"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat di Balik Pembekalan
Hari itu pagi, udara di ruang kuliah B302 Fakultas Sastra Undip terasa agak lembab dan penuh kegembiraan yang menyebar. Udah jam sembilan, tapi mahasiswa masih ramai masuk satu per satu beberapa bawa tas ransel besar yang sudah dipersiapkan dengan rapi, yang lain masih sibuk ngobrol sambil menunggu dosen, riang bicara tentang rencana mereka selama KKN.
Puri Retno Mutia duduk di baris kedua, telinga disambung ke earphone dengan volume kecil (lagu yang dia dengar adalah lagu tradisional Jawa yang lembut), tapi matanya tetap fokus ke papan tulis yang ditulisi "PEMBEKALAN KKN TAHUN AJARAN 202X" dengan spidol hitam yang tebal. Dia menulis beberapa catatan di buku bundar berwarna coklat tua miliknya: "siapin surat keterangan domisili, alat tulis lengkap, obat-obatan demam, pilek, nyeri perut, baju layak buat bertemu warga, sandal gunung..." list yang udah dia buat seminggu lalu dan diperiksa berkali-kali.
"Tuh, dia yang lagi nulis-nulis sendirian kayak anak rajin banget!" bisik suara ceria dari belakang. Puri menarik earphone-nya, menoleh, dan lihat Ayu Lestari dan Dina Wijaya udah duduk di kursi belakangnya, senyum lebar sambil memamerkan tas ransel baru yang berwarna pink. "Kamu udah siap banget ya, Puri? Gak takut ke desa yang jauh?" tanya Dina dengan tatapan penasaran.
"Yaudah, daripada lupa-lupa apa-apa. Dan jauh juga nggak masalah, kan kita bareng-bareng?" jawab Puri sambil melipat buku dan meletakkannya di atas meja. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat, lalu seseorang duduk tepat di sebelahnya Rendra Adi Wardana, yang lagi main game mobile legend di hp dengan jari yang cepat bergerak, matanya terpaku ke layar. Dia ngelirik Puri sebentar dengan tatapan cuek, lalu balik fokus ke game-nya. Puri cuma berkata perlahan ini cowok yang selalu datang terlambat, suka main hp di mana-mana, dan jarang ngomong banyak.
Tepat saat itu, pintu ruang kuliah dibuka dengan lembut. Bapak Supriyadi, Dosen Koordinator KKN yang rambutnya udah sedikit putih di ujungnya dan selalu pakai kemeja batik, masuk dengan tas selempang yang isinya laptop dan berkas. Semua mahasiswa langsung diam dan menatapnya, rasa antusiasme mereka semakin memuncak.
"Assalamualaikum, mahasiswa sekalian!" ucapnya dengan suaranya yang khas agak parau tapi ramah, seolah dia sudah kenal semua mahasiswa satu per satu. "Waalaikumsalam. Oke, hari ini kita bahas tentang KKN yang mau mulai besok pagi. Semua kelompok sudah kita bagi berdasarkan pilihan masing-masing dan kebutuhan desa-desa yang akan dituju. Pastinya semua udah nungguin nama kelompoknya ya?"
Dia meletakkan laptop di meja depan, nyalakan proyektor, dan memutar slide. Layar putih yang besar menampilkan daftar kelompok dengan nama-nama mahasiswa dan tujuan desa masing-masing. Segera, semua mata langsung mencari nama sendiri, ada yang ngomong keras kalo dapet desa yang pengen, ada yang sedih kalo dapet jauh. Puri merasa jantungnya berdebar sedikit dia pengen banget ke desa yang punya nuansa budaya kuno, kayak ada bangunan tua atau cerita kuno yang menarik.
"Lanjut ke kelompok 47, ya!" kata Bapak Supriyadi, menggeser slide dengan jempolnya. "Nama-nama yang masuk kelompok ini: Puri Retno Mutia, Rendra Adi Wardana, Ayu Lestari, Rio Pratama, Dina Wijaya, dan Fahri Ramadhan. Dan tujuanmu semua adalah..." dia berhenti sebentar, melihat ke daftar, "...Desa Sidomukti, Kecamatan Temanggung!"
"Desa Sidomukti? Di mana ya? Gak pernah denger sama sekali!" bisik Ayu dengan suara kecil tapi terkejut. Rio Pratama yang duduk di baris depan, yang rambutnya sedikit keriting, balik kepala dengan ekspresi bingung: "Temanggung kan deket Gunung Sindoro, kan? Pasti tempatnya sepi banget, cuma sawah dan hutan doang. Gak ada mall, gak ada warteg modern mau makan apa ya?"
