NovelToon NovelToon
BEHIND THE SPOTLIGHT

BEHIND THE SPOTLIGHT

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Romantis
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Aroma yang Tertinggal

Malam itu, Mansion keluarga Kim tidak sehangat biasanya. Meskipun lampu gantung kristal di ruang makan bersinar terang, suasana di atas meja makan terasa berat. Kim Aira duduk di kursinya, mengaduk-aduk pasta truffle buatan Kak Jin tanpa minat sedikit pun. Pikirannya masih tertinggal di atap sekolah, pada tangisannya yang pecah dan sapu tangan Sunoo yang kini ia sembunyikan di balik bantal tidurnya.

"Aira, suapan kelima belas dan kamu belum memasukkan satu helai pasta pun ke mulutmu," suara Yoongi memecah keheningan. Dia tidak menatap Aira, matanya tertuju pada gelas anggur non-alkoholnya, tapi nadanya penuh dengan ketegasan yang mengkhawatirkan.

Aira tersentak. "Eh? Ah... maaf, Kak. Aku hanya... tidak terlalu lapar."

Seokjin meletakkan garpunya dengan suara denting yang pelan tapi bermakna. "Tidak lapar? Ini pasta kesukaanmu. Biasanya kamu akan meminta tambah sebelum aku selesai mencuci piring. Apa ada masalah di sekolah? Apa anak-anak itu..."

"Tidak, Kak! Benar-benar tidak ada," potong Aira cepat, sedikit terlalu cepat hingga membuat Namjoon yang sedang membaca buku di ujung meja mengangkat kepalanya.

"Aira, kamu tahu kan kalau kamu tidak bisa berbohong pada kami?" Namjoon menutup bukunya. "Jungkook bilang saat menjemputmu tadi, matamu sembab. Dia pikir itu karena debu, tapi aku tahu bedanya mata yang terkena debu dan mata yang habis menangis selama satu jam."

Jungkook yang duduk di samping Aira langsung menoleh, wajahnya yang tadi ceria mendadak berubah gelap. "Siapa, Dek? Siapa yang bikin kamu nangis? Guanlin? Soobin? Atau... si rubah Sunoo itu?"

Aira meremas tangannya di bawah meja. Rasa bersalahnya semakin menumpuk. Dia ingin berteriak bahwa dia menangis karena tekanan identitasnya sebagai Miss KA, karena deadline yang membunuhnya, dan karena Sunoo mulai mengetahui rahasianya. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Aku hanya stres karena tugas matematika, Kak. Benar-benar hanya itu."

Jimin yang sejak tadi memperhatikannya, bangkit dari kursi dan berjalan mendekat. Dia berlutut di samping kursi Aira, menggenggam tangannya yang dingin. "Kalau hanya tugas matematika, Kak Namjoon bisa menyelesaikannya dalam lima menit. Tapi kalau ini soal hati... Kakak tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Aira. Termasuk orang-orang pilihan kami sekalipun."

Aira hanya bisa menunduk, air matanya hampir jatuh lagi. Ketulusan kakak-kakaknya adalah kekuatannya, tapi sekaligus penjara bagi rahasianya. Di sudut ruangan, Yoongi hanya menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tahu Aira menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar nilai matematika.

Keesokan paginya, Aira berangkat dengan perasaan waswas. Dia sengaja datang lebih pagi untuk menghindari kerumunan, namun takdir sepertinya sedang ingin bermain-main dengannya. Di gerbang sekolah, ia melihat Sunoo sedang berdiri bersandar pada pilar gerbang, seolah memang sedang menunggunya.

Aira mencoba lewat secepat mungkin, menundukkan kepalanya hingga kacamatanya nyaris jatuh. Namun, saat ia melintas, Sunoo tiba-tiba menarik pelan ranselnya, membuat Aira terhenti.

"Selamat pagi, Penulis Kecil. Bagaimana tidurmu? Apa cokelat dariku membantu?" Sunoo tersenyum manis, tapi matanya menatap tajam ke arah seragam Aira.

Aira tidak menjawab, ia mencoba menarik tasnya kembali. Namun, Sunoo justru mendekatkan wajahnya ke bahu Aira, menghirup udara di sana dengan sengaja. Aira membeku, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja.

"Menarik..." gumam Sunoo pelan. "Seragammu... baunya persis seperti aroma lilin aromaterapi edisi terbatas yang hanya dijual di private lounge peluncuran buku Miss KA semalam. Padahal acara itu sangat tertutup, hanya tamu VIP yang bisa masuk."

Wajah Aira memucat seketika. Sial! Dia lupa bahwa semalam, sebelum tidur, dia sempat menyalakan lilin aromaterapi pemberian penerbitnya untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Dia tidak menyangka indra penciuman Sunoo setajam itu.

