Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Tiga hari berlalu dengan perasaan yang tak menentu. Waktu seolah berjalan lambat bagi Kiandra, setiap detiknya dipenuhi kegelisahan yang tak mampu ia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri. Pagi itu, ia memilih mengurung diri di ruang kerja Adam yang berada di rumah mereka.
Ruangan yang biasanya begitu ia hindari, namun kini justru menariknya masuk, seolah ada jawaban yang menunggunya di sana.
Kiandra duduk di kursi kerja suaminya, jemarinya menyusuri permukaan meja yang rapi dan dingin. Tak ada satu pun benda yang berubah. Semua masih seperti terakhir kali Adam berada di ruangan itu. Aroma khas parfum suaminya masih samar tercium, menusuk inderanya dan membuat dadanya terasa sesak. Matanya berkeliling, menatap rak buku, bingkai foto keluarga di sudut meja, dan laptop Adam yang tertutup rapat.
Semua terlihat normal, terlalu normal seakan tak ada satu pun pengkhianatan yang bersembunyi di baliknya.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang sejak beberapa hari terakhir terus berputar tanpa arah. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Deg…
Suara detak jantung Kiandra terasa begitu nyaring di telinganya sendiri. Dengan tangan sedikit gemetar, ia meraih ponsel itu. Nama Jaret tertera di layar, disertai satu pesan bergambar. Entah mengapa, sebelum membukanya, Kiandra sudah merasakan firasat buruk yang membuat tenggorokannya tercekat.
Perlahan, ia membuka pesan tersebut.
Dan dunia Kiandra seolah runtuh seketika.
Wajahnya berubah muram, pucatnya merayap cepat. Napasnya tercekat saat matanya menatap foto yang terpampang di layar.
Seorang pria tengah menggendong seorang wanita di sebuah lorong hotel. Meski wajah pria itu tak terlihat, yang terlihat hanya punggungnya saja, tetapi Kiandra sangat mengenalnya.
Postur tubuh itu, cara bahunya sedikit condong, bahkan kemeja yang dikenakan… semuanya terlalu familiar.
Itu Adam, suaminya.
Tak ada keraguan sedikit pun di hatinya.
Tubuh Kiandra bergetar hebat. Dadanya naik turun tak beraturan, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menipis. Tangannya mencengkeram ponsel dengan erat, hingga ruas-ruas jarinya memutih. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun belum jatuh. Rasa sakit itu terlalu besar untuk langsung diluapkan.
“Jadi benar…” suaranya bergetar lirih. “Wanita itu ikut Adam ke Jerman…”
Ia meremas tangannya sendiri, seakan rasa sakit fisik bisa mengalihkan perih di hatinya. Semua prasangka yang selama ini ia coba tepis, semua pembelaan yang ia bangun untuk suaminya, runtuh seketika oleh satu foto itu.
Kemarin, dengan hati yang diliputi keraguan dan harapan tipis, Kiandra meminta Jaret, temannya sekaligus orang kepercayaannya untuk memata-matai Ada, dia meminta Jaret terbang langsung ke Jerman.
Ia melakukannya bukan karena tak percaya, melainkan karena ia ingin membuktikan bahwa dirinya salah. Ia ingin melihat bahwa semua kecemasan ini hanyalah buah dari pikirannya yang terlalu berlebihan.
Namun kenyataannya jauh lebih kejam. Adam benar-benar telah mengkhianatinya.
Suaminya, pria yang selama ini ia percaya sepenuh hati, memilih menjalin hubungan terlarang di belakangnya, dengan Nayla sosok model terkenal yang menjalin kerja sama dengan perusahaan Mahendra milik suaminya.
Kiandra memejamkan mata, air mata akhirnya luruh tanpa bisa ia tahan. Ingatannya melayang pada setiap senyum Adam, setiap janji yang pernah diucapkannya, setiap kata manis yang kini terdengar begitu palsu. Dadanya terasa nyeri, seperti diremas kuat oleh tangan tak kasatmata.
Namun di tengah kesedihan itu, satu pertanyaan lain muncul, menambah beban di kepalanya.
Jika Adam bersama Nayla… lalu ke mana Pandu?