Rendra mengangkat kepala dari hp-nya, matanya sedikit merengek karena lama ngeliat layar. "Sepi juga oke, lebih tenang buat ngeliat langit malam dan bintang-bintang. Lebih bagus dari kampus yang selalu ramai dan polusi udara," ujarnya dengan nada santai. Puri diam, tapi dia merasakan sesuatu yang aneh di dada seolah nama "Desa Sidomukti" itu pernah dia dengar di mana pun, mungkin di mimpi atau cerita neneknya, tapi dia nggak ingat kapan dan bagaimana.
"Di setiap desa, kita sudah sediakan tempat penempatan untuk kelompok KKN," lanjut Bapak Supriyadi, memutar slide lagi ke gambar sebuah bangunan tua. "Untuk kelompok 47, akan tinggal di bale pasanggrahan tua yang ada di pinggiran desa. Lihat ini, gambarnya bangunan ini udah ada sejak masa kolonial, dulu dipakai buat tempat istirahat pedagang yang lewat jalan raya lama. Sekarang udah lama jarang dipakai, cuma dipake buat acara besar seperti syukuran atau pertunjukan wayang sesekali. Jadi perhatikan ya, jaga kebersihan, jaga keamanan, dan kalo ada apa-apa yang aneh atau masalah, langsung hubungi kepala desa atau hubungi saya via telepon."
Saat kata "bale pasanggrahan tua" keluar dari mulut Bapak Supriyadi, dan gambar bangunan itu muncul di layar, lampu ruangan tiba-tiba menyala redup sejenak. Suara mahasiswa yang tadi ramai langsung mati seketika cuma terdengar bunyi kipas angin yang berputar perlahan. Semua melihat ke atap, mencari apa yang salah dengan listrik. Tapi cuma beberapa detik, lampu pulih normal seperti semula, seolah tidak ada yang terjadi.
"Ah, maaf ya, mungkin listriknya putus-putus karena ada pekerjaan di gedung sebelah," ujar Bapak Supriyadi dengan senyum yang santai, seolah ini hal yang biasa. Tapi Puri tidak bisa melepas perasaan anehnya. Dia merasakan dingin menyebar dari punggungnya ke seluruh badan, seolah ada angin dingin yang masuk meskipun semua jendela dan pintu sudah ditutup rapat. Dia menggenggam lengan bajunya dengan erat, dan melihat ke sebelahnya Rendra juga nggak main hp lagi. Matanya sedikit membelok ke arah Puri, dengan ekspresi yang sama-sama bingung dan sedikit takut. Seolah dia juga merasakan dingin itu, dan melihat sesuatu yang tidak terlihat orang lain.
Selain itu, Puri melihat ada selembar kertas yang terjatuh dari meja depan, di mana Bapak Supriyadi duduk. Kertas itu melayang-layang perlahan ke lantai, dan dia melihat tulisan kecil di situ: "dia sudah menunggu lama..." Tapi sebelum dia bisa melihat lebih jelas, Bapak Supriyadi langsung mengambilnya dan melipatkannya masuk ke tasnya, tanpa melihat ke arah mahasiswa.
"Oke, itu aja pembekalan hari ini, ya!" lanjut Bapak Supriyadi, seolah tidak ada yang terjadi. "Semua siap-siap berangkat besok pagi jam enam tepat di halte kampus. Jangan terlambat, karena kita akan berangkat dengan bus kampus bersama. Bawa semua perlengkapan, dan ingat KKN ini kesempatan buat kamu belajar banyak hal di luar kelas. Selamat bersiap, dan semoga sukses!"
Saat mahasiswa mulai keluar ruang kuliah dengan ramai, Puri masih duduk sendirian sebentar. Dingin itu masih terasa di kulitnya, dan kata-kata di kertas yang terjatuh itu masih terngiang-ngiang di kepalanya: "dia sudah menunggu lama..." Siapa yang menunggu? Dan menunggu apa? Dia memegang buku catatannya dengan erat, jari-jarinya sedikit bergetar. Seolah ada sesuatu di Desa Sidomukti yang menunggunya sesuatu yang ingin memberitahu dia tentang masa lalu yang terlupakan, yang dia sudah lupa selama ini.
Rendra yang lagi mau keluar berhenti sebentar di depan kursinya. Dia melihat Puri yang masih duduk sendirian, ekspresinya tertekan. "Kamu oke nggak?" tanyanya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, jauh dari sifatnya yang cuek.
Puri mengangguk perlahan, tapi matanya masih terlihat khawatir. "Iya, gapapa. Cuma sedikit kedinginan aja di ruang ini."
Rendra meliriknya lagi dengan tatapan yang lebih perhatian, lalu melangkah keluar ruang kuliah. Puri pun bangkit, menutup buku catatannya dan mengambil tas ransel. Besok pagi, dia akan berangkat ke Desa Sidomukti dan dia tidak menyadari bahwa perjalanan itu bukan cuma KKN biasa, tapi sebuah perjalanan untuk menemukan masa lalu yang hilang, yang akan mengubah segalanya yang dia kenal.
***********