NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Dokter, Jantungku Mau Copot!

Sangat aneh secara medis bagi seorang Adrian, saat ia terbangun di pagi hari dan menemukan jerawatnya sudah hilang namun seluruh dinding kamarnya kini dipenuhi oleh coretan lipstik berwarna merah muda. Adrian terduduk kaku di atas ranjangnya dengan mata yang membelalak lebar menatap tulisan besar yang menghiasi dinding berwarna putih gading tersebut. Tulisan itu berbunyi "Semangat Kerja Calon Suamiku" lengkap dengan gambar hati yang sangat berantakan di setiap sudutnya.

"Siapa yang berani menyusup ke dalam apartemen saya dan mengacaukan dinding ini?" teriak Adrian hingga suaranya bergema di seluruh ruangan yang sepi.

Ia segera melompat dari tempat tidur dan memeriksa jendela serta pintu balkon, namun semuanya masih terkunci rapat dari dalam tanpa ada bekas congkelan sedikit pun. Adrian mengacak rambutnya dengan sangat frustrasi sambil mencoba mengingat-ingat apakah ia memiliki gangguan tidur yang membuatnya berjalan sambil mencoret-coret dinding. Namun, saat ia melihat sebatang lipstik yang tergeletak di atas meja rias, ia menyadari bahwa ini adalah merek yang sering dipakai oleh Lala.

"Anak itu benar-benar sudah melampaui batas keamanan tingkat tinggi yang saya miliki!" geram Adrian sambil menyambar handuknya dengan kasar.

Sesampainya di rumah sakit, Adrian tidak langsung menuju ruangannya melainkan menunggu di depan pintu masuk gedung instalasi gawat darurat. Ia berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada dan wajah yang sangat gelap seolah siap memakan siapa saja yang berani menyapa. Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti dan keluarlah Lala dengan wajah yang tampak sangat pucat serta tangan yang terus memegangi dadanya.

"Dokter Adrian, tolong aku, jantungku rasanya mau copot sekarang juga!" rintih Lala sambil terhuyung-huyung mendekati Adrian.

"Berhenti bersandiwara, Lala, jelaskan dulu bagaimana kamu bisa masuk ke kamar saya semalam!" bentak Adrian tanpa memedulikan wajah pucat gadis itu.

Lala tidak menjawab melainkan langsung ambruk ke pelukan Adrian dengan napas yang tersengal-sengal dan keringat dingin yang membasahi keningnya. Adrian yang tadinya penuh amarah seketika terdiam saat merasakan detak jantung Lala yang berdegup sangat kencang dan tidak beraturan melalui sentuhan tangannya. Ia segera meraba denyut nadi di leher Lala dan menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar tipu daya atau pura-pura pingsan jilid tiga.

"Bawa tempat tidur dorong ke sini sekarang, pasien mengalami gangguan detak jantung yang sangat cepat!" teriak Adrian kepada perawat yang berjaga.

"Dokter, jangan marah, aku hanya ingin memberikan kejutan tapi dadaku sakit sekali," bisik Lala dengan suara yang hampir menghilang.

Adrian tidak menjawab dan langsung mendorong tempat tidur itu sendiri menuju ruang tindakan dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Ia memasang alat pemantau jantung pada tubuh Lala dan melihat garis-garis grafik yang bergerak naik turun dengan sangat kacau di atas layar. Ketakutan yang sangat besar mulai menyelimuti hati Adrian karena ia tahu bahwa kondisi ini bisa sangat berbahaya jika tidak segera ditangani secara medis.

"Tetap buka mata kamu, jangan berani-berani menutup mata atau saya tidak akan pernah memaafkan kamu selamanya!" perintah Adrian dengan suara yang gemetar.

"Apakah aku akan mati, Dokter? Padahal aku belum sempat melihat Dokter memakai seragam pengantin," tanya Lala dengan senyuman yang sangat dipaksakan.

Adrian segera mengambil suntikan berisi obat penenang jantung dan menyuntikkannya ke dalam cairan infus yang mengalir ke tubuh Lala. Ia terus menggenggam tangan Lala yang terasa sangat dingin sambil terus memperhatikan layar pemantau dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kekhawatiran. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad, detak jantung Lala mulai melambat dan kembali ke ritme yang normal secara perlahan-lahan.

"Kamu mengalami serangan kepanikan yang sangat hebat, apa yang sebenarnya kamu lakukan semalam?" tanya Adrian setelah suasana menjadi sedikit lebih tenang.

"Aku hanya merasa terlalu senang karena Dokter memakai masker buatanku, lalu jantungku mulai berdebar-debar tidak keruan sampai pagi ini," jawab Lala sambil mulai mengatur napasnya.

Adrian menarik napas panjang dan menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan yang dingin sambil memejamkan mata sejenak. Ia merasa seolah-olah seluruh energinya telah terkuras habis hanya untuk menghadapi satu jam yang penuh dengan ketegangan ini. Pria itu menyadari bahwa kehadiran Lala dalam hidupnya bukan hanya sekadar gangguan, melainkan sebuah ujian ketahanan jantung yang sesungguhnya bagi dirinya sendiri.

"Mulai sekarang, kamu dilarang melakukan aksi ugal-ugalan yang membahayakan nyawa kamu sendiri," ucap Adrian sambil menatap Lala dengan sangat serius.

"Berarti Dokter sudah mulai peduli padaku ya? Dokter tidak ingin kehilangan asisten konyol ini kan?" goda Lala dengan sisa-sisa kekuatannya yang mulai kembali.

Adrian hanya bisa menggelengkan kepala dan meninggalkan ruang tindakan tanpa memberikan jawaban yang pasti kepada gadis sekolah tersebut. Ia harus segera kembali ke apartemennya untuk membersihkan coretan lipstik itu sebelum noda tersebut menjadi permanen dan merusak estetika ruangannya. Namun, saat ia hendak keluar dari rumah sakit, ia melihat seorang pria paruh baya yang memakai pakaian perawatan kulit sedang berdiri di depan mejanya.

Pria itu membawa sebuah kotak besar yang berisi berbagai macam produk perawatan kulit serta sebuah surat yang ditujukan khusus untuk Dokter Adrian yang sedang menderita jerawat rindu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!