"I-itu hanya parfum murah yang kubeli di minimarket, Kak Sunoo," sahut Aira dengan suara bergetar.

"Minimarket mana yang menjual aroma White Sandalwood dengan campuran Amber murni seperti itu? Beritahu aku, aku ingin membelinya untuk koleksi," goda Sunoo, menyeringai licik. "Identitasmu benar-benar bocor lewat hal-hal kecil, Aira. Kamu harus lebih berhati-hati jika tidak ingin Guanlin atau Soobin menyadarinya juga."

Aira menghentakkan tasnya dan berlari masuk ke dalam sekolah tanpa menoleh lagi. Di koridor, dia bertemu dengan Ryujin yang sudah menunggunya dengan wajah serius.

"Aira, gawat. Guanlin baru saja memerintahkan tim IT-nya untuk melacak lokasi IP saat Miss KA membalas email kemarin. Dia mulai curiga kalau Miss KA ada di sekitar Seoul, atau bahkan... di sekolah ini," bisik Ryujin sambil menarik Aira ke pojok tangga.

"Bagaimana bisa?" Aira panik.

"Sepertinya dia sadar ada pola waktu yang sama antara jam istirahat sekolah kita dan jam aktif Miss KA membalas pesan. Kita harus mengubah jadwalmu, Aira. Dan satu lagi... Geng Jennie tahu soal cokelat dari Sunoo. Mereka sedang menyiapkan 'kejutan' di lokermu sekarang."

Aira berjalan menuju lokernya dengan kaki yang terasa berat. Benar saja, di depan loker nomor 207, segerombolan siswa sudah berkumpul, berbisik-bisik dan tertawa kecil.

Begitu Aira sampai, matanya membelalak. Pintu lokernya sudah berlumuran cat merah segar yang masih menetes ke lantai. Di atas cat itu, tertulis kata-kata kasar, "Gadis Sampah", "Berhenti Menggoda Sunoo", dan "Penipu Miskin". Semua buku pelajaran dan draf kasar yang ia simpan di sana yang untungnya hanya draf diary palsu telah hancur terendam cairan merah itu.

"Oh, lihat! Si yatim piatu malang ini akhirnya mendapat 'hadiah' yang pantas," Jennie melangkah maju dari kerumunan, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Kenapa, Aira? Mau menangis lagi? Apa kamu pikir dengan bersikap menyedihkan, para pangeran akan terus kasihan padamu?"

Aira terdiam. Dia tidak menangis kali ini. Kemarahan yang dingin mulai merayap di hatinya. Dia membayangkan bagaimana jika dia membongkar identitasnya sekarang dan membuat Jennie berlutut memohon ampun. Namun, dia ingat janjinya pada abang-abangnya untuk tetap aman.

"Jennie, cukup," sebuah suara berat menginterupsi.

Lai Guanlin berjalan menembus kerumunan. Wajahnya yang biasanya tenang kini memancarkan kemarahan yang tertahan. Dia menatap loker yang rusak itu, lalu menatap Jennie dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

"Apa ini pekerjaanmu?" tanya Guanlin singkat.

"Guanlin-oppa, dia yang mulai! Dia mencoba menggoda Sunoo-oppa dengan menerima cokelat darinya!" bela Jennie dengan suara manja yang dipaksakan.

Guanlin tidak memedulikan ucapan Jennie. Dia melangkah mendekati Aira, mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, dan mulai menyeka cat merah yang mengenai ujung sepatu Aira. Seluruh koridor mendadak senyap. Pangeran terdingin di sekolah itu, yang bahkan tidak pernah melirik siswi mana pun, kini berlutut di depan "si cupu" Aira.

"Jangan menangis," ucap Guanlin pelan tanpa menatap Aira. "Siapa pun yang menyentuh barang-barangmu, mereka akan berurusan dengan perusahaan keluargaku."

Aira menatap punggung Guanlin dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi dia tersentuh, tapi di sisi lain dia tahu... perlindungan ini akan membuat kebencian Jennie semakin menjadi-jadi. Dan lebih buruk lagi, dari kejauhan, Sunoo hanya memperhatikan kejadian itu sambil memutar-mutar ponselnya, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan drama yang naskahnya sudah ia ketahui akhirnya.

Aira memejamkan mata. Dunianya semakin kacau. Deadline novel, ancaman Sunoo, dan kini perhatian dari Guanlin. Bagaimana dia bisa bertahan, di detik ini saja dia sudah merasa selemah ini?

Suasana di koridor Hanlim masih mencekam. Tindakan Lai Guanlin yang berlutut untuk membersihkan sepatu Aira telah menciptakan gelombang kejutan yang menyebar lebih cepat daripada rumor mana pun. Jennie berdiri mematung, wajahnya memerah karena malu dan amarah yang meledak-ledak. Ia baru saja dipermalukan oleh pria yang paling ia puja di depan gadis yang paling ia benci.

