DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
HAL-HAL YANG TAK TERUCAP
Hujan turun pelan malam itu, bukan hujan yang deras, tapi cukup untuk membuat suara langkah terdengar lebih jelas dari biasanya.
Aira berdiri di teras rumah, menatap halaman yang basah. Lampu ruang tamu masih menyala. Ayahnya belum tidur.
Percakapan dengan Raka tadi sore terus berputar di kepalanya.
Aku di sini.
Kalimat itu sederhana. Tapi justru karena sederhana, Aira merasa Raka benar-benar memegang teguh niat nya untuk menjadi kakak untuk Aira.
Ia menarik napas, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Ayahnya masih duduk di kursi yang sama, kacamata bertengger di ujung hidung, map cokelat terbuka di pangkuannya. Map yang sama seperti yang ia lihat di mimpi.
“Belum tidur, Yah?” tanya Aira pelan.
Ayahnya menoleh. “Belum. Kamu juga.”
Aira mengangguk. Ia duduk di sofa seberang, pura-pura memainkan ponsel, padahal tak ada yang ia baca.
Sunyi menggantung.
“Ayah,” ucap Aira akhirnya, suaranya hati-hati, “proyek lama itu… yang lagi dievaluasi ulang… berat ya?”
Ayahnya berhenti membaca. Tidak langsung menjawab.
“Lumayan,” katanya kemudian. “Kenapa tanya?”
Aira menggigit bibir. “Soalnya… proyek kampusku juga kena imbas. Orang-orang mulai nanya macam-macam.”
Ayahnya menghela napas pelan.
Aira menatapnya. “Ayah?” hanya satu kata yang keluar, tapi dengan satu kata itu tersimpan banyak pertanyaan
Ayahnya menoleh, menatap Aira cukup lama. Ada sesuatu di matanya, bukan marah, bukan takut. Lebih seperti lelah yang disimpan terlalu lama.
“Kadang,” kata ayahnya akhirnya, “orang nggak butuh kebenaran. Mereka cuma butuh pihak yang bisa disalahkan.”
Kalimat itu membuat Aira diam.
“Kalau begitu,” lanjut Aira pelan, “kenapa nama Ayah sering… hilang di beberapa dokumen?”
Ayahnya terdiam.
Detik berlalu.
“Aira,” katanya rendah, “kamu nggak perlu bawa beban ini.”
“Aku anak Ayah,” jawab Aira, suaranya bergetar tipis. “Kalau ada yang salah… atau setengah salah… aku cuma pengin ngerti.”
Ayahnya menutup map itu perlahan.
“Tidak semua keputusan diambil sendirian,” katanya. “Dan tidak semua tanda tangan berarti setuju sepenuhnya.”
Aira menahan napas. “Tapi Ayah tahu, kan, ada yang janggal?”
Ayahnya menatap lantai. “apa ada hal yang dulu… dipercepat. Ditekan.”
Ayahnya menggeleng pelan. “Bukan waktunya.”kata ayah dengan suara pelan "lebih baik kamu pikirkan keinginan ayah, agar kamu bisa magang di perusahaan" ayah langsung berdiri dan pergi ke kamar meninggalkan Aira sendirian di ruang tamu
Jawaban itu tidak memuaskan. Tapi juga bukan penolakan.
Dan itu membuat Aira semakin yakin, ada sesuatu yang memang sengaja ditunda untuk dibicarakan.
...####...
Keesokan harinya, suasana kampus berubah.
Poster proyek mereka dicoret. Diskusi daring penuh komentar tajam. Dan sebuah surat resmi masuk ke email tim.
Pemanggilan klarifikasi.
“Kita dipanggil,” kata Bimo panik. “Ini serius.”
Aira membaca email itu pelan. Jantungnya berdegup.
“Tenang dulu,” kata Raka, berdiri di sampingnya. “Ini belum vonis.”
“Tapi ini tekanan,” jawab Aira. “Dan Ayahku ada di tengahnya.”
Raka menatapnya. “Makanya kamu nggak sendirian.”
Aira tersenyum kecil. “Kamu selalu bilang gitu.”
“Karena itu fakta,” balas Raka ringan, meski matanya tak sepenuhnya tenang.
Saat itu, Aira melihat Langit berdiri agak jauh. Tidak mendekat. Tidak menghindar. Hanya… memperhatikan.
Tatapan mereka bertemu.
Langit mengangguk kecil, seolah berkata nanti.
Entah kenapa, kali ini Aira tidak langsung merasa tenang karenanya.
...####...
Sore itu, Aira duduk di halte lebih dulu. Langit datang beberapa menit kemudian.
“Kamu nggak nunggu lama?” tanyanya.
“Enggak,” jawab Aira. “Aku memang pengin datang lebih cepat.”
Langit duduk. “apakah hari ini melelahkan?”
Aira tertawa kecil. “Semua orang di tim ku merasakan hal yang sama”
Langit tersenyum. “Aku tau”
Mereka diam sebentar.
“Langit,” kata Aira tiba-tiba, “waktu kamu bilang kamu tahu sedikit soal proyek lama itu… kamu tahu dari mana?”
Langit menoleh. “Cerita lama.”
“Cerita siapa?”
Langit menghela napas. “Orang-orang yang dulu terdampak.”
Aira mengangguk. “Ayahku salah satu yang disalahkan.”
Langit terdiam.
“Menurut kamu,” lanjut Aira, “kalau seseorang ikut dalam keputusan yang ternyata melukai banyak orang… dia sepenuhnya bersalah?”
Langit menatap ke depan. “Kadang yang paling bersalah justru yang kelihatan paling bersih.”
Aira menoleh tajam. “Maksud kamu?”
Langit tersenyum kecil. “Bukan ayahmu.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Aira menangkapnya.
“Kamu yakin?” tanya Aira.
Langit menoleh. Untuk sesaat, emosinya loloshanya sedikit, tapi nyata. Rahang mengeras. Tangannya mengepal.
“Aira,” katanya lebih pelan dari biasanya, “kamu harus hati-hati memilih siapa yang kamu percaya.”
Aira balas menatap. “Itu juga berlaku buat kamu.”
Sunyi jatuh di antara mereka.
Langit menarik napas panjang. “Aku cuma nggak mau kamu terluka.”
“Dengan cara mengatur sejauh mana aku boleh tahu?” balas Aira.
Itu bukan pertengkaran. Tapi itu konfrontasi pertama mereka.
Langit berdiri. “Aku pergi dulu.”
Aira mengangguk. “Iya.”
Langit melangkah pergi. Dan untuk pertama kalinya, Aira tidak berharap ia berhenti.
...####...
Malamnya, Raka datang ke rumah Aira. Ibunya menyambut dengan senyum hangat, seolah dunia di luar tak sedang ribut.
Mereka duduk di teras.
“Langit marah?” tanya Raka
“Aku nggak tahu,” jawab Aira. “Tapi dia nggak kaya biasa.”
Raka menghela napas. “Itu yang bikin aku khawatir.”
Aira menatapnya. “Kamu cemburu?” canda Aira, sambil melihat Raka dengan raut muka yang di buat, seperti detektif
Raka tertawa kecil. “Aku ini Abang mu" lanjut Raka "Tapi aku takut langit menyakiti mu.”
“Takut apa?”
“Takut kamu percaya sama orang yang belum tentu berdiri di sisi kamu.”
Aira menunduk. “Aku juga mulai mikir ke arah situ.”
Raka tersenyum tipis. “Berarti insting kamu masih sehat.”
Mereka diam.
“Aku nggak mau kehilangan kamu, adikku ini,” kata Raka tiba-tiba. Jujur. Tidak dramatis.
Aira menoleh. “Aku juga nggak mau kehilangan Abang kayak kamu.”
setelah mengucapkan kalimat itu, merek tertawa, mungkin cukup geli dengan kalimat yang mereka ujarkan tadi,
...####...
Di tempat lain, Langit duduk sendirian. Ponselnya bergetar
Pesan masuk: Dia mulai curiga.
Langit mengetik cepat, lalu menghapus. Mengetik lagi.
Nanti biar aku yang atur
Ia menatap layar lama. Kemudian menutup ponsel.
“Tenang,” katanya pada diri sendiri. “Belum sekarang.”
Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa rencananya tidak sepenuhnya di tangannya.
Dan itu… membuatnya gelisah.
...####...
Pagi itu, rumah Aira terasa lebih sunyi dari biasanya.
Aira duduk di meja makan, menatap ponselnya. Notifikasi terus berdatangan.
Artikel. Tautan. Tangkapan layar.
Judulnya hampir sama: “Proyek Lama, Luka Baru: Keluarga Konsultan Kembali Disorot.”
Tangannya gemetar saat membuka salah satunya.
Nama ayahnya tertulis jelas. Bukan sebagai pelaku tunggal. Bukan pula sebagai korban. Tapi sebagai orang yang menandatangani keputusan yang mengubah hidup banyak orang.
Ibunya meletakkan secangkir teh di depannya. “Jangan dibaca dulu,” kata ibunya pelan.
Aira mengangkat kepala. “Ibu tahu?”
Ibunya diam. Itu sudah cukup sebagai jawaban.
...####...
Di kampus, suasana berubah.
Bisikan-bisikan mengikuti Aira ke mana pun ia pergi. Bukan kasar. Lebih seperti penasaran yang dingin.
Raka berjalan di sampingnya, bahunya sedikit condong, seolah ingin menjadi dinding.
