NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:846
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klub Baca

Minggu berikutnya, hari klub baca pertama tiba lebih cepat dari yang diharapkan. Lila bangun pukul 06.00 pagi, menyiapkan camilan dan alat tulis untuk anak-anak. Siti sudah bangun juga, membantu dia membungkus kue dan mempersiapkan buku yang akan dibaca hari itu.

"Kak Lila, aku takut anak-anak tidak datang," ujar Siti, memegang bungkus kue dengan rapat.

"Tidak usah takut, sayang. Mereka sudah berjanji, kan? Dan bahkan kalo cuma ada sedikit, itu juga oke—yang penting kita bisa berbagi cerita bersama," jawab Lila, membelai kepala Siti.

Ketika mereka tiba di perpustakaan, Rama, Dina, dan Rian sudah ada di sana. Mereka sudah menyiapkan meja di halaman luar, agar anak-anak bisa duduk di bawah pohon dan menikmati udara segar. Dina telah melukis gambar burung dan bunga di kertas besar, yang dipasang di dinding samping meja.

"Siapa yang mau mulai pertama kali?" tanya Rian, memegang kamera untuk merekam momen itu.

Belum sempat Lila menjawab, suara anak-anak yang riang terdengar dari jauh. "Kak Lila! Kak Rama! Kita dateng!"

Deni, Lina, dan sekitar 15 anak lain berlari ke arah mereka, membawa buku dan buku catatan mereka. Beberapa membawa cerita yang sudah mereka tulis semalam, sedangkan yang lain hanya membawa senyum yang lebar.

"Wow, banyak banget yang datang! Aku senang banget!" teriak Siti, berlari ke arah anak-anak.

Setelah semua anak-anak duduk, Lila naik ke tempat yang sudah disiapkan. "Hai semuanya! Selamat datang di klub baca pertama kita! Hari ini, kita akan membaca buku yang berjudul 'Kelinci yang Mau Terbang'—cerita tentang kelinci yang tidak mau menyerah pada impiannya. Setelah itu, kita bisa berbagi pendapat dan bahkan mulai menulis cerita baru bersama."

Anak-anak bersorak kegembiraan. Lila mulai membaca buku itu dengan suara yang penuh emosi, kadang-kadang mengubah nada suaranya untuk setiap karakter. Anak-anak terpesona, mata mereka terpaku ke Lila dan gambar di buku. Ketika dia selesai membaca, Deni langsung mengangkat tangan.

"Kak Lila! Kenapa kelinci itu mau terbang padahal dia tahu kelinci tidak bisa terbang?" tanya Deni.

"Karena dia punya impian, Deni. Dan impian itu membuat dia berani mencoba hal-hal baru. Bahkan kalo dia tidak bisa terbang seperti burung, dia masih bisa merasa bahagia karena sudah mencoba," jawab Lila dengan senyum.

Lina juga mengangkat tangan. "Kak Lila, aku punya impian juga—aku mau jadi petani seperti ayahku, dan bikin kebun yang penuh bunga. Bisa kan?"

"Pastinya bisa, Lina! Semua impianmu akan terwujud kalo kamu kerja keras dan tidak menyerah," jawab Lila, merasa hatinya hangat.

Setelah sesi berbagi pendapat selesai, waktunya untuk menulis cerita baru. Lila mengusulkan tema: "Hari di Mana Semua Hewan Bisa Berbicara". Anak-anak langsung bersemangat, mulai membicarakan apa yang akan terjadi dalam cerita.

"Aku mau cerita ada kucing yang bicara tentang makanan kesukaannya!" ujar Deni.

"Aku mau ada burung yang bicara tentang langit!" ujar Siti.

"Aku mau ada kelinci yang bicara tentang impiannya terbang!" tambah Lina.

Mereka membagi diri menjadi tiga kelompok. Lila membantu kelompok Lina, Rama membantu kelompok Deni, sedangkan Dina dan Rian membantu kelompok yang lain. Setiap kelompok menulis bagian cerita mereka sendiri, dan kemudian mereka akan menyatukannya menjadi satu cerita yang utuh.

