Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilasan dari Batu yang Hancur
Kamar di Pondokan Awan Terkikis itu sunyi, hanya diterangi oleh cahaya rembulan kebiruan yang merambat masuk dari jendela kecil. Xu Hao duduk bersila di lantai kayu yang keras, namun pikirannya tidak tenang. Kemenangan di gelanggang, kristal hukum tinggi di sakunya, sarung tangan baru di tangannya, semua itu terasa sangat sepele dibandingkan dengan gelombang pertanyaan dan emosi yang menggelora di dalam dadanya.
Dia menatap sarung tangan Banteng Batu itu, mengamati setiap jahitan kulit hitamnya, merasakan energi sederhana namun kokoh yang terpancar. Alat yang berguna untuk menyamarkan, tapi bukan jawaban dari pencariannya.
Akhirnya, dengan napas dalam yang berusaha menenangkan jiwa yang gelisah, dia mengeluarkan benda dari dalam cincin penyimpanannya yang paling tersembunyi. Batu pipih berwarna abu-abu kebiruan, biasa saja, tidak memancarkan aura apa pun. Batu peninggalan pamannya, Xu Tianmu.
Dia memegangnya di telapak tangan, merasakan permukaannya yang dingin dan halus. Sejak menerimanya dari Tetua Hong, dia menahan diri untuk tidak membukanya, khawatir akan gelombang energi yang bisa menarik perhatian. Tapi malam ini, setelah pertarungan hidup dan mati di hutan bawah tanah, setelah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa bertahan di lingkungan berbahaya ini, rasa penasaran dan kerinduan yang tertahan itu meledak.
Dengan hati-hati, dia mengalirkan sedikit energi spiritual ke dalam batu itu, tidak banyak, hanya cukup untuk memicunya. Darahnya yang murni bereaksi secara alami, seolah mengenali sesuatu yang sama.
Batu itu hangat. Lalu, dari permukaannya, cahaya keemasan samar menyembul, bukan menyilaukan, tapi lembut, seperti sinar matahari pagi yang menembus kabut. Cahaya itu membentuk sebuah proyeksi tiga dimensi di udara di depannya.
Pemandangan yang muncul membuat nafas Xu Hao tersendat.
Sebuah dunia yang begitu indah hingga terasa tidak nyata. Hamparan pegunungan hijau zamrud yang lembut, lembah-lembah subur dipenuhi bunga-bunga aneh berwarna pelangi. Dan di langit, bukan hanya satu, tetapi beberapa pelangi melengkung, namun ini bukan pelangi biasa. Warna-warnanya tampak padat, nyata, seperti pita raksasa yang terbuat dari cahaya yang membeku. Bahkan, dari proyeksi itu, Xu Hao bisa melihat kilasan seekor kelinci kecil berbulu perak yang sedang meluncur turun di salah satu pelangi itu, seolah-olah pelangi itu adalah perosotan.
Tempat ini... surgawi. Tidak ada kesan bahaya atau kekerasan. Hanya kedamaian dan keindahan murni.
Tiba-tiba, pandangan berubah, mendekat ke sebuah bukit kecil. Di sana, duduk di atas batu, seorang pria.
Xu Hao langsung mengenalinya. Wajah itu memiliki kesamaan dengan ayahnya, Xu Yaoting, tapi lebih tua, lebih keras, dan dipenuhi oleh jejak penderitaan yang dalam. Luka-luka halus, bekas siksaan mungkin, menghiasi wajah tampannya. Rambutnya yang seharusnya hitam sudah beruban di pelipis, matanya yang bijak kini penuh dengan kelelahan tak berujung dan duka yang membatu. Itu adalah Xu Tianmu.
Pria dalam proyeksi itu menatap lurus ke depan, seolah-olah menatap langsung ke mata Xu Hao dari balik waktu dan ruang.
Suaranya terdengar, serak namun penuh wibawa, mengandung getaran emosi yang tertahan.
"Akar spiritual primordial... tubuh suci tingkat sepuluh..." gumam Xu Tianmu, seolah mengulangi sebuah fakta yang masih membuatnya terpana. "Itulah bakat terbaik yang pernah ada di sepanjang sejarah Dataran Tengah. Dan itu... dimiliki oleh anak dari adikku, Xu Yaoting, dan adik iparku, Xiou Xian."
Dia menghela napas, napas yang berat penuh penyesalan. "Tapi... sangat disayangkan. Saat aku pergi keluar dari Dataran Tengah, membawa isteri dan anakku untuk menghindari racun keluarga, saat aku tinggal di Dongxu... pada saat itulah bakat keponakanku dicuri. Dicuri oleh kakak tertua kami... Xu Tianlong."
Nama itu diucapkan dengan kebencian yang mendidih. "Dan adikku... alih-alih mendapatkan keadilan karena bakat anaknya dicuri, malah difitnah berkhianat oleh Xu Tianlong. Mereka... Xu Yaoting dan Xiou Xian... dihancurkan kultivasinya, lalu diusir dari Dataran Tengah."
