Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Tarian Maut di Atas Debu
Cahaya keemasan yang memancar dari tombak sang ksatria Sekte Cahaya Suci terasa seperti setrika panas yang ditempelkan langsung ke bola mata Jiangzhu. Ia menyipitkan mata, merasakan keringat bercampur darah mengalir masuk ke kelopak matanya, pedih dan asin. Di depannya, berdiri belasan pria dengan zirah perak yang berkilau sempurna sangat kontras dengan kemiskinan dan kebusukan Kota Tulang.
"Jiangzhu, sang pembawa kutukan," ksatria bertombak emas itu melangkah maju. Suaranya berat dan penuh wibawa palsu. "Aku adalah Komandan Valerius. Berlututlah, dan serahkan Dewi Ling'er. Jangan biarkan tempat sampah ini menjadi kuburanmu."
Jiangzhu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meludah, gumpalan darah hitam mendarat tepat di depan sepatu bot Valerius yang mengkilap. Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat pedang hitamnya yang retak.
"Kau banyak bicara untuk ukuran orang yang sebentar lagi akan kehilangan lidahnya," desis Jiangzhu.
BUM!
Tanpa peringatan, Jiangzhu melesat. Meskipun tubuhnya lemas karena kehilangan banyak darah, adrenalin dan kemarahan murni memaksanya bergerak melampaui batas. Tanah di bawah kakinya retak saat ia menerjang.
Klang!
Pedang hitam Jiangzhu beradu dengan batang tombak emas Valerius. Percikan energi meledak, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan beberapa gubuk tulang di sekitar mereka. Jiangzhu merasakan lengannya bergetar hebat; kekuatan Valerius berada di Tahap Inti Emas tingkat menengah. Satu tingkat di atasnya, bahkan dalam kondisi Jiangzhu yang sehat.
"Hanya segini kekuatan 'Harapan Raja Iblis'?" Valerius menyeringai, ia memutar tombaknya dan menghantamkan gagangnya ke ulu hati Jiangzhu.
Dugh!
Jiangzhu terlempar ke belakang, menabrak tumpukan tengkorak naga hingga hancur. Rasa mual yang hebat menghantamnya, dan ia bisa merasakan satu rusuknya patah.
Bocah, jika kau terus bertarung secara frontal, kau akan mati dalam tiga tarikan napas! Penatua Mo berteriak panik di dalam kepalanya. Gunakan sisa darahmu di tanah! Aktifkan 'Formasi Penelan Darah'!
Jiangzhu bangkit perlahan, menyeka darah di dagunya. Ia melihat genangan darahnya sendiri yang tercecer di pasir abu-abu. Sebuah ide gila muncul di benaknya.
"Kalian ingin melihat kekuatan iblis?" Jiangzhu tertawa, suara tawanya parau dan menyeramkan.
Ia menancapkan pedangnya ke tanah, tepat di tengah genangan darahnya. "Seni Rahasia: Pesta Darah Sang Penghubung!"
Seketika, darah hitam yang merembes di pasir mulai bergerak seperti makhluk hidup. Darah itu membentuk garis-garis aneh yang menjalar dengan cepat ke arah para ksatria Sekte Cahaya Suci.
"Apa ini?! Singkirkan benda menjijikkan ini dari kakiku!" salah satu ksatria berteriak saat darah hitam itu melilit kakinya.
Namun, darah itu bukan sekadar cairan. Saat menyentuh zirah perak, darah itu mulai mengikis logamnya seperti asam yang sangat kuat. Para ksatria itu berteriak kesakitan saat kulit mereka mulai melepuh.
"Berani-beraninya kau menggunakan sihir hitam di hadapanku!" Valerius murka. Ia mengangkat tombaknya ke langit. "Cahaya Pembersihan: Hujanan Bintang Suci!"
Ribuan anak panah cahaya turun dari langit merah Benua Barat. Jiangzhu tidak menghindar. Ia justru berdiri tegak, membiarkan beberapa anak panah cahaya menembus bahu dan paha kirinya.
"Kakak!" Awan berteriak dari dalam menara, wajahnya pucat pasi melihat Jiangzhu yang kini tampak seperti landak manusia.
"Jangan lihat, Awan!" bentak Jiangzhu.
Ia membiarkan rasa sakit itu menjadi bahan bakar. Di dalam ruang jiwanya, Li'er mulai bernyanyi—sebuah kidung kematian yang membuat energi di sekitar Jiangzhu menjadi sangat dingin. Luka-luka Jiangzhu tidak lagi mengeluarkan darah merah, melainkan uap hitam yang pekat.
Jiangzhu menghilang dari pandangan. Ia muncul tepat di belakang salah satu ksatria. Dengan tangan kosong, ia merobek leher ksatria itu, lalu menghisap esensi kehidupannya dalam sekejap.
Kapasitas Energi Meningkat...
Pemulihan Sel Terdeteksi...
"Dia memakan nyawa manusia!" Valerius terbelalak horor. "Dia benar-benar monster!"
"Aku adalah apa yang kalian ciptakan!" Jiangzhu meraung.
Ia bergerak seperti hantu di antara badai pasir. Satu per satu, ksatria Sekte Cahaya Suci tumbang dengan dada berlubang atau leher yang patah. Jiangzhu tidak lagi menggunakan teknik pedang yang indah; ia bertarung dengan insting binatang buas. Ia menggigit, mencakar, dan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya menuju Valerius.
