NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Pesta Topeng dan Perangkap Merah

​Udara di dalam mansion Valerius malam ini terasa berbeda. Harum bunga lili yang mahal bercampur dengan aroma lilin aromatik dan champagne kualitas terbaik yang mulai ditata oleh barisan pelayan di aula utama. Bagi siapa pun yang melihat dari luar, ini adalah pesta peresmian yayasan amal terbesar tahun ini. Namun bagi Aruna, ini adalah panggung sandiwara di mana dia menjadi aktor utama yang dipaksa tampil tanpa naskah.

​Aruna berdiri di depan cermin raksasa di kamarnya. Tiga penata rias baru saja keluar setelah menghabiskan waktu empat jam untuk mengubah penampilannya. Dia mengenakan gaun merah darah berbahan beludru sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat berani namun tetap elegan. Bagian punggungnya terbuka lebar, memperlihatkan kulit putihnya yang mulus, sementara bagian dadanya memiliki potongan V-neck rendah yang menonjolkan perannya—secara implisit—sebagai simbol kesuburan dan kehidupan bagi keluarga Valerius.

​Kalung berlian pemberian Dante berkilau di lehernya, terasa berat dan dingin. Aruna menyentuh liontin itu dengan jari gemetar. Di dalam cermin, dia tidak lagi mengenali gadis mahasiswi yang biasa memakai hoodie dan jeans ke perpustakaan. Wanita di cermin itu tampak seperti permaisuri seorang tiran.

​Klik.

​Pintu terbuka. Melalui pantulan cermin, Aruna melihat Dante masuk. Pria itu tampak sangat tampan, sekaligus sangat mematikan dalam balutan tuxedo hitam custom-made. Rambutnya ditata rapi ke belakang, menonjolkan garis rahang yang keras dan mata yang selalu tampak seperti sedang berburu.

​Dante berhenti di belakangnya. Dia tidak langsung bicara. Matanya menyapu setiap inci tubuh Aruna dengan intensitas yang membuat Aruna merasa panas. Tangan Dante yang besar perlahan mendarat di pinggang Aruna, menariknya sedikit lebih dekat hingga punggung Aruna bersentuhan dengan dada bidangnya.

​"Sempurna," bisik Dante. Suaranya rendah, bergetar di dekat telinga Aruna. "Kau adalah hal terindah sekaligus paling berbahaya yang pernah ada di rumah ini."

​Aruna menatap mata Dante di cermin. "Apakah kau puas? Kau sudah mengubahku menjadi boneka merahmu."

​Dante tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jarang dia perlihatkan, yang justru membuat Aruna semakin takut. "Bukan boneka, Aruna. Kau adalah ratuku. Malam ini, kau akan berdiri di sampingku. Kau akan tersenyum. Dan kau akan membuat semua pria di ruangan itu iri kepadaku, namun terlalu takut untuk sekadar memikirkan namamu."

​Dante merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah gelang emas kecil yang dihiasi berlian merah. Dia memasangkannya di pergelangan tangan Aruna.

​"Ini adalah tanda pelindungmu. Jangan lepaskan ini. Di dalam pesta nanti, banyak orang yang akan mencoba membisikkan racun di telingamu. Abaikan mereka. Ingat apa yang kau lihat di tablet kemarin."

​Dante memberikan tangannya. "Mari, Aruna. Waktunya memperkenalkan dunia pada calon Nyonya Valerius."

​Aula utama mansion telah disulap menjadi ruang dansa yang megah. Kristal-kristal lampu gantung memantulkan cahaya ke atas lantai marmer yang dipoles sempurna. Musik orkestra mengalun lembut, mengisi ruangan yang kini dipadati oleh para elit kota—mulai dari pejabat korup, pengusaha sukses, hingga pemimpin-pemimpin kartel dari luar negeri.

​Saat Dante dan Aruna muncul di puncak tangga besar, suara percakapan seketika berhenti. Ratusan pasang mata menatap ke arah mereka. Aruna bisa merasakan tatapan yang beragam: kagum, iri, lapar, dan penuh kebencian.

​Dante melangkah turun dengan tenang, menggandeng tangan Aruna dengan sangat posesif. Setiap langkah terasa seperti deklarasi perang kepada siapa pun yang berani menantang otoritasnya.

​"Tuan Valerius, selamat atas peresmian yayasannya," seorang pria gemuk dengan cerutu di tangan mendekat. Matanya langsung tertuju pada Aruna. "Dan siapa mawar cantik ini? Aku tidak pernah melihatnya di kalangan kita sebelumnya."

​"Ini Aruna," jawab Dante singkat namun penuh penekanan. "Tunanganku. Dan ibu dari pewarisku."

​Bisikan-bisikan mulai menjalar di antara para tamu. Aruna merasa ingin tenggelam ke dalam lantai. Dante baru saja mengumumkan statusnya secara publik dengan cara yang paling provokatif. Pengumuman itu berarti satu hal: Aruna sekarang adalah target resmi bagi siapa pun yang ingin menghancurkan Dante.

​Sepanjang pesta, Dante tidak pernah melepaskan genggamannya pada pinggang Aruna. Dia membawanya berkeliling, memperkenalkan Aruna kepada orang-orang penting yang namanya sering muncul di berita kriminal dan bisnis. Aruna harus memaksakan senyum, menjabat tangan-tangan yang mungkin sudah berlumuran darah, dan mendengarkan pujian-pujian palsu.

