NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Yang Berbeda

Naura masih menggenggam ponselnya. Layar itu sudah gelap, tapi raut wajahnya tetap muram. Telepon dari ayahnya barusan meninggalkan rasa kesal yang bercampur sedih. Ayahnya tak jadi pulang hari ini—padahal sudah lebih dari sebulan berada di luar kota.

Yang membuat dadanya semakin sesak adalah ucapan ayahnya sebelum menutup sambungan. Usaha yang dijalankannya di sana berjalan lancar. Ada kemungkinan ia akan menetap. Dan Naura diminta bersiap, kalau-kalau mereka harus pindah ke kota itu.

Naura menunduk, menarik napas dalam-dalam.

Wajah murung itu tak luput dari perhatian Hamka.

Laki-laki itu sudah anteng berdiri di luar gerbang rumah Naura, motor terparkir rapi di sampingnya. Ia menunggu tetangganya—yang baru kemarin resmi berdamai setelah perang dingin panjang.

“Masih pagi, lho, Naw,” celetuk Hamka sambil menyodorkan helm. “Mukanya kayak jendela yang belum dibersihin.”

Naura mendongak, melirik Hamka sekilas. “Berisik,” balasnya singkat. Helm itu masih ia pegang, belum juga dipakai. “Lo yakin nggak bakal ada yang marah kalau boncengin gue?”

Hamka mengangkat bahu santai. “Nggak ada, ah. Silakan naik, tetangga,” katanya sambil tersenyum, senyum yang sengaja ia buat seringan mungkin.

Naura ragu sejenak, lalu akhirnya memasang helm itu. Ia melangkah mendekat dan naik ke motor. Ada jeda canggung sebelum tangannya perlahan mencengkeram ujung jaket Hamka.

Motor mulai melaju meninggalkan gang rumah. Angin pagi menyapu wajah Naura, tapi pikirannya masih penuh.

Hamka menurunkan kecepatan. “Lo kenapa?” tanyanya, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Naura terdiam beberapa detik. “Ayah gue nggak jadi pulang,” ujarnya akhirnya. “Katanya… mungkin bakal lama di sana. Bisa jadi kita pindah.”

Kata itu menggantung di udara.

Hamka tak langsung menanggapi. Dadanya terasa aneh, tapi ia menahan diri. “Lo nggak pengin?” tanyanya hati-hati.

Naura menggeleng kecil. “Gue capek ditinggal. Terus disuruh siap-siap ninggalin semuanya.”

Hamka menepi dan mematikan mesin. Ia menoleh ke belakang, menatap Naura dengan wajah yang tak lagi bercanda.

“Dengerin gue, Naw,” katanya pelan. “Apa pun nanti keputusan ayah lo, sekarang lo nggak sendirian.”

Naura menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, matanya sedikit melunak. “Kenapa lo jadi sok dewasa gini sih?”

Hamka nyengir. “Efek berbaikan.."

Naura terkekeh pelan. Murung di wajahnya belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya ada ruang untuk bernapas.

Hamka kembali menyalakan motor. “Pegangan yang bener. Gue jalan pelan.”

Naura menurut. Kali ini, genggamannya lebih erat.

Dan Hamka tahu,selama Naura masih memilih duduk di belakangnya, ia akan memastikan gadis itu tak merasa ditinggal sendirian lagi.

Mereka sudah sampai di sekolah. Namun, alih-alih berhenti di tempat biasa, Hamka justru melesat masuk melewati gerbang.

“Ka—!” Naura mencubit pelan lengan Hamka sebagai peringatan. “Turunin di sini aja.”

Hamka tetap cuek, bahkan tak menoleh sedikit pun. Motor baru berhenti cukup jauh dari titik aman versi Naura.

Begitu turun, Naura langsung celingukan. Harapannya sederhana: semoga belum banyak yang melihat. Sayangnya, harapan itu runtuh seketika.

Tatapan tajam datang dari berbagai arah. Sekelompok siswi berhenti mengobrol. Beberapa pasang mata membesar. Bisik-bisik mulai terdengar, tipis tapi jelas. Mereka heran—bahkan kaget—melihat Naura datang bersama Hamka. Setahu mereka, dua tetangga itu adalah duo paling sering ribut seantero sekolah.

