NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 — Nada yang Tidak Seimbang

Latihan sore itu seharusnya berjalan seperti biasa.

Studio musik kampus terasa lebih hidup dari biasanya. Semua personel Silent Echo hadir lengkap. Drum set Yukito terbuka tanpa kain penutup. Keyboard Mei sudah menyala, layar kecilnya memantulkan cahaya kebiruan. Kabel-kabel gitar dan bass terbentang—tidak lagi sekadar rapi, melainkan benar-benar siap digunakan.

Hinami juga ada di sana.

Ia duduk di dekat dinding dengan buku catatan kecil di tangannya, tempat ia biasa mencoret ide konsep visual, urutan lagu, dan hal-hal yang tidak selalu terdengar, tetapi terasa saat tampil di panggung. Kehadirannya membuat suasana sedikit berbeda. Lebih ramai. Lebih hangat.

Airi berdiri di dekat mikrofon utama. Ia menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan jarak bibirnya dengan mic. Wajahnya tampak fokus, namun matanya sesekali melirik ke arah lain—ke arah Ren dan Haruto yang berdiri agak berjauhan, masing-masing sibuk dengan alat mereka.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada kata-kata tajam.

Namun ada sesuatu di udara yang tidak sepenuhnya selaras.

“Mulai dari lagu kedua,” kata Haruto, suaranya tegas namun tetap tenang. “Bagian reff langsung ulang dua kali.”

“Siap,” jawab Yukito dari balik drum.

Ren hanya mengangguk.

Latihan dimulai.

Ketukan drum masuk tepat waktu. Keyboard mengikuti dengan chord yang bersih. Bass Haruto menyusul, membangun atmosfer yang perlahan menguat. Semuanya terdengar benar—secara teknis.

Namun Ren terlambat setengah detik.

Bukan kesalahan besar. Tidak cukup mencolok untuk menghentikan latihan. Tapi cukup untuk membuat Yukito melirik ke arahnya sebentar sebelum kembali fokus.

Airi mulai bernyanyi.

Suaranya mengisi ruangan dengan lembut, namun kuat. Ia menutup mata sesaat, membiarkan dirinya larut. Musik selalu menjadi tempat paling aman baginya. Di sana, ia tidak perlu menebak ekspresi orang lain. Tidak perlu membaca situasi. Ia hanya perlu jujur.

Namun bahkan di tengah nyanyian itu, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Nada gitar Ren sedikit berubah.

Tidak fals.

Hanya… lain.

Seolah pikirannya tidak sepenuhnya ada di ruangan itu.

“Stop,” kata Haruto tiba-tiba.

Semua suara berhenti.

“Ada yang nggak pas,” lanjutnya, menatap sekilas ke arah Ren. “Bagian transisi barusan.”

Ren mengangguk. “Ulang dari bridge.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Latihan diulang.

Kali ini Ren masuk tepat waktu, tetapi jari-jarinya terlihat lebih kaku. Gerakannya presisi, namun kehilangan kelenturan yang biasanya ia miliki. Yukito kembali melirik—kali ini lebih lama.

Hinami yang duduk di sudut ruangan ikut memperhatikan.

Ia bukan musisi teknis, tetapi ia peka pada suasana. Dan ia tahu, musik yang bagus bukan hanya soal nada, melainkan tentang bagaimana orang-orang di dalamnya saling terhubung.

Dan sore itu, ada benang yang terasa sedikit tertarik terlalu kencang.

“Ren, kamu oke?” tanya Yukito akhirnya saat jeda minum.

Ren meneguk air mineralnya. “Oke.”

Jawaban yang terlalu cepat.

Haruto berdiri tidak jauh dari mereka, membuka tablet dan mencatat sesuatu. Ia tidak menatap Ren secara langsung, tapi ia mendengar semuanya.

Hinami berdiri dan menghampiri Airi.

“Kamu capek?” bisiknya.

Airi menggeleng. “Nggak. Cuma… suasananya agak beda.”

Hinami tersenyum kecil. “Kamu peka.”

Airi menatap ke arah Ren. Ia mengenalnya terlalu lama untuk tidak menyadari perubahan sekecil apa pun—cara Ren berdiri, cara ia memegang gitar, bahkan caranya menghindari tatapan Haruto.

Namun Airi tidak bertanya.

Ia belajar sejak lama bahwa tidak semua hal perlu ditanyakan saat itu juga.

Latihan dilanjutkan.

Kali ini mereka mencoba lagu baru—aransemen yang direncanakan untuk penampilan Halloween. Musiknya lebih gelap, lebih emosional. Intro instrumentalnya panjang, membangun ketegangan sebelum vokal masuk.

Haruto memberi aba-aba dengan anggukan kecil.

Ren mulai bermain.

