NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Di Antara Kabut dan Detak Jantung

​Sanatorium pribadi milik Dante Valerius berdiri megah di puncak perbukitan yang selalu dipeluk kabut pagi. Bangunan itu adalah keajaiban arsitektur; perpaduan antara beton kokoh, baja hitam, dan dinding-dinding kaca raksasa yang menampakkan hutan pinus yang tenang di luar sana. Tempat ini tidak memiliki bau kematian seperti rumah sakit umum. Di sini, udara berbau seperti embun pagi, kayu pinus, dan aroma lilin terapi yang menenangkan.

​Aruna Salsabila berdiri di balkon lantai dua, mengenakan gaun tidur satin berwarna krem yang dibalut kardigan rajut tipis. Matanya menatap hamparan hijau di bawah sana, namun pikirannya melayang jauh ke belakang. Ke malam saat ia duduk meringkuk di kursi besi RS Medika yang dingin. Saat itu, dunianya gelap gulita. Ia hanya memiliki satu miliar rupiah sebagai harga dirinya untuk menyelamatkan sang ibu.

​Kini, tujuh tahun telah berlalu. Janji Dante di tentang fasilitas medis terbaik bukan sekadar bualan mafia. Di dalam ruangan di belakangnya, Sari—ibunya—terbaring di atas tempat tidur medis yang menyerupai awan.

​"Kau melamun lagi."

​Suara itu berat, tenang, dan memiliki resonansi yang selalu berhasil menggetarkan saraf-saraf di tulang belakang Aruna. Aruna tidak menoleh, namun ia bisa merasakan kehadiran Dante yang mendekat. Aroma maskulin yang khas—campuran antara tembakau mahal, kayu cendana, dan aroma dingin pegunungan—mengepungnya.

​Dante berdiri di sampingnya, meletakkan kedua tangannya di pagar balkon. Lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, menampakkan otot-otot lengan yang kuat dan urat-urat menonjol yang menandakan kekuatan besar di balik sikap tenangnya.

​"Aku hanya berpikir," bisik Aruna, suaranya hampir hilang terbawa angin. "Tentang betapa anehnya takdir. Aku menjual hidupku padamu untuk menyelamatkannya, dan sekarang, kita semua ada di sini. Di tempat yang kau bangun untuknya."

​Dante menoleh perlahan. Mata abu-abunya yang biasanya setajam silet, kini tampak lebih teduh saat menatap profil samping wajah Aruna. "Aku membangun tempat ini bukan hanya untuknya, Aruna. Aku membangunnya untukmu. Agar kau memiliki satu tempat di dunia ini di mana kau merasa tidak perlu lagi melarikan diri."

​Aruna menatap Dante. Ada getaran aneh di dadanya. Selama bertahun-tahun, ia menganggap Dante sebagai penjara. Namun, melihat dedikasi pria ini dalam menjaga ibunya tanpa pamrih, dinding es di hatinya mulai retak.

​Mereka melangkah masuk ke dalam kamar rawat Sari. Ruangan itu sangat luas, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan hangat. Sari tampak jauh lebih sehat. Pipinya yang dulu tirus kini mulai berisi, dan warna kulitnya tidak lagi pucat pasi.

​Dante mendekati tempat tidur itu, ia memeriksa layar monitor medis dengan teliti sebelum menyesuaikan aliran oksigen secara manual—sebuah tindakan kecil yang menunjukkan betapa ia terlibat dalam perawatan Sari.

​"Kenapa kau melakukannya, Dante?" tanya Aruna tiba-tiba. "Maksudku... kau bisa saja membiarkannya di rumah sakit umum setelah aku memberikan apa yang kau butuhkan untuk Leonardo. Kontrak kita tidak mengharuskanmu memberikan kemewahan ini."

​Dante terdiam sejenak, tangannya masih memegang ujung selimut Sari. "Karena aku tahu rasanya kehilangan, Aruna. Saat istriku meninggal dan Leonardo lahir prematur, aku merasa dunia sedang merobek jantungku. Saat aku melihatmu di RS Medika, aku melihat cerminan diriku sendiri. Kau adalah seorang pejuang. Dan seorang pejuang berhak mendapatkan sekutu, bukan sekadar majikan."

​Aruna merasakan matanya panas. Untuk pertama kalinya, ia menyentuh tangan Dante yang masih berada di atas ranjang. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan listrik yang lembut namun dalam.

​"Terima kasih," bisik Aruna. "Untuk semuanya."

