NovelToon NovelToon
BEHIND THE SPOTLIGHT

BEHIND THE SPOTLIGHT

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Romantis
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Dua Sisi Kim Aira

Suasana di dalam Mansion mewah keluarga Kim di kawasan elit Seoul masih diselimuti keheningan yang nyaman. Cahaya matahari musim semi mulai menyelinap malu-malu melalui celah tirai sutra setinggi lima meter di ruang tengah. Di lantai dua, tepatnya di sebuah kamar yang pintunya dilapisi peredam suara khusus, seorang gadis masih bergelut dengan cahaya biru dari layar laptopnya.

Kim Aira menghela napas panjang. Jemari lentiknya yang mungil berhenti menari di atas keyboard. Matanya yang jernih tampak merah dan sembab, dilingkari kantung mata tipis akibat terjaga selama nyaris dua puluh jam. Di layar itu, tertulis sebuah naskah yang jika dirilis besok, akan membuat bursa buku dunia berguncang. Namun bagi Aira, naskah itu hanyalah satu-satunya cara dia bisa berteriak tanpa harus bersuara.

"Selesai..." gumamnya lirih. Suaranya serak, khas seseorang yang tidak bicara seharian.

Aira menutup laptopnya dengan perlahan, seolah benda itu adalah kotak pandora yang berbahaya. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 05.30 pagi. Dia tahu, sebentar lagi ritual di rumah ini akan dimulai. Dengan langkah gontai dan tubuh yang terasa seringan kapas karena kelelahan, dia keluar kamar.

Bau harum kaldu sup dan aroma kopi mulai memenuhi lorong-lorong rumah. Aira berjalan menuju dapur. Di sana, sosok tinggi tegap dengan bahu lebar yang sangat ia kenal sedang sibuk memotong sayuran. Itu Kim Seokjin, kakak tertuanya. Meskipun seorang megabintang global, di dapur ini, dia hanyalah seorang kakak yang ingin memastikan adiknya makan dengan baik.

Tanpa suara, Aira mendekat. Seperti magnet yang ditarik kutubnya, dia langsung menyusupkan tubuh kecilnya di antara lengan dan punggung Jin. Dia memeluk pinggang kakaknya itu dengan erat, menyandarkan keningnya di punggung lebar yang terasa hangat dan kokoh.

Jin terkesiap pelan, namun sedetik kemudian senyum lembut terukir di wajah tampannya. Dia meletakkan pisau dapur dan membiarkan tangan adiknya melingkar di sana. "Adik kecil Kakak sudah bangun? Atau... belum tidur lagi?" tanya Jin dengan nada suara rendah yang menenangkan.

Aira tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan pelukannya, menduselkan wajahnya ke kain kaus yang dikenakan Jin. "Kak Jin... peluk yang lama," gumam Aira manja, suaranya teredam di punggung kakaknya.

Jin berbalik, melingkarkan lengannya yang kuat untuk mendekap Aira sepenuhnya. Dia mengelus rambut panjang Aira yang sedikit berantakan. "Tanganmu dingin sekali, Aira. Apa naskah 'diary' itu begitu penting sampai kamu lupa menjaga kesehatanmu? Kalau Kakak-kakakmu yang lain lihat kamu pucat begini, mereka bisa mengunci kamarmu selamanya."

Aira hanya terpejam. Di dalam pelukan Jin, dia merasa aman. Tidak ada Miss KA, tidak ada tekanan deadline, dan tidak ada ketakutan akan dunia luar. Di sini, dia hanyalah Aira, adik kesayangan yang boleh menjadi selemah apa pun.

"Aira-ya! Jangan hanya memeluk Kak Jin, aku juga mau!" suara berat namun ceria terdengar dari arah tangga. Kim Taehyung (V) muncul dengan bathrobe sutranya, langsung berlari kecil dan ikut memeluk Aira dari samping, membuat gadis itu terjepit di antara dua pria tampan.

"Kak Tae, aku sesak!" protes Aira, tapi dia tetap tertawa kecil. Tawa pertamanya hari itu.