Nada gitarnya seharusnya menjadi fondasi. Namun ada satu momen—satu tarikan senar—yang terdengar lebih keras dari seharusnya. Yukito refleks memperlambat ketukan, mencoba menyesuaikan.

Haruto mengangkat tangan. “Stop dulu.”

Ren menghela napas, menurunkan gitarnya.

“Ren,” kata Haruto, kali ini menatapnya langsung. “Kamu lagi nggak fokus.”

Ruangan mendadak hening.

Airi menahan napas.

Hinami menutup bukunya perlahan.

Ren menatap Haruto balik. Tidak marah. Tidak defensif. Hanya lelah.

“Aku fokus,” katanya. “Mungkin cuma perlu adaptasi.”

Haruto mengangguk, tapi ekspresinya tidak sepenuhnya yakin. “Kalau ada yang mau dibicarakan—”

“Nanti,” potong Ren singkat.

Kata itu jatuh dengan halus, namun cukup untuk menghentikan percakapan.

Yukito berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana. “Yaudah, kita break lima menit lagi.”

Semua menyebar ke sudut masing-masing.

Airi duduk di dekat mikrofon, memijat jemarinya. Ia melirik Ren yang berdiri sendirian di dekat jendela kecil studio, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.

Hinami sempat mendekat ke arah Ren, namun berhenti beberapa langkah sebelum sampai. Ia memilih diam. Tidak semua konflik butuh disela.

Haruto berdiri di sisi lain ruangan, menatap papan tulis berisi jadwal latihan dan daftar lagu.

Nama Airi tertulis di tengah, dilingkari.

Ren melihat itu.

Dan di situlah konflik kecil itu benar-benar lahir.

Bukan karena Haruto menyukai Airi.

Ren sudah tahu itu.

Bukan karena Haruto membentuk band.

Ren juga sudah menduganya.

Tetapi karena kini, alasan itu menjadi nyata.

Terlihat.

Tertulis.

Dan Ren berada tepat di tengahnya.

Latihan dilanjutkan hingga senja semakin gelap. Lampu studio dinyalakan, menggantikan cahaya matahari yang perlahan menghilang. Musik kembali mengalun—lebih rapi, lebih terkendali.

Ren kembali fokus. Setidaknya terlihat begitu.

Namun Yukito masih bisa merasakan perbedaannya. Seorang drummer tahu kapan seseorang bermain dengan hati, dan kapan hanya dengan tangan.

Airi menyelesaikan lagu terakhir dengan baik. Suaranya stabil, emosinya tepat. Tepuk tangan kecil terdengar—bukan euforia, melainkan pengakuan.

“Cukup untuk hari ini,” kata Haruto akhirnya.

Peralatan mulai dibereskan.

Hinami dari kejauhan mengisyaratkan ke Airi. “Kamu keren tadi.”

Airi tersenyum kecil. “Makasih.”

Ia melirik Ren sekali lagi. Ren sudah memanggul tas gitarnya, bersiap pergi lebih dulu.

Haruto memperhatikannya, namun tidak menghentikan. Tidak sore itu.

Ren berhenti sejenak di pintu studio, menoleh ke arah Airi yang tidak jauh darinya.

“Airi,” katanya pelan. “Pulang sekarang, ya.”

Nada suaranya tidak memerintah. Tidak keras. Tapi tegas.

Airi mengangguk refleks. “Iya.”

Haruto berdiri agak jauh, menatap mereka sebentar, lalu kembali fokus pada kabel di tangannya. Ia tidak berkata apa-apa.

Hinami melambaikan tangan kecil. “Hati-hati.”

Yukito mengamati dari jauh, alisnya sedikit berkerut. Ia tidak menyela.

Ren sudah berdiri di dekat pintu. Menunggu.

Airi berjalan mendekat.

Ketika pintu studio tertutup di belakang mereka, suasana berubah.

Tidak tegang.

Namun sunyi.

---

Perjalanan pulang mereka diisi langkah-langkah yang tetap sinkron, seperti biasa. Jalanan menuju halte bus terasa lebih lama meski jaraknya tidak jauh dari gerbang utama universitas. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di trotoar.

Ren berjalan setengah langkah di depan Airi.

Tidak jauh.

Namun cukup terasa.

Mereka tidak membicarakan latihan. Tidak pula membahas ketegangan di studio.

Sampai—

“Ano…” suara Airi terdengar ragu. “Tadi kamu kenapa, Ren?”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Begitu sadar apa yang ia katakan, Airi langsung menutup mulutnya dengan tangan. Matanya melebar.

Ren berhenti melangkah.

Ia menoleh pelan.

Tatapannya tidak marah. Tidak pula terkejut. Hanya… dalam.

Ia menghela napas panjang.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kita mampir minimarket dulu. Beli cemilan.”

Airi menurunkan tangannya. “Eh?”

“Terus,” lanjut Ren, “kita ke taman sebentar.”

