"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ancaman Petugas Keamanan
Keesokan harinya, Adrian tetap menjalankan tugasnya seperti biasa namun ia merasa ada yang aneh karena petugas keamanan melaporkan bahwa tidak ada siswi sekolah yang terlihat mengintip di parkiran rumah sakit. Kesunyian itu seharusnya menjadi berkah bagi konsentrasi medisnya yang sempat terganggu oleh rentetan kejadian ugal-ugalan beberapa hari terakhir. Namun, entah mengapa, Adrian justru berkali-kali melirik ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke gerbang utama dengan perasaan yang tidak menentu.
"Dokter, kenapa Anda terlihat seperti sedang menunggu seseorang yang tidak kunjung datang?" tanya seorang asisten perawat sambil meletakkan tumpukan berkas pasien.
"Saya hanya sedang memastikan bahwa lingkungan kerja kita benar-benar bersih dari gangguan orang asing," jawab Adrian dengan nada yang sengaja dibuat sedingin mungkin.
Ia kemudian beranjak dari kursi kebesarannya dan memutuskan untuk melakukan inspeksi mendadak ke area kantin dan taman belakang rumah sakit. Adrian berjalan dengan langkah tegap namun matanya dengan sangat teliti menyisir setiap sudut ruangan seolah sedang mencari virus berbahaya yang bersembunyi. Langkahnya terhenti ketika ia melihat tiga orang petugas keamanan sedang berkumpul di dekat ruang arsip dengan raut wajah yang sangat tegang.
"Ada masalah apa di sini? Kenapa kalian tidak berada di pos penjagaan masing-masing?" tanya Adrian dengan nada otoritas yang sangat kuat.
"Lapor Dokter, kami baru saja menangkap seorang penyusup yang mencoba memanjat pagar belakang tanpa menggunakan tanda pengenal," jawab kepala petugas keamanan.
Jantung Adrian berdegup sangat kencang karena ia sangat yakin bahwa penyusup yang dimaksud adalah gadis sekolah yang sedang ia rindukan secara diam-diam. Ia segera mengikuti langkah para petugas tersebut menuju ruang interogasi kecil yang terletak di samping gudang oksigen. Bayangan Lala yang sedang menangis ketakutan atau memohon belas kasihan mulai memenuhi pikiran logis sang dokter kaku.
"Buka pintunya sekarang, saya ingin melihat siapa orang yang berani mengacaukan sistem keamanan rumah sakit ini!" perintah Adrian dengan suara yang sedikit bergetar.
"Orang ini sangat keras kepala Dokter, dia terus berteriak-teriak menyebut nama Anda sejak kami tangkap tadi pagi," sahut petugas keamanan sambil memutar kunci pintu.
Pintu terbuka dan Adrian hampir saja jatuh tersungkur ketika ia melihat seorang pria paruh baya bertubuh tambun sedang diikat di kursi dengan wajah yang penuh dengan coretan spidol. Pria itu bukan Lala, melainkan seorang pengedar obat-obatan terlarang yang selama ini menjadi buronan polisi dan baru saja berhasil dilumpuhkan oleh seseorang. Di dahi pria tersebut tertempel sebuah kertas kecil berwarna merah muda dengan tulisan tangan yang sangat berantakan dan sangat familiar.
"Hadiah dari asisten dokter paling alay untuk Dokter Adrian tersayang, selamat menjalankan tugas!" baca Adrian pelan sambil membelalakkan matanya.
"Siapa yang melakukan ini kepada Anda? Di mana gadis yang menangkap Anda?" tanya Adrian sambil mengguncang bahu pria buronan yang tampak lemas itu.
Pria itu hanya mengerang kesakitan dan menunjuk ke arah ventilasi udara yang masih terbuka lebar dengan kain seragam abu-abu yang tersangkut di pinggirnya. Adrian segera menyadari bahwa Lala telah melakukan aksi heroik yang sangat membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk membuktikan bahwa ia berguna bagi karier sang dokter. Rasa amarah dan rasa kagum bercampur aduk menjadi satu di dalam dada Adrian hingga ia merasa ingin berteriak sekeras-kerasnya.
