Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Esok
Butuh sekitar sepuluh menit bagi Pramahita untuk kembali ke rumah besar dan meminta bantuan penjaga untuk memapah Dirga yang tak sadarkan diri masuk ke dalam rumah.
Laki-laki itu begitu berat, mengingat tubuhnya yang bongsor dan tinggi seperti gapura. Pramahita jadi bertanya-tanya bagaimana bisa tubuh Dirga sebesar itu, apakah karena faktor makanan yang dia makan?
Saat para penjaga itu keluar dari kamar, menyisakan Pramahita dan sosok Dirga yang tak sadarkan diri, Pramahita mendekat dengan wajah cemas.
Pramahita mengerti bahwa Dirga melakukan ini pasti karena stres, mengingat calon istri yang sangat ia cintai kabur tanpa penjelasan. Melihat waktu yang semakin berlalu, esok hari akan datang sekejap lagi.
Pramahita bergerak menyiapkan air dingin dan saputangan untuk mengompres tubuh Dirga yang tampak memerah, mungkin karena alkohol yang kini mengalir dan mengambil alih tubuhnya. Setidaknya ini bisa meredakan.
Saat duduk di tepi ranjang yang empuk, Hita mencelupkan saputangan kering ke dalam mangkuk kaca berisi air dingin.
Diperas pelan saputangan itu sebelum menempelkannya ke leher Dirga, membuat laki-laki itu bergerak dalam tidurnya dan bergumam tidak nyaman.
Hita menatapnya dengan iba, turut merasakan sakit hati yang mendalam begitu membayangkan jika ia menjadi Dirga, ditinggalkan tepat sehari sebelum pernikahan.
Begitulah Hita terus mengulangi kegiatannya, mengompres tubuh Dirga dengan air dingin sembari memperhatikan laki-laki itu yang masih tak sadarkan diri.
Namun terakhir kali, saat Hita hendak mengompres bagian dahi Dirga, laki-laki itu perlahan mengerjap dan membuka matanya. Tatapan mereka sontak bertemu di udara, membawa ketegangan dan desir perasaan asing yang tampak sangat berjarak.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Dirga dengan suara beratnya yang serak, entah faktor alkohol atau sesuatu lainnya.
Hita terdiam, tangannya masih menyentuh dahi Dirga yang ditempeli oleh saputangan basah. Sejenak tak ada yang bergerak, sebelum akhirnya Dirga mendorong pelan tangan Hita bersama dengan saputangan dan bangkit hingga terduduk di ranjang.
"Maaf, aku melihat kak Dirga tak sadarkan diri tadi, jadi..."
"Kau tidak perlu melakukannya," potong Dirga, menyugar rambutnya dengan tangan dan menghela napas panjang. "Aku sedang mencari Loria."
Hita terdiam saat mendengar ucapan Dirga, mengerti bahwa laki-laki itu pasti tengah resah mengingat Loria yang tak juga diketahui keberadaannya. Melihat waktu semakin cepat berjalan, tentu saja Dirga menjadi kelimpungan.
Dengan anggukan pelan, Hita akhirnya meletakkan kembali saputangan ke atas lemari kecil di samping tempat tidur. "Lalu bagaimana? Apakah ada kabar tentang kak Loria?" tanyanya. "Dan kenapa kakak jatuh pingsan di depan Club?"
"Tidak ada kabar apapun," balas Dirga dengan tatapan kosong ke arah lantai. "Aku rasa dia benar-benar kabur dan tidak berniat kembali."
Dirga bangkit dengan sedikit sempoyongan, membuat Hita secara naluriah mengulurkan tangan namun tak menyentuh.
Dirga menatapnya dengan tatapan tajam yang tampak tak bersahabat, membuat Hita perlahan-lahan menurunkan tangannya walaupun tampak khawatir dengan kondisi laki-laki itu.
"Tentang mengapa aku berada di Club, aku rasa itu bukan urusanmu, karena apapun yang aku lakukan pastinya untuk mencari Loria," tandasnya tegas, walaupun ada sedikit getaran dalam suaranya yang tak stabil. "Dan aku yakin sekali Ayah sudah bicara padamu tentang apa yang terjadi, dan apa yang harus kau lakukan jika Loria tak segera ditemukan."
