Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: TAMU TAK DIUNDANG
Malam di kediaman Syailendra biasanya adalah simfoni kesunyian yang mewah, namun malam ini, keheningan itu terasa berat dan mencekam, seolah-olah udara sendiri sedang menahan napas sebelum badai menerjang. Di luar, bulan sabit tertutup oleh awan kelabu yang tebal, membiarkan hutan pinus di sekitar mansion tenggelam dalam kegelapan total.
Alana duduk di ruang kontrol keamanan, menatap barisan layar monitor yang menampilkan rekaman inframerah dari setiap sudut properti. Di sampingnya, Lukas sedang mengetik dengan konsentrasi penuh, sementara Luna tertidur di sofa kecil dengan boneka yang masih dipeluknya erat.
Arlan berdiri di dekat jendela besar yang antipeluru, tangannya menggenggam radio komunikasi.
"Mummy," suara Lukas tiba-tiba memecah kesunyian, nadanya rendah namun penuh urgensi. "Sensor perimeter sektor tujuh mati. Bukan karena hewan, polanya terlalu bersih. Seseorang menggunakan pemotong sinyal frekuensi tinggi."
Arlan segera menekan tombol radio. "Unit Dua, periksa sektor tujuh. Lakukan senyap."
Hening. Tidak ada jawaban dari radio. Hanya suara statis yang dingin.
Wajah Arlan mengeras. "Harry, aktifkan protokol Eclipse. Kita punya tamu."
Tepat saat kata-kata itu keluar dari mulut Arlan, lampu di seluruh kediaman Syailendra padam secara serentak. Kegelapan menyergap seperti pemangsa. Sistem cadangan yang seharusnya menyala dalam dua detik tetap mati—sebuah tanda bahwa musuh telah meretas jalur pusat daya dari dalam tanah.
"Lukas, Luna, ke ruang bawah tanah! Sekarang!" perintah Alana sambil menarik Luna dari sofa.
Tiba-tiba, suara kaca pecah di lantai bawah terdengar, diikuti oleh suara tembakan berperedam yang cepat.
Puff-puff-puff!
Jeritan tertahan dari penjaga luar menandakan bahwa musuh bukan sekadar penjahat amatir; mereka adalah tim elit yang bergerak dengan presisi bedah.
"Mereka bukan Black Cobra," gumam Arlan, ia menarik sebuah senapan otomatis dari kompartemen tersembunyi di balik dinding kayu. "Gerakannya terlalu sinkron. Ini adalah unit pembunuh profesional."
"Ouroboros," bisik Alana. Ia merogoh saku taktisnya, memastikan botol Formula Teratai aman di sana. "Mereka tidak datang untuk membunuh, Arlan. Mereka datang untuk menjemput formula ini—dan mungkin kepalaku."
Di koridor utama yang gelap, tim elit The Ouroboros bergerak seperti bayangan. Mereka menggunakan kacamata night-vision generasi terbaru dan senapan dengan penekan suara yang sangat efektif. Harry dan tim Black Hawk mencoba melakukan perlawanan, namun musuh menggunakan granat EMP (elektromagnetik) kecil yang melumpuhkan semua perangkat komunikasi dan optik tim Arlan.
"Target berada di lantai dua, kamar utama," instruksi pemimpin tim Ouroboros melalui jalur komunikasi internal yang terenkripsi. "Gunakan gas saraf jika perlu. Ingat, subjek Alana harus dibawa hidup-hidup."
Di lantai dua, Arlan dan Alana terjebak di lorong menuju lift darurat. Arlan melepaskan tembakan balasan, menahan dua orang musuh yang mencoba merangsek naik melalui tangga spiral.
"Alana, kau harus pergi lewat jalur evakuasi bawah tanah bersama anak-anak!" teriak Arlan di tengah deru peluru yang menghantam pilar marmer.
"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini!" Alana membalas sambil melemparkan sebuah alat kecil berbentuk bola ke arah tangga. Itu adalah bom kilat (flashbang) modifikasi Lukas.
BOOM!
Cahaya putih menyilaukan meledak di lorong, memberikan mereka waktu beberapa detik. Alana menarik lengan Arlan. "Jalur bawah tanah sudah dikepung, aku bisa merasakannya. Mereka sengaja menggiring kita ke sana. Kita harus keluar lewat atap! Helikopter medis daruratku ada di sana."
Mereka berlari menuju tangga darurat menuju atap, sementara di belakang mereka, suara langkah kaki musuh terdengar semakin dekat. Saat mereka mencapai pintu atap, seorang penembak jitu dari kejauhan melepaskan tembakan. Peluru itu menyerempet bahu Arlan, membuatnya terjerembap.
