NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:953
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi di Negeri Singa dan Skandal "Daster Palsu"

​Kejatuhan Kolonel Lastri meninggalkan lubang besar di manajemen agensi, namun bagi The Justice Widows, ini adalah awal dari kemerdekaan. Tanpa birokrasi yang mengekang, mereka kini beroperasi dari markas baru yang sangat tidak mencurigai: sebuah ruko dua lantai di pasar tekstil Tanah Abang. Lantai bawah adalah toko daster grosir milik Maya (kedok yang sempurna), sementara lantai atas adalah pusat kendali teknologi tinggi yang dikelola oleh Bella.

​Pagi itu, Bella sedang sibuk membedah data dari server The White Widow ketika sebuah notifikasi merah berkedip di layarnya.

​"Guys, kita dapet umpan," ujar Bella sambil memutar kursi kerjanya. "Ingat daster kedua yang katanya ada di tangan kolektor di Singapura? Ternyata kolektor itu baru saja dibunuh secara misterius di hotel Marina Bay Sands. Dan dasternya? Sedang dilelang secara rahasia di sebuah galeri seni malam ini."

​Siska Paramita yang sedang mencoba resep "Rendang Wagyu A5" di pojok dapur markas, langsung mematikan kompor. "Dibunuh? Berarti Sindikat Benang Hitam masih punya sisa-sisa anggota yang haus kekuasaan. Siapa yang pegang pelelangannya?"

​"Seorang makelar seni bernama Mr. Chong," jawab Bella. "Dia licin kayak belut yang diolesi minyak goreng. Dia nggak butuh uang, dia butuh 'prestise'. Dia hanya akan melepas daster itu kepada orang yang bisa membuktikan bahwa mereka adalah pemilik 'saudara' dari daster tersebut."

​Maya Adinda yang sedang asyik mencoba filter TikTok terbaru langsung berdiri tegak. "Pemilik saudara? Itu kan aku! Aku punya daster macan pink yang baru dari agensi! Meskipun bukan yang asli dari abad pertengahan, tapi jahitannya kan identik!"

​Bella mengangguk. "Itulah rencananya. Maya, lo bakal masuk sebagai 'Putri Daster' dari Indonesia. Siska jadi bodyguard merangkap personal chef, dan gue bakal menyusup lewat sistem ventilasi sebagai teknisi keamanan hotel."

​Malam di Singapura begitu gemerlap. Di sebuah ruang galeri privat yang menghadap langsung ke arah patung Merlion, para konglomerat Asia berkumpul. Aroma cerutu mahal dan parfum ribuan dollar memenuhi ruangan.

​Maya tampil memukau dengan gaun daster macan yang dimodifikasi menjadi gaun malam high-slit yang elegan. Rambutnya disanggul tinggi, menyembunyikan kamera mikro 360 derajat. Di sampingnya, Siska berdiri tegap dengan setelan jas hitam slim-fit, tangannya selalu berada di dekat pinggang tempat ia menyembunyikan sutil lipat terbaru berbahan titanium.

​"Jangan gugup, May. Tetap sombong, itu kunci jadi sosialita," bisik Bella lewat earpiece.

​Mr. Chong, seorang pria kecil dengan kacamata bundar dan setelan jas sutra perak, mendekati mereka. "Ah, The Princess of Prints dari Jakarta. Saya dengar Anda membawa 'saudara' yang hilang?"

​Maya memberikan senyum paling angkuh yang pernah ia pelajari dari menonton drama Korea. "Tentu, Mr. Chong. Saya tidak membawa barang murahan. Daster saya adalah mahakarya. Tapi saya ingin melihat barang Anda dulu. Saya tidak mau membuang waktu untuk daster imitasi."

​Mr. Chong terkekeh. Ia membawa mereka ke sebuah kotak kaca anti-peluru di tengah ruangan. Di dalamnya, terbentang daster merah maroon dengan bordiran emas yang membentuk pola naga dan macan yang sedang bertarung. Daster Permaisuri Merah.

​"Indah sekali..." gumam Siska. Sensor di matanya (lensa kontak pintar dari agensi) menangkap sesuatu. "Bel, daster itu memancarkan radiasi rendah. Bukan narkoba, tapi frekuensi radio."

​"Jangan disentuh!" suara Bella mendadak panik di telinga mereka. "Itu jebakan! Frekuensi itu adalah pemicu bom magnetik!"

​Tiba-tiba, lampu galeri berubah menjadi merah darah. Pintu-pintu baja menutup otomatis. Mr. Chong yang tadinya ramah, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil mundur ke arah pintu rahasia.

​"Kalian pikir kalian yang menjebak saya? Sindikat Benang Hitam sudah tahu kalian akan datang! Daster ini bukan kunci, daster ini adalah umpan untuk memancing musuh-musuh Jenderal Baskoro berkumpul di satu tempat!"

​Dari langit-langit, turunlah sepuluh orang agen pembunuh bayaran yang mengenakan topeng naga. Mereka tidak membawa senjata api, melainkan cambuk kawat yang dialiri listrik.

​"Siska! Show time!" teriak Maya sambil melemparkan nampan berisi gelas-gelas kristal ke arah para penyerang.