"Habisnya kamu manis sekali pagi ini. Seperti anak kucing yang butuh susu," sahut Taehyung sambil mencubit pipi Aira gemas.

Mereka pun berpindah ke meja makan kayu ek yang panjang. Di sana sudah duduk Kim Namjoon (RM) yang sedang serius menatap tabletnya, dan Jeon Jungkook yang sibuk mengunyah roti gandum sambil memeriksa perlengkapan motornya.

Begitu Aira duduk, Jungkook langsung menggeser kursinya hingga menempel dengan kursi Aira. Dia meletakkan kepalanya di bahu Aira, sebuah kebiasaan yang sering dilakukan sang maknae jika ingin bermanja pada adik satu-satunya itu.

"Aira, hari ini aku yang antar jemput, ya? Aku tidak suka melihatmu lemas begini. Siapa tahu ada anak di sekolahmu yang macam-macam, biar aku beri pelajaran," ucap Jungkook sambil menunjukkan otot lengannya dengan bercanda.

Namjoon menurunkan tabletnya, menatap Aira dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Aira, semalam aku membaca ulasan tentang novel terbaru Miss KA di berita internasional. Penulis itu benar-benar gila. Dia menggambarkan rasa kesepian dengan sangat akurat. Aku rasa... kamu harus mencoba membaca karyanya, siapa tahu gaya tulisanmu yang kamu sebut 'diary' itu bisa berkembang sepertinya."

Aira hampir saja tersedak susu cokelat yang baru saja disodorkan Jimin. Dia batuk kecil, wajahnya memerah karena menahan diri untuk tidak berteriak kalau dialah orang yang sedang dibicarakan kakaknya.

"Ah... iya, Kak. Nanti aku coba baca," jawab Aira singkat, mencoba bersikap sealami mungkin.

Yoongi (Suga) yang sejak tadi hanya diam sambil menyesap kopinya, tiba-tiba bersuara. Matanya yang tajam menatap Aira dengan intens. "Aira, kalau kamu merasa beban sekolah atau... hobi menulismu itu mulai melelahkan, berhenti saja. Kami bisa menghidupimu sampai tujuh turunan tanpa kamu harus bekerja keras. Kamu cukup jadi adik kecil kami yang bahagia."

Hati Aira bergetar. Dia tahu kakak-kakaknya sangat mencintainya. Tapi itulah masalahnya. Mereka mencintai "Aira yang lemah", sementara dunia memuja "Miss KA yang kuat". Rasa bersalah itu kembali muncul, menyesakkan dadanya di tengah kehangatan sarapan pagi itu.

Pukul 07.15 pagi.

Ritual yang paling dibenci Aira dimulai. Dia menatap dirinya di cermin besar di dalam kamarnya. Aira yang cantik dengan kulit porcelain dan aura elegan baru saja menghilang.

Dia mulai memakai kacamata dengan frame hitam besar yang sengaja dibuat untuk menyamarkan bentuk matanya yang indah. Rambut panjangnya yang halus diikat menjadi cepol yang sedikit berantakan. Dia mengenakan seragam Hanlim High School, tapi sengaja memilih ukuran dua kali lebih besar dari ukuran aslinya agar lekuk tubuhnya tidak terlihat.

"Aira! Jungkook sudah memanaskan motornya!" teriak Hoseok (J-Hope) dari lantai bawah.

Aira mengambil tas ransel usangnya. Di dalam tas itu, tersembunyi sebuah laptop super canggih yang harganya bisa membeli tiga unit motor Jungkook. Laptop yang berisi rahasia hidupnya.

Turun ke bawah, Jungkook sudah menunggu dengan jaket kulit hitam. "Ayo, Tuan Putri Penyamaran," goda Jungkook. Dia selalu menghormati keputusan Aira untuk tetap "low profile" di sekolah, meskipun sebenarnya Jungkook sangat ingin pamer pada dunia kalau adiknya adalah gadis tercantik di Korea.

