NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Kayu tebal pintu kehancuran hancur berhamburan. Pecahannya melesat seperti peluru, menabrak meja dan kursi di ruang depan kedai. Diakon Pemburu melangkah masuk menembus kepulan debu, matanya berkilat buas bak predator kelaparan, diikuti oleh belasan elit penegak hukum Sekte Awan Azure perisai lengkap.

Di tengah ruangan, Lin Ruoxue tidak menunggu mereka mengatur formasi.

Sesuai instruksi mempekerjakan majikannya, ia menghunus Pedang Ratapan Musim Dingin. Bilah kristalnya memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata. Tanpa menahan setitik pun kekuatan, Lin Ruoxue merangkum seluruh hawa dari meridian tahap empat Kondensasi Qi-nya ke segala arah.

WUSSSHHH!

Badai salju meledak di dalam ruangan tertutup itu. Suhu anjlok secara drastis dalam hitungan detik. Lantai kayu yang basah seketika berderit keras, mengerut, dan dilapisi oleh es tebal yang menjalar dengan kecepatan kilat. Meja, kursi, pilar penyangga, hingga dinding membeku seketika.

"Serang dia! Tangkap hidup-hidup!" teriak salah satu penegak hukum yang berada di barisan depan.

Tiga murid sekte menerjang maju dengan pedang terhunus. Lin Ruoxue tidak mundur. Ia belati dengan gerakan melingkar. Gelombang udara beku menyapu permukaan lantai. Saat kaki penegak hukum ketiga itu menginjak lantai, sepatu bot mereka langsung menempel pada lapisan es, membeku seketika hingga batas lutut.

"Ukh! Kakiku tidak bisa bergerak!"

Lin Ruoxue tidak membiarkan mereka bernapas. Ia memutar tubuhnya, menangkis tebasan kapak dari arah samping dengan pisau pedang kristalnya. TRANG! Bunga api beradu dengan kristal es. Getaran benturan itu membuat penyerangnya terhuyung ke belakang. Lin Ruoxue langsung membalas dengan tendangan telak ke dada, melemparkan pria itu hingga menabrak meja beku yang langsung hancur berkeping-keping.

Suara pecahan es, panik, dan benturan logam menciptakan kliping yang luar biasa memekakkan telinga. Ruoxue benar-benar menjadi anomali badai di tengah ruangan, menarik seluruh mata, kemarahan, dan fokus ke arah dirinya sendiri.

Diakon Pemburu membukakan matanya. Hembusan angin beku menerpa wajahnya yang penuh bekas luka. Ia melihat bagaimana anak buahnya yang berada di tahap lima dan enam Kondensasi Qi kerepotan menghadapi seorang gadis tahap empat. Pandangannya kemudian tertutup sepenuhnya pada pedang kristal yang memancarkan kabut biru di tangan Lin Ruoxue.

"Senjata tingkat tinggi dengan afinitas es murni... Pantas saja hidung anjingku menggila," gumam Diakon Pemburu, matanya bersinar oleh keserakahan dan ambisi buta. Ia mengira gadis inilah dalang utama atau satu-satunya penyunting yang berhasil membawa keluar harta paling berharga dari keabadian.

"Mundur, kalian semua!" raung Diakon itu, suaranya diperkuat oleh Qi cair tahap dua Pembangun Fondasi yang membuat gendang telinga anak buahnya berdengung kesakitan. "Formasi pertahanan kalian hancur oleh hawa esnya. Jangan buat malu nama sekte! Mundur ke pintu! Aku yang akan melumpuhkannya sendiri!"

Anak buah sekte segera melangkah mundur, membentuk setengah lingkaran untuk menutup jalan keluar, membiarkan pemimpin mereka mengambil alih medan pertarungan.

