NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Kau Penawarku Kau Milikku

Anita melirik cepat ke bagian bawah tubuh Dion, bibirnya terangkat sinis.

“Percaya atau tidak, itu untuk memperkuat fungsi ginjalmu.”

Tatapan Dion mengeras. “Jangan bilang kau lakukan ini dengan sengaja?”

Anita bangkit berdiri, santai seolah tak terusik.

“Kalau tidak suka, jangan diminum. Tapi kalau hasilnya gagal, itu bukan salahku.”

Dion membisu, tahu kalau dia tidak bisa menolak tanpa mempermalukan dirinya sendiri.

“Pergilah mandi,” lanjut Anita santai. “Setelah akupunktur nanti kau tidak boleh kena air. Dan aku juga perlu mandi dulu. Oh iya , tolong suruh pembantumu ambilkan pakaianku.”

Setelah mengatakan itu, Anita langsung masuk ke kamar mandi seolah kamar itu miliknya sendiri.

Dion mengambil daftar obat yang ia tulis… lalu berhenti sejenak. Setelah berpikir, ia menambahkan satu barang lagi , yaitu condom.

Bukan untuk dipakai.

Tapi agar orang mengira ini murni soal libido… bukan detoks penyakit mematikan.

Philip datang membawa daftar itu. Ia sempat kaget melihat item terakhir, tapi tak berani bertanya.

Tuan Drake Leach (kakeknya Dion Leach) pun sempat terdiam saat menemukan cornu cervi parvum dan kondom tercantum di sana.

Hingga akhirnya beliau tertawa puas.

“Ahahaha.... beli yang cepat. Dan pastikan pakaian Anita diantar juga.”

Baginya, cucunya mulai mengerti. Dan itu adalah kabar bagus.

Philip akhirnya kembali dengan semua yang dibutuhkan.

Saat berada di basement, Tuan Leach tua mengambil kondom itu dan dengan tenang menusuknya satu per satu dengan jarum panjang yang sudah ia siapkan.

Philip menatap, ia tercengang. Tapi tidak bersuara.

Tuan Drake Leach tersenyum samar. “Aku ingin cicit. Dan aku akan mendapatkannya cepat atau lambat.”

Philip mengirim semua barang ke atas. Anita baru keluar dari kamar mandi saat dia tiba , rambutnya masih basah, wajah sedikit memerah karena air hangat.

Philip lalu memberikan barang-barang itu dengan senyum penuh hormat sebelum pergi.

Dion, yang memperhatikannya dari kejauhan, mendapati dirinya nyaris kehilangan kontrol.

Rambut Anita yang basah, kulitnya yang bersih, putih , mulus, wajahnya yang cantik, dan postur tubuhnya yang ideal menonjolkan beberapa bagian yang yang sesuai porsinya … ia tampak jauh lebih lembut dan mempesona daripada sebelumnya.

Anita tidak peduli pada reaksinya. Ia lalu mengecek satu per satu obat yang dibawa Philip dan berkata datar,“Giliranmu mandi. Setelah itu aku akan mulai.”

Suaranya terdengar lebih lunak dari sebelumnya. Bukan menggoda… tapi justru lebih berbahaya.

Dion pergi mandi tanpa membantah.

Ketika kembali, ia hanya mengenakan handuk dan air yang masih menetes dari otot-otot tubuhnya mengganggu fokusnya , Anita nyaris kehilangan ekspresi tenangnya.

Ia menelan ludah pelan, lalu memalingkan wajah.

“Itu ramuan untukmu. Minum dengan cornu cervi.”

Dion masih sempat melirik, seolah mengejek sikapnya. Namun akhirnya ia minum semuanya tanpa suara hingga tandas tak tersisa.

Anita menyiapkan meja perawatan, jarum perak sudah steril.

“Berbaringlah!”

Dion pun patuh.

Tangan Anita stabil , cepat, akurat, dan profesional. Jarum pertama menembus titik akupunktur tanpa ragu.

