Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Para Buronan
Mereka melanjutkan perjalanan hingga mencapai sebuah gua tersembunyi di balik air terjun kecil. Di dalam, Kael dan Marek sudah menunggu. Suasana sangat tegang. Jenderal Marek tampak pucat pasi; luka di bahunya akibat gesekan peluru saat penyergapan tadi mulai membiru.
"Kita tidak bisa membawanya ke markas Phoenix," kata Zian kepada timnya. "Markas sudah tidak aman. Gedeon pasti sudah mengirim perwira pengawas ke sana. Kita harus membawanya ke 'Safehouse 7' di perbatasan kota."
"Itu wilayah padat penduduk, Kolonel," sela Kael. "Risikonya tinggi."
"Justru itu tujuannya. Gedeon tidak bisa menggunakan helikopter tempur atau peledak berat di tengah kota tanpa menarik perhatian media internasional. Kita butuh keramaian untuk bersembunyi."
Malam itu, mereka bergerak dengan menyamar sebagai warga sipil. Elara menggunakan keahlian aslinya sebagai agen intelijen. Dia merombak penampilan Jenderal Marek, memberinya pakaian lusuh dan topi tua, membuatnya tampak seperti kakek yang sakit. Elara sendiri melepas seragam taktisnya, menyisakan kaos dalam tipis dan jaket kulit usang yang ia temukan di kendaraan pelarian.
Saat mereka memasuki pinggiran kota, ketegangan antara Elara dan Zian mulai berubah bentuk. Bukan lagi sekadar kecurigaan, melainkan ketergantungan yang dipaksakan oleh situasi.
Di dalam mobil curian yang sempit, Elara duduk di kursi depan di samping Zian yang menyetir.
"Kenapa kau memberitahuku semua ini, Zian?" tanya Elara pelan, matanya menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat. "Kau bisa saja membunuhku di hutan tadi. Aku adalah mata-mata Gedeon. Aku adalah orang yang dikirim untuk menghancurkanmu."
Zian tetap fokus pada jalanan, namun rahangnya mengeras. "Karena kau tidak seperti mereka, Elara. Aku melihatmu bertarung. Kau tidak bertarung demi pangkat atau demi Gedeon. Kau bertarung karena kau membenci ketidakadilan, sama sepertiku. Dan jujur saja..." Zian meliriknya sekilas, "...aku butuh seseorang yang bisa menembak kepalaku jika aku mulai menjadi seperti Gedeon."
Elara terdiam. Untuk pertama kalinya, dia merasakan beban dari label Tentara Seksi itu mulai luntur, digantikan oleh identitas baru yang lebih berbahaya: seorang pemberontak.
Tiba-tiba, radio panggil di mobil itu berbunyi. Itu adalah frekuensi darurat militer.
"Perhatian seluruh unit. Mayor Elara Vanya dan Kolonel Zian Arkana dinyatakan sebagai pengkhianat negara. Mereka diduga melakukan penculikan terhadap perwira asing dan bekerja sama dengan intelijen musuh. Perintah: Tembak di tempat."
Elara dan Zian saling berpandangan. Permainan sudah berubah. Mereka bukan lagi pemburu; mereka adalah buronan paling dicari di negara ini.
"Selamat datang di sisi gelap, Mayor," kata Zian sambil menginjak pedal gas lebih dalam.
"Aku sudah lama di kegelapan, Kolonel," jawab Elara sambil memeriksa magasin senjatanya. "Kau hanya baru saja menyalakan lampunya."
Di depan mereka, blokade militer mulai terlihat di pintu masuk kota. Lampu biru-merah polisi dan truk-truk tentara menutup jalan utama. Elara menarik napas panjang, menyiapkan mentalnya untuk pertumpahan darah yang tak terelakkan. Konflik ini baru saja dimulai, dan jalan menuju kebenaran akan dipenuhi dengan mayat rekan-rekan mereka sendiri.
****
Lampu rotator merah dan biru memantul di kaca depan mobil curian mereka, menciptakan ritme kecemasan yang mencekik. Di depan, sekitar lima ratus meter, barikade truk militer dan kawat berduri menutup akses jembatan utama menuju pusat kota. Tentara dengan senapan serbu memeriksa setiap kendaraan dengan sangat teliti.
"Zian, kita tidak bisa menembus itu," bisik Elara. Tangannya sudah berada di gagang pistol Glock-17 yang tersembunyi di balik jaket kulitnya. "Ada terlalu banyak warga sipil. Jika kita melepaskan tembakan, itu akan menjadi pembantaian."
Zian Arkana tidak menunjukkan tanda-tanda akan menginjak rem. Matanya menyipit, menghitung celah di antara trotoar dan pagar pembatas jembatan. "Kita tidak akan menembus lewat tengah. Kita akan lewat samping. Pegangan!"