Jungkook menurunkan Aira sekitar lima ratus meter dari gerbang sekolah, di sebuah gang sepi. "Jangan lupa, jam tiga aku jemput. Kalau ada yang mengganggumu, tekan tombol darurat di jam tanganmu, oke?" Jungkook mengusap kepala Aira yang tertutup tudung jaket.

"Iya, Kak. Kakak hati-hati ya," jawab Aira. Begitu motor Jungkook melesat pergi, bahu Aira yang tadi tegak langsung merosot. Tatapan matanya yang tadi cerah kini berubah menjadi redup dan ketakutan.

Dia mulai berjalan menuju gerbang sekolah. Begitu kakinya menginjak area sekolah, suasana berubah drastis. Tidak ada lagi pelukan hangat Jin atau candaan Taehyung. Yang ada hanyalah bisik-bisik tajam.

"Lihat, si kutu buku sudah datang," cibir Sera, anggota geng 'The Queens', saat Aira berjalan melewati lorong. "Hei, Aira! Apa hari ini kamu masih memakai baju lungsuran dari panti asuhan? Baumu apek sekali!"

Aira hanya menunduk, meremas tali tasnya erat-erat. Dia berjalan melewati kerumunan siswi-siswi populer yang sedang membicarakan novel terbaru Miss KA dengan penuh semangat.

"Kalian sudah baca bab terbaru Miss KA? Oh Tuhan, aku menangis semalaman! Miss KA benar-benar seorang dewi!" seru Jennie, pemimpin geng pembully itu, sambil memamerkan bukunya.

Aira tersenyum pahit di balik tundukannya. Kalian memuja karyaku, tapi kalian menginjak-injak penciptanya, batin Aira pedih. Dia terus berjalan menuju pojok perpustakaan, tempat persembunyiannya yang paling aman, tanpa menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata tajam milik Lai Guanlin sedang memperhatikannya dengan kening berkerut, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis "cupu" itu.

Perpustakaan Hanlim High School adalah labirin rak buku tua yang berdebu, tempat yang dihindari oleh anak-anak populer, namun merupakan markas komando bagi Kim Aira. Di sebuah meja paling pojok, di balik tumpukan ensiklopedia tebal, Aira mengeluarkan sebuah ponsel tipis berwarna hitam pekat yang tidak memiliki logo apa pun. Ini bukan ponsel yang diberikan kakaknya, ini adalah perangkat yang dia beli sendiri dengan identitas anonim.

Getaran di ponsel itu terasa seperti detak jantung yang terburu-buru.

[Grup Chat : Operation : Golden Ink]

Beomgyu : "Aira! Kondisi darurat level 1! Perwakilan dari agensi Lai Guanlin baru saja mengirimkan draf kontrak baru ke email resmi Miss KA. Mereka gila! Mereka menawarkan akses ke studio pascaproduksi pribadi dan nilai kontrak yang cukup untuk membeli satu pulau. Guanlin ingin bertemu secara pribadi di kafe 'Midnight Blues' akhir pekan ini. Dia bilang, dia bersedia menunggu berjam-jam hanya untuk melihat siluet Miss KA."

Ryujin : "Jangan gegabah, Aira. Aku baru saja memeriksa jadwal latihan dance-ku, dan aku melihat salah satu asisten Guanlin berkeliaran di dekat lokermu tadi pagi. Sepertinya mereka mulai melakukan profiling pada siswi-siswi yang memiliki hobi menulis. Tetaplah menjadi 'si cupu' yang tidak kompeten. Biarkan aku yang mengalihkan perhatian mereka."

Minju : "Aku sedang di kantin sekarang, berpura-pura membaca naskah drama. Geng Jennie sedang merencanakan sesuatu yang menjijikkan. Mereka berencana menyiram lokermu dengan cat merah saat jam olahraga nanti. Ryujin, siapkan kamera cadangan. Aira, saat itu terjadi, kau harus menangis. Menangislah seolah dunia berakhir agar mereka tidak curiga bahwa kau sedang merencanakan kehancuran mereka lewat bab novelmu selanjutnya."

