Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Motor putih Ojan melaju pelan di jalanan aspal yang lumayan lengang. Beberapa kali ia menatap spion, bukan untuk melihat kendaraan di belakang, namun untuk menatap gadis manis yang duduk di belakangnya. Saat tak sengaja mereka saling bertatapan di spion, Ojan akan langsung tersenyum, sementara Nisa melengos, kontras sekali.
Nisa sengaja menjaga jarak, duduk lebih ke belakang dan berpegangan pada bagian belakang motor. Untung joknya lumayan panjang, jadi mereka gak harus berdempetan.
"Mbak, kita mau kemana?"
"Serah."
"Ya udah, ke KUA aja kalau gitu."
Dugh
"Aw!" Ojan meringis saat punggungnya dipukul Nisa. "Keterlaluan kamu Mbak, belum nikah udah KDRT." Menatap Nisa dari spion.
"Makanya diam, atau kalau enggak, aku turun."
"Coba aja kalau berani."
Wenggg!
Ojan menarik gas hingga kecepatannya 70 km/ jam, membuat Nisa yang kaget dan hampir terjatuh ke belakang, langsung memeluknya erat.
"Ojan!" teriak Nisa. "Pelanin gak?"
"Enggak!" Jalanan lumayan sepi, jadi ia bebas ngebut.
"Ojan, pelan!" teriak Nisa di dekat telinga Ojan. Ia terbiasa kecepatan rendah, rata-rata 50 km/jam saja.
"Janji dulu, pegangan yang erat."
"Ogah!"
"Ya udah aku tambah." Ojan menarik lagi gasnya, hingga 80 km/jam.
"Ojan!" Nisa makin gemetar. "Iya, aku janji."
Ojan tersenyum penuh kemenangan. Ia perlahan-lahan, mengurangi kecepatan hingga 40 km/jam. "Hem." Ia berdehem cukup kencang saat tangan Nisa melepaskan pelukannya.
Nisa mendengus kesal, kedua tanganya lalu memegang bagian kanan dan kiri jaket Ojan.
"Kok gitu pegangannya Mbak, gak kayak tadi?"
"Yang bener pegangan ya kayak gini, kalau tadi itu namanya pelukan. Gak usah protes, tadi kamu nyuruhnya pegangan."
"Hadeh, salah ngomong kek nya. Susah emang ngelawan cewek cerdas, calon istri CEO." Ia tertawa cekikikan. "Mau makan mie pedas lagi?"
"Bosen."
"Terus makan apa, bakso?"
"Males."
"Sushi?"
"Gak doyan."
"Pizza?"
"Jangan, mahal. Nanti duit kamu habis."
"Ya udah makan pop mie aja kalau gitu."
Motor belok di parkiran salah satu taman yang lumayan ramai. Hari minggu seperti ini, banyak sekali orang tua yang mengajak anaknya main disini karena selain gratis juga ada playgroundnya.
Ojan meninggalkan jaket hijaunya di jok motor, lalu berjalan beriringan dengan Nisa meninggalkan tempat parkir. Memasuki taman, suara yang dominan terdengar adalah tawa dan jejeritan anak-anak. Selian itu yang tak kalah banyak, adalah suara emak-emak yang meneriaki anak mereka agar tak main jauh-jauh atau jangan lari-larian. Keduanya terus berjalan mencari tempat duduk yang teduh, karena jam 10 seperti ini, Jakarta sudah sangat panas. Tapi entah kenapa, anak-anak yang ada di playground terlihat asyik saja, seperti tak kepanasan sama sekali.
Melihat sebuah kursi kosong di bawah pohon, sudah seperti mendapatkan jackpot. Ojan langsung menarik tangan Nisa ke kursi yang baru saja ditinggal penghuni sementaranya itu.
Nisa mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah dan leher. Pagi ini, cuacanya memang sangat terik. Melihat itu, Ojan jadi gak enak.
"Apa kita ke mall aja ya, Mbak? Nongkrong disana, biar lebih adem."
"Gak usah, disini aja."
Ojan mengedarkan pandangan, mencari penjaja air mineral dan pop mie yang biasanya lewat. Ia melihat Ibu-ibu langganannya sedang melayani pembeli nun jauh disana. "Bentar ya, Mbak." Beberapa saat kemudian, saat Ibu itu sudah selesai, Ojan berdiri, melambaikan tangan ke arahnya.
"Mase toh." Sapa penjual pop mie keliling yang baru tiba. Dia seorang ibu-ibu paruh baya, menggendong keranjang berisi pop mie, sementara kedua tangannya membawa termos dan keranjang jinjing berisi minuman. "Kirain siapa. Maklum, Ibu matanya sudah agak rabun, gak kelihatan kalau jauh."
"Pop mie nya dua, Bu," ujar Ojan.
"Mau rasa apa?"
"Rasa apa, Mbak?" Ojan menoleh pada Nisa.
"Terserah deh."