“Gara-gara lo, sih,” desis Naura sambil memukul pelan lengan Hamka. “Liat tuh… fans-fans lo.”

Hamka hanya mendengus kecil. Lalu—di luar dugaan dan di luar kewarasan versi Naura—laki-laki itu menariknya lebih dekat. Tangannya melingkar santai di pundak Naura, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Naura memekik tertahan. “Lo apa-apaan sih?!” gumamnya tajam, rahangnya mengeras.

“Udah,” jawab Hamka kalem. “Diem aja.”

Ia mulai melangkah, nyaris menyeret Naura bersamanya. “Gue jamin lo aman sampai kelas.”

Naura ingin protes. Ingin melepaskan diri. Tapi langkah Hamka mantap, dan entah kenapa… genggaman di pundaknya terasa lebih seperti pelindung daripada pamer.

Bisik-bisik makin ramai. Beberapa tatapan berubah jadi senyum penuh arti. Ada juga yang menatap tak percaya.

Naura menunduk, jantungnya berdegup tak karuan. “Lo sadar nggak sih ini sekolah?” bisiknya.

Hamka melirik sekilas, senyum tipis tersungging. “Siapa bilang kita lagi di warteg .”

Mode usil Hamka aktif kembali .Naura terlalu malas meladeninya .

Ia mendengus, tapi tak lagi berusaha melepaskan diri.

Saat mereka sampai di depan kelas, Hamka akhirnya melepas lengannya.

Naw,” panggil Hamka pelan, tepat sebelum Naura melangkah masuk ke kelas.

Naura menghentikan langkahnya dan menoleh. “Kenapa?”

Hamka terdiam sejenak. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semuanya terasa menggantung dan tak jelas ujungnya. Ia menggaruk tengkuknya singkat, lalu akhirnya menghela napas kecil.

“Nggak papa,” katanya sambil tersenyum tipis. “Masuk gih.”

Naura memicingkan mata, menatapnya penuh curiga. “Nggak jelas banget sih lo!” ujarnya sambil melotot kesal.

Hamka terkekeh pelan, sementara Naura berbalik dan masuk ke kelas. Namun, tepat sebelum duduk, Naura sempat melirik ke arah pintu.

Hamka masih berdiri di sana, menatapnya sekilas sebelum akhirnya melangkah pergi.

Dan entah kenapa, senyum tipis itu kembali membuat dada Naura berdebar, meski ia sendiri tak paham alasannya.

Saat Naura baru saja menyimpan tas nya,tiba-tiba kedua temannya ,Sisi dan Lala datang menghampirinya.

Tatapan mereka sama...penuh selidik.

“Ngapain kalian liatin gue kayak gitu?” tanya Naura, risih.

Hening sejenak. Terlalu hening. Naura tahu betul, itu tanda bahaya.

“Kenapa kalian bisa bareng?” akhirnya Lala membuka suara, tangannya dengan santai mencomot cimol dari tangan Sisi. “Bukannya kemarin kalian masih perang dingin level Kutub Utara, ya?”

Naura mendesah. “Kenapa sih? Harusnya kalian senang kalau gue udah baikan. Nggak baik, kan, musuhan lama-lama.”

Sisi dan Lala saling pandang.

“Tapi ini beda,” Lala menyela cepat. “Baikan kalian tuh persis kayak dua orang yang pacaran, terus berantem, terus baikan lagi.”

“Ngaco deh lo,” bantah Naura sambil tertawa kecil, berusaha terdengar santai.

Namun detak jantungnya tak sepenuhnya ikut tertawa.

Bayangan tangan Hamka yang melingkar di pundaknya tadi pagi tiba-tiba muncul begitu saja. Cara laki-laki itu melangkah tenang, seolah tak peduli siapa pun yang melihat.

Naura menunduk, memainkan ujung lengan bajunya.

“Eh,” Sisi mencondongkan badan. “Lo kenapa jadi bengong gitu?”

Naura tersentak. “Nggak papa.”

Tapi di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan mulai berjejal.

Sejak kapan Hamka jadi seperti itu?

Dan kenapa… ia tidak sepenuhnya keberatan?

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!