Kini, hanya tinggal Valerius yang tersisa. Komandan itu gemetar, tombak emasnya kini tampak redup di tengah kepulan asap hitam yang keluar dari tubuh Jiangzhu.
"Kau... kau tidak akan selamat setelah ini," Valerius mencoba mengancam, meski suaranya bergetar. "Seluruh faksi Langit akan memburumu!"
"Biarkan mereka datang," Jiangzhu berjalan mendekat, setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki berdarah. "Tapi kau... kau tidak akan hidup untuk melihat mereka."
Jiangzhu melompat, pedang hitamnya bersinar dengan api ungu yang gelap. Valerius mencoba menangkis, namun pedang Jiangzhu membelah tombak emas itu seperti memotong mentega.
SLASH!
Kepala Valerius jatuh ke atas pasir abu-abu, matanya masih membelalak tidak percaya.
Jiangzhu jatuh berlutut tepat setelah kepala itu menyentuh tanah. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Mode Berserk telah berakhir, meninggalkan rasa sakit yang sepuluh kali lipat lebih parah dari sebelumnya. Kulitnya pecah-pecah, dan ia merasa seolah-olah jantungnya baru saja diremas oleh tangan raksasa.
"Tabib... apakah obatnya... sudah jadi?" tanya Jiangzhu dengan suara yang nyaris hilang.
Yue berlari keluar dari menara, ia menopang tubuh Jiangzhu yang hampir ambruk. "Sudah. Gu Mo sedang memberikan ramuan itu pada ibumu. Tapi kau... Jiangzhu, kau hampir kehilangan seluruh nadimu."
Jiangzhu tidak peduli. Ia memandang ke arah gerbang menara. Di sana, ia melihat Awan keluar dengan wajah yang sedikit lebih cerah.
"Kakak... Ibu... Ibu sudah membuka mata," bisik Awan.
Mendengar itu, Jiangzhu memejamkan matanya. Sebuah senyum tipis, senyum pertama yang benar-benar tulus, muncul di wajahnya yang penuh darah. Ia jatuh pingsan di pelukan Yue, di tengah-tengah ladang mayat ksatria cahaya yang ia bantai sendirian.
Di kejauhan, badai pasir Benua Barat menderu, seolah-olah merayakan kelahiran sang penguasa baru yang lahir dari debu dan darah.
Jiangzhu tersedak oleh udara gurun yang kini terasa seperti menelan serbuk gergaji panas. Ia meludah, gumpalan darah kental yang kini lebih mirip aspal cair keluar dari mulutnya, meninggalkan rasa logam yang tajam dan amis di pangkal tenggorokannya. Setiap inci kulitnya terasa seperti ditarik paksa oleh ribuan kail pancing; efek samping dari teknik Pesta Darah yang baru saja menguras esensi kehidupannya hingga ke dasar.
"Jangan menyentuhku, Yue," desis Jiangzhu saat wanita itu mencoba memapah lengannya yang hancur. Suaranya pecah, lebih mirip geraman binatang yang sedang sekarat daripada ucapan manusia. "Aku masih bisa berdiri... setidaknya sampai aku melihat wajah ibuku."
Yue tertegun, tangannya tertahan di udara. Ia melihat tangan Jiangzhu yang memegang pedang jari-jarinya gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena saraf-sarafnya sudah putus di beberapa bagian. Pemandangan di sekitar mereka jauh lebih mengerikan daripada yang bisa digambarkan oleh kata-kata. Pasir abu-abu yang tadinya kering kini becek oleh cairan merah dan hitam, menciptakan bubur kematian yang menjijikkan.
Bocah, kau baru saja menukar sepuluh tahun umurmu untuk pembantaian ini, suara Penatua Mo merayap di benak Jiangzhu, kali ini tanpa nada sarkasme. Jika kau tidak segera mendapatkan pengobatan energi 'Yang' yang kuat, jantungmu akan berhenti berdetak sebelum fajar menyentuh gerbang kota ini.
"Sepuluh tahun adalah harga yang murah untuk kepala anjing-anjing suci itu," gumam Jiangzhu dalam hati.
Ia menoleh ke arah tumpukan mayat di belakangnya. Mata Valerius yang terbelalak masih menatap ke langit, seolah menuntut keadilan yang tidak akan pernah datang. Jiangzhu hanya bisa tersenyum sinis. Keadilan di dunia ini hanyalah sebuah dongeng yang ditulis oleh mereka yang memiliki pedang lebih tajam.
Ia menyeret kakinya yang terasa seperti balok timah menuju pintu menara tulang. Bau ramuan obat Gu Mo yang tajam mulai tercium, menusuk hidungnya yang sudah penuh dengan aroma kematian. Setiap langkahnya meninggalkan noda hitam di pasir, sebuah kesaksian bisu tentang seberapa banyak "manusia" yang telah ia buang hari ini demi menjadi "pelindung".
"Awan... apakah dia masih bernapas?" tanya Jiangzhu, matanya mulai kabur, hanya menyisakan siluet biru kecil di ambang pintu sebagai titik fokus terakhirnya sebelum kegelapan benar-benar menelannya.