Apa yang dikatakan oleh Dirga tentu saja langsung dimengerti oleh Loria. Apa yang ia dan ayah bicarakan sebelumnya mengenai menjadi pengantin pengganti terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah ia benar-benar harus melakukan ini? Menikah dan menggantikan Loria?
Hita mengangguk pelan. "Ayah sudah berbicara denganku tentang pernikahan... Kita."
"Pernikahan kita?" ulang Dirga dengan nada tak setuju yang kentara. "Jangan menyebutnya seperti itu, karena ini adalah pernikahanku dengan Loria."
Laki-laki itu mendekat, mendesak Hita untuk melangkah mundur hingga betisnya menyentuh tepian tempat tidur. Tatapan Dirga jelas menyiratkan kemarahan dan kebencian entah untuknya atau untuk takdir yang tak adil padanya.
"Jika Loria tidak dapat ditemukan hingga besok pagi, kau akan menggantikannya." Dirga merendahkan suaranya, nyaris seperti bisikan yang menyiratkan ancaman. "Tapi bukan berarti aku ingin menikah denganmu. Walaupun kau akan menggantikannya, aku akan tetap menyebutkan nama Loria sebagai istriku di altar, dan kau hanya akan menggantikan sosoknya."
"Sampai Loria kembali ditemukan, kau akan menggantikan posisinya sebagai istriku." Dirga melanjutkan, menekankan setiap katanya dan memastikan Pramahita mengerti. "Dan saat Loria ditemukan, tugasmu sebagai istri pengganti akan selesai, dan Loria yang akan menjadi istriku."
Dengan itu Dirga mengambil satu langkah panjang untuk mundur, kembali menciptakan jarak dengan Hita yang membeku di tempat. Kata-kata itu jelas masuk ke telinganya, melekat seperti mimpi buruk yang tak akan pernah bisa dilupakan.
Pramahita merasa bahwa selama ia hidup, ia berusaha hidup sebaik-baiknya tanpa merugikan dan menyakiti orang lain. Ia menerima semua nasib buruk, entah menjadi putri tak diinginkan keluarga Wijaya ataupun perilaku-perilaku yang tak pantas ia dapatkan.
Namun seiring berjalannya waktu, Hita tak melihat adanya nasib baik yang menghampirinya. Ini melelahkan, benar-benar melelahkan.
"Aku mengerti..." bisik Hita pelan, dengan kepala tertunduk dan menatap jari-jari kakinya. Ia berusaha mati-matian menahan airmata yang sudah menggenang di pelupuk mata, atas nasib buruk yang lagi-lagi harus ia terima.
Dirga yang masih berdiri di tempatnya tampak tak memperdulikan, mengangguk dengan ekspresi datarnya yang biasa orang-orang asing lihat, termasuk Pramahita.
"Bagus, memang seharusnya kau mengerti," ujar Dirga, melangkah mendekati pintu dengan dua langkah panjang.
Tepat saat tangannya terulur menyentuh gagang, ia menoleh ke arah Hita dari balik bahunya. "Persiapkan dirimu untuk besok, dan pastikan bahwa orang-orang tidak akan mengenalimu," pesannya dengan nada dingin, sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu dengan kekosongan.
Hita menatap pintu yang tertutup, seolah-olah ia sedang menatap Dirga. Ingin rasanya ia menangis untuk kali ini saja, mencurahkan bahwa ia sudah benar-benar lelah dengan semua yang terjadi. Namun ia tau itu tak bisa ia lakukan, karena air matanya tak berharga, tak bisa mengubah apapun yang telah terjadi.
Besok adalah hari yang besar, menggantikan Loria sang saudari tiri untuk menikah dengan putra dari keluarga Martadinata. Pernikahan ini bukan hal sembarangan, karena pastinya akan dihadiri oleh orang-orang penting dan diliput oleh media ternama negeri.
Perlahan-lahan Hita mendudukkan diri di tempat tidur, tangannya mencengkram tepian ranjang dengan kepasrahan dan rasa sakit hati yang lagi-lagi harus ia telan.
Besok. Semuanya akan berubah.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga