Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Mas tahu nggak,” lanjut Kirana, suaranya mulai basah oleh air mata yang ia tahan mati-matian, “betapa shock-nya aku tadi saat di bank, melihat nominal tabungan kita terkuras banyak. Rasanya mau pingsan.”
Rafka terdiam. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar.
“Kamu pakai uang itu untuk siapa, Mas?” tanya Kirana, kali ini menatap langsung ke mata suaminya. “Untuk siapa sebenarnya?”
Rafka memalingkan wajah. Kebohongan berikutnya sudah siap di ujung lidah.
“Un-tuk ke-luarga,” jawabnya singkat.
Kirana tertawa kecil. Tawa pahit yang membuat dada Rafka terasa ditekan kuat.
“Keluarga yang mana?” tanyanya lirih. “Keluarga kita atau ... keluarga Mbak Kinanti?”
Rafka tersentak. Dia seperti dipukul palu.
“Jangan bawa-bawa Kinanti!”
“Kenapa tidak?” Suara Kirana kini bergetar hebat. “Empat bulan, Mas. Empat bulan kamu berubah. Pulang terlambat. Janji ke Gita kamu ingkari. Tidak ada uang yang ditabung, yang ada malah uang tabungan habis. Lalu kamu bilang ini semua kebetulan?”
Di balik pintu, tubuh Gita bergetar. “Tante Kinanti?”
Keluarga Mbak Kinanti, kalimat itu berputar-putar di kepala Gita. Ia tidak sepenuhnya mengerti arti “selingkuh”, tetapi ia mengerti nada suara mamanya. Gadis kecil itu sudah mengerti rasa sakit.
“Aku nggak ngapa-ngapain!” Rafka membantah cepat. “Kamu jangan nuduh sembarangan!”
“Kalau begitu, buktikan!” Kirana berdiri. Tangannya mengepal. Air mata akhirnya jatuh. “Buktikan kalau uang itu bukan untuk menyenangkan Mbak Kinanti dan Ara!”
Nama Ara membuat Rafka tercekat. Dia tidak membalas ucapan Kirana.
Di balik pintu, napas Gita tercekat bersamaan.
“Ara ....”
Air mata kecil mengalir di pipi Gita. “Karena itu kah,” batinnya hancur, “Papa selalu baik sama Ara?”
Kenangan berkelebat di kepala Gita, Papanya membelikan es krim untuk Ara, mengajak Ara ke wahana bermain, memeluk Ara dengan tawa lebar. Semua yang dulu ingin dia rasakan. Ternyata, bukan karena dia kurang baik. Melainkan karena papanya memilih yang lain.
“Jawab aku, Mas!” suara Kirana pecah. “Jangan bohong lagi!”
Rafka bangkit dari kursi, suaranya meninggi. “Aku capek diinterogasi terus! Kamu pikir aku senang ngelakuin ini semua?!”
“Kamu tidak dipaksa!” Kirana berteriak, akhirnya kalah oleh emosinya. “Kamu memilih! Kamu memilih mengkhianati aku, mengkhianati Gita!”
Gita terisak tanpa suara. Tangannya menutup mulutnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar. Ia tidak ingin menambah beban mamanya.
“Aku nggak pernah berhenti sayang sama Gita,” Rafka berkata lebih pelan, nyaris seperti membela diri.
“Tapi, kamu berhenti menjadikannya prioritas utama. Kamu lebih mendahulukan kesenangan Ara,” balas Kirana lirih. “Dan itu lebih menyakitkan dari apa pun.”
Keheningan mendadak menyelimuti ruang depan. Kirana dan Rafka sama-sama terdiam. Hanya napas mereka saja yang memburu karena luapan emosi.
Di balik pintu, Gita perlahan mundur. Kakinya gemetar dan dadanya sesak. Dunia kecilnya runtuh tanpa suara.
Papanya berbohong.
Papanya memilih orang lain.
Papanya bukan lagi tempat paling aman di dunia.
Gita berjalan pelan menuju halaman belakang ruamh, membawa rahasia yang terlalu berat untuk anak seusianya. Sebuah rahasia tentang pengkhianatan, tentang uang, dan tentang cinta yang ternyata bisa dibagi, lalu diambil kembali.
Di ruang tengah, Kirana berdiri dengan bukti di tangan, menatap pria yang pernah ia cintai sepenuh hati, sekarang terasa seperti orang asing yang paling menyakitkan.
Kirana pergi ke dapur. Dia harus masak untuk makan malam. Ketika sedang memasak, matanya tanpa sengaja melihat Gita sedang duduk di teras sendirian.
“Gita, sedang apa di situ?” tanya Kirana lewat pintu belakang.
Gita pun menoleh. Terlihat jelas ekspresi wajah gadis kecil itu sangat murung.
“Batuin mama masak, yuk!” ajak Kirana karena tahu putrinya suka sekali jika diajak memasak.
