Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy!
Keesokan paginya,
Yusuf merasa sakit kepala setiap pagi karena selain harus bangun lebih awal, bahkan sebelum subuh untuk menyiapkan sarapan, bekal dan juga seragam anak-anaknya.
Padahal Dia sudah menikahi Niken, tapi Dia tetap merasa enggan untuk mengajak Niken tinggal di rumah ini.
Bagaimanapun rumah ini adalah tempat tinggalnya dan Nurma selama 12 tahun.
Tapi kalau Nurma tetap nekat untuk bercerai, Yusuf memutuskan untuk membawa Niken tinggal disini. Biar saja.
Jadi, nanti kan Niken yang akan menyiapkan segalanya. Dia bisa tidur lagi setelah sholat subuh seperti biasanya dan bangun setengah 8, lalu berangkat kerja.
Sudah hampir sebulan Nurmala bahkan tidak pernah menghubunginya sekalipun, tidak menanyakan kabar anak-anaknya. Sungguh istri durhaka dan Ibu yang lalai.
Beberapa waktu lalu gugatan cerainya sudah di daftarkan ke pengadilan. Sidang pertama akan diadakan Minggu depan.
Yusuf yakin, Nurmala pasti akan datang. Tidak mungkin bahwa wanita itu sudah melupakannya. Nurmala hanya mencintai Yusuf selama ini. Jadi Yusuf percaya diri, sidang pertama nanti, Nurmala akan memohon-mohon agar Yusuf mau kembali padanya.
Yusuf sudah membayangkan. Dia akan pura-pura menolak lalu akan bertindak seolah-olah Dia terpaksa untuk kembali. Biar Nurma sadar diri. Sudah tua, siapa yang mau sama Dia selain Yusuf?
"Aduhhh, gagal lagi"
Untuk kesekian kalinya, Yusuf gagal menyiapkan sarapan. Anak-anaknya pun hampir tidak mau memakan habis sarapannya, bahkan bekal yang Yusuf siapkan hampir tidak tersentuh. Alasannya tidak enak lah, bau amis lah, keasinan lah.
Akhirnya Yusuf membeli sarapan dan makanan instan di minimarket. Namun tentu saja rasanya sangat boros. pengeluarannya bulan ini meningkat drastis. Beda saat ada Nurma. semuanya terkontrol dengan baik.
'Aaarggh! Sialan. Udah bener jadi ibu rumah tangga aja, ngurus rumah, malah sok-sokan kabur dan minta cerai cuma gara-gara suami nikah siri, berlagak memang!' Yusuf membatin.
Melihat waktu yang sudah mulai siang, akhirnya Yusuf kembali memesan makanan.
Kemudian membangunkan anak-anak yang merupakan tantangan tersendiri. Dua anak itu benar-benar sulit untuk bangun kalau tidak mengamuk dulu.
Entah bagaimana dulu Nurmala membangunkan Raden dan Sofia. Dia baru sebulan saja rasanya ingin menjewer telinga kedua bocah itu sampai bangun.
"Hari ini kalau susah bangun lagi, Aku jewer beneran" Ucap Yusuf kemudian bergegas membangunkan kedua anaknya yang tidur di kamar yang berbeda.
Pertama-tama Yusuf pergi ke kamar Putra sulungnya, Raden.
"Raden bangun, udah jam 6, cepetan mandi terus sarapan"
"Mmmmhhh, nggak mau"
"Ayo cepetan, nanti kesiangan, Papa harua berangkat kerja!"
"Nggak mau, Aku masih ngantukkk!" Sahut anak itu sambil menutupi kembali badannya dengan selimut.
Yusuf bukanlah orang yang sabar. Situasi yang menyebalkan setiap pagi ini membuatnya semakin kesal. Ia pun tidak bisa mengendalikan diri lagi, tangannya yang besar langsung mencengkeram baju Raden kemudian menyeretnya turun dari tempat tidur hingga anak itu jatuh tersungkur di lantai.
"Papa! Apa-apaan sih! Huaaaa" Anak itu mulai menangis, padahal umurnya sudah sepuluh tahun, tapi kelakuannya sangat kekanak-kanakan. Ini semua gara-gara Nurmala yang tidak becus mendidik anak! Yusuf membatin.
Dia kemudian membentak,
"Diam! kalau Kamu nggak siap-siap sekarang untuk sekolah, Papa kurung Kamu di gudang"
Deg
Raden merinding melihat tatapan Ayahnya yang begitu dingin dan menyeramkan. Ia tak pernah melihat sisi Ayahnya yang kasar dan mengerikan seperti ini. Raden pun hanya mengangguk patuh lalu menundukkan kepalanya.
Yusuf membuang nafas dengan kesal lalu pergi ke kamar Putrinya, Sofia.