"Segera hubungi kepolisian dan katakan bahwa buronan ini sudah tertangkap oleh asisten rahasia saya!" teriak Adrian kepada petugas keamanan yang masih terpaku heran.
Ia segera berlari menuju area parkir belakang untuk mencari keberadaan Lala yang mungkin masih bersembunyi di sekitar sana dengan kondisi tubuh yang penuh luka. Adrian mengabaikan semua martabat kedokterannya dan mulai memanjat pagar beton yang cukup tinggi untuk melihat ke arah jalan raya yang ramai. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah tas sekolah yang tergeletak di atas rumput dengan botol air minum yang pecah berantakan.
"Lala! Keluar sekarang juga, saya tidak akan marah jika kamu menampakkan diri sekarang!" seru Adrian dengan suara yang mulai serak.
"Dokter Adrian sedang mencari aku ya? Maaf ya kalau aksi tangkap penjahatku kali ini sedikit ugal-ugalan," sahut sebuah suara lemah dari balik tumpukan kayu bangunan.
Lala muncul dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, lututnya berdarah dan telapak tangannya lecet akibat berduel dengan sang buronan kelas kakap tersebut. Adrian segera menghampiri gadis itu dan tanpa banyak bicara langsung menggendong tubuh mungil Lala menuju unit gawat darurat dengan langkah yang sangat cepat. Air mata Lala mulai menetes membasahi bahu Adrian, namun kali ini bukan karena sedih melainkan karena merasa sangat aman di dalam pelukan sang dokter kulkas.
"Kenapa kamu harus melakukan hal segila ini? Nyawa kamu jauh lebih berharga daripada menangkap seorang penjahat, Lala!" bentak Adrian namun dengan nada yang penuh dengan kekhawatiran.
"Aku hanya ingin Dokter tahu bahwa aku tidak hanya bisa membuat kerusuhan, tapi aku juga bisa menjadi pelindung bagi Dokter," jawab Lala sambil tersenyum tipis.
Adrian membawa Lala masuk ke dalam ruang tindakan khusus dan segera membersihkan luka-luka di tubuh gadis itu dengan tangan yang sangat lembut dan sangat hati-hati. Ia tidak memedulikan tatapan aneh dari para rekan sejawatnya yang melihat sang dokter spesialis bedah saraf sedang mengobati lecet di lutut seorang siswi. Baginya, saat ini dunia medis bisa menunggu, karena pasien paling istimewa sedang membutuhkan seluruh perhatian dan seluruh kasih sayangnya.
"Setelah ini, saya sendiri yang akan mengantarkan kamu pulang dan berbicara secara langsung kepada ayah kamu yang polisi itu," tegas Adrian sambil memasang perban.
"Berarti Dokter sudah siap untuk meminta restu kepada calon mertua yang sangat galak itu?" goda Lala meskipun wajahnya masih menahan rasa perih yang sangat luar biasa.
Adrian terdiam sejenak lalu menatap mata Lala dengan pandangan yang sangat dalam hingga membuat gadis itu berhenti tertawa karena merasa sangat berdebar-debar. Ia menyadari bahwa fase pengejaran ugal-ugalan ini telah berakhir dan kini mereka berdua harus menghadapi benturan dunia yang jauh lebih nyata dan jauh lebih menyakitkan. Pria itu mengusap puncak kepala Lala dengan lembut sebelum akhirnya ia mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi nomor yang selama ini ia hindari.
"Halo Pak Polisi, saya Dokter Adrian, ada sesuatu yang harus saya sampaikan mengenai putri Anda yang baru saja melakukan aksi luar biasa," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius.
Adrian tidak menyadari bahwa di balik pintu ruang tindakan, seorang guru dari sekolah Lala sedang berdiri dengan wajah yang sangat marah sambil memegang surat panggilan dari bimbingan konseling.