Airi mengangguk, meski masih kebingungan.

---

Taman kecil di dekat kompleks itu hampir kosong.

Bangku kayu di bawah lampu taman terlihat usang, namun bersih. Angin malam berembus pelan, membawa suara dedaunan yang saling bergesekan.

Mereka duduk berdampingan.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Airi menatap tangannya sendiri. Ren menatap tanah di depannya.

Keheningan itu bukan canggung—melainkan berat.

Akhirnya, Airi menoleh.

“Kau tadi nggak seperti biasanya, Ren,” katanya pelan. “Kamu capek? Atau… lagi kepikiran sesuatu?”

Ren tersenyum kecil—senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Ya,” katanya. “Kamu memang peka.”

Airi mengernyit. “Aku?”

“Iya.” Ren menatapnya. “Kupikir nggak terlalu kelihatan.”

Ia menghela napas panjang, seolah menimbang kata-kata yang ingin keluar.

“Kamu pernah kepikiran,” lanjutnya, “melihatku sebagai apa, Ri?”

Airi terdiam sejenak. “Sebagai… Ren?”

Ren menggeleng pelan. “Bukan itu.”

“Aku ingin,” katanya kemudian, pelan, “kamu melihatku sebagai lelaki. Bukan cuma teman masa kecilmu.”

Udara terasa berhenti.

“Aku… sudah menganggapmu lelaki, Ren.”

“Tidak.”

Nada suaranya tetap rendah, tapi tegas.

“Kamu tidak melihatku seperti itu.”

Ren meraih tangan Airi. Pegangannya hangat. Tegas. Tidak kasar.

Airi membeku.

Jarak mereka mendadak terlalu dekat untuk sekadar percakapan biasa.

Ren menarik Airi ke dalam pelukan.

Tubuhnya kaku, seolah menahan sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan.

“Maaf,” bisiknya. “Taman ini sepi.”

Airi menggenggam ujung jaket Ren tanpa sadar.

“Sebentar saja,” lanjut Ren pelan. “Aku nggak perlu cerita apa-apa. Kamu di sampingku seperti ini… bikin aku merasa lebih baik.”

Ciuman singkat mendarat di pipi Airi.

Ringan.

Namun cukup untuk membuat dunianya terasa miring.

“Ren…” suara Airi bergetar. “Kamu kenapa?”

Ren perlahan melepaskan pelukannya.

“Airi,” katanya lirih, “kamu belum benar-benar melihatku sebagai lelaki.”

Ia berbicara tentang festival musim panas. Tentang mata yang sembab. Tentang obake. Tentang Haruto.

“Kamu nggak menolaknya,” katanya pelan. “Padahal disentuh sedikit saja oleh orang lain bisa membuatmu mengingat masa lalumu. Traumamu.”

Airi membeku.

“Tapi barusan,” Ren menatapnya tajam, “kamu tidak mengelak. Tidak melepaskan dirimu dari pelukanku.”

Ia tertawa kecil—pahit.

“Karena kamu tahu aku.”

Ren berdiri dari bangku, menatap langit yang gelap.

“Atau karena di matamu aku tidak spesial,” katanya pelan. “Hanya teman masa kecil.”

Kata-kata itu jatuh berat.

“Ren,” kata Airi akhirnya, “aku ingin pulang.”

Ren mengangguk. “Iya.”

---

Di sisi lain taman, dari kejauhan, seseorang berdiri diam.

Yukito.

Ia baru saja keluar dari apartemennya ketika melihat dua sosok itu di bangku taman. Ia tidak berniat mendekat. Tidak ingin mengganggu.

Namun ketika kata trauma terdengar, langkahnya terhenti.

Ia melihat mereka dari jauh—tidak jelas wajahnya, tetapi cukup untuk menangkap suasananya.

Yukito tidak mendekat.

Namun malam itu, satu pertanyaan mulai tumbuh di kepalanya.

“Ada apa dengan Airi dan Ren…?”

“Trauma Airi,” gumamnya pelan.

---

Perjalanan pulang kembali sunyi.

Ren berjalan di samping Airi, seperti biasa—tenang, namun dengan jarak yang tak terlihat.

Sesampainya di depan rumah Airi, Ren berhenti.

“Aku pulang dulu,” katanya. “Jangan lupa makan, mandi, lalu istirahat. Besok latihannya keras.”

Airi tersenyum kecil. “Baik. Kamu malah seperti ibuku.”

Ren terkekeh pelan.

Mereka saling melambaikan tangan.

Ren berjalan pergi.

---

Rumah Ren kembali sunyi.

Ia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit.

Wajah Airi.

Keheningannya.

Tangannya yang tidak menolak.

“Airi,” gumamnya lirih,

“sebenarnya… hubungan apa yang kau miliki dengan Haruto?”

Sunyi menjawabnya.

---

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!