Dan benar saja, Gita beranjak dari duduknya. Dia berjalan dengan gontai.
Selama membantu memasak tidak ada tawa. Tidak ada cerita tentang teman sekolah, dari mulut Gita.
“Gita, apa kamu sedang sakit?” tanya Kirana khawatir.
“Tidak, Ma. Aku sehat, kok!” Gita memperlihatkan senyumnya yang lebar.
Saat makan malam, suasana di meja makan sangat dingin. Tidak hangat seperti biasanya. Tidak ada celotehan atau tawa riang dari Gita.
Kirana menyadari ada sesuatu yang tidak beres sedang dirasakan oleh putrinya.
“Gita, nasinya dimakan, ya,” ucap Kirana lembut.
Gadis kecil itu mengangguk, menyuap sekali, lalu berhenti. Matanya kosong menatap piring.
Rafka pun memerhatikan keadaan putrinya. Dia juga merasa Gita sedang menyembunyikan sesuatu. Ketika mulutnya baru saja terbuka, terdengar Kirana bertanya kepada putrinya itu.
“Kenapa, Gita?”
Gita menggeleng. “Capek, Ma.”
Jawaban singkat. Terlalu singkat untuk anak seusianya.
Rafka memberanikan diri datang ke kamar Gita. Lalu, dia duduk di samping sang anak yang sedang asyik menggambar.
“Gambar apa, Sayang?”
Gita menoleh sebentar, lalu kembali menunduk. “Rumah.”
Rafka tersenyum kecil. “Rumah siapa?”
“Rumah aku dan Mama,” jawab Gita polos.
“Kok, cuma Gita sama mama. Papa di mana?”
Gita terdiam cukup lama. Lalu menjawab pelan, nyaris tak terdengar, “Papa sering pergi.”
Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras daripada tamparan. Rafka menarik napas panjang. Tangannya gemetar, dia merasa benar-benar kehilangan pijakan.
Malam ini pun Kirana tidur bersama Gita. Mereka tidur sambil berpelukan.
Rafka sendiri memilih tidur di ruang tengah. Jika tidur di kamarnya sendiri, tidak bisa tidur. Karena sudah terbiasa dengan kehadiran Kirana di sampingnya.
Kirana tidak lagi larut dalam tangis. Pagi itu, ia berdiri di Kantor Urusan Agama dengan map cokelat di tangan. Wajahnya tenang, meski matanya menyimpan kelelahan panjang.
“Saya mau mengurus duplikat buku nikah,” ucapnya pada petugas.
Petugas itu mengangguk, meminta beberapa berkas.
Setiap lembar yang Kirana serahkan terasa seperti mengunci satu keputusan besar. Tangannya sempat gemetar, tetapi langkahnya tidak goyah.
Ini bukan keputusan impulsif. Ini keputusan seorang ibu yang ingin menyelamatkan dirinya dan anaknya.
“Aku tidak boleh ragu,” batinnya.
Bukan lagi soal cinta. Ini soal harga diri dan masa depan Gita.
Suatu sore dia melihat Gita duduk di teras, memeluk lututnya sendiri. Tidak bermain dengan anak tetangga. Tidak menonton televisi.
“Gita,” panggil Rafka pelan.
Gadis kecil itu menoleh. Tatapannya membuat dada Rafka seperti diremas. Tatapan yang terlalu dewasa untuk anak kecil.
“Kamu kenapa, Sayang?”
Gita ragu. Bibirnya bergetar, lalu akhirnya berkata lirih, “Papa sama Mama mau pisah, ya?”
Rafka membeku. “Siapa yang bilang begitu?”
Gita menunduk. “Aku dengar waktu Papa sama Mama bertengkar kemarin.”
Jantung Rafka serasa jatuh ke perutnya.
“Rupanya Gita mendengarkan pertengkaran kami,” batin Rafka berteriak.
Dia merasa bersalah. Hatinya rerih dan dadanya menyesakkan.
“Kamu dengar apa lagi?” tanya Rafka dengan suaranya bergetar.
Gita mengusap matanya. “Papa sudah selingkuh dengan wanita lain, kan? Tante Kinanti.”
Kalimat polos itu menghantam lebih keras daripada tamparan. Rafka menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya tersengal.
“Maafin Papa, Gita,” gumam Rafka parau.
Gita tidak menangis. Justru itu yang paling menyakitkan.
“Apa karena itu, Papa jarang di rumah? Dan karena itu Papa selalu baik sama Ara?”
Pertanyaan itu seperti pisau. Rafka tidak sanggup menjawab.
Sejak hari itu, Gita semakin pendiam. Ia tetap patuh, tetap sopan, tetapi keceriaannya seakan terkunci dari dalam. Anak itu belajar menyimpan luka tanpa tahu caranya mengeluarkan.
***
Nih, aku kasih ektra update buat menemani malam minggu kalian. Ayo, tinggalkan jejak, biar aku makin semangat ngetik.
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