Sofia sedikit lebih mudah untuk dibangunkan, jadi Yusuf tidak perlu bertindak terlalu keras padanya, meski begitu, Sofia sangat sulit untuk makan makanan yang tidak sesuai seleranya. Dia merupakan picky eater yang cukup parah. Jadi saat sarapan, Yusuf terpaksa memarahinya dengan keras hingga hampir menjejalkan sarapan buatannya ke mulut Sofia, membuat anak perempuan berusia 9 tahun itu gemetar ketakutan.
"Ini semua gara-gara Mama! Coba aja mama nggak kabur dari rumah, Papa nggak akan marah-marah sama Kita"
Ucap Raden.
"Bener, selain nggak keren Mama juga bikin masalah. Kenapa Papa nggak bawa Mama Niken tinggal sama Kita aja ya? Jadi kan Mama Niken yang ngurusin Kita?" Sahut Sofia.
"Setuju. Biarin Mama nyesel. Aku juga nggak suka sama Mama! lebih suka Mama Niken yang cantik dan keren!"
"Betul! Nanti Kita bilang aja ke Papa ya, biar Mama Niken mau tinggal sama Kita" Ucap Sofia, kemudian Raden pun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
Sementara di sisi lain.
Hari pertama Nurmala bekerja di rumah sakit Bhakti Dharma di bagian dokter umum poliklinik.
Ternyata ucapan Dewangga benar, poliklinik dokter umum lebih sibuk dibandingkan spesialis yang lain. Mungkin karena masyarakat masih awam dengan penyakit dalam, jadi setiap keluhan yang mereka pikir ringan, hanya perlu diobati saja.
Meski begitu, Nurmala akan memeriksa dengan secermat mungkin, jika memang perlu rujukan ke dokter spesialis, Dia akan melakukannya, supaya pasien-pasien yang memang memerlukan penanganan khusus bisa segera mendapatkan pelayanan yang tepat dan cepat.
Meski masih terbilang pagi, ternyata rumah sakit ini cukup sibuk. Walaupun rumah sakit ini adalah milik swasta, tapi biaya berobatnya sangat terjangkau, rumah sakit ini juga menerima pelayanan BPJS atau jika tidak memilikinya, maka cukup membawa surat keterangan tidak mampu dari kelurahan saat datang berobat.
Sistem seperti ini sudah jarang dipraktikkan di era modern ini, tapi Dewangga tetap menerapkannya. Dia Benar-benar dokter yang baik dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
"Selamat pagi dokter Nurma..." Orang yang dipikirkan oleh Nurmala, tiba-tiba muncul.
Lho... Sejak kapan Dia berdiri di sana? Batin Nurmala seraya menatap Dewangga yang bersandar di sisi pintu.
"Pagi dokter Dewangga..."
"Gimana prakteknya hari ini, lancar?"
"Alhamdulillah, lancar... Sudah 12 tahun lebih Saya tidak melayani pasien, ternyata sensasinya masih sama. Senang dan terharu..."
"Terharu?"
"Iya, setiap melihat wajah pasien yang penuh rasa terima kasih setelah menerima pemeriksaan membuat Saya terharu. Saya merasa perjuangan saya selama menempuh pendidikan kedokteran tidak sia-sia, dan bisa tersalurkan dengan benar. Saya merasa tenang menjadi pelayan masyarakat yang membutuhkan jasa saya"
"Dokter Nurma memang luar biasa"
"Ah, nggak juga, Saya rasa ada banyak dokter yang lebih luar biasa dari Saya. Ngomong-ngomong, dokter Dewangga ada perlu sama Saya?"
"Oh, iya, baru ingat, Saya mau menginformasikan bahwa Minggu depan Kita akan ada kegiatan flying doctor di dusun XX, letaknya ada di kaki gunung. Hanya ada 35-40 kepala keluarga aja di sana, Akses jalannya cukup sulit, tapi Saya sudah beberapa kali pergi kesana, kalau dokter Nurma nggak keberatan, apa mau ikut kegiatan itu? Kuta hanya berada disana selama 2 hari 1 malam aja kok"
"Boleh, Saya mau! Tapi, gimana sama tugas saya di poliklinik?"
"Tenang aja, itu bisa diatur kok..."
"Ok, kalau begitu Saya daftarkan nama dokter Nurma ya?"
"Baik, terimakasih"
"Saya yang harusnya berterima kasih" Dewangga tersenyum, sebelum suara kecil nan imut muncul dari belakangnya,
"Daddy!!!"
"Ergi... Kamu kenapa kesini? Kan Daddy bilang, tunggu di ruangan Daddy..." Dewangga berjongkok, mengusap lembut pipi gembul dan putih anak laki-laki itu.
"Ergi bosan..." ucap bocah laki-laki yang imut itu, usianya mungkin sekitar 5 atau 6 tahun. Nurmala memandangi bocah itu dengan seksama. Sangat mirip dengan Dewangga, apakah bocah itu adalah anak dari Dewangga?
harus ada anti hero yang membuat cerita seruu🎸🎸