Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Untuk memastikan apakah indra penglihatanku berfungsi atau tidak. Ku kerjapkan beberapa kali dan ku usap beberapa kali, namun sosok Mas Afif masihlah tegak berdiri seraya tersenyum dan menatap penuh cinta pada sosok wanita dan anak kecil di gendongan si wanita.
Lalu begitu saja Bintang berlari ke arah sana, tanpa bisa ku cegah.
“Mas Afif.“Gumamku pelan dengan kedua mata membelalak dan mulut setengah menganga karena kaget.
“Papa..“Ucap Bintang sambil berlari dan memeluk kedua kakinya erat.
Alih-alih menghampiri mereka, aku memilih menarik tubuhku mundur dan bersembunyi di dekat kelas yang kebetulan masih kosong__ini sulit di percaya, sampai rasanya mau pingsan. Tentunya tidak, aku berusaha untuk tetap sadar dan waras. Walau tentu rasanya sangatlah campur aduk, kaget, marah, emosi, kecewa dan sakit tentunya.
Tanpa mengatakan apapun pun, aku tahu kok kalau Mas Afif dan wanita itu punya hubungan special. Yang pastinya lebih dari sekedar teman.
Hatiku terasa tertusuk ribuan pedang yang membuatnya sakit pun mencekik hingga aku kesulitan bernafas. Sialan, dia beneran Mas Afif ternyata, suamiku. Imam dunia akheratku. Yang katanya sedang fokus bekerja di luar kota untuk menafkahiku dan juga anakku.
“Papa..“Anakku kembali memanggil papanya, namun pria itu sama sekali tidak bergeming dan malah melepas tangan anakku paksa dari kakinya, hingga membuat Afif hampir saja terjatuh, jika si wanita di sampingnya tak menahannya dnegan tangannya sendiri.
“Mas, gak boleh gitu kasihan.“Tegurnya pada Mas Afif, Mas Afif terlihat membuang muka dan menghela nafasnya panjang.
“Maaf, aku kaget lho sayang. Dia tiba-tiba manggil aku 'papa”.“
Mendengarnya membuat amarahku sampai di ubun-ubun, rasa rindu, sayang dan cinta ini meluap begitu saja dan tergantikan dengan rasa marah, kecewa, sesal. Intinya aku ingin menonjoknya dan gantian membuat tubuhnya tersungkur menyedihkan di lantai__namun aku mencoba menahannya, aku tidak mau dia mengetahui ada aku di sini, bukan aku pengecut atau tidak terima kenyataan. Tetapi aku hanya ingin memastikan dia mas Afif suamiku atau bukan dan bila dia suamiku betulan, maka aku akan pura-pura tidak tahu, setidaknya aku akan menahan amarahku sampai aku berhasil menguras semua kekayaannya.
“Ya, tapi jangan kasar begitu. Kasihan, dia masih kecil..“
Mas Afif berdecak”Iya, maafin Om ya? Om gak sengaja.“
Bintang anakku tak bergeming dan kini menatap papanya dengan tatapan sendunya.
“Papa..“Panggilnya lagi, lalu pria itu menarik tangan Bintang dan menyeret tubuh anakku bersamanya.
“Mau kemana Mas?.“
“Saya mau cari ibunya, tunggu sebentar ya?.“
Aku mengikuti Mas Afif dan tak lupa mengabadikan apa yang dia lakukan lewat ponselku.
Maafin mama ya, Bintang. Bukan mama tak berani muncul sekarang, tapi mama belum bisa. Papa kamu jangan sampai tahu mama ada di sini sama kamu, minimal mama harus kumpulkan bukti-bukti dulu dan mengambil semua hak kita dari dia.
“LEPASIN PAPA, Bintang.“Tukas Mas Afif dan membuat tubuh Bintang tak bergeming di tempat karena kaget di bentak begitu. Sialan, dia berani membentak anaknya bahkan.
Aku tahu Mas Afif dan Bintang tidak sedekat hubungan ayah dan anak seperti orang lain. Karena Mas Afif sibuk dengan pekerjaannya, maka aku pun menggantikan perannya sebagi ayah dan ibu untuk Bintang. Sebisa mungkin ku lakukan dua peran itu, meski sulit dan terkadang aku sedih dan capek juga__tapi selalu ku ingat di dalam benakku kalau Mas Afif bekerja dan semua itu di lakukannya untuk keluarga kami.
Tapi ketika anakku di bentak begini, aku tak terima. Terlebih Bintang tak melakukan kesalahan apapun, dia hanya memangggil “papa” saja dan tentu itu memang sudah seharusnya. Sialan Mas Afif, hanya karena wanita lain dan anak itu yang entah apakah anaknya atau bukan, dia rela membentak Bintangku, anakku yang ku lahirkan dengan susah payah yang ku besarkan dan ku rawat dengan senang hati juga.