Saat itulah benak Anita sempat terlempar kembali pada dirinya yang dulu.

Dirinya yang dulu begitu murah hati… naif… dan sering dikhianati.

Identitas bisa direbut. Nama bisa dicuri. Tapi ilmu ini… tidak akan pernah bisa dimanipulasi.

Anita membuang pikiran itu.

Kini yang ia sentuh adalah tubuh pria yang paling berbahaya di kota ini.

Dan justru di sanalah ia memilih berdiri paling tenang.

Akupunktur mulai bekerja. Jarum kedua dan ketiga masuk dengan cepat dan nyaris tanpa rasa sakit. Anita melakukan semua dengan presisi luar biasa. Bukan seperti seorang istri. Bukan seperti kekasih. Tapi seperti seseorang yang sangat tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

Dion membuka mata. Menatap seseorang yang tengah mencondongkan tubuhnya untuk memasang jarum ke titik berikutnya.

Pandangan itu bukan lagi dingin… melainkan tajam. Menganalisis.

“Kau pernah melakukan ini pada pria lain?” suaranya berat, rendah.

Anita tidak terguncang. “Apa bedanya jika iya?”

Dion terdiam sesaat. Sorot matanya berubah perlahan.

“Karena… kau terlihat terlalu mahir.”

Anita hanya menatapnya balik. Datar. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Dion kehabisan kalkulasi.

Dia bukan main-main.

Efek obat mulai naik.

Nafsu? Mungkin. Tapi lebih dari itu , darahnya bergerak cepat, terasa panas. Jantungnya berdetak lebih keras. Ada sensasi hangat dan tajam menjalar dari bawah pusar naik ke dada. Seolah ada aliran listrik yang menyambar seluruh sistem sarafnya.

Anita tahu titik ini dan tanpa ragu menekan bagian tertentu di antara dua tulang rusuk Dion.

Dion menggertakkan gigi. “Kau...... akhh.....”

Tubuhnya tiba-tiba menegang keras.

“Detoks dimulai,” ujar Anita tenang, tanpa menatap wajahnya. “Kalau tak tahan, gigit lidahmu. Jangan sampai kehilangan kesadaran.”

Dion menatap wajahnya Anita begitu lama.

Ia ingin berkata Anita kelewatan. Tapi tubuhnya tak bisa lagi berfungsi normal untuk menggertaknya.

Perlahan aura ruangan berubah.

Bukan sensual, bukan terasa romantis.

Melainkan… mengintimidasi.

Anita berdiri mengambil handuk kecil untuk mengelap pelipis Dion yang mulai dipenuhi keringat dingin.

Dan untuk pertama kalinya…

Dion merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Ia takut kehilangan kendali di tangan seorang wanita.

Dion berbaring miring di atas bantal dengan aroma obat yang samar dan menenangkan. Dari sudut pandangnya, ia hanya bisa melihat gaun tidur Anita yang lembut mengayun, serta kulit paha yang mulus dan pergelangan tangannya yang seputih salju.

Saat jemari wanita itu menyentuh bahunya untuk mencabut jarum, ia mencium aroma halus dari tubuh Anita, begitu wangi rempah ringan, tetapi jauh lebih menenteramkan daripada aroma obat di bantal. Rasa gelisah yang mencekiknya sejak berhari-hari seketika ikut mereda.

Jarum terakhir dicabut. Efek kantuk mulai menguasai tubuhnya yang tiga hari tak bersentuhan dengan tidur.

“Tidurlah. Aku akan tetap di sini.” suara Anita tenang, nyaris seperti bisikan yang entah bagaimana terasa aman.

Dion tidak melawan lagi. Kelopak matanya tertutup, napasnya perlahan stabil. Wajah dinginnya melunak saat tertidur , ia terlihat jauh lebih manusiawi tanpa tatapan keras dan aura membunuhnya.

