Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Baru
"Astaga, lemari pakaian doang gedenya seluas lima kamar kos-kosan," ujar Candy terperangah.
Dalam hati, Candy langsung menghitung. Ini lemari atau apartemen tipe studio, sih?
Revo melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Kau juragan kos, ya?" tanyanya datar.
Oh, dia becanda. Tipis. Tipis banget. Kayak dompet mahasiswa tanggal tua, batin Candy.
Ia terus melangkah, menyentuh rak dan gantungan baju dengan rasa penasaran.
"Jangan sembarangan!"
Revo menahan lengan Candy terlalu cepat.
"Aduh!" pekik Candy refleks.
"Maaf." Revo langsung melepasnya, ekspresinya kaku.
Seolah permintaan maaf barusan hanya kewajiban administratif.
Ia berdehem, lalu mulai menjelaskan dengan nada yang terlalu rapi untuk ukuran manusia normal.
"Sebelah kiri khusus pakaian santai dan tidur. Bagian tengah kemeja santai. Sebelah kanan kemeja formal dan setelan jas lengkap. Di sampingnya dasi dan kaus kaki. Seluruh alas kaki—formal maupun tidak—di bagian paling bawah."
Candy menatapnya kosong.
Dia hafal ini di luar kepala? Ya ampun. Ini orang kuliah manajemen lemari, apa gimana? Candy bermonolog dalam hati
Plak… plak… plak…
Candy bertepuk tangan pelan dengan wajah penuh takzim.
Revo menoleh. Sebelah matanya menyipit tajam.
"Hebat!" seru Candy sambil mengacungkan dua jempol. "Udah nggak irit bicara lagi. Pasti tenggorokannya kaget sendiri."
Pletak.
"Aw!" Candy refleks menutupi keningnya. "Kenapa nyentil kening gue!"
Revo berdiri tepat di depannya, berkacak pinggang, aura bos besar langsung keluar.
"Kau harus hafal semua urutan itu," ucapnya tegas.
"Karena kau yang akan menyiapkannya."
Candy membeku.
Oh. Jadi ini lemari bukan buat dipandang. Ini ujian hidup.
Tanpa menunggu jawaban, Revo berbalik pergi.
Candy menatap punggungnya, masih mencerna kalimat barusan.
Nyiapin. Semuanya. Setiap hari.
Begitu sadar, Revo sudah menghilang di balik dinding.
"Eh!" teriak Candy. "Emangnya gue pengasuh lansia!"
Di balik dinding, langkah Revo sempat terhenti.
Bibirnya melengkung samar.
"Lansia," gumamnya pelan.
"Tunggu saja. Akan aku tunjukkan siapa yang lansia."
Sementara itu, Candy menatap lemari raksasa itu lagi.
"Baiklah, lemari. Kita akan hidup bersama. Tapi kalau gue salah ambil kaus kaki, jangan salahin gue, ya," ujar Candy.
Hari pertama Candy bergabung dengan keluarga Luneth benar-benar membuatnya lelah. Gadis itu tertidur di sisa hari. Alhasil, saat makan malam, dia menjadi bulan-bulanan oleh mertua dan ipar-iparnya.
Meski wajahnya merah padam bagai balon merah yang hampir meletus, tapi di hatinya menangis tersenyum.
Ternyata begini rasanya dianggap oleh keluarga, batinnya.
Baiklah. Ini adalah keluarga gue sekarang. Meski si lansia itu selalu bikin emosi gue idup mati, gue harus memperjuangkan keluarga ini. Candy bermonolog dalam hati.
Hari pertama Candy bergabung dengan keluarga Luneth benar-benar menguras tenaganya. Gadis itu tertidur hampir sepanjang sisa hari. Alhasil, saat makan malam, dia menjadi bulan-bulanan—digoda tanpa ampun—oleh mertua dan ipar-iparnya.
Meski wajahnya merah padam bagai balon yang hampir meletus, di hatinya Candy justru menangis sambil tersenyum.
Ternyata begini rasanya dianggap keluarga, batinnya.
Baiklah. Ini keluarga gue sekarang. Meski si lansia itu selalu bikin emosi gue hidup mati, gue bakal memperjuangkan keluarga ini.
Kehangatan di keluarga Luneth terasa sangat kentara—jauh berbanding terbalik dengan keluarga Adrian.
Malam itu, mereka hanya makan malam bertiga, tanpa Candy. Tak ada Mbok Sarah yang menyiapkan segala keperluan rumah tangga. Tak ada pula suasana hangat yang biasa mengisi meja makan.
Ranti harus mengurus semuanya sendiri.
