"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-sembilan
Halaman depan Fakultas Hubungan Internasional yang biasanya dipenuhi deru mobil sport mahasiswa elit, mendadak hening saat sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik dengan plat nomor khusus keluarga Suhadi meluncur perlahan. Mobil itu berhenti tepat di depan lobi utama, sebuah area yang biasanya dilarang untuk parkir lama.
Pak Darman, supir pribadi Kakek Suhadi yang sudah berambut perak namun tampak sangat gagah, turun dengan sigap. Ia memutari mobil dan membukakan pintu belakang dengan gerakan yang sangat formal.
Seluruh mata mahasiswa yang sedang berkumpul di sisi pelataran kampus , termasuk geng Raisa, tertuju pada satu titik. Mereka mengira itu adalah kunjungan pejabat atau kakek Suhadi sendiri. Namun, saat sebuah sepatu hak rendah yang elegan menyentuh aspal, dan sosok Najwa keluar dengan gamis sederhana nya suasana pecah menjadi bisikan-bisikan riuh.
Mahasiswa 1: "Gila! Siapa itu? Turun dari mobil Kakek Suhadi?!"
Mahasiswa 2: "Cantik banget... kayak bidadari tapi berwibawa banget.".
Mahasiswa 3:" wajahnya kaya ciplukan yang baru matang... berkilau".
Bukan hanya para mahasiswa, tapi bisikan-bisikan itu terdengar hampir semuanya yang melihat... Tatapan memuja, iri hati, bahkan tak peduli sangat kentara.
Raisa, yang sudah sampai lebih dulu dengan mobilnya, berdiri di tengah gerombolan teman-temannya yang terkenal suka merundung mahasiswa baru. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.
Raisa berbisik pada teman-temannya dengan nada menghina "Guys, jangan tertipu. Itu cuma anak pungut yang dibawa Papa dari kampung. Dia cuma bisa akting sok suci biar dikasih fasilitas sama Kakek. Kita harus kasih dia pelajaran soal 'kasta' di kampus ini.".
" Wiiih gila, enak banget tuh anak pungut " sahut teman Raisa dengan wajah berbinar, seolah-olah ia baru mendapatkan mainan baru.
" enaknya kita apain ya,tuh anak baru?" tanya teman yang lainnya.
" bagaimana Kalau salam perkenalan" usul Raisa tersenyum misterius.
Saat Najwa berjalan melewati lobi dengan langkah yang tenang dan pandangan lurus ke depan, Raisa sengaja melangkah maju, menghalangi jalan Najwa bersama dua temannya yang berbadan tinggi.
Raisa berbicara dengan suaranya nyaring agar terdengar orang banyak "Wah, lihat siapa yang baru datang! Nona Najwa, kan? Keren ya, hari pertama sudah berani pakai mobil Kakek untuk pamer. Tapi sayang banget, baju mahalmu itu nggak bisa nutupi bau pesantrenmu yang... yah, kamu tahu sendiri kan?"
Teman-teman Raisa tertawa sinis. Beberapa mahasiswa mulai berkumpul membentuk lingkaran. Najwa berhenti tepat di depan Raisa. Ia tidak menunduk ketakutan, ia justru menatap mata Raisa dengan sorot yang sangat jernih, bibirnya tersimpul senyum tipis yang penuh ketenangan.
"Assalamualaikum, Raisa. Terima kasih sudah menyambutku dengan begitu meriah. Tapi sepertinya ada yang salah dengan indera penciumanmu. Bau yang kamu rasakan itu mungkin bukan dari bajuku, tapi dari rasa iri yang sedang keluar dari hatimu. Di pesantren, kami diajarkan bahwa iri hati itu seperti api yang memakan kayu bakar, semakin lama ia akan menghanguskan kebaikan pemiliknya sendiri."
Mendengar jawaban itu, beberapa mahasiswa di sekitar spontan menahan tawa, sementara Raisa merasa wajahnya seperti ditampar di depan umum.
Raisa mendekat ke telinga Najwa, suaranya bergetar karena marah "Lo jangan berlagak! Lo itu cuma pelayan di rumah gue! Lo tahu nggak, Alendra dan Adrian nggak bakal sudi ngakuin lo di sini!"