"Arlan!" Alana berteriak, ia segera berbalik dan melepaskan tembakan presisi yang menjatuhkan penembak jitu di menara pengawas seberang.
Alana membantu Arlan berdiri. Darah mulai merembes di kemeja Arlan, namun pria itu hanya mengertakkan gigi. "Aku tidak apa-apa. Cepat, helikopternya!"
Di landasan helikopter, Leo sudah menunggu dengan mesin yang sudah menyala. Lukas dan Luna sudah berada di dalam, wajah mereka pucat namun tetap tenang di bawah asuhan Leo. Namun, sebelum Alana dan Arlan bisa mencapai helikopter, sebuah drone tempur kecil muncul dari kegelapan, meluncurkan rudal mini ke arah tangki bahan bakar cadangan di atap.
DUARRR!
Ledakan besar melemparkan Alana dan Arlan ke lantai beton atap. Kobaran api segera menjalar, memutus jalur mereka menuju helikopter.
Dari balik asap tebal, seorang pria muncul. Ia mengenakan setelan hitam yang elegan, tanpa masker, memperlihatkan wajahnya yang dingin dengan mata satu berwarna perak. Ia adalah Kael, komandan lapangan The Ouroboros.
"Dr. Alana," suara Kael terdengar tenang di tengah kekacauan. "Serahkan Formula Teratai itu, dan aku akan membiarkan Tuan Syailendra dan anak-anakmu hidup. Jangan membuatku melakukan hal-hal yang tidak sopan di depan putra-putrimu."
Alana berdiri perlahan, darah mengalir dari luka kecil di keningnya. Ia menatap Kael dengan kebencian yang mendalam. "Kau pikir kau bisa mengancamku dengan nyawa mereka? Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi."
Alana merogoh sakunya, namun bukan formula yang ia keluarkan. Ia mengeluarkan sebuah pemantik api tua milik kakeknya. "Satu langkah lagi, dan aku akan membakar formula ini bersama dengan diriku sendiri. Tanpa kunci biometrik hidupku, formula ini hanya akan menjadi cairan sampah yang tidak berguna bagi organisasi kalian."
Kael berhenti melangkah. Matanya menyipit. "Kau menggertak."
"Coba saja," tantang Alana.
Arlan, yang masih terduduk di lantai, diam-diam meraih pistol cadangan di pergelangan kakinya. Ia melihat Luna memberikan kode tangan dari jendela helikopter—sebuah sinyal bahwa Luna telah mengaktifkan sistem pertahanan otomatis atap yang selama ini disembunyikan.
Tiba-tiba, dari empat sudut atap, menara senapan otomatis (turret) yang tersembunyi di balik lantai semen muncul dan mulai menembak secara membabi buta ke arah pasukan Ouroboros yang mencoba merangsek naik.
"Sekarang!" teriak Arlan.
Arlan melepaskan tembakan ke arah Kael, memaksanya untuk berlindung. Alana memanfaatkan momentum itu untuk berlari menuju helikopter. Arlan menyusul dengan langkah terseok-seok. Leo segera menarik mereka masuk ke dalam kabin tepat saat helikopter itu lepas landas secara vertikal di tengah hujan peluru.
Dari ketinggian, Alana menatap mansion Syailendra yang kini terbakar di beberapa bagian. Ia melihat tim Ouroboros berdiri di atap, menatap mereka dengan dendam.
"Kita tidak bisa kembali ke mana pun di kota ini, Tuan Arlan," kata Leo sambil mengendalikan kemudi. "Semua properti Syailendra sudah dipantau."
Arlan memegangi bahunya yang terluka, menatap Alana yang sedang memeriksa kondisi Lukas dan Luna. "Kita akan menuju pulau pribadi di perairan internasional. Di sana ada fasilitas yang tidak tercatat di peta mana pun."
Alana mengangguk pelan. Ia mengambil kotak medis dan mulai mengobati bahu Arlan dengan cekatan. Tangannya yang biasanya stabil kini sedikit bergetar. Bukan karena takut, tapi karena ia menyadari bahwa musuh kali ini bukan lagi sekadar Adrian yang picik, melainkan sebuah kekuatan global yang tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Mummy," suara kecil Luna terdengar. "Kenapa mereka ingin mengambil 'bunga' milik Kakek?"
Alana membelai wajah Luna. "Karena bunga itu sangat cantik, Sayang. Terlalu cantik sampai orang jahat ingin memilikinya hanya untuk diri mereka sendiri. Tapi jangan khawatir, Mummy dan Paman Arlan tidak akan membiarkan itu terjadi."
Di tengah gemuruh mesin helikopter yang membelah kegelapan laut malam, Alana menatap botol perak di tangannya. Ia tahu, mulai malam ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Mereka kini adalah buronan di atas takhta mereka sendiri.