​"Aku butuh ke kamar mandi," bisik Aruna saat Dante sedang asyik berbicara dengan seorang senator.

​Dante menatapnya tajam. "Dua menit. Marco akan menunggumu di depan pintu."

​Aruna mengangguk dan segera menjauh dari kerumunan. Dia merasa seperti sedang tercekik. Begitu sampai di area wastafel yang sepi, dia membasuh wajahnya dengan air dingin. Napasnya memburu.

​"Sangat menarik melihat bagaimana Dante mengikat mangsa barunya," sebuah suara wanita yang sinis terdengar dari arah salah satu bilik toilet.

​Seorang wanita cantik dengan gaun perak yang sangat berani keluar. Matanya tajam dan penuh dendam. Aruna mengenalinya dari foto di ruang kerja Dante—dia adalah Sofia, mantan kekasih Dante yang juga merupakan putri dari keluarga mafia saingan.

​"Kau pasti Aruna," Sofia mendekat, aromanya tajam dan mengintimidasi. "Kau cantik, aku akui itu. Tapi kau tahu apa yang terjadi pada wanita-wanita yang berada di posisi itu sebelumnya? Isabella, misalnya?"

​Aruna membeku. "Apa maksudmu?"

​Sofia tertawa kecil, suara tawa yang dingin. "Dante adalah kolektor, Aruna. Dia menyukai hal-hal yang murni hanya untuk dirusaknya. Isabella tidak meninggal karena persalinan biasa. Dia meninggal karena dia mencoba melarikan diri dengan membawa bayi di perutnya. Dante lebih suka melihatnya mati daripada melihatnya menjadi milik orang lain."

​Sofia melangkah lebih dekat, berbisik tepat di telinga Aruna. "Kau pikir kau spesial karena kau menyusui anaknya? Kau hanyalah pengganti sementara. Begitu Leonardo tidak membutuhkanmu lagi, kau akan menjadi sampah yang tahu terlalu banyak rahasia. Jika kau pintar, larilah sekarang sebelum dia benar-benar 'mematahkan' sayapmu."

​Sebelum Aruna bisa membalas, pintu terbuka. Marco berdiri di sana dengan ekspresi tanpa emosi. "Nona Aruna, Tuan Dante menunggu Anda."

​Sofia memberikan senyuman kemenangan terakhir sebelum berjalan keluar dengan angkuh. Aruna berdiri terpaku di depan cermin, kata-kata Sofia terngiang seperti kutukan. Dia lebih suka melihatnya mati daripada menjadi milik orang lain.

​Aruna kembali ke aula dengan kaki yang terasa berat. Dante langsung menghampirinya, matanya menyipit melihat wajah Aruna yang pucat.

​"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Dante dingin. Dia melirik Sofia yang sedang berbincang di kejauhan.

​"Bukan apa-apa. Hanya percakapan antar wanita," jawab Aruna berbohong.

​Dante mencengkeram lengan Aruna sedikit terlalu keras. "Jangan berbohong padaku, Aruna. Aku tahu siapa Sofia. Dia hanya mencoba menakutimu."

​"Apakah dia berbohong tentang Isabella, Dante?" tanya Aruna, matanya menatap tajam ke arah Dante.

​Mata Dante berkilat gelap. Atmosfer di sekitar mereka seketika menjadi mencekam. Orang-orang di sekitar mulai menjauh, merasakan aura berbahaya yang terpancar dari Dante.

​"Malam ini adalah malam perayaan," Dante mengabaikan pertanyaan itu, suaranya sangat rendah dan penuh ancaman. "Jangan merusaknya dengan masa lalu yang tidak ada hubungannya denganmu. Ingat, Aruna... ibumu sedang menonton dari layar di lereng gunung. Tersenyumlah. Sekarang."

​Dante menarik Aruna ke tengah lantai dansa. Musik mulai berubah menjadi waltz yang lambat dan melankolis. Dante merangkul pinggang Aruna dengan kuat, memaksanya untuk berdansa. Di bawah lampu kristal yang berkilauan, di depan ratusan mata saksi, Aruna berdansa dengan iblis yang mencintainya dengan cara yang mengerikan.

​Saat mereka berputar, Aruna menyadari bahwa gaun merahnya benar-benar simbol yang tepat. Ini adalah warna gairah, namun juga warna darah. Dan di dunia Dante Valerius, keduanya tidak pernah bisa dipisahkan.

​Tiba-tiba, suara tembakan pecah dari arah gerbang depan, diikuti oleh suara kaca yang pecah dan teriakan histeris. Lampu gantung besar di aula tiba-tiba padam, meninggalkan ruangan dalam kegelapan total.

​"Tetap di belakangku!" teriak Dante. Dia menarik sebuah pistol dari balik jasnya secepat kilat.

​Dalam kegelapan, Aruna merasakan tangan Dante yang besar dan hangat menariknya ke dalam dekapan protektifnya. Di tengah kekacauan itu, Aruna menyadari satu hal yang paling menakutkan: di tengah serangan musuh yang mematikan, satu-satunya tempat yang terasa "aman" baginya justru adalah di pelukan pria yang paling dia takuti di dunia ini.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!