Suara Xu Tianmu mulai bergetar. "Dan aku... aku baru mengetahui semua ini setelah lima tahun kejadian. Aku berusaha mencari adikku dengan teknik pelacak garis darah... tapi itu percuma. Karena dia tak bisa lagi berlatih kultivasi, sinyal darahnya melemah, hilang ditelan dunia luar yang luas."
Dia memicingkan mata, menahan sesuatu. "Dan... empat puluh tahun yang lalu... aku baru menyadari kematiannya. Karena seseorang dari Dataran Tengah... secara tak sengaja mengabarkannya padaku. Dan pria itu... Liu Sheng... pembunuh adikku... adalah orang suruhan dari orang dalam Klan Xu. Dugaan terkuat adalah Xu Tianlong. Tapi... itu belum pasti. Dan orang di balik semua ini... menggunakan teknik segel dari Sekte Immortal."
Xu Hao mendengar nama itu disebut, membuat hatinya bergejolak. Liu Sheng. Dia ingat dengan jelas pria itu telah ia bunuh. Dendam untuk pembunuhan orang tuanya sudah dibayar sebagian. Tapi mendengar pamannya menyebutnya, rasa sakit itu kembali segar.
"Dan jika kau bertanya," lanjut Xu Tianmu, ekspresinya berubah menjadi getir, "kenapa aku tidak membunuh Liu Sheng sendiri saat itu? Itu karena... sebelum aku kembali ke Dataran Tengah empat puluh tahun lalu, aku sudah tahu... keponakanku dibiarkan hidup. Aku memutuskan... untuk membiarkan dirimu sendiri yang membalaskan dendam itu. Itu adalah hakmu. Meskipun aku sangat ingin membunuhnya."
Dia mengangkat tangannya, menatapnya seolah melihat darah. "Dan tidak hanya itu. Mengetahui fakta bahwa keponakanku dibiarkan hidup... aku bingung. Aku berusaha memecahkan teka-teki ini selama bertahun-tahun di Dataran Tengah. Tapi aku tidak menemukan alasan... kenapa adikku dan adik iparku dibunuh, sedangkan keponakanku tidak. Kenapa mereka membiarkanmu hidup? Itu menjadi tanda tanya besar bagiku. Sebuah ketidaklogisan dalam konspirasi keji mereka."
Proyeksi itu bergeser, mendekatkan wajah Xu Tianmu. Matanya sekarang menatap langsung, intens, penuh dengan rasa bersalah dan kepedihan yang tak tertahankan.
"Keponakanku... Xu Hao. Aku tahu kau ada di sana. Melalui rekaman ingatan ini... paman meminta maaf."
Air mata, tanpa bisa lagi ditahan, mengalir deras di wajah pria tangguh itu. Tangisannya sunyi, tapi getirannya merobek jiwa Xu Hao yang menyaksikan.
"Aku... kakak yang gagal. Aku paman yang buruk. Juga suami yang biadab... dan tentu saja, ayah yang gagal."
Setiap kata seperti pukulan palu ke dada Xu Hao. Dia melihat kehancuran di wajah pamannya, kehancuran yang jauh lebih dalam dari luka fisik mana pun.
"Sebaiknya... kau tidak mencariku. Karena saat merekam ini, paman aman. Tapi... jika aku keluar dari sini... paman akan bahaya. Jika kau menerima batu ini... berarti paman sudah... keluar dari tempat ini."
Xu Tianmu menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa kewibawaannya. "Dan dengarkan! Paman juga menyarankanmu... untuk tidak melawan Klan Xu."
Kalimat itu diucapkan dengan berat, penuh keputusasaan.
"Karena... Xu Tengshi... anak Xu Tianlong... yang merupakan orang yang menerima bakatmu yang dicuri... kini dia mencapai tingkat kultivasi... Raja Abadi."
Raja Abadi. Tingkat kesebelas. Tiga tingkat di atas Dao Awakening. Sebuah jurang kekuatan yang hampir tak terbayangkan.
"Tapi..." suara Xu Tianmu tiba-tiba berubah, mengandung sedikit percikan api, sedikit harapan liar. "Bukan berarti tidak mungkin. Paman menyiapkan batu ingatan ini... untuk memberikan peringatan, tapi juga... solusi."
Pemandangan proyeksi bergeser lagi. Kini yang terlihat adalah sebuah pedang. Pedang itu sederhana, terlalu sederhana. Gagangnya kayu tua tanpa hiasan, sarungnya kulit usang. Bilahnya, yang terlihat sebagian, berwarna hitam pekat tanpa kilauan, seperti besi biasa yang tak terawat. Tidak ada aura energi yang istimewa, tidak ada ukiran rumit. Itu adalah pedang yang mungkin akan diabaikan di toko barang bekas termurah.
"Jika kau bisa mencabut pedang ini dari tempatnya..." suara Xu Tianmu bergema lagi, penuh keyakinan aneh, "paman yakin... kau memiliki kesempatan. Kesempatan untuk membalaskan dendam... dan menyelamatkan paman."
Dia berhenti sejenak, lalu suaranya kembali lemah, penuh kekhawatiran. "Tapi meskipun begitu... paman menyarankan... Hao'er... menjauh. Jauh sejauh mungkin dari Dataran Tengah. Hiduplah. Lupakan semua ini."
Proyeksi mulai buram, gambar-gambar indah pegunungan dan pedang sederhana itu mulai memudar. Suara Xu Tianmu terdengar semakin jauh, seperti bisikan dari dalam sumur.
"Di bawah laut... ada dunia. Tempat... di mana pelangi bisa disentuh... secara fisik..."
Krek.
Suara halus. Batu di tangan Xu Hao retak, lalu hancur berkeping-keping menjadi debu halus yang berserakan di lantai. Cahaya pun padam. Kamar kembali gelap, hanya diterangi bulan.
Xu Hao terduduk diam. Tangannya masih terbuka, kosong. Pipinya terasa basah. Dia mengangkat tangan, menyentuh kulitnya. Air mata. Tanpa dia sadari, air mata telah mengalir deras selama dia menyaksikan rekaman itu.
Dia mengelapnya dengan kasar, berusaha menahan gejolak di dalam dadanya. Informasi itu terlalu banyak. Indahnya tempat persembunyian pamannya atau penjaranya?, pengakuan dan penyesalan yang mendalam, peringatan tentang Raja Abadi, petunjuk tentang pedang aneh, dan kalimat terakhir yang misterius.
"Di bawah laut ada dunia. Tempat dimana pelangi bisa disentuh secara fisik."
Itu adalah petunjuk lokasi. Tempat pedang itu? Atau tempat persembunyian pamannya?
Dan Xu Tengshi... Raja Abadi. Anak dari Xu Tianlong, pria yang mencuri bakatnya, yang menghancurkan orang tuanya. Musuhnya telah mencapai ketinggian yang bahkan belum bisa dia bayangkan. Sementara dia, Xu Hao, masih berkutat di tingkat Dao Awakening, bersembunyi di arena pertarungan kotor di wilayah pinggiran.
Rasa frustrasi, kemarahan, dan ketidakberdayaan menyergapnya. Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang jelas: pamannya, Xu Tianmu, masih hidup. Atau setidaknya, masih hidup saat merekam batu itu. Dia menderita, menanggung rasa bersalah, tapi masih berusaha memberikan petunjuk dan peringatan.
Dan dia, Xu Hao, tidak akan lari. Tidak akan menjauh.
Dia berdiri, berjalan ke jendela kecil, memandang langit malam dan pulau-pulau terapung. "Paman... terima kasih untuk peringatannya. Tapi... Aku Xu Hao tidak akan lari. Tidak lagi."
Dia mengepalkan tangan. Sarung tangan Banteng Batu di tangannya terasa kokoh.
"Raja Abadi... itu memang jauh. Tapi setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah. Dan langkahku... dimulai dari sini. Dari arena-arena kotor ini, dari pertarungan demi pertarungan, sampai fondasiku tak tergoyahkan, sampai aku bisa mencabut pedang yang kau maksud, sampai aku punya kekuatan untuk menghadapi Xu Tengshi... dan seluruh Klan Xu."
Dia menarik napas dalam. "Dan paman... tunggu saja. Jika kau masih hidup di suatu tempat, di dunia di bawah laut, atau di mana pun... tunggu saja. Aku akan datang. Aku akan menyelamatkanmu. Dan bersama-sama... kita akan menghancurkan semua yang telah menghancurkan kita."
Malam itu, Xu Hao tidak lagi bermeditasi. Dia hanya duduk di depan jendela, memandangi bintang-bintang, memproses segalanya. Rencananya berubah lagi. Bukan sekadar menjadi kuat untuk balas dendam. Sekarang ada tujuan yang lebih jelas: menemukan pedang itu, meningkatkan kekuatan secepat mungkin, dan menemukan pamannya.
Dan semua itu dimulai dengan kristal hukum tinggi di sakunya, dengan reputasinya yang baru tumbuh di Sarang Naga Patah, dan dengan tekad yang kini telah ditempa menjadi baja murni oleh air mata dan pengakuan dari seorang paman yang gagal.
Esok hari, arena akan melihat sisi baru dari Hei Feng. Bukan lagi peserta yang hati-hati dan bertahan. Tapi seorang pemburu yang mulai membuka kukunya, sambil menyembunyikan taring sebenarnya jauh di dalam. Perjalanan panjang dari Dao Awakening menuju Raja Abadi telah dimulai, dan jalan itu akan dipenuhi darah, keringat, dan kemungkinan besar, air mata lagi. Tapi Xu Hao sudah siap. Karena kini, dia tidak hanya berjuang untuk masa lalu. Tapi juga untuk masa depan, dan untuk sisa keluarga yang masih bisa diselamatkan.
up up up