NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WARISAN YANG TINGGAL DAN MASA DEPAN YANG MENUNGGU

Mentari pagi menyinari kota Jakarta dengan cahaya yang lebih terang dari biasanya. Sudah lima tahun sejak putusan pengadilan, dan Qinara sekarang berusia sebelas tahun. Dia berdiri di depan pintu rumah ayahnya yang telah direnovasi—sekarang, rumah itu menjadi kantor pusat Yayasan Hadian untuk Anak Yatim, sementara panti asuhan tetap berada di lokasi yang terpisah.

Pak Santoso mendekatinya dengan surat yang baru tiba. "Qinara, ini surat dari sekolah hukum yang kamu daftarkan. Mereka mengirimkan pemberitahuan penerimaan untuk kelas pra-junior," ucapnya dengan senyum lebar.

Qinara mengambil surat dan membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tulisan di dalamnya membuat hatinya berdebar kencang: "Kami dengan senang hati memberitahu bahwa Anda diterima di program pra-junior Sekolah Hukum Universitas Indonesia."

Dia menangis dengan senang. Ini adalah langkah besar menuju impiannya menjadi pengacara. Dia berlari ke kamar kerja Pak Rio, yang sedang mengelola berkas yayasan. "Pak Rio! Lihat ini! Aku diterima di sekolah hukum!" teriak dia dengan kegembiraan.

Pak Rio membaca surat dan tersenyum puas. "Aku tahu kamu bisa, Qinara! Ayahmu pasti sangat bangga padamu sekarang. Kamu adalah anak yang paling rajin dan kuat yang aku kenal."

Hari ini juga adalah hari yang spesial—hari ulang tahun ayahnya yang ke-45. Setiap tahun, Yayasan Hadian mengadakan acara untuk merayakan hari itu, dengan memberikan bantuan kepada anak-anak yatim di seluruh Jakarta. Qinara telah merencanakan acara ini selama beberapa bulan, dan semua sudah siap.

Selama siang hari, banyak orang datang ke kantor yayasan—anak-anak dari panti asuhan, tokoh masyarakat, wartawan, dan teman-temannya dari sekolah. Qinara berdiri di panggung dan memberikan pidato.

"Hari ini, kita merayakan ulang tahun ayahku, Hadian. Ayahku adalah orang yang bekerja keras, orang yang mencintai orang lain, orang yang selalu ingin membantu mereka yang menderita. Ini adalah warisan yang dia tinggalkan untukku—keinginan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik."

Dia melihat ke arah anak-anak yang ada di sana. "Selama lima tahun terakhir, kita telah membantu lebih dari 200 anak yatim. Kita telah memberinya tempat tinggal, makanan, sekolah, dan yang paling penting—kasih sayang. Ini adalah bukti bahwa kebenaran dan kasih sayang akan selalu menang, meskipun kita harus menghadapi kesulitan."

Suara tepuk tangan terdengar dari seluruh tempat. Qinara melanjutkan pidato dengan cerita tentang perjuangannya, tentang bagaimana dia kehilangan ayahnya tapi menemukan keluarga baru di yayasan dan panti asuhan. Dia juga berterima kasih kepada semua orang yang telah membantu dia—Pak Rio, Pak Santoso, Pak Slamet, dan semua yang telah memberikan dukungan.

Setelah pidato, mereka memulai acara—anak-anak menyanyi, menari, dan memamerkan karya seni mereka. Qinara juga memberikan hadiah kepada anak-anak yang paling rajin di sekolah dan yang paling membantu di panti asuhan.

Sore hari, Qinara mengunjungi makam ayahnya. Dia membawa bunga mawar putih—bunga favorit ayahnya—dan sepotong kue yang dia buat sendiri. Dia duduk di dekat makam, memandang nama ayahnya yang tertulis di batu nisan.

"Ayah, hari ini ulang tahunmu yang ke-45. Aku ingin kamu tahu bahwa aku telah diterima di sekolah hukum. Aku akan belajar keras untuk menjadi pengacara yang baik, seperti yang kamu harapkan. Yayasan kita juga sudah membantu banyak anak yatim—kamu pasti bangga padaku, kan?" bisik dia dengan suara lirih.

Dia membaca surat ayahnya yang selalu ada di kotak pemberiannya. Kata-katanya masih terasa segar dan penuh makna: "Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran."