Aira menatap layar itu dengan mata yang dingin. Jari-jarinya bergerak cepat, mengetik balasan dengan presisi seorang komandan.

Aira : "Beomgyu, balas email Guanlin. Katakan Miss KA sedang berada di luar negeri untuk riset. Jangan beri dia harapan dulu. Ryujin, biarkan mereka menyiram cat itu. Aku butuh pemicu emosi untuk karakter antagonis di Bab 45. Minju, pastikan rekamannya bersih. Kita akan menyimpan ini sebagai 'tabungan' kehancuran mereka di masa depan."

Aira menutup ponselnya. Kepalanya berdenyut. Di satu sisi, dia adalah remaja yang sedang dibully, namun di sisi lain, dia adalah otak di balik industri kreatif yang sedang dipermainkan oleh para pangeran sekolah. Dia merasa seperti sedang bermain catur dengan nyawanya sendiri sebagai taruhan.

Aira melangkah keluar dari perpustakaan dengan gaya berjalan yang sedikit membungkuk, memeluk buku-bukunya seolah-olah itu adalah satu-satunya perlindungan yang dia miliki. Saat dia melewati lorong menuju kelas, suasana mendadak senyap.

Di ujung lorong, empat pria berjalan dengan aura yang begitu mendominasi sehingga para siswa lain secara otomatis menepi ke dinding. Mereka adalah para pangeran yang dijodohkan oleh kakak-kakaknya : Lai Guanlin, Choi Soobin, Lee Heeseung, dan Kim Sunoo. Meskipun mereka sudah mahasiswa, mereka sering berada di Hanlim untuk berbagai proyek kolaborasi seni.

Guanlin berjalan paling depan, wajahnya dingin seperti pahatan es, matanya terus menatap ponselnya, mungkin menunggu balasan dari Miss KA yang baru saja Aira tolak. Di belakangnya, Soobin dan Heeseung tampak sedang berbincang serius, sementara Sunoo berjalan paling belakang dengan tangan di saku, matanya menyapu lorong dengan kilatan jenaka namun tajam.

Aira menundukkan kepalanya dalam-dalam saat mereka lewat. Dia berharap bisa menjadi transparan. Namun, takdir berkata lain.

Sesaat setelah Guanlin melewatinya, langkah Kim Sunoo melambat. Dia berhenti tepat di samping Aira. Aroma parfum Sunoo, campuran antara kayu cendana dan hujan menyerbu indra penciuman Aira.

"Cara berjalanmu... sangat menarik, Aira," suara Sunoo terdengar pelan, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Aira berdiri.

Aira tidak berani menoleh. "M-maaf, Kak Sunoo... aku harus segera ke kelas."

Sunoo tidak beranjak. Dia malah sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan kepala Aira yang tertunduk. "Kau tahu? Aku baru saja menonton rekaman wawancara Miss KA yang disamarkan suaranya. Meskipun suaranya berbeda, frekuensi napasnya saat gugup... sangat mirip denganmu sekarang."

Jantung Aira berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Dia meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Tidak mungkin. Dia tidak mungkin tahu secepat ini, batinnya dalam kepanikan yang luar biasa.

"Jangan terlalu tegang," bisik Sunoo lagi, kali ini dengan seringai yang terlihat dari sudut mata Aira. "Topeng yang bagus hanya bisa bertahan jika pemakainya tidak gemetar. Sampai jumpa di jam istirahat, Penulis Kecil."

Sunoo berlalu, meninggalkan Aira yang membeku di tengah lorong yang mulai kembali ramai. Peringatan Sunoo bukan sekadar gertakan, itu adalah pernyataan perang.

Aira berhasil mencapai atap sekolah, tempat satu-satunya yang benar-benar sepi. Dia duduk di sebuah bangku kayu yang sudah lapuk, mencoba mengatur napasnya. Langit Seoul yang mendung seolah mencerminkan kekacauan di hatinya.

