Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2. Penjara Tanpa Jeruji
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden sutra yang tersingkap sedikit, menusuk mata Alya yang membengkak. Dia terbangun dengan tubuh kaku. Sepanjang malam dia meringkuk di atas sofa beludru yang keras, masih mengenakan dalaman gaun pengantinnya yang menyesakkan setelah semalaman berjuang melepaskan kaitan korset yang rumit sendirian.
Alya duduk dengan perlahan, memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Matanya menyisir sekeliling kamar luas itu. Ranjang king size di tengah ruangan tampak rapi—Arka tidak tidur di sana. Pria itu entah pergi ke mana setelah menjatuhkan vonis kebenciannya semalam.
Tok! Tok!
Pintu kamar terbuka tanpa menunggu jawaban. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi segelas air putih dan sebutir obat.
"Tuan Arka meminta Anda segera bersiap. Sepuluh menit lagi Anda harus sudah ada di ruang makan," ucap pelayan itu tanpa ekspresi, bahkan tanpa salam.
"Tapi... saya belum mandi, dan pakaian saya—"
"Tuan tidak suka menunggu, Nyonya Muda," potong pelayan itu dingin sebelum meletakkan nampan dan berlalu pergi.
Alya menarik napas panjang, mencoba menelan pahit di tenggorokannya. Dengan terburu-buru, dia menuju kamar mandi, membasuh wajahnya, dan mengganti pakaiannya dengan dress sederhana yang sempat ia bawa dalam koper kecil kemarin. Tidak ada waktu untuk berdandan. Dia hanya menyisir rambut panjangnya yang kusut dan segera turun ke lantai bawah.
Ruang makan itu terasa sangat formal. Di ujung meja panjang, Arka duduk sambil membaca koran digital di tabletnya. Di sampingnya, duduk seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan dengan sanggul yang sangat rapi dan tatapan yang lebih tajam dari Arka. Dia adalah Nyonya Ratna, ibu tiri Arka yang mengelola rumah tangga tersebut.
Alya menarik kursi dengan hati-hati, suara gesekan kursi di lantai marmer terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
"Duduk yang sopan. Di rumah ini, tidak ada tempat untuk gadis yang tidak punya tata krama," tegur Nyonya Ratna tanpa menoleh sedikit pun.
Alya menunduk. "Maaf, Bu."
"Panggil aku Nyonya Besar. Aku bukan ibumu," sahutnya pedas.
Arka akhirnya mengangkat wajah. Dia menyesap kopinya, matanya yang kelam menatap Alya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Kau terlambat dua menit. Jangan ulangi lagi."
"Maaf, Arka. Aku tadi—"
"Jangan membantah," potong Arka tenang namun tegas. "Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini. Jangan berharap ada pelayan yang akan mengurus kebutuhan pribadimu. Kau akan membersihkan kamarmu sendiri, mencuci pakaianmu sendiri, dan membantu di dapur jika diperlukan."
Alya tertegun. "Tapi... bukankah rumah ini punya banyak pelayan?"
Arka meletakkan tabletnya ke meja dengan dentingan yang cukup keras, membuat Alya berjengit. "Pelayan di sini dibayar untuk melayaniku dan keluargaku. Bukan untuk melayani putri dari seorang penipu. Kau di sini untuk membayar utang, Alya. Ingat itu. Setiap makanan yang masuk ke mulutmu adalah sedekah dariku."
Rasa panas menjalar di pipi Alya. Bukan karena malu, tapi karena harga dirinya yang diinjak-injak begitu rendah. Dia melirik ke arah Nyonya Ratna yang justru tersenyum tipis, menikmati penghinaan yang diterima Alya.
"Oh, dan satu lagi," tambah Nyonya Ratna sambil mengelap mulutnya dengan serbet. "Hari ini Sisil akan datang. Dia adalah tunangan Arka yang seharusnya duduk di kursimu sekarang jika saja ayahmu tidak datang memohon-mohon seperti pengemis. Jadi, bersikaplah seperti pelayan saat dia ada. Jangan menunjukkan wajah istrimu yang menyedihkan itu di depannya."
Dunia Alya seolah berputar. Tunangan? Arka memiliki tunangan?
"Kenapa kau menikahiku jika kau sudah punya tunangan?" tanya Alya dengan suara yang hampir menghilang.
Arka berdiri, merapikan kemejanya, lalu berjalan mendekat ke arah Alya. Dia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di pinggiran kursi Alya, mengurung gadis itu dalam aroma maskulinnya yang mengintimidasi.
"Karena melihatmu menderita jauh lebih menyenangkan daripada melihatnya bahagia," bisik Arka tepat di telinga Alya. "Sisil adalah wanita yang kucintai. Dan kau? Kau hanyalah samsak untuk rasa sakit hatiku. Jangan pernah bermimpi untuk menyentuh hatiku, apalagi tempat tidurku."
Arka menegakkan tubuh, berbalik, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Nyonya Ratna mengikuti di belakangnya setelah memberikan tatapan sinis terakhir pada Alya.
Alya terduduk lemas di meja makan yang penuh dengan hidangan mewah yang tiba-tiba terasa seperti tumpukan sampah di matanya. Dia tidak menyentuh makanan itu sama sekali. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan.
Baru dua puluh empat jam dia menyandang status sebagai istri Arka Dirgantara, namun dia sudah merasa seperti mayat yang berjalan. Dia merindukan ibunya. Dia ingin pulang. Namun dia tahu, pintu rumahnya sendiri pun sudah dikunci oleh tumpukan utang yang hanya bisa dibayar dengan air matanya.
Dia bangkit dan mulai membenahi piring-piring kotor di meja, mencoba menuruti perintah Arka. Saat dia membawa nampan ke dapur, para pelayan berbisik-bisik, menatapnya dengan pandangan antara kasihan dan jijik.
Tiba-tiba, suara klakson mobil mewah terdengar dari halaman depan. Tak lama kemudian, suara tawa seorang wanita yang renyah dan manja menggema di lorong menuju dapur.
"Arka! Sayang, aku datang!"
Alya mematung di depan wastafel. Itu pasti Sisil. Wanita yang seharusnya berada di posisinya. Wanita yang dicintai oleh suaminya.
Alya memejamkan mata, menguatkan hati. Dia tahu, ini hanyalah awal dari derita panjang yang harus dia lalui. Di rumah ini, dia bukan ratu, bukan istri, dan bukan pula manusia. Dia hanyalah sebuah jaminan yang siap dihancurkan kapan saja oleh pria yang memegang kunci penjaranya.