Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tak butuh gelar itu
Semua orang yang ada di aula istana memandang permaisuri Ling dengan tatapan mata yang begitu tajam, begitu pula dengan Kaisar Han dan selir Jia, mereka berdua menatap sosok yang datang bersama dengan ibu suri. Dia memakai gaun yang begitu lembut, tatapan matanya dan sorot matanya begitu tajam, bibirnya berwarna merah rambutnya hitam kelam tanpa banyak dihiasi aksesoris.
Semua mata tertuju pada permaisuri Ling yang melangkah anggun memasuki aula istana. Gaunnya yang terbuat dari sutra tipis berwarna biru muda membelai tubuhnya dengan lembut, seolah menyatu dengan udara di sekitarnya. Tatapan matanya begitu tajam, seperti mengiris tiap jiwa yang berani menatapnya terlalu lama. Bibir merah merekahnya tersusun rapi, menambah aura dingin yang terpancar dari sosoknya. Rambut hitam legamnya tergerai lurus tanpa hiasan berlebihan, menegaskan kesederhanaan sekaligus keanggunan yang memikat sekaligus menakutkan.
Kaisar Han duduk di singgasana dengan pandangan yang seketika berubah, matanya melebar, seolah baru kali ini melihat permaisuri Ling dengan mata yang berbeda. Bukan sebagai istrinya, melainkan sebagai sosok asing penuh misteri dan kekuatan yang tak terduga. Di sampingnya, Selir Jia menatap permaisuri dengan wajah yang membeku, campuran antara cemburu dan kekaguman, sementara ibu suri berdiri tegak, memerhatikan dengan senyum tipis penuh arti.
Ruangan itu terasa beku, seolah waktu berhenti sesaat hanya untuk memberi ruang bagi ketegangan yang terbangun di antara mereka.
"Hormat hamba yang mulia." ucap salah satu menteri yang mendekati Ibu suri, namun kedua matanya menatap wanita yang ada di samping Ibu suri. Ibu suri menganggukkan kepalanya, dia kemudian duduk di singgasana bersebelahan dengan Kaisar sedangkan Ling Xu-mei dia duduk sedikit jauh dari ibu suri.
Semua mata tiba-tiba tertuju ke arah Ling Xu-mei. Dia merasa aneh, benar-benar asing dengan orang-orang di ruangan itu. Mungkin, pikirnya, hanya pemilik asli tubuhnya yang mengenal mereka. “Mereka itu kayaknya mau congkel mataku!” gumam Ling Xu-mei dalam hati sambil mengerjap cepat. “Mana mungkin mereka nggak pernah lihat wanita secantik aku, ya? Lihat tuh, matanya pada melotot kayak mau copot!” Tapi dia berusaha menepis rasa canggung itu, mengabaikan tatapan-tatapan penuh tanya di sekelilingnya. Tiba-tiba, suara dingin memecah kesunyian ruangan.
“Sebenarnya pertemuan ini untuk apa?” tanya ibu suri, yang membuka pertemuan malam itu dengan penuh wibawa.
Ling Xu-mei menegakkan pundaknya, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
"Para menteri ingin membicarakan penobatan Permaisuri baru, Ibu," jawab Kaisar Han dengan nada yang dingin.
Ibu Suri menoleh tajam ke arah putranya, matanya melebar, seketika kemarahan menyala di dalamnya. "Apa maksud kalian semua?!" suaranya menggema mengguncang seluruh aula pertemuan.
Para menteri terdiam membeku. Kaisar Han menatap Permaisuri Ling yang duduk tenang, tanpa menunjukkan sedikit pun gelisah. "Sesuatu yang besar sedang kalian rancang, dan aku tidak akan tinggal diam!" lanjut Ibu Suri, suara bergetar menahan amarah. "Kalian ingin melengserkan Permaisuri Ling, bukan?" Suasana menjadi hening sesaat sebelum salah satu menteri berani membuka suara, "Ibu Suri, kami hanya menginginkan yang terbaik bagi kerajaan..." "Yang terbaik menurut kalian? Menghancurkan kehormatan dan kedamaian?" potong Ibu Suri tajam. "Aku tidak akan biarkan ini terjadi!"
“Mohon ampuni kami, Yang Mulia Ibu Suri,” suara salah satu pejabat terdengar tenang, penuh keyakinan. “Permaisuri Ling… tidak pantas disandingkan dengan Yang Mulia Kaisar. Dia tak memiliki kualitas sebagai seorang permaisuri.”
Ibu Suri mengerutkan dahi, hendak membela, Pejabat itu malah mengangkat bahu seolah tak peduli, sedang Ling Xu-mei juga tidak terlalu peduli mau jadi permaisuri atau bukan. Toh di dunia anta branta itu, dia hanya pengungsi yang mendapatkan kesempatan kedua.