Sebenarnya, ia sudah mulai mencari pengurus rumah tangga sejak sehari setelah Candy mengajukan syarat agar Mbok Sarah mengikutinya. Ia mencoba berbagai cara—melalui jasa penyalur formal maupun kenalan—namun hingga kini belum juga membuahkan hasil.
Langkahnya masih terasa ringan… sebelum ia mengetahui satu fakta yang membuat dadanya sesak: suami anak sambungnya adalah pria tampan—dan pria yang diam-diam dicintai putrinya sendiri.
"Ini bukannya masakan dari restoran, Ma?" tanya Clara sambil duduk di sebelah Ranti.
"Hmm," jawab Ranti singkat, nyaris tanpa ekspresi.
Clara menoleh. Tatapannya dipenuhi keheranan. Tidak biasanya mamanya bersikap seperti itu. Sangat berbeda dari kesehariannya yang ceriwis dan penuh komentar.
Adrian menyusul duduk. "Kenapa pada diam?" tanyanya.
Clara mengangkat bahu. Ia mengambil piring, lalu menyendok nasi dan lauk-pauk ke piringnya secara bergiliran.
Adrian terdiam sejenak.
Biasanya, Ranti selalu berinisiatif menyiapkan makanannya. Namun kali ini, istrinya itu justru diam—tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Ranti," panggil Adrian.
Ranti masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Tangannya mengepal di atas meja, menahan geram. Ia tak terima—nasib Candy yang seharusnya berantakan justru berjalan mulus. Bersamaan dengan itu, penyesalan atas kebodohannya sendiri merayap diam-diam.
"Ranti."
Kali ini suara Adrian sedikit lebih keras dan berhasil menariknya kembali ke kenyataan.
"I-iya, Mas," jawab Ranti gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Adrian penuh perhatian. "Sakit?"
Ranti cepat-cepat menggeleng. "Aku nggak apa-apa, sayang. Ayo makan," ujarnya sambil mengambilkan nasi dan lauk ke piring Adrian.
"Yakin?" Adrian menatapnya sejenak.
Ranti mengangguk, memaksakan senyum.
"Paling cuma capek aja, Mas," katanya—bohong.
Adrian menerima piring itu. "Terima kasih."
Namun Clara tiba-tiba angkat bicara, santai sambil memilah makanan di piringnya.
"Tapi Clara perhatiin, dari kemarin Mama bengong terus setelah akad nikahnya Kak Candy."
Mata Ranti nyaris membulat. Dalam hati, ia ingin sekali menutup mulut putri bungsunya itu—kalau perlu dengan bon cabe level dua puluh.
"Oh, ya?" gumam Adrian.
Ranti cepat menyela. "Aku cuma sedikit kaget dan sedih aja, Mas. Candy tiba-tiba sudah menikah."
Adrian menoleh, tatapannya datar.
"Bukannya kamu sendiri yang paling bersikeras menginginkan pernikahan Candy?"
Kalimat itu menghantam tepat sasaran.
Ranti semakin salah tingkah. Dadanya menghangat oleh amarah yang tak bisa ia tumpahkan. Ucapan Adrian terdengar seperti sindiran—sekaligus pengingat pahit atas kebodohannya sendiri.
Ia menunduk, menggigit bibir, berusaha menelan semua rasa yang bergejolak.
Tet… tet… tet…
Suara bel yang dipencet tanpa sabar itu berhasil menyelamatkan Ranti dari kecanggungan yang menjeratnya.
"Siapa sih malam-malam begini yang bertamu?" keluh Clara kesal.
Adrian tetap melanjutkan makannya. Ia memang tidak suka diganggu saat sedang menikmati hidangan.
Ranti yang baru saja duduk pun enggan bangkit sekadar untuk membukakan pintu.
"Mbok Sarah!" pekik Ranti refleks.
Clara menoleh. "Mbok Sarah kan udah nggak di sini, Ma."
Ranti berdecak kesal. "Mama lupa."
"Biar Clara aja," ujar Clara sambil berdiri. "Lagian Clara juga udah selesai makan."
Gadis remaja itu mengelap mulutnya asal, lalu melangkah menuju pintu depan—dengan kesal.
Tet… tet… tet…
"Astaga, nggak sabaran banget sih," gerutunya.
"Iya, sebentar!" teriak Clara dari dalam.
Ia setengah berlari menuju ruang tamu. Dalam hati, Clara sudah menyiapkan rentetan omelan untuk tamu tak tahu diri itu.
Ceklek.
"Nggak sabaran—"
Kalimatnya menggantung.
Mata Clara membulat ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Wajah orang itu kusut, napasnya tak beraturan, dan sorot matanya penuh kegelisahan—seolah baru saja terjadi sesuatu yang tidak seharusnya.