NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pertanyaan polos dari si kembar sukses membuat Romeo dan Alya terkejut. Romeo bahkan tersedak, napasnya tercekat seketika.

        “A-adik.” ucap Alya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, sementara matanya enggan beralih ke arah Romeo.

        “Papa kok batuk? Papa haus?” Serena menatap ayahnya penuh rasa ingin tahu.

        “Tidak, Papa baik-baik saja.” sahut Romeo dengan jeda singkat, napasnya masih belum beraturan.

       “Ibu, adiknya belum keluar?” tanya keduanya kompak, tanpa sadar membuat suasana makin canggung.

       “Kalian dengar soal adik itu dari siapa?” tanya Romeo sambil menahan rasa ingin tahu.

       “Dari Kakek,katanya Ibu sama Papa lagi bikin adik yang gemas.” Serena menjawab jujur.

       Pengakuan Serena membuat rahang Romeo terkunci. Ia tak punya pilihan selain diam, terhimpit keadaan.

       “Bukan hal yang mudah, sayang. Kalian perlu menunggu dan berdoa. Toh, tanpa adik pun kalian sudah lengkap.”

       Mendengar ucapan Romeo, Alya terhenyak. Ada luka yang tiba-tiba menganga di dadanya. Mengapa Romeo sanggup berkata seperti itu pada anak-anak? Tanpa sadar, Alya menyentuh perutnya, membiarkan pikirannya berandai-andai tentang hal yang mungkin tak akan pernah terjadi.

       “Ibu, sampai kapan nunggu adiknya?Kalau cowok, pasti tampan seperti Papa.” tanya Serena apa adanya.

       Mendengar ucapan itu, Romeo melirik Alya dengan kesal. Ia heran, entah pesona apa yang dimiliki perempuan itu hingga kedua putrinya begitu lekat dan menyayanginya.

       "Ibu tidak bisa menjawabnya sekarang,yang penting, kalian jalani dulu hari-hari kalian dengan bahagia.” Alya tersenyum samar. 

        Keduanya tertunduk lemah, rasa kecewa jelas terpancar. Meski begitu, nasihat ibu mereka membuat si kembar mencoba ikhlas dan tetap berdoa.

       “Bagaimana kabarmu, Romeo?” sapa pria tua itu,yang bertumpu pada tongkat kayu di sisi kanannya.

       “Aku baik-baik saja Ayah,Maaf harus menitipkan si kembar di tempat Ayah.” ucapnya pelan.

      “Jangan bicara begitu,kedua cucuku sendiri yang ingin ke sini.” katanya tajam.

      Budi memandang Alya tanpa berkedip, seolah sedang menilai. Jantung Alya berdegup tak menentu, keringat dingin mulai merembes karena ia khawatir akan mendengar penolakan darinya.

      “Siapa namamu?” tanyanya tenang, tatapannya kini tak lagi setajam tadi.

       “Siang Tuan,saya Alya Dewita.” Alya memperkenalkan diri dengan suara halus.

       Sejenak Budi terdiam, menatap Alya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sikap itu membuat Alya dan Romeo sama-sama kebingungan, dan Romeo kembali harus meredam emosinya.

      “Nama yang bagus,Cocok dengan parasmu.” katanya tulus sambil tersenyum tipis. 

       Mendengar ucapan itu, mata Romeo langsung membelalak. Seketika kecurigaan menyelinap jangan-jangan pria yang masih berstatus ayah mertuanya itu menaruh ketertarikan pada Alya.

       “Apa yang kau pikirkan, Pak?Alya jelas tak seharusnya dipandang seperti itu.” dengus Romeo dalam hati.

       “Ajak istrimu masuk, Jangan biarkan dia berdiri di luar.” katanya tajam menatap menantunya.

       Mau tak mau, Romeo menuruti perintah itu. Alya dan si kembar ia ajak masuk, sementara di benaknya terngiang alasan lama ayah mertuanya selalu banyak bicara, jauh lebih ribet dari ibunya sendiri.