" benarkah....?, aku sudah tahu siapa kau sebenarnya kakak Raisa yang terhormat, jadi lebih baik tidak usah berulah, atau kau akan malu sendiri, bagaimanapun juga kedudukan kita di keluarga Suhadi jauh lebih tinggi aku di banding dirimu" gumam Najwa pelan...ia tersenyum sedikit, senyum yang membuat s mua orang bergidik ngeri.
Deg...
Raisa tersentak, "ja..jadi, anak haram ini sudah tahu identitas asliku yang sebenarnya, pantas saja dia tidak takut dengan ku " gumamnya dalam hati.
Tepat saat Raisa akan membalas perkataan Najwa, Alendra muncul dari arah gedung perpustakaan bersama beberapa teman organisasinya. Ia melihat kerumunan itu dan melihat Najwa yang sedang dipojokkan oleh Raisa. Sesuai janjinya pada Kakek, dan entah kenapa ada dorongan di dadanya yang tidak bisa ia jelaskan, Alendra melangkah masuk ke tengah lingkaran.
Alendra menegur beberapa mahasiswa yang berkerumun,suaranya berat dan mengintimidasi "Ada apa ini ramai-ramai?"
Raisa langsung beralih ke lengan Alendra, memasang wajah manja dan pura-pura terzalimi... Semua orang di sini tidak tahu kalau dia anak angkat,ia selalu mengatakan kepada teman-temannya kalau ia adik kandung Alendra dan Adriansyah, dan kedua kakaknya juga tidak masalah,toh mereka di besarkan bersama-sama sudah seperti saudara kandung.
"Kak Alen! Lihat nih, adek baru Kakak baru datang udah sombong banget. Dia bilang kita semua nggak beradab. Kakak harus kasih tahu dia siapa yang berkuasa di sini!" adu Raisa dengan manja.
Alendra menatap Raisa dingin, lalu beralih menatap Najwa. Najwa hanya diam, tidak meminta pembelaan, hanya menatap kakaknya dengan tenang, seolah-olah sedang menguji apakah Alendra akan memilih gengsi atau kebenaran.
Alendra menepis tangan Raisa secara perlahan namun tegas "Raisa, masuk kelas sekarang. Dan kalian semua..." ia menatap teman-teman Raisa dengan tajam, "Bubarlah. Najwa adalah bagian dari keluarga Suhadi. Jika kalian punya masalah dengannya, itu berarti kalian punya masalah denganku."
Seluruh lobi mendadak senyap. Raisa mematung, matanya membelalak tak percaya. Alendra, kakaknya yang paling benci pada Najwa di rumah, justru membelanya di depan umum?, bukannya pergi, Raisa malah diam mematung karena terlalu shock...
Alendra tidak menatap Najwa, ia hanya bergumam pelan melewati Najwa. "Jangan buat keributan lagi. Ruang kelasmu ada di lantai dua, sebelah kanan."
Najwa tersenyum tipis. "Terima kasih, Kak Alen." balasnya,lalu Najwa berjalan meneror kerumunan dengan sopan , ia membungkukkan badannya sedikit ketika melewati kakak-kakak seniornya.
Sedangkan Raisa setelah sadar, ia pergi dengan wajah merah padam, tangannya terkepal kuat, ia malu karena kakaknya tidak membelanya, walaupun kakaknya tidak menyebutkan Najwa adalah adiknya, tapi ia sangat kesal. Ia berjalan cepat diikuti oleh kedua temannya.
" tunggu Raisa, kita harus bikin rencana untuk mempermalukan anak pungut itu, aku kesal sekali melihat wajah sok sucinya itu" usul teman Raisa ikut berapi-api, ia tidak terima, kakak temannya itu malah membela anak pungut daripada adik kandung nya sendiri.
" ia Raisa, kelihatannya anak pungut itu sangat di hormati, sehingga kakak kesayangan mu lebih membelanya daripada membelamu" sahut temannya lagi seolah-olah menyiram bensin pada bara api..
Raisa berhenti di depan kelasnya,ia memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan karena tertiup angin saat berjalan cepat." oke....tarik nafas Raisa...tenang, gunakan otakmu sekarang" gumam Raisa menyemangati dirinya sendiri.
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong