NovelToon NovelToon
Sumpah Di Bawah Bayangan Kaisar

Sumpah Di Bawah Bayangan Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Dijodohkan Orang Tua / Matabatin / Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Tabib Wi Lu mendapati dirinya dituduh meracuni Kaisar dan dipaksa menikahi Putri Yu Ming, pewaris tahta yang penuh dendam. Dengan reputasi tercoreng dan pengawasan ketat, Wei Lu harus melawan intrik licik Pangeran De, paman Kaisar, yang sebenarnya merencanakan kudeta dengan memanipulasi ilmu farmasi. Saat Yu Ming menjadikannya musuh, Wei Lu diam-diam menggunakan kejeniusan medisnya untuk membongkar konspirasi Pangeran De, menyelamatkan Kekaisaran dari wabah buatan, dan akhirnya mengungkap kebenaran di balik kematian Kaisar. Perjalanan ini memaksa Yu Ming menghadapi prasangkanya dan secara bertahap belajar mempercayai Wei Lu , mengubah pernikahan politik mereka menjadi pernikahan sejati yang di dasari cinta, kejujuran, dan penyembuhan bagi seluruh kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Hitam di Aula yang Dingin

Ia baru saja menikahi takdirnya, dan takdir itu dipersenjatai dengan kebencian mutlak.

Yu Ming tidak menunggu Wei Lu menjawab. Begitu kata-kata ancaman itu terlepas dari bibirnya, ia berbalik dengan gerakan jubah berkabung yang menyapu lantai marmer, meninggalkan Aula Singgasana. Kepergiannya adalah deklarasi publik kedua yang lebih keras daripada Mandat Kaisar: Ratu yang baru menolak suaminya.

Wei Lu berdiri tegak di tempatnya, menahan pandangan ratusan menteri yang kini tidak lagi melihatnya sebagai Perdana Menteri, melainkan sebagai kambing hitam yang terikat pada takhta. Dia bisa merasakan tatapan Pangeran De, yang kini tampak sedikit lebih cerah.

Meskipun pernikahan ini memblokir ambisinya untuk menjadi bupati, itu juga menjadikan Wei Lu sebagai target utama kemarahan Yu Ming, sebuah keuntungan strategis yang tak ternilai.

"Para Menteri," suara Kepala Kasim terdengar serak, berusaha memulihkan ketertiban.

"Mandat Yang Mulia telah dibacakan. Persiapan pernikahan akan segera dilaksanakan. Wei Lu, Anda akan diantar ke kediaman yang baru."

Kediaman baru. Wei Lu tahu itu bukan rumah, melainkan kandang emas di bawah pengawasan.

***

Tepat sebelum matahari terbenam—seperti yang dititahkan Kaisar—sebuah upacara pernikahan yang paling dingin dalam sejarah dinasti dilaksanakan. Itu dilakukan bukan di aula perayaan, melainkan di kuil kecil di dalam istana yang biasa digunakan untuk ritual berkabung mendiang permaisuri.

Tidak ada warna merah. Tidak ada musik yang meriah. Hanya jubah sutra biru tua yang dikenakan Wei Lu, kontras dengan jubah putih tebal yang dikenakan Yu Ming, yang membuatnya tampak seperti salju yang tak tersentuh. Pernikahan mereka dilindungi oleh ritual yang minimal, cukup untuk memenuhi persyaratan hukum dan spiritual Mandat.

Saat mereka berdiri di hadapan pendeta istana, Wei Lu bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari Yu Ming. Putri Mahkota itu berdiri diam seperti patung giok, matanya terpaku pada tanah. Ketika pendeta meminta mereka bertukar cangkir arak sebagai simbol ikatan, Yu Ming mengambil cangkirnya, membawanya ke bibir, dan hanya menyesap setetes kecil—sebuah penghinaan terselubung yang diperhatikan setiap pelayan dan pejabat yang hadir.

Ketika Wei Lu mengangkat cangkirnya dan meminum habis isinya, ia tidak hanya menelan arak, tetapi juga menelan rasa aib dan takdir yang baru.

Upacara itu berakhir dalam waktu kurang dari lima belas menit. Setelah pertukaran sumpah yang hanya diucapkan oleh Wei Lu—karena Yu Ming hanya menjawab dengan anggukan kaku yang nyaris tak terlihat—mereka dipandu menuju kediaman baru yang berdekatan dengan Istana Utama Ratu.