       Begitu masuk ke dalam, Alya memandang sekeliling dengan takzim. Ruangannya memang tak terlalu luas, namun dipenuhi ornamen dan lukisan abstrak yang langsung mencuri perhatiannya.

        “Bersikaplah yang benar,aku tak mau dipermalukan.” katanya lirih namun tajam.

        Kepala Alya bergerak pelan, satu anggukan singkat. Ada rasa bosan yang tak bisa ia sembunyikan setiap kali Romeo kembali menyinggung hal yang sama.

       “Alya, mendekatlah.” kata Budi dengan tenang.

       Alya melangkah perlahan, masih diliputi keraguan. Dalam deretan foto itu, pandangannya tertahan pada seorang gadis cantik di belakang Pak Budi dan sang istri. Kulitnya cerah, rambut ikalnya hitam pekat, membuat Alya yakin gadis itu adalah ibu dari si kembar.

        “Tenang saja, kau tak perlu merasa takut.”

        Tanpa berkata sepatah kata pun, Alya membalas dengan senyum yang lembut. Entah mengapa, senyum itu justru membuat Romeo merasa geli.

        “Gadis di foto itu putriku,namanya Zalina. Saat foto ini diambil, usianya baru dua puluh tahun. Senyum dan tawanya dulu adalah penghibur di setiap lelahku.” ucapnya pelan.

        Tak satu pun kata keluar dari bibir Alya. Pandangannya terpaku pada wajah ibu si kembar, sementara Romeo memandangi foto itu dengan sorot mata sendu, kedua tangannya berada di saku celana.

       “Putriku itu baik dan pintar,sampai suatu hari ia divonis sulit memiliki keturunan. Menstruasinya tak pernah lancar. Dia hancur dan dengan hati berat, meminta Romeo mencari wanita lain. Aku pun dimintanya merelakan.” katanya dengan suara rendah.

       Alya menyerah pada tangisnya sendiri. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah, merusak riasan yang sejak tadi ia jaga.

       “Pria yang berdiri di belakangmu itu tak pernah mau menyerah,dia terus meminta pernikahan, dan karena putriku masih menyimpan rasa, aku akhirnya merestui mereka.” ucapnya menahan napas.

        “Cukup Papa,Tak perlu dibahas lagi.” Romeo menyela.

       “Jangan sok mengatur,lebih baik kau diam, atau tinggalkan tempat ini sendiri.” hardiknya sambil menatap menantunya. 

       Tak satu kata pun keluar dari mulut Romeo. Ia tahu, melawan pria itu hanya akan berakhir sia-sia.

       “Setelah itu bagaimana, Tuan?” tanyanya lembut.

       "Selama satu tahun mereka menunggu,tak ada anak, meski segala cara sudah dicoba. Putriku menyerah, mencoba mengikhlaskan dan mencarikan jalan lain, namun tak pernah ada hasil. Ia hanya bertahan dengan doa hingga Tuhan menjawab penantiannya.” katanya dengan suara rendah.

         “Sejak tiga minggu terakhir, dia sering pusing dan mual,aku dan istriku akhirnya membawanya ke dokter. Tak pernah kami sangka, kabar yang selama ini kami tunggu akhirnya datang Zelina mengandung dua janin.” ucapnya pelan.

         “Kebahagiaan itu tak tertahankan,kami segera menghubungi Romeo di London. Ia langsung kembali, dan malam itu menjadi perayaan kecil penuh syukur.” katanya tersenyum tipis.

         Bibir Alya terangkat membentuk senyum tipis. Hatinya hangat, tak menyangka keajaiban itu sungguh ada.

         “Di bulan kedelapan kehamilannya, semuanya berubah,Zelina divonis kanker otak. Dokter menyarankan pengangkatan janin secepatnya, apa pun risikonya. Tapi sebagai ibu, ia tak sanggup kehilangan anak yang begitu ia harapkan.” katanya lirih.

        “Putriku menolak melepaskan janinnya,ia tahu risikonya besar, tapi baginya kandungan itu adalah segalanya. Ia berpikir, meski hidupnya singkat, ia masih bisa meninggalkan anak-anak untuk lelaki yang ia cintai.” katanya lirih.

