Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerai
Sementara kehidupan Arini perlahan-lahan dipenuhi oleh warna-warni kebahagiaan yang baru, di sudut lain kota Jakarta yang suram, waktu seolah berhenti bergerak bagi Galang. Di dalam Lembaga Pemasyarakatan berkekuatan hukum tetap, keangkuhan yang dulu menjadi jubah kebesarannya kini telah terkoyak tanpa sisa.
Hari-hari Galang kini dihabiskan di dalam sel yang sempit, di antara dinding beton abu-abu yang lembap dan jeruji besi yang dingin. Setiap malam, saat lampu-lampu penjara dipadamkan, kegelapan yang pekat selalu membawa kembali bayang-bayang masa lalunya. Penyesalan datang bertubi-tubi seperti ombak yang menghantam karang. Ia terus memikirkan betapa bodohnya ia dulu, menyia-nyiakan Arini yang begitu tulus mencintainya demi ego dan ambisi semu bersama Dita.
Suatu siang, seorang petugas sipir mengetuk jeruji besi sel Galang. "Galang, ada kunjungan untukmu di ruang utama."
Jantung Galang berdegup kencang. Harapan kecil membuncah di dadanya. Ia berharap itu adalah Dita yang membawa Galih, membawakan makanan rumah, dan memberikan pelukan hangat yang sangat ia butuhkan untuk bertahan hidup. Dengan pakaian tahanan berwarna biru yang longgar dan rambut yang mulai berantakan tak teratur, Galang melangkah terburu-buru menuju ruang kunjungan.
Di balik sekat kaca, Dita sudah duduk menunggunya. Namun, tidak ada senyum di wajah wanita itu. Riasan wajahnya yang dulu selalu tebal dan glamor kini digantikan oleh wajah pucat, lelah, dan tatapan mata yang dingin. Ia bahkan tidak membawa Galih bersamanya.
"Dita..." ucap Galang lirih, segera duduk dan mengangkat gagang telepon pembatas. "Kamu datang juga. Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan Galih? Kenapa dia tidak ikut?"
Dita menarik napas panjang, lalu mengangkat gagang telepon di sisinya. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi. "Galih ada di rumah kos bersama tetangga. Aku ke sini bukan untuk mengantarkan makanan, Mas. Aku ke sini untuk menyelesaikan semuanya."
Dita merogoh tas kainnya yang sederhana, mengeluarkan selembar kertas bermeterai, lalu menempelkannya ke kaca pembatas agar Galang bisa membaca judulnya: Surat Gugatan Cerai.
Bagai disengat listrik, tubuh Galang menegang. "Apa-apaan ini, Dit? Cerai? Di saat aku sedang terpuruk seperti ini, kamu malah ingin meninggalkanku?"
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?" suara Dita mulai bergetar, namun bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang dipendamnya. "Kita sudah tidak punya apa-apa lagi! Apartemen disita, uang habis, dan kamu harus mendekam di sini selama lima tahun! Aku tidak bisa hidup mengemis seumur hidupku hanya untuk menunggumu keluar!"
Galang menempelkan telapak tangannya ke kaca, memohon. "Dita, aku minta tolong, bersabarlah. Tolong tunggu aku. Lima tahun itu tidak akan lama. Setelah aku keluar dari sini, aku berjanji akan berubah. Aku akan bekerja keras apa saja, menjadi suami yang baik untukmu, dan menjadi ayah yang bisa dibanggakan oleh Galih. Kita bangun semuanya dari awal, Dit. Aku mohon..."
Dita tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat sinis di telinga Galang. "Membangun dari awal dengan apa, Mas? Nama baikmu sudah hancur. Di mana-mana kamu dicap sebagai mantan suami penipu yang tidak tahu diri dan penjahat bisnis. Tidak akan ada perusahaan yang mau menerimamu kerja!"