Zian membanting setir ke kanan, menaiki trotoar, dan memacu mobilnya menghantam pagar pembatas seng di samping proyek konstruksi yang belum selesai. Mobil itu melompat, berguncang hebat, dan meluncur masuk ke area bawah tanah jembatan yang masih dalam pembangunan.
"Berhenti di sana!" teriak seorang petugas melalui pengeras suara. Tembakan peringatan terdengar, memecahkan kaca belakang mobil mereka.
"Merunduk!" perintah Zian.
Mobil itu meluncur turun ke terowongan drainase raksasa yang kering. Suara decitan ban bergema seperti jeritan monster di dalam ruang beton sempit itu. Di belakang mereka, dua jip militer mengejar dengan kecepatan tinggi.
"Kael, ambil alih setir!" Zian berpindah posisi ke kursi belakang dengan gerakan lincah, sementara Kael melompat dari kursi penumpang ke kursi pengemudi tanpa menghentikan mobil.
Zian membuka jendela belakang yang sudah pecah dan mengeluarkan senapan serbunya. "Elara, bantu aku melumpuhkan mesin mereka!"
Elara tidak membuang waktu. Dia membuka pintu mobil yang bergerak cepat, bergelantungan dengan satu tangan pada pilar mobil, dan mengarahkan pistolnya. Ini adalah keahliannya: stabilitas di tengah kekacauan. Dia melepaskan tiga tembakan presisi. Tembakan pertama mengenai ban depan jip pengejar, membuatnya melintir dan menghantam dinding terowongan. Tembakan kedua dan ketiga menghantam blok mesin jip kedua, menyebabkannya meledak dalam bola api kecil yang menutup jalan bagi pengejar lainnya.
"Kerja bagus," geram Zian sambil menarik Elara kembali ke dalam.
Mobil mereka keluar dari terowongan drainase di pelabuhan tua yang sepi. Mereka segera meninggalkan mobil itu dan berpindah ke sebuah van butut yang sudah disiapkan oleh kontak rahasia Zian di dunia bawah tanah.
Safehouse 7 terletak di lantai atas sebuah gudang penyimpanan ikan yang berbau amis. Tempat itu kotor, gelap, dan terisolasi—sempurna untuk orang-orang yang tidak ingin ditemukan.
Jenderal Marek ambruk di sebuah kursi kayu tua. Wajahnya pucat pasi karena kehilangan banyak darah. Elara segera mengambil kotak P3K miliknya. Dengan gerakan yang terampil namun dingin, dia mulai membersihkan luka tembak di bahu Marek.
"Kau beruntung pelurunya tidak mengenai arteri," kata Elara tanpa menatap mata pria itu. "Tapi jika kau tidak segera mendapatkan antibiotik, infeksi akan membunuhmu sebelum Gedeon sempat melakukannya."
Marek meringis kesakitan. "Kenapa... kenapa kalian membantuku? Kalian tentara bayarannya, bukan?"
Zian berdiri di dekat jendela, mengintip melalui celah tirai yang berdebu. "Kami tentara negara, Jenderal. Bukan tentara pribadi Gedeon. Dan kau adalah satu-satunya tiket kami untuk membersihkan nama kami sendiri."
Zian berbalik, menatap Elara yang sedang menjahit luka Marek dengan tenang. Ada sesuatu yang berubah dalam cara Zian memandang Elara. Dia bukan lagi sekadar 'agen cantik' yang dikirim untuk memata-matai. Dia melihat seorang prajurit yang memiliki integritas yang lebih tinggi daripada kebanyakan pria yang pernah dia pimpin.
"Kael, jaga perimeter. Elara, ikut aku sebentar," kata Zian.
Mereka melangkah ke balkon kecil yang menghadap ke pelabuhan. Angin laut yang dingin meniup rambut pirang Elara yang berantakan.
"Gedeon sudah menyebarkan fitnah bahwa kita pengkhianat," kata Zian pelan. "Keluargamu... kau punya keluarga, Elara?"
Elara terdiam sejenak. Matanya menatap kejauhan. "Hanya ayahku. Seorang pensiunan kolonel yang menghabiskan waktunya dengan memancing. Jika dia melihat berita itu, dia akan kecewa... atau mungkin dia akan tahu bahwa aku melakukan hal yang benar."
"Ayahku adalah seorang sersan yang tewas karena perintah bodoh dari seorang jenderal yang ingin mendapatkan medali," sahut Zian, suaranya mengandung kepahitan yang mendalam. "Itulah sebabnya aku membangun Phoenix. Untuk memastikan tidak ada lagi nyawa prajurit yang dibuang demi ego politik. Dan sekarang, Gedeon ingin menghancurkan satu-satunya hal yang kupunya."