Kaisar Han, yang sejak tadi diam, kini menimpali dengan suara berat, “Ibunda, wanita itu memang tak layak menjadi permaisuri kerajaan ini. Tidak punya kualitas. Tidak punya jiwa seorang ibu negara.”
Ling Xu-mei menghela napas dalam-dalam, menahan panas yang menjalar di dadanya. Titik terang di wajah Ibu Suri yang hendak membelanya pun segera padam, terhenti oleh ketegasan Ling Xu-mei sendiri. Ia memilih diam, meskipun hati bergejolak hebat.
"Biarkan saja mereka mengganti permaisuri kerajaan ini, Ibu suri. Mereka ingin menjadikan seorang gundik sebagai ibu kerajaan ini. Aku tidak peduli, bagiku jabatan permaisuri adalah jabatan yang tidak harus aku perebutkan, apalagi kaisar adalah seorang pria yang menurutku tidak mempunyai kelayakan sebagai seorang suami. Kalian ingin melengserkan ku, bukan? terserah, lagi pula aku juga tidak menginginkan kedudukan sebagai permaisuri kerajaan ini." Ling Xu-mei memberikan jawaban di depan seluruh orang yang ada di ruangan itu. kata-katanya begitu angkuh dingin dan sorot matanya menatap mereka semua dengan begitu tajam, bibirnya berwarna merah merona itu seperti belati yang langsung mengiris semua nyali orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Jaga bicara mu itu permaisuri!" seru Kaisar Han.
Ling Xu-mei menoleh menatap pria yang masih sah sebagai suaminya itu. alias suami asli pemilik tubuh yang dia tempati.
"Kenapa sih, harus repot-repot jaga tata krama, yang mulia? Kamu mau buang aku, terus angkat gundik jadi permaisuri, kan? Ya sudah, terserah kamu! Dunia ini luas, nggak cuma kamu yang punya tempat. Aku juga nggak peduli sama status permaisuri!" Ling Xu-mei melotot tajam, suaranya dingin seperti es yang merayap. "Kamu mau ceraikan aku, buang aku, atau nggak ngakuin aku, bebas! Aku nggak ambil pusing."
Dia membalikkan badan pelan, lalu melangkah keluar ruangan dengan senyum sinis yang menusuk.
Kaisar Han hanya terdiam, membeku. Baru kali ini dia bertemu wanita dengan kesombongan yang mengalahkan dirinya sendiri. Senyum dingin itu terasa begitu menusuk, seolah bisa membekukan siapa saja yang berani menatapnya.
orang-orang yang ada di ruangan itu seolah membeku mereka terdiam tanpa bisa mengatakan apapun dulu dia selalu mati-matian agar bisa selalu dengan Kaisar namun sekarang seolah dia tidak peduli status sebagai permaisuri atau dia diceraikan oleh kaisar kerajaan Hanzo.
"Wanita itu benar-benar tidak tahu diri, beraninya dia mengatakan hal itu." ucap Kaisar Khan yang menahan amarahnya namun kata-kata yang diucapkan oleh Ling Xu-mei membuat sang Kaisar merasakan aura dingin yang begitu luar biasa kebencian dan sakit hati menjadi satu.
Setelah kejadian malam itu banyak pro dan kontra mengenai pelengseran permaisuri, hal itu membuat Kaisar Han mengurungkan niatnya untuk mengangkat selir Jia sebagai permaisuri. Banyak yang mengatakan selir Jia adalah wanita dari kasta rendahan, bekas wanita penghibur yang diangkat derajatnya oleh sang Kaisar, hal itu membuat kontroversi yang sangat luar biasa.
Beberapa hari telah berlalu, Ling Xu-mei lebih memilih untuk tinggal di bangunan terbengkalai milik nya dahulu, Ibu suri sering sekali mendatangi tempat itu dan mengganti nama paviliun kosong dengan nama paviliun keindahan.
"Kenapa Ibu suri mengajakku ke tempat pelatihan para tentara?" tanya Ling Xu-mei.
"Kamu akan melihat para prajurit berlatih, kamu bilang kamu kan suka dengan kekerasan, maka aku ingin melihatmu menaklukkan para prajurit." jawab ibu suri.
Ling Xu-mei menganggukkan kepalanya, jelas sekali Ibu suri memiliki rencana untuk dirinya. ketika di barat militer para prajurit Ling Xu-mei disuguhkan pemandangan yang membuat kedua bola matanya langsung membulat sempurna.
*Bersambung*
semangat berkaryaa