Jarak antara Wei Lu dan Yu Ming di sepanjang koridor menuju kediaman terasa seperti jurang tak berdasar.

"Yang Mulia Ratu," bisik Kepala Kasim dengan nada hormat yang bergetar.

"Ruangan Anda telah disiapkan. Dan untuk Perdana Menteri Wei, kamar Anda bersebelahan."

Yu Ming berhenti di depan pintu ukiran kayu cendana yang mewah. Dia berbalik menghadap Wei Lu, tatapannya kini tidak lagi hanya dingin, tetapi juga menusuk.

"Tabib Wei," katanya, suaranya pelan, tetapi setiap suku kata diucapkan dengan presisi yang mematikan.

"Kau dengar Kepala Kasim? Kita bersebelahan. Tapi jangan salah paham. Ini bukan kamar pernikahan. Ini adalah sel pengawasan."

Wei Lu menghela napas. Dia sudah menduganya. Secara politis, dia harus mencoba menegakkan batas minimum.

"Yang Mulia," jawab Wei Lu, menjaga suaranya tetap formal dan tenang,

"Aku menghormati kesedihanmu. Aku mengerti kebencianmu. Tapi kita sekarang adalah satu kesatuan di mata hukum dan negara. Stabilitas harus dipertahankan. Aku harus menjalankan tugas PM, dan kau sebagai Ratu. Kita perlu setidaknya menetapkan garis komunikasi politik yang jelas."

Yu Ming tertawa, bunyi yang kering dan tajam.

"Komunikasi politik? Kau pikir ini adalah Dewan Menteri, Tabib? Kau adalah suami yang dipaksakan padaku. Kau adalah pengingat harian atas kematian ayahku. Satu-satunya komunikasi yang akan ada di antara kita adalah melalui notulen dan dekrit resmi."

Dia melangkah ke ambang pintu kamarnya, tangannya memegang gagang pintu perunggu.

"Jika kau melangkah masuk," ancam Yu Ming, matanya menyipit,

"Aku akan menganggapnya sebagai invasi. Dan kau tahu apa yang terjadi pada penyusup di kamar Ratu. Kau mungkin Perdana Menteri, tapi di balik pintu ini, otoritasmu nol."

Wei Lu mundur selangkah, memberi ruang. Dia tidak ingin kekerasan atau konfrontasi fisik. Itu hanya akan memberi Pangeran De amunisi.

"Aku tidak akan memaksa masuk, Yang Mulia," kata Wei Lu. "Tapi ingat, Mandat ini bukan hanya untuk mengikatku. Ini untuk melindungimu. Jangan biarkan kebencian pribadimu merusak stabilitas yang Kaisar coba bangun."

Yu Ming membanting pintu di wajahnya. Suara dentuman itu menggema di lorong yang sunyi. Tak lama kemudian, terdengar bunyi kunci berputar, mengunci pintu dari dalam.

Wei Lu berdiri di sana, sendirian di lorong yang terlalu mewah, jubahnya terasa berat. Pernikahan ini, dalam hitungan jam, telah merenggut kebebasan dan harga dirinya.

Dia berbalik dan masuk ke kamarnya sendiri—sebuah ruangan besar yang terasa hampa. Dia tahu, selama Yu Ming menguncinya, ia akan mengunci Wei Lu dari dukungan resmi Ratu. Wei Lu kini adalah Perdana Menteri yang bekerja di bawah Ratu yang membencinya, target sempurna bagi musuh-musuhnya.

Ini adalah keretakan rumah tangga yang disaksikan seluruh istana. Yu Ming telah menegaskan kekuasaannya: dia adalah Putri Mahkota yang gigih, yang tidak akan pernah sujud pada pernikahan yang dicurigainya sebagai bagian dari konspirasi.

***

Wei Lu tidak menghabiskan malamnya di kamar tidur. Dia berganti pakaian formalnya dengan jubah yang lebih sederhana dan menuju ke kantor Perdana Menteri yang baru sebuah kantor yang baru ditinggalkan oleh menteri sebelumnya yang diasingkan. Bau tinta tua dan kertas baru mendominasi ruangan itu.

Meskipun lelah karena ketegangan hari itu, Wei Lu memaksa dirinya untuk meninjau beberapa dokumen mendesak. Ia perlu menunjukkan bahwa ia adalah seorang Perdana Menteri yang berfungsi, bukan hanya boneka yang sedang menunggu untuk dihukum mati oleh istrinya.