Diakon Pemburu melangkah maju dengan percaya diri. Ia memusatkan seluruh Qi cairnya ke kedua telapak tangannya, membentuk jaring energi berwarna merah menyala yang dirancang khusus untuk mengunci meridian dan menangkap target tanpa membunuhnya. Seluruh fokusnya, seluruh insting bertarungnya, dan seluruh indranya tertuju lurus ke bawah, mengunci pergerakan Lin Ruoxue.

Celah pertahanan di titik butanya—bagian atas kepalanya—terbuka lebar tanpa perlindungan energi.

Di atas balok kayu atap lantai dua, menyatu dengan bayangan dan keheningan, Jiang Xuan mulai bergerak.

Matanya yang segelap jurang tak berdasar telah menghitung momen ini dengan presisi matematis. Ketika Diakon Pemburu itu mengambil langkah maju dan Qi-nya terpusat penuh ke depan, Jiang Xuan menjatuhkan dirinya dari balok kayu.

Ia tidak berteriak. Ia tidak meledakkan aura kultivasinya. Untuk menghilangkan suara gesekan angin dan mempercepat laju jatuhnya, Jiang Xuan melukis goresan Niat Formasi di udara tepat di bawah kakinya, menciptakan ruang vakum ilusi yang menyedot tubuhnya ke bawah dengan kecepatan yang merobek logika gravitasi.

Ia meluncur turun bagaikan bayangan maut tanpa bobot.

Diakon Pemburu baru saja mengangkat tangannya untuk melemparkan jaring energi ke arah Lin Ruoxue. Di milidetik yang sama, Jiang Xuan telah tiba tepat di belakang leher pria itu.

Dengan gerakan yang murni efisien, kotor, dan sangat mematikan, Jiang Xuan menusukkan Pena Kuas Tulang di tangan kanannya lurus ke bawah.

Pertahanan Qi pasif seorang Pembangun Fondasi sangatlah kuat, menyerupai zirah baja yang selalu aktif. Namun, zirah itu rapuh jika sang pemilik tidak memusatkan energinya di titik tersebut, dan bahkan lebih tidak berguna terhadap Niat Membunuh murni yang mampu memotong elemen spiritual. Serangan kejutan yang sempurna menghilangkan semua keunggulan ranah.

JLEB!

Tangkai tulang dari kuas kuno itu menembus celah antara tulang belakang leher dan pangkal tengkorak sang Diakon dengan kelancaran yang mengerikan. Tidak ada suara dentingan. Tidak ada hambatan yang berarti.

Mata Diakon Pemburu terbelalak maksimal. Jaring energi merah di tangannya padam seketika menjadi percikan api kosong.

Sebelum Diakon itu sempat bereaksi atau memberikan peringatan, Jiang Xuan menekan jarinya, menyuntikkan seluruh Niat Membunuh pekat langsung dari ujung kuas ke dalam tubuh korban. Energi hitam itu meledak liar di dalam, merobek sistem saraf pusat, menghancurkan paru-paru, dan meledakkan jantung Diakon itu dalam waktu sepersekian detik. Kematian menjemput bahkan sebelum rasa sakit sempat dikirimkan ke otaknya.

Jiang Xuan mencabut kuasnya dengan satu sentakan kasar, memercikkan darah hitam ke lantai. Ia lalu menggunakan bahu mayat yang masih berdiri kaku itu sebagai pijakan untuk melentingkan tubuhnya ke samping, mendarat dengan mulus di lantai es tanpa menghasilkan suara.

BRUK.

Tubuh raksasa Diakon Pemburu itu ambruk ke depan, menghantam meja beku hingga hancur. Mati secara instan dengan leher berlubang.

Kesunyian yang luar biasa mencekam menggantikan hiruk-pikuk pertarungan. Belasan penegak hukum sekte di dekat pintu membeku di tempat. Otak mereka menolak untuk memproses pemandangan yang baru saja terjadi. Pemimpin mereka—seorang ahli Pembangun Fondasi yang sangat ditakuti—mati terkapar di lantai, dieksekusi dalam satu pukulan oleh sosok berjubah usang yang turun dari langit-langit.

Kepanikan primal langsung meledak menghancurkan moral mereka.