Qinara menyenyum. Dia tahu bahwa warisan ayahnya bukan hanya harta material, tapi juga nilai-nilai yang dia tanamkan di hatinya—keberanian, kebenaran, dan kasih sayang.

Malam itu, dia menerima telepon dari Bu Minah, ibunya Pak Joko. "Qinara, Pak Joko ingin bertemu denganmu besok pagi. Dia punya sesuatu yang ingin memberitahumu," ucap Bu Minah.

Keesokan pagi, Qinara pergi ke rumah Pak Joko. Pak Joko yang sekarang sudah tua dan lemah, tapi matanya masih penuh tekad. Dia memberikan kotak kayu kepada Qinara. "Ini milik ayahmu, Nak. Dia menyimpannya di perusahaan, dan aku hanya menemukan itu baru-baru ini. Dia bilang jangan memberikannya padamu sampai kamu siap."

Qinara membuka kotak itu dan menemukan seperangkat surat dan foto. Surat itu adalah catatan ayahnya tentang rencana membangun sekolah untuk anak-anak miskin. Foto itu adalah foto keluarga yang diambil ketika Qinara masih kecil, dengan ayahnya yang tersenyum lebar dan ibunya yang tampak bahagia.

Dia menangis melihat foto itu. Meskipun masa lalu menyakitkan, dia tetap menghargai kenangan yang indah bersama ayahnya.

"Pak Joko, terima kasih telah menyimpan ini untukku. Aku akan membuat rencana ayahmu menjadi kenyataan—kita akan membangun sekolah untuk anak-anak miskin," kata Qinara dengan tekad.

Pak Joko mengangguk. "Aku tahu kamu bisa, Nak. Ayahmu pasti bangga padamu."

Beberapa minggu kemudian, Qinara mulai bersekolah di Sekolah Hukum Universitas Indonesia. Dia adalah siswa termuda di kelasnya, tapi dia juga yang paling rajin. Teman-temannya menyukainya dan menghormatinya karena keberaniannya.

Selama waktu luangnya, dia membantu mengelola yayasan dan merencanakan pembangunan sekolah baru. Banyak orang menawarkan bantuan—baik dalam bentuk uang maupun tenaga. Mereka semua terinspirasi oleh perjuangan Qinara dan warisan ayahnya.

Suatu hari, Qinara menerima surat lagi dari Laras. Surat itu mengatakan bahwa Laras telah menunjukkan perilaku yang baik di penjara dan mendapatkan pengurangan hukuman. Dia juga mengatakan bahwa dia telah mempelajari agama dan menemukan damai di hatinya.

"Qinara, aku senang mendengar bahwa kamu diterima di sekolah hukum dan membangun yayasan. Aku berdoa untukmu setiap hari. Aku tahu bahwa aku tidak bisa mengembalikan waktu yang hilang, tapi aku harap kamu bisa melihat bahwa aku telah berubah. Aku mencintaimu, Nak."

Qinara menyimpan surat itu di kotak pemberiannya. Dia masih tidak bisa memaafkan ibunya sepenuhnya, tapi dia merasa harapan bahwa suatu hari mereka bisa memiliki hubungan yang lebih baik.

Malam itu, Qinara berdiri di teras rumah ayahnya, memandang kota Jakarta yang penuh cahaya. Dia memegang kotak pemberian ayahnya yang sekarang sudah penuh dengan bukti-bukti perjuangan, kenangan, dan impian. Dia melihat langit malam yang penuh bintang, dan menemukan bintang yang terang yang selalu dia anggap sebagai tanda ayahnya.

"Ayah, aku telah menjalani hidupku sesuai dengan apa yang kamu ajarkan. Aku telah menemukan keadilan untukmu, aku telah membantu orang lain, dan aku sedang mengejar impianku. Warisanmu hidup di hatiku, dan aku akan terus meneruskannya ke generasi mendatang. Aku mencintaimu selamanya, ayah," bisik dia.

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian yang akan dicapai. Qinara siap untuk menghadapinya—dengan keberanian yang dia dapatkan dari ayahnya, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Perjuangan telah berakhir, tapi kehidupan baru yang penuh harapan baru saja dimulai. Dan Qinara tahu bahwa ayahnya akan selalu menyertainya di setiap langkah jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!