Saat ia duduk di belakang meja yang besar, membalik-balik dokumen anggaran yang rumit, pintu kantornya diketuk perlahan.

"Masuk," kata Wei Lu, suaranya tegas.

Pintu terbuka, dan Pangeran De melangkah masuk. Pangeran De tidak ditemani oleh ajudan, sebuah pelanggaran etiket yang disengaja. Dia mengenakan jubah sutra ungu gelap, auranya tenang dan penuh simpati yang palsu.

"Ah, Perdana Menteri Wei," kata Pangeran De, menutup pintu di belakangnya dan berjalan dengan langkah lambat. Dia membawa dua cangkir teh porselen yang mengepul.

"Aku tahu ini malam pertama yang sulit. Aku membawakan teh malam. Teh Chrysanthemum murni, untuk menenangkan saraf."

Wei Lu bangkit berdiri.

"Yang Mulia Pangeran, Anda tidak perlu repot-repot."

"Tentu saja aku perlu," Pangeran De tersenyum, senyum yang begitu hangat sehingga terasa dingin. Dia meletakkan cangkir teh di atas meja dan duduk di kursi tamu tanpa diundang.

"Duduklah, duduklah. Aku datang bukan sebagai paman Kaisar, melainkan sebagai... kolega."

Wei Lu duduk kembali, matanya mengamati Pangeran De. Pangeran De jelas tidak sedang mencari teh.

"Pernikahan yang menyakitkan," gumam Pangeran De, menghela napas.

"Sungguh kejam takdir Yang Mulia Kaisar. Mengikat Putriku yang tersayang, Yu Ming, dengan pria yang ia yakini... bertanggung jawab atas kematian ayahnya."

Wei Lu merasakan ketegangan di rahangnya. Pangeran De sengaja mengungkit tuduhan itu untuk melihat reaksinya.

"Saya menerima Mandat, Yang Mulia," jawab Wei Lu.

"Saya akan melayani Ratu dan negara."

"Tentu, tentu. Sikap yang mulia," Pangeran De mengangguk, menyesap tehnya.

"Tapi jujur saja, Wei Lu. Yu Ming itu keras kepala. Dia tidak akan pernah percaya padamu, apalagi setelah Mandat itu. Dia akan memburumu, menggunakan setiap alat di istana untuk mencari bukti."

Pangeran De mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah.

"Dan di situlah aku masuk. Aku tahu kau tidak bersalah. Aku tahu kau merawat Kaisar dengan segenap hatimu. Tapi faktanya, Wei Lu, ada keraguan di udara. Kami harus membersihkan udara ini, untukmu, dan untuk Yu Ming."

Wei Lu menatap mata Pangeran De. Tidak ada kesedihan, hanya perhitungan.

"Apa yang Anda sarankan, Yang Mulia?"

"Kita perlu menyelidiki kematian Kaisar secara menyeluruh. Aku sudah berbicara dengan beberapa menteri dan kepala tabib istana. Mereka sepakat, untuk meredakan amarah Yu Ming dan kecurigaan publik, kita perlu melakukan 'audit' total terhadap semua catatan medismu, semua resep, semua bahan baku yang digunakan dalam enam bulan terakhir."

Pangeran De mengulurkan tangan, menepuk meja Wei Lu dengan kehangatan yang menjijikkan.

"Aku bersedia menawarkan semua sumber dayaku untuk membantumu dalam investigasi ini. Aku akan bekerja sama denganmu, Perdana Menteri. Aku akan memastikan tidak ada yang tertinggal, sehingga kita dapat menemukan kebenaran. Dan jika kebenaran itu menunjukkan bahwa kau tidak bersalah, aku akan berdiri di sisimu."

Pangeran De menarik tangannya, senyumnya melebar. Itu adalah tawaran yang dirancang untuk menjebak. Jika Wei Lu menolak, itu akan terlihat seperti penyembunyian. Jika Wei Lu menerima, Pangeran De akan mendapatkan akses penuh ke semua catatan medis yang bisa ia manipulasi.

"Jadi, Tabib Wei," Pangeran De menunggu, matanya bersinar dengan kepuasan yang tersembunyi.

"Maukan kau menerima bantuan tulusku untuk membersihkan namamu dan mengungkap kebenaran di balik kematian Yang Mulia?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!