Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA YANG MENYATUKAN DUNIA DAN WARISAN YANG TETAP BERKEMBANG
Mentari pagi menyinari kompleks Yayasan Hadian Global yang baru saja selesai dibangun di pinggiran Jakarta—tempat yang menjadi pusat koordinasi untuk semua kegiatan yayasan di 75 negara. Qinara, yang sekarang berusia dua puluh lima tahun, berdiri di atas atap gedung utama, memandang panorama kota yang luas dan kejauhan yang dipenuhi oleh makna perjalanan panjangnya. Dia mengenakan baju batik kombinasi motif dari berbagai negara—batik Indonesia yang dipadukan dengan pola tradisional Afrika, India, dan Amerika Latin—melambangkan bagaimana yayasan telah menyatukan budaya dari seluruh dunia. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu Pak Santoso yang telah diasah oleh waktu tapi tetap kokoh, dan kotak pemberian ayahnya yang kini telah diubah menjadi museum kecil berisi kenangan dan bukti perubahan yang telah dibuat.
Pak Rio mendekatinya dengan laporan tahunan yang mencatat pencapaian luar biasa. "Qinara, kita telah membantu lebih dari 500.000 anak di seluruh dunia. Program riset pendidikan kita telah menghasilkan metode pembelajaran yang diadopsi oleh lebih dari 2.000 sekolah di negara maju dan berkembang. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa ingin menjadikan tanggal lahir ayahmu—20 September—sebagai 'Hari Dunia Pendidikan Kasih Sayang' untuk mengenang kontribusinya dan semangat yang kamu junjung tinggi."
Qinara merasakan getaran emosi yang mendalam. Dia melihat ke arah langit yang biru cerah, seolah bisa merasakan kehadiran ayahnya yang semakin dekat. "Ini adalah kehormatan yang luar biasa, Pak. Ayahmu tidak pernah mencari pengakuan, tapi dia pasti senang melihat bahwa nilai-nilainya telah menjadi bagian dari kalender dunia. Semua ini karena kita bekerja bersama-sama, tanpa mengenal batasan apa pun."
Kabelo dari Afrika Selatan, yang kini telah menjadi sekretaris jenderal Yayasan Hadian Global, datang dengan delegasi dari berbagai negara yang ingin mendirikan cabang universitas Hadian di negaranya. "Kak Qinara, pemerintah Kenya, Nigeria, India, dan Brasil telah menyetujui rencana untuk membangun cabang Universitas Hadian di masing-masing negara. Mereka ingin mengadopsi model pendidikan kita yang menggabungkan akademik dengan kepedulian sosial."
Seorang menteri pendidikan dari Brasil berkata, "Qinara, Universitas Hadian telah menjadi contoh bagi dunia. Kita ingin membawa model ini ke negara kita agar lebih banyak anak bisa mendapatkan pendidikan yang bermakna."
Qinara tersenyum hangat. "Kita akan memberikan dukungan penuh. Universitas Hadian tidak hanya milik Indonesia—ia milik dunia, dan harus bisa dijangkau oleh semua orang yang membutuhkan."
Sore hari, mereka berjalan ke taman internasional di dalam kompleks yayasan—tempat di mana pohon-pohon dari berbagai negara ditanam oleh delegasi yang pernah bekerja sama. Di tengah taman berdiri patung ayahnya yang telah diresmikan tahun lalu, dengan tulisan di dasarnya yang kini telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa berbeda.
Aisha—yang sekarang berusia tiga belas tahun dan telah menjadi pelukis muda yang dikenal secara internasional—datang bersama dengan kelompok anak-anak dari seluruh dunia yang telah memenangkan kompetisi cerita dan seni bertema "Pendidikan untuk Semua". Mereka membawa karya-karya mereka yang akan dipamerkan di seluruh dunia untuk menginspirasi lebih banyak orang.
"Kak Qinara, karya-karya ini akan dipamerkan di museum-museum besar di Paris, New York, dan Tokyo. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa anak-anak juga punya suara dan bisa berkontribusi pada perubahan," kata Aisha dengan mata yang bersinar.
Qinara melihat karya-karya itu—lukisan, patung, dan buku cerita yang menggambarkan harapan dan impian anak-anak dari berbagai belahan dunia. "Ini luar biasa, Aisha. Kalian adalah bukti bahwa generasi muda memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Kita akan memastikan bahwa karya-kalian bisa dilihat oleh sebanyak mungkin orang."
Keesokan harinya, Qinara terbang ke Paris untuk menghadiri peluncuran pameran internasional karya anak-anak dari Yayasan Hadian. Di sana, dia bertemu dengan seniman terkenal, politisi, dan tokoh masyarakat yang ingin mendukung gerakan pendidikan global.
Seorang seniman Prancis bernama Marie mendekatinya dengan karya lukis baru yang dibuat khusus untuk yayasan. "Qinara, aku telah mendengar cerita kamu dan ayahmu. Lukisan ini menggambarkan kamu yang sedang menerangi jalan bagi anak-anak dari seluruh dunia. Aku ingin memberikan lukisan ini untuk yayasan agar bisa menginspirasi lebih banyak orang."
Qinara menerima lukisan itu dengan hati-hati. Di dalamnya, dia terlihat berdiri di tengah dunia yang penuh warna, dengan tangan terbuka memberikan cahaya kepada anak-anak yang berkerumun di sekelilingnya. "Ini indah, Marie. Aku akan menaruhnya di kompleks yayasan agar semua orang bisa melihatnya."
