah sebuah gang sempit. Jarak mereka sangat dekat. Tangan Rama bertumpu pada properti dinding kayu tepat di sebelah kepala Nayla, mengurung gadis itu.
Rama menatap mata Nayla. Di naskah, ini hanyalah akting. Namun bagi Rama, kata-kata yang ia ucapkan selanjutnya adalah kebenaran yang tak bisa disangkal.
"Selama lo ada di belakang gue, nggak akan ada satu pun bayangan yang berani nyentuh lo," ucap Rama, suaranya terdengar sedikit bergetar oleh emosi nyata. "Gue bakal bakar seluruh dunia ini kalau itu artinya gue bisa mastiin lo tetap hidup."
Hening. Nayla terpaku. Ia seharusnya membalas dialog itu dengan bantahan sinis, namun sorot mata Rama di bawah bayangan topi fedora itu menyedot seluruh kewarasannya. Gadis itu bisa merasakan hawa hangat dari napas Rama. Kalimat itu persis seperti janji yang diucapkan Rama saat menyelamatkannya dari preman Kobra Besi. Jantung Nayla berdegup gila-gilaan, dan otaknya mendadak blank. Ia lupa naskahnya.
Dika, yang bertugas sebagai prompter di balik tirai, berbisik keras, "Nay! Dialog lo! 'Gue nggak butuh pahlawan'! Cepetan!"
Nayla tersentak kaget. Ia berdehem panik dan buru-buru melontarkan dialognya dengan sedikit gagap. "G-gue nggak butuh pahlawan kesiangan kayak lo!"
Adegan itu berakhir dengan tepuk tangan riuh dari seluruh teman sekelas dan anggukan puas dari Pak Budi.
"Luar biasa, Rama, Nayla! Chemistry kalian sangat natural!" puji Pak Budi dari bangkunya. "Seolah-olah kalian berdua memang sedang menghadapi marabahaya sungguhan. Rama, penjiwaanmu sebagai karakter antagonis yang protektif sangat believable."
Rama hanya tersenyum sopan. Tentu saja believable, batinnya. Ia tidak sedang berakting.
Begitu turun dari panggung, Nayla langsung mengipasi wajahnya dengan gulungan naskah. Ia menatap Rama dengan sebal. "Lo sengaja ya natep gue kayak mau nelan orang? Gue kan jadi lupa dialog saking kagetnya!"
"Lah, salah gue?" Rama terkekeh, mencopot topi fedoranya dan mengacak rambutnya sendiri. "Gue kan cuma mendalami peran. Katanya lo mau nilai A dari Pak Budi. Kalau lo deg-degan gara-gara tatapan gue, berarti akting gue sukses, dong."
"Nggak deg-degan! Gue cuma kaget!" elak Nayla ngotot, meski rona di pipinya berkhianat. Gadis itu memasukkan naskahnya ke dalam tas dengan gerakan kasar. "Udah ah, ayo ke kantin. Laper gue habis meres tenaga buat akting."
Mereka berjalan beriringan keluar dari aula, meninggalkan hiruk-pikuk teman sekelasnya. Cahaya matahari siang menembus jendela koridor, menerangi langkah mereka.
Rama berjalan dengan postur santai. Ia melirik gadis di sebelahnya. Kehidupan siangnya yang dulu kaku dan membosankan kini terasa penuh warna. Ia sadar, membalik papan catur ayahnya baru langkah awal, dan badai yang lebih besar pasti akan datang saat ayahnya menyadari perlawanannya. Namun, apa pun rintangan yang menunggu di garis finish nanti, asalkan gadis cerewet dengan jilbab ungu ini masih berjalan di sisinya, Rama tidak akan pernah sudi untuk mengerem lajunya.