"D-Diakon mati!"

"Monster! Mundur! Cari bantuan!"

Namun, Jiang Xuan tidak memiliki niat untuk membiarkan satu mulut pun hidup untuk menceritakan ciri-ciri atau teknik mereka kepada petinggi sekte.

"Ruoxue! Habisi mereka yang di dekat pintu!" perintah Jiang Xuan sangat dingin, tubuhnya kembali melesat maju bagaikan peluru menembus barisan musuh yang sedang panik.

Lin Ruoxue tidak membuang waktu. Insting bertarungnya telah diasah dengan kejam oleh majikannya. Gadis itu menerjang ke depan, mengayunkan Pedang Ratapan Musim Dingin secara horizontal. Dua penjaga yang mencoba berbalik kabur terpotong di bagian punggung, darah mereka membeku seketika sebelum sempat menodai dinding.

Di sisi lain, Jiang Xuan berubah menjadi mesin penuai nyawa yang steril. Kuas Tulangnya menari dengan presisi klinis. Ia menghindari sabetan panik dari seorang penjaga, melangkah ringan masuk ke titik buta lawannya, dan menggoreskan Void Calligraphy tipis yang membelah tenggorokan penjaga tersebut. Darah menyembur mewarnai dinding kayu. Ia memutar tubuhnya, menendang lutut penjaga lain hingga terdengar bunyi retak, lalu menusukkan ujung kuasnya tepat menembus dahi penyerang ketiga.

Hanya butuh dua belas tarikan napas bagi Jiang Xuan dan Lin Ruoxue untuk mengubah lantai dasar penginapan itu menjadi rumah jagal berlapis es. Mayat-mayat penegak hukum berserakan tumpang tindih di atas genangan darah beku. Anjing pelacak sekte yang tadi dibawa oleh Diakon kini terkapar di sudut ruangan, tubuhnya terbelah menjadi dua oleh satu tebasan es Ruoxue saat hewan itu mencoba menggigit kakinya.

Jiang Xuan berdiri tegak di tengah kedai. Dadanya naik turun dengan ritme yang teratur meski ia baru saja memaksa tubuhnya bergerak ekstrem. Ia mengibaskan Kuas Tulangnya dengan kuat, membuang sisa darah, lalu menyarungkannya kembali ke balik jubah usangnya.

"Kota bantuan ini akan dikunci penuh. Bala mereka akan tiba begitu mendengar suara pertempuran ini dihentikan," ucap Jiang Xuan mengandalkan rasionalitasnya. Matanya dengan cepat mencari rute pengungsi terdekat.

Ia tidak berjalan mendekati mayat-mayat itu untuk melakukan penjarahan. Membuang waktu sepuluh detik untuk mengambil kantong penyimpanan di tengah kota bisa berakibat fatal. Nyawa lebih berharga daripada batu roh untuk saat ini.

"Ke arah dapur. Kita keluar melalui lorong pembuangan limbah di belakang bangunan," instruksi Jiang Xuan memutar tubuhnya.

Lin Ruoxue menyimpan pedangnya dan segera berlari mengikuti jejak Jiang Xuan. Baozi, yang sedari tadi bersembunyi ketakutan di lantai atas, meluncur turun melewati pegangan dengan tubuh gemetar, lalu melompat secepat kilat setelah masuk ke dalam saku jubah Lin Ruoxue.

Mereka mendobrak pintu kayu dapur yang lapuk, berlari menembus tumpukan sampah sisa makanan, dan keluar menuju gang sempit yang membelah bagian belakang penginapan. Tanpa menoleh ke belakang untuk melihat rumah jagal yang baru mereka ciptakan, Jiang Xuan dan Lin Ruoxue menghilang ke dalam labirin lorong gelap Kota Kayu Hitam. Mereka berpacu keras melawan waktu, bergerak batas kota sebelum jaring perburuan Sekte Awan Azure menutup rapat setiap jalan keluar yang tersisa.

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!