Selama satu jam, perpustakaan dipenuhi dengan suara anak-anak yang sibuk berbicara dan menulis. Siti menulis dengan cepat, matanya bersinar dengan imajinasi. Dia menulis tentang burung yang namanya Pelangi, yang bisa bicara tentang semua warna di langit. Lina menulis tentang kelinci yang namanya Kiki, yang bertemu dengan burung Pelangi dan minta tolong untuk terbang. Deni menulis tentang kucing yang namanya Mimi, yang ikut dalam petualangan mereka dan selalu ngomong tentang ikan.

Setelah semua kelompok selesai, mereka menyatukan cerita. Hasilnya adalah cerita yang lucu dan menyentuh hati—tentang petualangan Kiki, Pelangi, dan Mimi yang mencari cara untuk membuat Kiki terbang. Pada akhirnya, mereka tidak bisa membuat Kiki terbang seperti burung, tapi mereka membangun papan luncur di atas bukit, sehingga Kiki bisa merasakan sensasi seperti terbang.

"Ceritanya keren banget! Kita bikin jadi buku lagi ya, Kak Lila?" tanya anak-anak secara serentak.

Lila tersenyum. "Baik deh! Kita akan bikin cerita ini jadi buku kedua kita. Tapi kali ini, semua anak-anak akan ikut menggambarnya juga—tidak cuma Kak Dina."

Anak-anak berteriak kegembiraan. Dina mengambil kertas dan pena, mulai menunjukkan cara menggambar hewan-hewan di cerita. Anak-anak mengikuti dengan antusias, meskipun gambarnya tidak sempurna—beberapa kucing terlihat seperti kelinci, dan beberapa burung terlihat seperti ayam—butuh apa lagi, yang penting mereka senang.

Saat matahari mulai menyebar ke tengah hari, mereka berhenti untuk makan camilan. Anak-anak makan kue dan minum jus, sambil berbicara tentang cerita mereka. Seorang anak laki-laki bernama Adi, yang biasanya pendiam dan tidak suka berbicara, mendekati Lila dengan buku catatannya.

"Kak Lila... ini cerita yang aku tulis sendirian. Bisa kah kamu baca?" ujarnya dengan suara lembut.

Lila mengambil buku catatannya dan membacanya. Ceritanya tentang anak yang merasa sendirian, tapi menemukan teman di klub baca. Mata Lila mulai berair. "Ceritanya sangat bagus, Adi. Kamu hebat banget. Besok, mau gak kamu baca cerita ini ke semua anak?"

Adi mengangguk dengan senyum yang kecil. "Ya, Kak Lila."

Setelah camilan selesai, anak-anak mulai pulang. Mereka berjanji akan datang lagi minggu depan, dan beberapa bahkan sudah mulai memikirkan ide untuk cerita selanjutnya. Deni memberi Lila gambar kucing yang dia lukis. "Ini untuk Kak Lila, terima kasih sudah bikin klub baca yang seru!"

Lina memberi dia bunga kertas yang dia buat. "Ini untuk Kak Lila, semoga impianmu juga terwujud!"

Setelah semua anak-anak pergi, Lila, Rama, Siti, Dina, dan Rian berdiri bersama di halaman perpustakaan. Matahari mulai terbenam, memberikan warna oranye dan merah muda di langit.

"Lihat ya, sayang. Klub baca ini sudah jadi rumah hati buat anak-anak," ujar Rama, memegang tangannya.

"Lebih dari itu—ini juga rumah hati buat kita semua," jawab Lila, menatap teman-temannya yang penuh cinta.

Siti memegang tangan Lila dan Rama. "Kita akan selalu bersama ya, untuk anak-anak dan untuk cerita-cerita kita?"

"Selalu, sayang. Selamanya," jawab mereka semua secara serentak.

Di sana, di bawah langit yang indah, mereka merasa bahwa hidupnya penuh makna. Lila menyadari bahwa merawat Siti—anak dari calon suaminya—telah membukakan pintu ke dunia yang lebih luas, di mana dia bisa menginspirasi banyak anak lain dan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!