​Siska menarik sutil lipatnya. KLIK-KLIK. Sutil itu memanjang menjadi tongkat pendek dengan ujung pisau yang tumpul namun berat. Ia menangkis cambuk listrik tersebut dengan gerakan tangkas. "Kalian salah pilih lawan! Saya sudah biasa menghadapi percikan minyak panas, cambuk listrik kalian ini cuma kayak digigit semut!"

​Siska melakukan gerakan low-kick yang menjatuhkan dua orang lawan, lalu menghantam punggung mereka dengan ujung sutilnya hingga mereka pingsan seketika.

​Sementara itu, Maya terjebak di sudut ruangan. Dua pembunuh bayaran mendekatinya dengan cambuk yang mendesis. "Aduh, Mas... kulitku sensitif lho, jangan pakai kabel-kabel gitu dong!"

​Maya membuka dompet kecilnya. Bukan bedak, kali ini ia mengeluarkan "Gincu Granat" sebuah lipstik yang jika diputar habis akan mengeluarkan asap pelumpuh saraf.

​BOOM!

​Asap berwarna merah muda pekat memenuhi sudut galeri. Para pembunuh bayaran itu langsung limbung dan jatuh tertidur dengan ekspresi wajah yang... anehnya... tampak bahagia.

​Bella berhasil meretas pintu baja dari luar. "Guys! Keluar lewat balkon! Sekarang! Bom magnetiknya bakal meledak dalam 60 detik!"

​Maya dan Siska berlari menuju balkon lantai 57. Di bawah mereka, kolam renang infinity yang terkenal itu terlihat sangat jauh.

​"Kita harus melompat ke kolam renang?!" teriak Maya histeris. "Rambutku baru dicatok, Bel!"

​"Nggak ada waktu buat catokan! Lompat atau jadi gorengan!" balas Siska sambil menarik tangan Maya.

​Mereka melompat tepat saat ledakan di galeri terjadi. BOOOM! Gelombang panas mendorong mereka lebih cepat ke arah air.

​BYUURRR!

​Mereka mendarat di kolam renang yang penuh dengan turis yang kaget. Siska dan Maya segera berenang ke pinggir, di mana Bella sudah menunggu dengan handuk dan... sebuah skuter matic selundupan.

​"Dapet dasternya?" tanya Bella.

​Siska tersenyum lebar. Ia membuka jasnya, dan di balik kemejanya, ia telah menyembunyikan daster merah maroon yang asli. "Tukar guling saat asap lipstik Maya keluar. Mr. Chong nggak sadar daster yang diledakkannya adalah daster macan pink KW-nya Maya."

​Maya melongo. "Hah?! Jadi daster keberuntunganku diledakkan?! Siska, kamu jahat!"

​"Nanti gue beliin sepuluh di Tanah Abang, May! Cepat naik!" teriak Bella.

​Mereka melesat membelah jalanan Singapura, menuju pelabuhan feri untuk kembali ke Batam. Namun, di tengah perjalanan, tablet Bella berbunyi. Sebuah pesan video masuk dari nomor anonim.

​Di layar muncul sosok pria dengan wajah yang tertutup bayangan, duduk di depan mesin jahit kuno. Suara mesin jahit itu terdengar berirama, tak-tak-tak-tak...

​"Kalian cukup cerdik," suara pria itu berat dan berwibawa. "Mr. Chong hanyalah bidak yang saya buang. Saya adalah The Master Tailor. Kolonel Lastri hanyalah murid yang gagal memahami filosofi jahitan saya."

​"Siapa kamu sebenarnya?!" teriak Bella ke arah layar.

​"Saya adalah orang yang menjahit takdir kalian. Daster merah yang kalian curi itu berisi koordinat menuju lokasi 'Daster Kelima' The Empress Cloak. Pakaian yang bisa mengendalikan sistem pertahanan nuklir global lewat sinyal satelit. Jika kalian ingin menghentikan saya, datanglah ke Tibet. Di puncak gunung yang tidak ada dalam peta, saya menunggu."

​Video itu mati.

​Hening sejenak di antara mereka bertiga. Angin laut Singapura menerpa wajah mereka yang basah.

​"Tibet? Dingin banget dong di sana?" gumam Maya sambil menggigil. "Aku nggak punya daster bahan wol."

​Siska menghela napas panjang, menatap daster merah di tangannya. "Satu daster lagi, satu langkah lagi untuk mengakhiri kegilaan ini."

​Bella menatap kedua sahabatnya dengan tekad baja. "Kita nggak akan ke Tibet sebagai agen. Kita ke sana sebagai keluarga. Siapkan perlengkapan musim dingin kalian. Dan Siska... bawa banyak jahe. Kita bakal butuh banyak wedang di sana."

​Maya merapikan rambutnya yang basah, mencoba tersenyum di depan kamera ponselnya yang untungnya tahan air. "Halo followers... tebak janda mana yang mau ke puncak dunia? Stay tuned ya!"

​Bella dan Siska hanya bisa menggelengkan kepala. Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai. Dari maling jemuran di apartemen, kini mereka harus mendaki atap dunia demi menyelamatkan umat manusia.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!