        “Setelah keputusan itu apa yang menimpa Zelina?” ucap Alya pelan, hatinya ikut terhimpit.

        Dengan napas berat, Budi menyeka air mata di pelupuk mata. Cerita ini memang ia tujukan untuk perempuan yang kini menjadi ibu sambung bagi cucunya.

        “Ia tak pernah goyah,semua larangan dan bujukan kami tak ia hiraukan. Melahirkan anak-anaknya adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya, apalagi Tuhan memberinya dua sekaligus.” katanya dengan suara berat.

        “Saat hari itu datang, ia terlihat sangat bahagia,Zelina begitu antusias menjalani operasi persalinan. Ia terus berbicara, membuat kami tersenyum. Tapi waktu terus berlalu tanpa kabar. Operasi itu terasa terlalu lama. Kami gemetar di luar ruang operasi, berharap Tuhan mengembalikan anak dan cucuku dalam keadaan selamat.” katanya lirih.

         “Namun semua harapan kami runtuh,Zelina tak sanggup bertahan melawan sakitnya. Saat operasi berlangsung, di sanalah ia mengembuskan napas terakhir. Ia pergi dengan senyum tenang, meninggalkan kami semua.” ucapnya dengan suara patah.

         Tak sanggup lagi menahan perih di dada, Alya menangis. Pandangannya tertuju pada si kembar yang bermain riang dari kejauhan.

         “Aku minta maaf jika ceritaku menyakitimu Alya,putriku sangat menginginkan seorang anak. Selama setahun ia menanti dengan doa. Dan ketika akhirnya Tuhan mengabulkan, harga yang harus ia bayar adalah hidupnya sendiri.” katanya tulus.

         “Tak sekalipun aku marah pada takdir,aku hanya memikirkan nasib dua anak itu tanpa ibunya. Aku memohon Romeo menikah demi mereka, namun ia menjauh. Perempuan yang datang setelahnya tak pernah kami terima. Kami berdoa lama, berharap hadir wanita baik. Dan Tuhan memilihmu.” ucapnya berat.

         “Tolong jaga cucu-cucuku,sayangi mereka. Jika mereka membuatmu lelah, maafkanlah. Bila suatu hari kau memiliki anak sendiri bersama ayah mereka, aku mohon jangan mengabaikan cucu-cucuku. Mereka adalah hartaku. Perlakukan mereka seperti anak kandungmu, supaya hatiku bisa tenang.” katanya lirih.

         “Jangan bicara seperti itu, Papa.Papa masih harus hidup lama dan melihat cucu-cucumu tumbuh menjadi wanita tangguh.” ucap Romeo tertahan.

        Tanpa menanggapi bantahan menantunya, Budi menghentakkan ujung tongkatnya ke lantai, seolah menegaskan isi hatinya.

        “Alya,maukah kau bersedia? Bisakah kau berjanji untuk menjaga cucu-cucuku? Hanya padamu aku menitipkan kepercayaan ini.” ucap Budi dalam.

       “I-ya, Tuan,aku bersedia dan berjanji.” ucap Alya lirih dengan suara bergetar.

        “Aku berterima kasih padamu,dengan ini, aku bisa melepas cucu-cucuku dengan hati yang tenang.” katanya lirih.

         Momen haru telah berlalu. Mereka berempat Romeo, Alya, dan si kembar meninggalkan rumah Budi dan melaju menuju rumah. Sepanjang perjalanan, sunyi menguasai di dalam mobil, apalagi si kembar terlelap di kursi belakang.

         “Abaikan semua yang dikatakan kakek,jangan merasa terikat. Ingat, ini hanya lima tahun.” katanya tanpa menoleh. “

         Alya memilih diam. Tak ada jawaban yang mampu ia ucapkan, sebab hatinya sendiri tak sanggup ia jelaskan.

         “Hei, dengar aku!jangan diam saja. Jawab dan tatap aku.” suara Romeo meninggi.

