Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 TANGISAN SARI.
Langit sore meredup perlahan, menurunkan bayangan panjang di dalam rumah besar itu. Suasana hening terlalu hening seolah dinding-dinding rumah ikut menyimpan napas.
Ammar berdiri di ambang pintu kamar Queen.
Putri kecilnya tertidur pulas di ranjang mungil dengan boneka beruang yang dipeluk erat. Wajah polos itu tampak damai, jauh dari badai yang mengamuk di dunia orang dewasa.
Di sisi ranjang, Sari berjongkok, membereskan mainan Queen satu per satu dengan gerakan pelan agar tak membangunkan sang nona kecil. Rambutnya tergerai
sederhana, wajahnya lelah namun tetap lembut.
Langkah kaki Ammar yang tiba-tiba membuat Sari terkejut.
“T-Tuan,” sapa Sari cepat, menunduk sopan.
Tatapan Ammar singgah sebentar pada Sari, lalu kembali ke Queen.
“Lanjutkan,” ucapnya singkat, suaranya datar.
Sari mengangguk, kembali merapikan mainan. Ammar hanya berdiri beberapa detik, menatap putrinya seakan ingin menghafal setiap detail wajah itu sebelum akhirnya berbalik dan pergi.
Pintu kamar Queen tertutup pelan. Dan bersama itu, hati Ammar kembali runtuh.
Mini bar menjadi pelariannya. Lampu temaram menyinari botol-botol minuman yang tersusun rapi. Ammar menuang minuman beralkohol ke dalam gelas tanpa berpikir panjang.
Satu tegukan.
Lalu satu lagi.
Tak ada hangat, tak ada lega hanya rasa pahit yang semakin menebal.
Setiap tegukan membawa wajah Sabrina ke benaknya.
Istrinya yang semakin jauh.
Telepon yang tak pernah diangkat. Pesan yang tak pernah dibalas. Dan suara ibu mertuanya yang selalu menjadi penghalang.
“Aku tidak pernah melarangmu berkarier…” gumam
Ammar lirih, menatap pantulan wajahnya di kaca. “Aku hanya ingin kamu ingat… kamu istri. Kamu ibu.”
Namun rumah ini terlalu sepi untuk seorang suami.
Dan terlalu sunyi untuk seorang ayah.
Ammar menenggak minumannya lagi, kali ini lebih banyak. Kepalanya mulai ringan, langkahnya goyah.
Ia meninggalkan mini bar dengan tubuh sempoyongan, menaiki tangga tanpa benar-benar sadar arah.
Di lantai atas, Sari baru saja keluar dari kamar Queen. Ia berniat kembali ke dapur ketika melihat sosok
Ammar hampir kehilangan keseimbangan di tangga.
“Tuan!” Sari refleks berlari, menahan tubuh Ammar sebelum jatuh.
Tubuh Ammar berat. Aroma alkohol menyeruak.
“Maaf, Tuan… Anda baik-baik saja?” tanya Sari panik.
Ammar menatapnya tatapan yang berbeda dari biasanya. Tidak sedingin biasanya. Tidak setegas biasanya.
Kosong. Dan terluka.
Senyum kecil terbit di bibir Ammar, senyum yang
membuat Sari merinding tanpa tahu sebabnya.
“Kau…” Ammar bergumam, suaranya serak.
Sari bingung. Ia hanya tahu satu hal Tuan Ammar tidak dalam kondisi baik.
“Biar saya antar ke kamar, Tuan,” ucap Sari pelan.
Ammar tidak menolak. Dengan susah payah, Sari menuntunnya masuk ke kamar utama. Ia membantu Ammar duduk di tepi ranjang, lalu menanggalkan sepatu dan meluruskan tubuhnya agar berbaring dengan nyaman.
“Tuan, istirahatlah,” kata Sari, hendak pergi.
Namun tiba-tiba...
Tangan Ammar mencengkeram pergelangan tangannya.
Sari terkejut. “T-Tuan…?” suaranya bergetar.
Ammar bangkit setengah, menarik Sari mendekat. Wajahnya terlalu dekat. Napasnya berat.
“Sabrina…” bisiknya lirih, seolah melihat orang lain di hadapannya.
Hati Sari mencelos.
“Tuan, Anda salah…” Sari mencoba menarik diri, air mata mulai menggenang. “Saya Sari…”
Namun genggaman Ammar menguat. Kepalanya dipenuhi emosi yang tak terkendali kesepian, kemarahan, kekecewaan semuanya bercampur menjadi satu.
Sari menangis, berusaha melepaskan diri, memanggil dengan suara tertahan.
" Tuan, saya mohon jangan hiks.. "
" Aku sangat merindukanmu sayang.. " Ammar mengecup bibir ranum sari dengan penuh gairah.
Tidak hanya kecupan Ammar juga memaksa membuka kancing pakain sari sehingga terjadilah perenggutan paksa...
Di balik pintu kamar yang tertutup, malam menelan segalanya. kesucian yang selama ini sari jaga telah sirna begitu saja.
#SKIP
Waktu berlalu tanpa ampun. Ketika kesadaran perlahan kembali, Ammar membuka mata dengan kepala berdenyut hebat.
Langit-langit kamar tampak asing atau justru terlalu familiar. Ia menggerakkan tubuhnya sedikit… lalu berhenti.
Ada seseorang di sampingnya. Ammar menoleh.
Sari.
Tubuh Sari terbaring menyamping, setengah tertutup selimut. Wajahnya pucat, mata sembab, sisa air mata mengering di pipinya.
Dunia Ammar seakan runtuh dalam sekejap. Ingatan malam tadi datang menghantam terpotong, kabur, namun cukup jelas untuk membuat jantungnya berhenti berdetak.
“Apa… yang telah aku lakukan…?” bisiknya gemetar.
Tangannya bergetar hebat. Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya dalam hidup
Ammar Abraham merasa takut pada dirinya sendiri.
Dan pagi itu, ia sadar… Tak ada lagi yang bisa kembali seperti semula.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...