Tak tahan aku pun segera keluar dari tempat persembunyianku dan menghampiri mereka berdua. Ku rebut Bintang dari jangkauannya dan ku gendong dia, melihat keberadaanku Mas Afif tampak terkejut, bahkan dia tak bergeming untuk beberapa saat karena terlalu kaget.
Aku berdecih”Apa yang kamu lakukan, pada anakku, mas?.“Tanyaku pelan, namun syarat akan kekecewaan dan juga kekesalan karena perlakuannya tadi, mataku menyorot tajam dengan urat-urat di tanganku yang menonjol, terlihat kalau aku sedang begitu marah dengannya.
“Nadia..“Panggilnya lirih, aku tersenyum sumbang.
“Bagaimana kabar kamu ngomong-ngomong? Dan selamat karena kamu sudah berhasil membentak anak kandung kamu sendiri, mas.“Tukasku lalu menggendong Bintang dan membawanya menjauh, meninggalkan Mas Afif yang kini berteriak memanggil-manggil namaku dan Bintang bergantian.
Sepanjang jalan baik aku dan Bintang sama-sama terdiam, aku yang dengan emosiku, kesedihanku, kekecewaanku. Sementara Bintang, terdengar suara desah beraturan yang menandakan kalau anakku itu sudah tertidur pulas.
************
Aku sudah menidurkan Bintang di kamarnya, dan jarum jam sudah menunjuk ke angka dua siang. Biasanya jam segini aku sudah tidur siang sejam atau dua jam. Tetapi tidak untuk hari ini, rasanya kedua mataku ini sama sekali tidak mengantuk, padahal semalam aku tidur hanya beberapa jam saja, karena ku habiskan dengan memikirkan kerinduanku kepada Mas Afif.
Sialan memang, aku di sini merindukannya, menangisinya, berdo'a untuknya. Ehh pria itu malah muncul dengan wanita lain dan dengan anaknya mungkin.
Bahkan entah seberapa banyak air mata yang keluar dari sudut mataku ini, saking aku tak percaya dan sakit sekali karena di khianati oleh dia, pria yang ku percayai menjadi nahkoda di kapal kami, namun menjadi penghancur kapal kami sendiri.
PRANGGHGGGHHHH
Aku yang emsoi pun meluapkan semua kekecewaanku pada potret kami berdua dan beberapa barang yang dia hadiahkan buatku. Seketika kamar yang kami tempati dan kamar utama di rumah ini berubah menjadi seperti kapal pecah, lelah di tubuhku ini belum apa-apa dengan lelah dan sakit di hatiku.
Drttttt drttt
Suara ponselku berdering dan berhasil menarik atensiku, seketika aku mengangkat ponselku guna melihat siapa yang menelponku dan ternyata Mas Afif suamiku. Huhhh padahal beberapa hari ini pria itu sulit sekali di hubungi, lihatlah. Dia bahkan langsung gercep menelponku.
Tentu aku langsung menolaknya. Saat ini aku sedang tak berminat mengobrol apapun dengannya.
Namun agaknya pria itu tak menyerah, dia masih saja terus menghubungiku, hingga aku pun memilih untuk mematikan ponselku.
***********
“Nad sayang, kenapa lama sekali buka pintunya?.“Tanyanya dengan tatapan lembut dan wajah yang terlihat cukup kecewa. Aku berdecih dan sedikit pun tak bersimpati dengannya. Semua rasa untuknya telah menghilang sepenuhnya.
“Ada apa?.“Tanyaku to the point dan datar, alih-alih bergelendot manja seperti biasa atau mengatakan betapa aku rindu, betapa aku sayang dan kata-kata sampah lainnya. Kini malah sebaliknya, aku yang sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya.
Dia terlihat terkejut dengan responku”Nad, kamu kenapa?.“Tanyanya pura-pura tak mengerti dan aku mendengus kesal, tentu saja.
“Menurut mas sendiri?.“Tanyaku balik, terdengar pria itu berdecak dan kini menyorotku tajam.
“Jangan kekanakan begitu, Nad! Kamu sudah dewasa lho!.“
Ok aku sudah dewasa, apalagi dia kan? Usia kami terpaut lima tahun, aku dua puluh tujuh dan dia tiga puluh dua, harusnya dia yang lebih dewasa dan bisa membimbingku.
“Terus?.“Tanyaku.
“Yasudahlah Nad, aku capek. Pingin istirahat..“Katanya dan begitu saja masuk ke dalam rumah tanpa menungguku persilahkan, dia menaiki undakan tangga menuju kamar utama dan kembali berteriak memanggilku, aku tahu apa yang membuatnya berteriak memanggilku. Apa lagi kalau bukan karena keadaan kamar kami yang sudah ku buat seperti kapal pecah.