“Kamu harus lihat ini Ai,” kata Raka,
menunjukkan ponselnya saat mereka duduk di bangku taman.
Sebuah foto. Buram. Diambil dari jauh.
Langit. Bersama seorang pria paruh baya. Pria itu memegang map cokelat yang sama seperti yang pernah Aira lihat.
“Ini diambil minggu lalu,” kata Raka. Sebenarnya aku mau kasih lihat kamu dari kemarin,
Aira menelan ludah. “Aku pernah lihat mereka bareng,” katanya pelan. “Aku pikir… cuma kebetulan.”
Raka menggeleng. “Aku cek sedikit. Pria itu… mantan staf lapangan proyek Sungai Selatan.”
Aira menutup mata.
Potongan-potongan kecil itu kini mulai menyambung. Bukan sempurna. Tapi cukup untuk membentuk bayangan.
“Langit tahu lebih banyak dari yang dia bilang,” gumam Aira.
...####...
Siang itu, dosen pembimbing memanggil Aira secara pribadi.
“Kamu harus siap,” katanya. “Ada kemungkinan proyek ini dihentikan sementara.”
“Karena ayah saya?” tanya Aira langsung.
Dosen itu tidak mengelak. “Karena tekanan publik.”
Aira bingung, Ia harus bertindak seperti apa, proyek ini sangat penting bagi Naya, bagaimana kalau Naya tau kalau proyek ini di hentikan?, hubungan nya dengan Naya memang suda ada kemajuan tapi belum cukup membaik.
Keluar dari ruangan itu, Aira merasa kakinya ringan. Bukan lega. Lebih seperti kehilangan pijakan.
Aira kembali mengingat kejadian pada
Malam itu, Aira tidak bisa tidur.
Dan seperti banjir yang menemukan celahnya, ingatan itu datang.
Malam yang sepi.
Ia terbangun karena suara-suara yang berbeda dari biasanya. Bukan teriakan. Bukan pertengkaran keras.
Percakapan pelan. Tapi penuh tekanan.
Aira kecil berdiri di ambang pintu. Boneka lusuh dipeluk erat.
“Aku sudah bilang, Arum,” suara ayahnya rendah, dingin, final.
“Keputusan ini final. Jangan dibahas lagi.”
“Tapi, Mas,” suara ibunya bergetar, “anak kita… Aira berhak tahu kenapa kita harus terus berpura-pura.”
“Cukup.”
Nada ayahnya naik sedikit, lalu ditekan.
“Tidak ada yang berpura-pura. Kita menjalankan peran kita.”
“Citra keluarga ini penting.”
“Jangan sekali-kali kamu ungkit masa ini di depan Aira.”
“Dia tidak perlu tahu.”
“Dia hanya perlu tahu tugasnya.”
Ibunya terdiam lama.
“Aku cuma ingin kita bahagia,” bisiknya.
“Kebahagiaan datang dari ketenangan,” jawab ayahnya.
“Dan ketenangan datang dari kepatuhan pada rencana.”
...####...
Keesokan harinya, Aira memberanikan diri membuka map lama di lemari ayahnya. Map cokelat. Tanpa label.
Di dalamnya:
salinan keputusan proyek,
surat keberatan warga,
dan satu dokumen yang membuat Aira berhenti bernapas.
Daftar relokasi.
Tapi ada yang membuat Aira bertanya-tanya di berkas keluarga yang tergusur ada salah satu kartu keluarga yang membuat Aira penasaran di kartu keluarga tersebut berisi 5 orang dan ada nama Langit Pradana, sebagai Kakak tertua ada di sana.Tapu
Bukan sebagai penerima kompensasi. Melainkan sebagai “pindah mandiri , tanpa tanggungan perusahaan”
"apakah ini langit?" Aira bermonolog sendiri
Aira duduk di lantai.
Ia akhirnya mengerti.
Ayahnya tidak mengambil uang. Tidak memanipulasi data.
Tapi ayahnya memilih diam.
Memilih menandatangani keputusan cepat demi “stabilitas”. Meninggalkan beberapa keluarga tanpa perlindungan. Salah satunya keluarga Langit.
Dan sejak itu, ayahnya hidup dengan satu ketakutan: jika kebenaran dibuka, semuanya runtuh.
Termasuk keluarganya.
Itulah kenapa ia keras. Itulah kenapa ia dingin. Itulah kenapa Aira harus sempurna.
Karena kegagalan bukan lagi kesalahan kecil. Tapi ancaman.
Aira mengira ayahnya hanya sebagai seseorang yang membuat artikel tentang proyek sungai selatan tapi ia salah, artikel itu bukan hanya menyinggung beberapa pihak atau merugikan, yang lebih patal nya ayah nya Aira ikut menanda tangani proyek tersebut, karena itu artikel tersebut begitu kontroversi.
Bersambung