Dita memajukan wajahnya ke arah kaca, matanya menatap Galang dengan tajam. "Dan yang paling penting, ini demi Galih. Kamu tahu apa yang terjadi pada anak kita di sekolah? Setiap hari dia pulang sambil menangis! Teman-temannya mengejeknya, menyebutnya anak dari seorang penjahat anak yang mendekam di penjara! Mental anakku hancur, Galang! Dan itu semua karena obsesi bodohmu pada Arini!"
Kata-kata Dita tentang Galih seperti hantaman palu besi yang telak mengenai ulu hati Galang. Ia terdiam. Bayangan wajah putra kecilnya yang lugu langsung terlintas di pikirannya. Selama ini ia mengira ia berjuang untuk masa depan Galih, namun ternyata perilakunya justru menjadi racun yang merusak masa kecil anaknya sendiri.
"Galih... selalu diejek?" bisik Galang dengan suara yang mendadak parau. Air mata mulai menggenang di kelopak matanya yang menghitam karena kurang tidur.
"Ya! Dan satu-satunya cara agar dia bisa hidup tenang adalah dengan melepaskan nama besarmu. Aku harus membawa Galih pindah ke luar kota, mengganti sekolahnya, dan memulai hidup baru tanpa embel-embel nama Galang," tegas Dita. "Jadi aku mohon, Mas. Kalau kamu memang masih punya sedikit rasa sayang pada Galih, ceraikan aku sekarang. Biarkan kami pergi."
Galang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya berguncang hebat saat tangisnya akhirnya pecah. Ini adalah titik terendah dalam hidupnya. Ia telah kehilangan Arini, ia telah kehilangan perusahaan yang ia bangun dengan darah dan air mata, dan kini, ia harus kehilangan wanita yang sudah menemaninya sejak awal.
Setelah keheningan yang mencekam selama beberapa menit, Galang kembali mendongak. Matanya merah dan basah.
"Baik..." suara Galang bergetar hebat. "Jika itu memang yang terbaik untuk Galih... agar dia tidak perlu malu memiliki ayah seperti aku..."
Galang menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Hari ini, di tempat ini, aku... Galang, menjatuhkan talak satu kepadamu, Dita Amelia. Mulai detik ini, kita bukan lagi suami istri secara agama."
Dita memejamkan mata sesaat, merasa lega karena tujuannya tercapai dengan cepat. "Terima kasih, Mas. Untuk urusan hukum dan pengadilan, pengacara dari lembaga bantuan hukum akan mengurusnya ke sini minggu depan. Kamu hanya perlu menandatanganinya."
Tanpa mengucapkan kata perpisahan atau melihat ke belakang, Dita meletakkan gagang telepon dan berdiri. Ia melangkah pergi meninggalkan ruang kunjungan dengan cepat, meninggalkan Galang yang terpaku sendirian.
Saat melangkah kembali ke dalam selnya, kaki Galang terasa seperti mati rasa. Ketika pintu besi ditutup dengan dentuman keras yang menggema, Galang langsung ambruk di atas lantai semen yang dingin. Ia menekuk lututnya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya tanpa suara.
Penyesalan itu kini menggulung dirinya seperti badai yang tak kunjung usai. Kehancurannya kini telah lengkap dan sempurna.
Dulu, ia adalah seorang direktur sukses, dihormati banyak orang, dan memiliki istri seanggun Arini yang selalu setia mengurus rumah tangganya dengan penuh kelembutan. Namun, karena dibutakan oleh keserakahan, dan keangkuhan, ia telah kehilangan segalanya, meninggalkannya sendirian di dalam penjara yang sunyi.
"Aku kehilangan semuanya..." bisik Galang pada dinding-dinding bisu di sekitarnya. "Perusahaanku hilang... rumah tanggaku gagal... aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi."
Dalam kesendirian malam itu, Galang akhirnya harus menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya, bahwa musuh terbesar yang menghancurkan dirinya bukanlah Arini, bukan juga Kevin, melainkan kesombongan dan kebodohannya sendiri yang telah mengunci rapat-rapat pintu masa depannya di balik jeruji besi ini.