Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegas Dan Dingin
Sore harinya, setelah jam kantor usai, Ashela tidak langsung pulang. Ia pergi ke pasar induk untuk mengambil pekerjaan sampingan lainnya yaitu membantu seorang pedagang sayur besar mendata stok barang yang masuk dari daerah.
Pekerjaan ini kasar, melelahkan, dan udaranya penuh dengan bau sayuran busuk serta asap knalpot truk, namun Ashela tidak peduli. Selama ada uang tambahan, ia akan melakukannya.
Ia berdiri di tengah hiruk pikuk pasar, memegang papan jalan dan pulpen, mencatat setiap karung kol dan cabai yang turun dari truk.
Di sini, ia bukan wanita cantik yang menarik perhatian dokter kaya. Di sini, ia hanya seorang pekerja keras yang berjuang demi sesuap nasi.
"Ashela, ini ada uang saku buat kamu karena kerjamu cepat," ujar Pak Haji, pemilik kios, sambil menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.
"Terima kasih banyak, Pak." jawab Ashela tulus.
Setiap lembar uang yang ia dapatkan adalah satu langkah lebih dekat menuju kebebasan. Ia menyisihkan setiap rupiah dengan sangat ketat.
Makan siangnya hanya berupa nasi bungkus porsi setengah, dan ia lebih memilih berjalan kaki satu kilometer ke pangkalan angkot yang lebih murah daripada naik ojek.
Malam harinya, saat kembali ke kos, Ashela merasa tubuhnya nyaris rontok. Namun, sebelum tidur, ia selalu menyempatkan diri untuk menghitung tabungannya di bawah lipatan baju dalam lemari. Perasaan puas saat melihat angka-angka itu bertambah sedikit demi sedikit adalah satu-satunya obat bagi luka hatinya.
Satu minggu berlalu sejak malam di hotel itu. Ashela mulai merasa bahwa ia bisa mengendalikan hidupnya kembali.
Namun, suatu sore, saat ia sedang berjalan menuju supermarket untuk shift malamnya, ia melewati sebuah kios koran.
Di sana, di halaman depan sebuah majalah bisnis dan gaya hidup, ia melihat wajah yang membuatnya membeku.
Itu adalah dia. Pria itu.
Di bawah foto pria yang mengenakan jas dokter putih yang sangat berwibawa itu, tertera nama yaitu Elvano Gavian Narendra – Direktur Muda dan Spesialis Bedah Terbaik di Narendra Hospital.
Ashela merasa dunianya seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar hebat. Ia kini tahu siapa pria itu. Ia bukan sekadar pria kaya, dia adalah seorang pangeran di dunia medis.
Seorang pria yang namanya diagung-agungkan, sementara dirinya hanyalah debu yang tidak sengaja terinjak oleh langkah kakinya yang mahal.
Ia segera memalingkan wajah dan berjalan cepat, seolah-olah jika ia menatap foto itu terlalu lama, Elvano akan melompat keluar dan mengenalinya.
'Dia tidak akan pernah mencariku. Bagi dia, aku hanya kecelakaan yang memalukan.' batin Ashela meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, mengetahui identitas Elvano justru membuat Ashela semakin bertekad untuk menghilang. Ia menyadari bahwa orang seperti Elvano memiliki kekuatan untuk melakukan apa saja. Ia takut jika suatu saat identitasnya ketahuan, ia akan dituduh yang bukan-bukan, atau bahkan dipaksa melakukan hal yang tidak ia inginkan.
Ketegaran Ashela diuji ketika suatu malam, rentenir yang biasa mengejarnya datang ke kosan.
Kali ini mereka tidak datang sendiri, ada tiga pria bertubuh besar dengan tato di lengan yang menunggu di depan pintu kamarnya.
"Mana cicilanmu, Ashela? Kamu sudah telat tiga hari!" bentak salah satu dari mereka, seorang pria bernama Bang Jago.
Ashela tetap berdiri tegak, meski hatinya mencelos. "Saya baru saja akan membayarnya besok. Ini uangnya, saya sudah menyiapkannya."