Malam itu, Qinara berdiri di atas Menara Eiffel yang sedang menyala dengan warna-warni untuk merayakan peluncuran pameran. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan lukisan yang baru diterimanya. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi, kata-katanya seperti bisikan yang hangat di telinganya:
"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."
Dia menyenyum, menyadari bahwa warisan ayahnya telah menjadi bagian dari budaya global. Tidak hanya ribuan sekolah yang dibangun, tapi juga nilai-nilai yang diajunjung tinggi telah menyebar ke setiap sudut dunia—kasih sayang, kebersamaan, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan masa depan yang cerah.
Beberapa minggu kemudian, Qinara kembali ke Indonesia untuk menghadiri perayaan "Hari Dunia Pendidikan Kasih Sayang" yang pertama kali diselenggarakan. Lebih dari 100.000 orang hadir di acara itu—alumni dari seluruh dunia, guru, sukarelawan, delegasi dari lebih dari 100 negara, dan bahkan beberapa kepala negara yang datang untuk merayakan momen bersejarah ini.
Lapangan besar di depan kompleks Yayasan Hadian Global dipenuhi dengan tenda-tenda dari berbagai negara, masing-masing menampilkan budaya dan prestasi pendidikan mereka. Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 96 tahun dan masih memiliki semangat yang tak terkalahkan, diantar ke panggung oleh Siti dan Rudi. Siti kini telah menjadi ketua dewan pengawas Universitas Hadian Global, sedangkan Rudi telah menjadi direktur jenderal rumah sakit yayasan yang kini memiliki cabang di 20 negara.
Pak Santoso mengambil mikrofon dan berkata dengan suara yang jelas dan penuh emosi: "Sekarang aku bisa mengatakan dengan bangga bahwa impian seorang pria bernama Hadian telah menjadi kenyataan dunia. Dari satu sekolah kecil di Jakarta, hingga gerakan global yang menyentuh jutaan jiwa—semua ini karena cinta yang dia berikan pada anak-anak dan tekad seorang gadis muda yang tidak pernah menyerah. Qinara, kamu telah membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Ayahmu pasti sangat bangga padamu."
Setelah pidato, presiden Indonesia memberikan penghargaan "Bintang Republik Indonesia Adipurna"—penghargaan tertinggi negara—kepada Qinara. "Qinara, kamu adalah teladan bagi seluruh bangsa Indonesia dan dunia. Kamu telah menunjukkan bahwa kita bisa memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia melalui kerja keras, cinta, dan tekad yang kuat. Negara ini bangga padamu."
Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh tempat, disertai dengan nyanyian lagu kebangsaan dari berbagai negara yang menyatu dalam harmoni. Anak-anak dari seluruh dunia menyanyikan lagu "Cahaya untuk Semua" yang telah menjadi lagu resmi perayaan, dan semua orang bergandeng tangan, merasakan hubungan yang tak terpisahkan antar manusia.
Malam itu, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama keluarga besar yang telah tumbuh selama bertahun-tahun—Laras, Pak Rio, Pak Santoso, Siti, Rudi, Kabelo, Aisha, dan ratusan teman dari seluruh dunia. Dia membawa penghargaan yang diterimanya dan lukisan dari Marie. Dia duduk di dekat makam, berbicara dengan penuh rasa syukur:
"Ayah, hari ini dunia merayakan 'Hari Dunia Pendidikan Kasih Sayang' yang diambil dari tanggal lahirmu. Kita telah membantu lebih dari 500.000 anak di seluruh dunia, membangun cabang universitas di berbagai negara, dan menyebarkan nilai-nilai kamu ke setiap sudut dunia. Semua ini karena kamu pernah memberi aku impian yang besar."
Dia melihat ke arah langit malam yang penuh bintang, dan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai ayahnya tampak seperti sedang tersenyum padanya. "Sudah dua puluh lima tahun sejak kamu pergi, tapi kamu hidup dalam setiap anak yang belajar, setiap guru yang mengajar, setiap orang yang membantu orang lain. Kamu hidup dalam warisan yang kita bangun bersama—warisan yang tidak akan pernah padam."
Laras memeluknya dengan erat, air mata kebahagiaan mengalir deras di wajahnya. "Qinara, aku tidak pernah membayangkan bahwa kita bisa sampai sejauh ini. Ayahmu pasti sangat bangga padamu, dan aku juga bangga menjadi ibumu. Kamu telah membangun sesuatu yang abadi—sesuatu yang akan terus menerangi dunia selama-lamanya."
Qinara membalik memeluk Laras, merasa bahwa semua perjuangan dan tantangan yang dia alami selama bertahun-tahun telah bernilai lebih dari apa pun. "Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang yang telah mempercayai kita, tidak ada yang mungkin terjadi. Kita adalah keluarga yang menyatukan dunia, dibangun dari hati dan kasih sayang yang tak terbatas."
Mentari esok akan muncul, membawa harapan baru dan impian yang lebih besar. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, dengan banyak hal yang harus dilakukan—membangun lebih banyak sekolah, mengembangkan metode pendidikan yang lebih baik, dan menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam perjuangan ini. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak akan pernah sendirian—warisan ayahnya telah tumbuh menjadi gerakan global yang akan terus berkembang, membawa cahaya dan harapan ke setiap sudut dunia yang membutuhkan.
Dia berdiri tegak, memegang kotak pemberian ayahnya dan tongkat kayu Pak Santoso, melihat ke arah masa depan yang cerah dan penuh harapan. Cahaya ayahnya akan selalu menyinari jalanannya, dan warisan ayahnya akan tetap hidup selamanya—sebagai bukti bahwa cinta adalah kekuatan terbesar di dunia, dan bahwa satu orang bisa mengubah takdir jutaan orang.