​Dante membalikkan tangannya, menggenggam jemari Aruna dan membawanya ke bibirnya. Ia mengecup punggung tangan Aruna dengan kelembutan yang membuat lutut Aruna terasa lemas. "Jangan berterima kasih. Cukup jangan benci aku lagi. Itu sudah lebih dari cukup."

​Pintu kamar terbuka dengan suara gesekan halus. Leonardo masuk, mengantuk namun tetap terlihat siaga. Di belakangnya, Nadia—adik kandung Aruna—mengekor dengan malu-malam.

​"Mama... Papa... kenapa belum tidur?" suara Leonardo serak khas anak-anak yang baru bangun.

​Aruna tersenyum, ia merentangkan tangannya. Leonardo langsung masuk ke dalam pelukan Aruna. Meskipun bukan anak kandungnya, ikatan mereka telah terjalin melalui setiap tetes kehidupan yang Aruna berikan pada Leonardo sejak bayi. Aruna adalah ibu bagi Leonardo, dan Leonardo adalah pusat semesta Aruna.

​Nadia mendekat ke arah Dante. Awalnya, Nadia sangat takut pada pria besar ini, namun selama di Sanatorium, Dante sering membantunya belajar menggambar di ruang tengah.

​"Tuan Dante... apakah Nenek akan bangun hari ini?" tanya Nadia dengan mata bulatnya yang polos.

​Dante berlutut, menyetarakan tingginya dengan Nadia. Ia mengusap rambut gadis kecil itu. "Kita doakan saja, Nadia. Tapi lihatlah, Nenek terlihat sangat cantik hari ini, bukan? Dia sedang beristirahat agar punya tenaga untuk memelukmu nanti."

​Aruna memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang penuh. Seorang bos mafia yang tangan-tangannya mungkin berlumuran darah, kini sedang memberikan penghiburan pada seorang anak kecil. Di saat itulah, Aruna menyadari bahwa cintanya pada Dante bukan lagi sekadar getaran sesaat. Itu adalah pengakuan bahwa pria ini telah menjadi pelindung bagi semua orang yang ia sayangi.

​Setelah anak-anak kembali tidur di kamar sebelah, Aruna dan Dante duduk di sofa ruang tengah yang menghadap ke perapian. Api yang berkobar memberikan cahaya jingga yang menari-nari di wajah mereka.

​Aruna bersandar di bahu Dante. Ini adalah pertama kalinya ia merasa benar-benar aman. Tidak ada kejaran Enzo, tidak ada ancaman Konsorsium. Hanya ada mereka berdua.

​"Dante," panggil Aruna pelan.

​"Hmm?"

​"Apa kau pernah menyesal membawaku ke dalam duniamu?"

​Dante meletakkan cangkir kopinya, lalu merangkul bahu Aruna, menariknya lebih dekat hingga kepala Aruna bersandar di ceruk lehernya. "Satu-satunya penyesalanku adalah aku harus menyakitimu di awal untuk memilikimu. Jika aku bisa mengulang waktu, aku akan tetap menemukanmu di RS Medika, tapi aku akan menawarkan bantuan itu tanpa kontrak. Aku akan memintamu menjadi milikku karena keinginanmu sendiri, bukan karena keterpaksaan."

​Aruna menatap api unggun, merasakan detak jantung Dante yang stabil di bawah telinganya. "Dulu aku merasa satu miliar itu adalah harga nyawaku. Tapi sekarang, aku sadar... kau telah memberikan jauh lebih banyak dari itu. Kau memberiku keluarga. Kau memberiku Nadia kembali."

​Dante menunduk, menatap Aruna dengan intensitas yang sanggup membakar. "Aku mencintaimu, Aruna. Mungkin aku tidak pandai mengatakannya, tapi setiap peluru yang kutembakkan, setiap gedung yang kubangun, semuanya adalah untuk memastikan kau tetap tersenyum."

​Aruna merasakan getaran cinta yang luar biasa. Ia menarik kerah kemeja Dante, membawa pria itu mendekat. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan lagi ciuman karena paksaan atau nafsu belaka. Itu adalah ciuman yang penuh dengan pengakuan—bahwa sang mangsa telah jatuh cinta pada pemburunya, dan sang monster telah bertekad menjadi pelindung sang putri.

​Di malam yang dingin di Sanatorium itu, mereka tidak lagi bicara tentang mafia atau darah. Mereka mulai merencanakan hidup. Tentang bagaimana nanti jika Sari bangun, tentang sekolah Leonardo, dan tentang bagaimana Aruna bisa melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.

​Malam itu, di bawah perlindungan Menara Kaca, cinta mereka tumbuh mekar di antara kabut dan detak jantung yang menyatu.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!