Ia mengeluarkan amplop berisi uang hasil kerjanya selama seminggu terakhir dan uang tambahan dari hotel. Saat melihat uang tersebut, Bang Jago menyeringai.
"Tumben kamu punya uang sebanyak ini? Habis jualan di mana kamu?" ucapnya sambil merendahkan Ashela.
Telinga Ashela panas. Hatinya perih teringat kejadian di hotel. "Itu uang halal hasil kerja keras saya! Tolong ambil uangnya dan pergi dari sini!"
Pria itu tertawa mengejek, namun mereka mengambil uang itu. "Ingat, bulan depan bunganya naik. Jangan coba-main-main dengan kami."
Setelah mereka pergi, Ashela luruh ke lantai. Ia menangis dalam diam. Uang yang ia dapatkan dengan mengorbankan kehormatan dan keringatnya kini hilang begitu saja dalam sekejap untuk membayar bunga yang tak pernah usai. Namun, ia tidak membiarkan dirinya terpuruk lama. Ia menyeka air matanya.
"Setidaknya mereka tidak menyakitiku hari ini," gumamnya.
Ia mulai merasa kuat. Ia merasa bahwa ia bukan lagi sekadar korban malam itu. Ia adalah pejuang. Dan meski ia membawa luka yang tidak akan pernah sembuh sepenuhnya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bertahan. Tanpa bantuan siapa pun, termasuk pria bernama Elvano Gavian Narendra yang kini menjadi hantu di dalam memorinya.
Namun, takdir seringkali memiliki selera humor yang gelap. Di tengah upayanya untuk melupakan dan memulai hidup baru, Ashela tidak tahu bahwa ada sesuatu di dalam tubuhnya yang sedang berproses, sebuah benih yang belum ia sadari kehadirannya, yang suatu saat akan memaksanya untuk kembali bertemu dengan wajah yang paling ingin ia hindari di dunia ini.
Untuk saat ini, Ashela hanya tahu satu hal yaitu ia harus bekerja, ia harus menabung, dan ia harus hidup.
Esok pagi, matahari akan terbit lagi, dan ia akan kembali menjadi pelari yang tangguh di jalanan Jakarta yang keras.
...****************...
Di sisi lain, suasana di koridor lantai lima Narendra Hospital terasa mencekam setiap kali Dokter Elvano Gavian Narendra melakukan morning visit. Bukan karena ia pria yang kasar, melainkan karena aura dingin yang ia pancarkan seolah mampu membekukan udara di sekitarnya.
Jika dulu Elvano dikenal sebagai pria yang kaku dan disiplin, kini ia berubah menjadi mesin yang tidak memiliki emosi.
"Saturasi oksigen 92 persen, tekanan darah 110/70. Kenapa dosis antibiotiknya belum dinaikkan?" suara Elvano terdengar datar namun tajam, menusuk pendengaran dokter residen yang berdiri di sampingnya.
"I-itu karena kami masih menunggu hasil laboratorium fungsi hati, Dok," jawab residen itu dengan suara bergetar.
Elvano mengalihkan pandangan dari papan medis ke wajah juniornya. Matanya yang tajam seolah bisa membedah isi kepala orang tersebut.
"Hasil laboratorium itu sudah keluar dua jam yang lalu di sistem. Jika kamu lebih sering mengecek monitor daripada bermain ponsel, pasien ini tidak perlu menunggu lebih lama untuk mendapatkan pengobatan yang tepat." ucapnya rendah namun terdengar begitu tegas dan tajam.
Tanpa menunggu permintaan maaf, Elvano melangkah pergi. Jubah putihnya berkibar ditiup angin dari sistem pendingin ruangan yang berdesis.
Langkah kakinya yang tegas berbunyi ritmis di atas lantai marmer yang mengilap, menciptakan ketegangan bagi siapa pun yang mendengarnya dan semua orang di rumah sakit sudah tahu bagaimana tegas dan dinginnya dokter jenius itu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...
semangat othor💪💪💪💪
di double up