Anita hanya memandangi. Dan entah kenapa dirinya tergelitik melihat bulu mata Dion yang panjang, tebal, dan sangat hitam. Tanpa berpikir, jemarinya menyentuhnya pelan. “Tidak menyangka dia punya bulu mata seindah ini...” gumamnya lirih, hampir seperti dirinya lupa siapa sebenarnya pria ini.

Ia duduk di samping tempat tidur, berniat berjaga. Namun tubuhnya tak lagi sanggup. Dalam posisi duduk, kepala Anita akhirnya ikut terlelap.

Tiba-tiba beberapa menit kemudian insting bertahan hidupnya menyambar. Mata Anita terbuka lebar. Dan yang pertama ia lihat adalah tatapan merah penuh niat membunuh.

“Tuan...... khhhhhhk......”

Belum sempat refleks bergerak, tangan Dion sudah mencengkeram lehernya dan mengangkatnya kasar. Refleks, Anita menekuk lengan pria itu sekuat tenaga. Dion meringis dan melepaskan, namun hanya untuk bangkit kembali, menyerangnya tanpa akal sadar.

Bugh!

Pertarungan pecah seketika. Perabotan berantakan. Anita tahu kali ini jauh lebih berbahaya. Pria ini tidak sadar. Ia terlihat lebih brutal, lebih cepat dan lebih ganas.

Dalam hitungan menit, Dion kembali menekannya ke ranjang. Mencekik leher Anita. Nafas Anita hampir habis, tubuh lelaki itu menindihnya, panasnya terasa menembus lapisan tipis piyama mereka. Lalu, aroma itu ... aroma herbal yang menenangkan dari tubuh Anita. Itu menembus amukan liar Dion sedikit demi sedikit.

Anita sudah siap mati dicekik.

Tapi secara tiba-tiba cengkeraman itu mengendur. Dion justru menariknya. Memeluk dan membalik posisi tubuh mereka, dan dalam sekejap... ia tertidur.

Anita membeku seketika melihat perilaku Dion.

“Tuan Leach?” bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban. Nafas pria itu tenang, ia benar-benar tertidur.

Tapi lengannya melilit leher Anita seperti jangkar. Setiap kali ia bergerak mencoba bebas, pelukan itu justru semakin menguat.

“Jangan bergerak.” suara berat dan dalam. Dion sedang setengah sadar. Refleks protektif, bukan amarah.

Anita akhirnya berhenti, tapi posisi itu membuatnya sulit bernapas. Ia mengeluhkan pelan. Melihatnya gelisah, Dion nyaris tak sadar menyesuaikan posisi hingga Anita bisa bernapas normal, meski tetap tak bisa ke mana-mana.

Dion akhirnya memeluknya lebih erat. Satu lengan membingkai tubuhnya. Kakinya pun ikut melingkar. Anita nyaris tak bisa bergerak sedikitpun.

Di belakangnya, Anita dapat merasakan dada pria itu , dada bidang, hangat, dan menenangkan dengan detak jantung yang kuat dan konsisten. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berada sedekat ini dengan seorang pria. Aroma tubuh Dion menyelimuti hidungnya.

Dan anehnya bukan malu yang muncul pertama.

Melainkan... rasa nyaman. Nyaman yang terasa asing tetapi nyata.

---

Keesokan paginya, Anita terbangun bukan oleh hangatnya sinar matahari, melainkan oleh suara para pelayan yang sedang berbisik di luar pintu kamar.

“Sudah jam sepuluh dan Nona Lewis belum keluar. Jangan-jangan dia telah dibunuh oleh Tuan Muda?”

“Tadi malam kamar itu terdengar ribut sekali… lalu mendadak sunyi. Seram banget pokoknya. Belum pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya.”

“Tuan Muda kalau marah bisa bikin babak-belur orang. Bisa jadi Nona Lewis tewas… hiiiyyyy....”

Philip mendengar itu, langsung muncul dan menatap mereka tajam.

“Berhenti bicara sembarangan! Mau tetap kerja di sini atau tidak?” bentaknya.