         “Mengapa harus lima tahun?” ucap Alya pelan, suaranya gemetar.

         “Jangan bermimpi terlalu jauh,apa kau berharap lebih dariku?” sentaknya.

         “Tak harus lima tahun,satu tahun saja sudah cukup bagiku. Aku akan mengganti semua yang telah Anda berikan. Aku hanya ingin bebas aku lelah hidup seperti ini.” suara Alya bergetar. 

         “Jangan coba-coba mengaturku.” ucap Romeo dingin.

          “Bukan itu maksudku,aku hanya mengungkapkan apa yang kurasakan.” ucapnya lirih.

          “Pendapatmu tidak dibutuhkan.” ucap Romeo datar.

          “Aku tak mengerti,perempuan selembut Nona Zelina justru dipertemukan dengan pria yang dingin dan kasar sepertimu.” kata Alya pelan.

          “Diam!Jangan tambah berani di hadapanku.” bentaknya keras.

          “Aku mohon,tak perlu lima tahun. Satu tahun saja sudah cukup bagiku. Aku benar-benar tak mampu bertahan.” suara Alya pecah oleh tangis.

         Tanpa sepatah kata, Romeo mengakhiri percakapan itu. Ia tak ingin menghabiskan tenaga pada perdebatan yang sama.

          Begitu sampai di rumah, Romeo langsung memanggil Satria yang baru tiba, meminta bantuannya menggendong si kembar.

         Satria menangkap jelas bekas air mata di wajah Alya, bahkan sembab di matanya. Ia ingin bertanya, namun niat itu diurungkan saat tatapan tajam Romeo mengarah padanya.

         Mereka langsung menuju kamar si kembar. Tak seperti biasanya, kedua bocah itu tertidur sangat pulas, seolah kelelahan membuat mereka tak terganggu apa pun.

          “Apa yang lo lakuin ke Alya?” tanya Satria datar namun tajam.

          “Nggak perlu ikut campur.” katanya dingin.

          “Lo pikir dia batu? Tiap hari lo injek perasaannya. Lepasin aja, Rom. Di luar sana masih banyak pria normal yang mau nerima dia.” Cibir Satria tajam.

          “Kalau cuma mau ngoceh kayak gitu, mending pulang aja. Gue nggak jamin bisa tetap tenang kalau lo terus mancing emosi gue.” Desis Romeo.

          “Santai dikit, Rom. Gue dateng bawa informasi penting tentang wanita kesayangan lo. Atau lo udah males denger soal dia?” Cibir Satria.

          “Bilang sekarang. Masalah apa lagi yang wanita itu buat?” Tanya Romeo singkat.

          “Cewek yang lo bela mati-matian itu bukan orang sembarangan. Dia anak dari orang yang dulu bermusuhan sama papa mertua lo.” Nada Satria rendah, penuh tekanan.

         “Musuh?Lo salah orang,sapa mertua gue bukan tipe yang bikin musuh.” ujar Romeo tak percaya.

          “Ada, Rom,musuh itu adik tirinya papa mertua lo. Namanya Hadi Wibowo.” Satria menatap tajam.

         “Jadi semua ini bukan kebetulan,gue dan Tania sengaja dideketin atas perintah Tuan Hadi?” desis Romeo.

          “Betul,utu skenario lama dia sengaja nyusun rencana biar kalian terikat.” Satria mengangguk pelan.

          “Tujuan akhirnya apa?” rahang Romeo mengeras.

          “Kalau lo nikah sama Tania,semua harta Tuan Budi otomatis turun ke si kembar. Dan di titik itu, Tania sama ayahnya bakal pelan-pelan nguras peninggalan almarhum ibu mereka. Intinya cuma satu serakah.” jelas Satria serius.

         “Sial,selama ini gue di jadikan boneka oleh Tania.” Romeo mengumpat kasar.

         “Kalau lo bertindak gegabah,lo justru main sesuai rencana mereka.” Satria menatap tajam.

         “Dia pikir bisa mainin gue,tunggu giliran lo, Tania.” Romeo menyeringai pahit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!