Asisten setia suaminya itu selalu berada di sisi Adam, hampir dalam setiap perjalanan dan urusan penting. Mustahil jika Pandu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Atau mungkin… Pandu memilih diam? Menutup mata? Atau lebih buruk lagi, membantu menyembunyikan perselingkuhan ini darinya?
Pikiran itu membuat Kiandra kembali membuka mata. Tatapannya kosong, namun di baliknya tersimpan kekecewaan yang dalam dan amarah yang perlahan mulai tumbuh. Bukan hanya pada Adam, tapi pada semua orang yang mungkin terlibat dalam kebohongan ini.
Kiandra menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya jemarinya bergerak membalas pesan dari Jaret. Hatinya masih berdebar kencang, seolah belum siap menerima apa pun jawaban yang akan datang. Namun ia tahu, ia harus bertanya. Ia harus memastikan semuanya, meski itu berarti kembali melukai dirinya sendiri.
“Di mana Pandu asistennya?” ketiknya singkat, tanpa basa-basi.
Beberapa detik terasa seperti menit. Kiandra menahan napas, matanya terpaku pada tulisan sedang mengetik yang muncul di layar. Lalu, balasan itu datang.
“Dia tidak ikut, dia masih tetap di Jakarta.”
Deg.
Satu kalimat pendek itu seperti palu yang menghantam kepalanya dengan keras. Kiandra perlahan meletakkan ponselnya di atas meja kerja Adam, tepat di samping tumpukan berkas yang tersusun rapi, berkas-berkas yang selama ini ia kira hanya berisi urusan pekerjaan, bukan kebohongan.
Kedua telapak tangannya terangkat menutupi wajahnya. Bahunya bergetar hebat. Dari balik telapak tangannya, terdengar suara tawa kecil yang terdengar aneh, rapuh, dan penuh kepedihan. Tawa itu bercampur dengan isakan yang tak mampu ia tahan. Air mata mengalir deras, menetes di sela-sela jarinya.
Ia tertawa… karena betapa bodohnya dirinya selama ini. Ia menangis… karena betapa kejam kenyataan yang baru saja menelanjanginya.
“Ha… ha…” suaranya tercekat. “Aku benar-benar ditipu habis-habisan…”
Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menindihnya tanpa ampun. Selama ini ia berusaha berpikir positif, meyakinkan dirinya bahwa Adam tak mungkin berkhianat sejauh itu. Bahkan ketika hatinya mulai ragu, ia masih memberi ruang bagi suaminya untuk jujur. Namun ternyata, semua itu hanyalah sandiwara yang disusun dengan begitu rapi.
Ingatan Kiandra melayang pada kejadian kemarin, saat dia ikut mengantar suaminya ke Bandara. Saat itu, hatinya sempat merasa sedikit tenang. Ia berpikir, jika Pandu ikut, maka perjalanan itu mungkin memang murni urusan pekerjaan. Ia menggenggam keyakinan itu erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan agar ia tidak tenggelam dalam prasangka buruk.
Kini semuanya terasa begitu jelas… dan menyakitkan.
Pandu di bandara bukan kebetulan. Itu adalah bagian dari rencana mereka. Sebuah pengalihan yang dibuat agar Kiandra percaya bahwa Adam pergi dengan asistennya, bukan dengan wanita lain. Sebuah skenario licik yang sukses membuatnya terdiam dan ragu pada intuisi sendiri.
Air mata Kiandra kembali jatuh, kali ini lebih deras. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Kepercayaan yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan hari. Setiap kenangan manis bersama Adam kini terasa pahit, seakan ternodai oleh kebohongan yang tak pernah ia duga.
Di ruang kerja yang sunyi itu, Kiandra duduk terdiam. Ia memeluk dirinya sendiri, seolah hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan agar tidak benar-benar runtuh. Tangisnya perlahan mereda, berganti dengan napas berat yang tersengal. Matanya memerah, namun tatapannya mulai berubah, tak lagi sekadar terluka, tetapi juga penuh kesadaran.
Ya, hatinya hancur.
Ya, kepercayaannya terkoyak tanpa sisa.