Para pelayan sontak bubar. Meski keras wajahnya, Philip sendiri tak bisa menyembunyikan kegelisahan saat menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Ia turun ke lantai bawah dan bertanya pada Tuan Drake Leach tua, “Tuan… bolehkah saya mengetuk pintu?”

Tuan Drake Leach tua menggeleng, wajahnya tenang namun penuh makna.

“Tidak, biarkan saja. Aku percaya pada Anita.”

Dia memang mendengar kegaduhan semalam. Hampir saja ia masuk dan menghentikan semuanya tapi pada akhirnya ia menahan diri.

Itu adalah harapan terakhir Dion untuk bisa bertahan.

---

Sementara itu, di dalam kamar…

Anita terbangun masih dalam pelukan Dion. Posisi mereka belum berubah sejak semalam, hanya saja pelukannya tidak seketat sebelumnya.

Begitu ia mencoba bergerak, tubuhnya seperti kesemutan semua. Napasnya tersengal menahan rasa tidak nyaman.

Ia menusuk pinggang Dion dengan jarinya.

“Dion, lepaskan aku. Aku terasa mati rasa.”

Dion yang baru saja tertidur pulas setelah tiga hari tanpa tidur tiba-tiba membuka mata. Tatapannya merah, buas seperti binatang liar yang terbangun.

Anita tak melihat wajahnya, tapi instingnya tahu… ini berbahaya.

Alih-alih melepaskan, Dion justru memeluknya lebih erat. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anit yang menguarkan aroma obat menenangkan dari tubuhnya.

“Tidurlah,” suaranya berat, parau.

Ia jelas tak berniat melepasnya. Malam itu… untuk pertama kalinya ia tidur tanpa mimpi buruk. Ia tak ingin kehilangan rasa damai itu.

Anita menahan napas sejenak. Lalu dengan suara pelan, sambil menahan malu, ia berkata,

“Aku… harus ke kamar mandi.”

Jika Dion sempat melihat wajah Anita, ia mungkin akan sadar betapa merah pipinya sekarang. Karena ia bisa dengan jelas merasakan sesuatu menegang dari arah belakang.

Dion mengernyit kecil tapi akhirnya melepaskan juga.

Anita langsung bangkit dan bergegas ke kamar mandi tanpa menoleh.

Dion menatap pintu tertutup itu lama… lalu perlahan menarik napas seakan menenangkan diri.

Saat Anita keluar, Dion sudah berdiri rapi dalam setelan jas. Aura mengerikan semalam lenyap tergantikan sosok pria dingin dan elegan, seperti biasanya.

Anita menenangkan dirinya sebelum bertanya sopan,

“Tuan Leach, apakah Anda tidur nyenyak semalam?”

Dion melangkah mendekat. Tatapannya turun, menusuk langsung ke matanya.

“Anita.”

Nada suaranya rendah namun penuh tekanan tak terlihat.

Anita mendongak menatap wajah tampannya Dion.

Dion menunduk sedikit, tatapannya agresif… mendominasi.

“Jangan mundur setelah mempermainkanku.”

Anita kaget. Apa? Apa yang ia lakukan?

“Tuan Leach, saya hanya bertanya apakah Anda tidur nyenyak. Bagaimana bisa.......”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Dion menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir Anita. Napasnya menyentuh kulit Anita saat ia berbisik pelan…

“Mulai sekarang… seluruh urusan detoks diriku… ada di tanganmu, Mrs. Leach.”

Anita membeku sepersekian detik.

“…Jadi kamu percaya kemampuanku?”

Dion tersenyum tipis.

“Tidak, aku tidak percaya.”

Anita terdiam masih mencerna setiap perkataannya.

Dion menjauh setengah langkah. Sorot matanya tak bergeming.

“Tapi kamu adalah penawarku.”

Kamu milikku seorang.

Kamu begitu wangi, tubuhmu juga milikku.

Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu.

---

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!