"Ya elah, gak ada kosa kata lain apa, selain terserah." Ojan berdecak pelan. Bawaannya ngeri kalau mendengar cewek bilang terserah, karena akibatnya fatal jika dia salah memilihkan. "Ya udah, rasa mantan aja kalau gitu, Bu."
Nisa langsung menoleh, sementara Ibu penjual pop mie bengong, bingung rasa apa itu.
"Pop mie pedes petir." Ojan mendengus kesal saat kedua wanita beda usia itu menatapnya.
"Oh, jadi rasa mantan itu, maksudnya pedes ya, Mas?" Ibu penjual pop mie tertawa renyah.
"Pedes banget Bu, sampai bikin nangis hampir dua minggu."
Nisa nyengir, tahu jika yang barusan, Ojan tengah menyindirnya.
"Maaf Mas, gak ada rasa itu, habis. Ini cuma tinggal ayam bawang sama soto aja."
"Ya udah deh terserah." Sambil menunggu Ibu itu menyeduh pop mie, Ojan mengambil dua botol air mineral dari keranjang jinjing penjual pop mie, menyerahkan 1 pada Nisa.
"Ini Mbak e." Ibu itu menyerahkan pop mie pertama yang ia seduh pada Nisa dulu.
"Makasih, Bu."
"Ceweknya ganti, Mas?" Ibu itu ternyata baru menyadari jika wanita yang bersama Ojan, bukan yang biasanya.
"Kamu punya pacar?" Nisa langsung bertanya, takut tiba-tiba ada yang muncul lalu menjambak rambutnya.
"Yang dulu udah putus, Bu." Ojan menjawab pertanyaan Ibu itu.
"Oh.. pantesan lama gak keliatan kesini berdua." Menyerahkan pop mie berikutnya pada Ojan.
Ojan meletakkan mie nya di bangku, mengambil dompet lalu mengeluarkan uang 100 ribu.
"Uang kecil gak ada, Mas? Hari ini semua uangnya gede, gak ada kembalian."
"Udah, simpen aja kembaliannya, buat Ibu."
Nisa agak kaget juga. Berapalah harga dua pop mie dan air mineral? Rasanya kembaliannya malah lebih banyak dari harga makanannya.
"Tapi banyak loh Mas, kembaliannya. Apa tak mintain Affan dulu aja, nanti suruh dia anter kesini."
"Udah Bu, gak usah. Eh, tumben Affan gak ikut jualan?"
"Ikut kok, tuh." Ibu itu menoleh ke arah kanan, menunjuk anaknya yang juga sendang menjajakan pop mie dan air mineral sama sepertinya. "Dia minta jualan sendiri, katanya kalau mencar gini, lakunya lebih banyak. Mumpung taman lagi rame, lumayan."
Nisa menatap anak laki-laki bernama Affan tersebut. Kira-kira, umurnya kalau tidak 10 ya 11 tahun. Anak sekecil itu, sudah harus membantu Ibunya jualan, disaat anak lain seusianya, sedang sibuk main atau merengek pada orang tua minta jajan.
Ia jadi sadar, sepertinya kurang bersyukur. Ia bekerja di ruang ber AC, gaji UMR, tapi masih sering ngeluh, sering merasa paling tidak beruntung di dunia itu karena hanya lulusan SMA dan jadi OG.
"Tapi harus tetep waspada, Bu. Kalau ada satpol PP, bisa jaringan."
"Iya, Mas." Ibu itu mengucapkan terimakasih lalu pergi.
"Gak sayang tuh, kembaliannya lumayan banyak loh," ujar Nisa, menatap wanita yang sudah lumayan jauh dari mereka.
"Enggaklah, ngapain sayang sama kembalian, aku sayangnya cuma sama kamu." Menatap kedua mata Nisa sambil senyum-senyum.
Nisa nyengir sambil geleng-geleng. Ia membuka tutup pop mie yang masih menempel agar mie nya mateng, lalu mengaduk agar bumbunya merata. "Kamu baru putus juga?"
"Enggak, udah lumayan lama. 3 atau 4 bulan gitu lah."
"Oh..." Nisa meniup mie yang ada digarpu plastik, lalu mulai memakannya.
Diam-diam, Ojan senyum-senyum sendiri memperhatikan Nisa makan. Sebenarnya, di jembatan itu, bukan kali pertama ia melihat Nisa. Sebelumnya, ia melihat gadis itu di kantor Papanya. Kala itu, Nisa ke ruangan Papanya, mengantarkan kopi untuknya.
Pertama melihat, ia langsung kagum. Selain cantik, Nisa juga sopan, dan kopi bikinannya pas banget dengan seleranya. Gadis itu memiliki dua lesung pipi yang membuat wajahnya terlihat manis dan tidak membosankan. Namun kala itu, hanya sebatas kagum, dan statusnya juga sudah punya pacar. Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain, ia kembali dipertemukan dengan Nisa di tempat yang sama sekali tak terduga.
🤣🤣🤣