Tekanan itu akhirnya meledak. Dia lelah. Lelah membohongi Jin yang selalu membuatkannya sup hangat, lelah membohongi Jungkook yang selalu menjaganya dengan motor besarnya, dan lelah menghadapi Sunoo yang seolah bisa menembus kulitnya.

Tiba-tiba, pintu atap terbuka. Aira tersentak dan buru-buru menghapus air mata yang mulai menetes. Ternyata itu Sunoo lagi. Dia membawa dua kotak susu stroberi dan satu kotak kecil cokelat mahal.

Sunoo terdiam melihat wajah Aira yang sembab. Dia tidak lagi menunjukkan seringai liciknya. Dia berjalan mendekat dan meletakkan cokelat itu di samping Aira.

"Kudengar orang yang stres butuh asupan gula," ucap Sunoo datar, namun kali ini suaranya terdengar lebih manusiawi.

Melihat cokelat bermerek mahal itu, merek yang sama dengan yang sering dibelikan oleh Taehyung di rumah pertahanan emosional Aira runtuh. Dia bukan lagi Miss KA yang jenius. Dia hanya gadis 19 tahun yang ingin dipeluk dan diberitahu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Kak Sunoo... hiks... kenapa?" Aira mulai sesenggukan. "Kenapa kamu terus menggangguku? Kenapa kamu tidak bisa membiarkanku hidup tenang?"

Sunoo terkejut. Dia tidak menyangka reaksi Aira akan sekuat ini. Dia melihat gadis di depannya ini gemetar hebat, bahunya naik turun karena tangis yang selama ini dipendam. Ego Sunoo yang ingin memenangkan permainan "siapa Miss KA" mendadak lenyap digantikan oleh rasa bersalah yang asing.

Sunoo ragu-ragu sejenak, lalu dia duduk di samping Aira. Dia tidak menyentuhnya, tapi dia memberikan sapu tangan bordir miliknya. "Aku tidak bermaksud menghancurkanmu, Aira. Aku hanya... tertarik padamu."

"Jangan bohong!" tangis Aira pecah. "Kalian semua hanya tertarik pada naskahku! Kalian hanya tertarik pada adik BTS! Tidak ada yang peduli pada Aira yang cupu ini!"

Aira menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya di bawah langit mendung. Di saat yang sama, di lantai bawah, Guanlin sedang menatap loker Aira yang sudah berlumuran cat merah oleh geng Jennie. Wajah Guanlin menggelap, kemarahan membara di matanya. Dia tidak tahu siapa Aira sebenarnya, tapi melihat penindasan itu, insting pelindungnya sebagai seorang pangeran mulai bangkit.

Rahasia besar itu mulai retak. Dan Aira menyadari bahwa dunianya yang aman di balik topeng kini benar-benar berada di ambang kehancuran.

📢 YA AMPUN! Sunoo beneran bikin Aira nangis bombay! 😭 Apakah Sunoo bakal tetep jadi 'penjahat' atau malah jadi orang pertama yang meluk Aira? Terus gimana nasib loker Aira yang disiram cat? Guanlin kayaknya bakal ngamuk nih!

👇 VOTE [A] Kalau kalian dukung Sunoo buat jagain rahasia Aira | [B] Kalau kalian mau Guanlin segera tahu identitas Miss KA!

💬 KOMEN Coba tebak, siapa member BTS yang bakal pertama kali tahu kalau Aira nangis karena Sunoo? [A] Jungkook [B] Yoongi [C] Jimin

🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Perjalanan makin panas! Jangan sampai ketinggalan kelanjutan 'Behind the Spotlight'!

⭐ RATE 5 STARS biar author makin semangat bikin adegan baper lainnya!

BehindTheSpotlight #MangaToonOriginal #SunooAira #MissKA #KpopStory #MysteryRomance

1
Ayu Nur Indah Kusumastuti
Syuka banget sama FL nya, manja2 gitu deh
Noirsz: pembaca setia nih, mode lock on 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!