"Guanlin-oppa, kenapa kau membelanya?" suara Jennie bergetar, hampir menangis. "Dia hanya gadis biasa yang sengaja mencari perhatian!"

Guanlin berdiri, menatap Jennie dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan. "Dia siswi di sekolah ini, dan tidak ada yang berhak merusak barang miliknya. Jika aku melihat hal seperti ini lagi, aku akan memastikan donasi keluargaku ke sekolah ini ditarik kembali, dan kau... Jennie Kim, akan keluar dari sini hari itu juga."

Guanlin kemudian menoleh ke arah Aira yang masih mematung. Tanpa kata, ia meraih tas Aira yang berlumuran cat. "Ikut aku. Kau tidak bisa belajar dengan tas seperti ini."

Aira hanya bisa mengikuti langkah panjang Guanlin, kepalanya tertunduk sangat dalam. Namun, saat mereka baru berjalan beberapa langkah, Choi Soobin dan Lee Heeseung muncul dari arah berlawanan. Soobin langsung menghampiri Aira dengan wajah penuh kecemasan.

"Aira! Apa yang terjadi? Aku baru mendengar kabar dari anak-anak..." Soobin meraih bahu Aira, memeriksa apakah ada luka di tubuh gadis itu. Tangannya yang hangat membuat Aira sedikit tersentak. "Lokermu... benar-benar hancur? Siapa yang melakukannya?"

Heeseung, yang biasanya tenang, kini mengerutkan kening dalam. Matanya menatap cat merah yang masih menetes dari tas Aira. "Ini sudah keterlaluan. Aira, ikutlah ke ruang musikku. Di sana ada loker cadangan yang bisa kau gunakan. Kau tidak aman di koridor ini sendirian."

Aira merasa terjepit. Tiga pangeran kini mengelilinginya, memberikan perlindungan yang selama ini ia hindari. Ia merasa ribuan pasang mata menatapnya dengan kebencian yang baru. Di ujung koridor, Sunoo bersandar di dinding, memperhatikan pemandangan itu dengan senyum miring. Ia tahu, semakin para pangeran ini melindungi Aira, semakin cepat topeng "si cupu" itu akan retak.

Sore harinya, sesuai janji, Jungkook sudah menunggu di tempat biasa. Namun, kali ini ia tidak sendirian. Jimin ikut bersamanya, duduk di dalam mobil SUV hitam yang kacanya sangat gelap. Begitu Aira masuk ke dalam mobil, suasana ceria yang biasanya ada mendadak hilang.

Jungkook menatap adiknya melalui spion tengah. "Aira, kenapa bajumu ada noda merah? Dan di mana tasmu yang tadi pagi?"

Aira terdiam, bibirnya bergetar. "Tasnya... rusak, Kak. Terkena cat saat di sekolah. Tapi Kak Guanlin sudah membelikan yang baru..."

"Guanlin?" Suara Jimin terdengar tajam. "Jadi berita di komunitas sekolah itu benar? Bahwa lokermu dirusak dan Guanlin membelamu di depan semua orang?"

Mendengar nada bicara Jimin yang penuh selidik, emosi Aira yang sudah ia tahan sejak pagi akhirnya tumpah. Ia tiba-tiba menangis sesenggukan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Kelelahan karena harus berpura-pura, rasa takut akan rahasia Miss KA yang mulai dicium Sunoo, dan rasa bersalah pada kakak-kakaknya bercampur menjadi satu.

"Hiks... aku lelah... aku benci sekolah itu!" tangis Aira pecah.

Melihat adiknya menangis, Jungkook langsung menghentikan mobilnya di bahu jalan sepi. Ia pindah ke kursi belakang dan langsung menarik Aira ke dalam pelukannya. Jimin juga ikut merangkul adiknya dari sisi lain.

"Cup... cup... sayang, jangan menangis. Maafkan Kakak, Kakak tidak bermaksud menyudutkanmu," bisik Jimin sambil mengecup puncak kepala Aira dengan lembut.

"Kak... hiks... aku ingin pulang. Aku ingin tidur yang lama. Jangan biarkan siapapun masuk ke kamarku, tolong..." pinta Aira di sela tangisnya. Ia bersandar di dada Jungkook, merasa sangat manja dan kecil. Hanya di sini ia bisa menunjukkan betapa hancurnya perasaannya.

Jungkook mengeratkan pelukannya, matanya berkilat penuh kemarahan yang ia sembunyikan dari Aira. Siapa pun yang membuat adikku menangis seperti ini, aku pastikan mereka tidak akan punya masa depan di Seoul, batin Jungkook geram.

Setelah sampai di rumah dan ditenangkan oleh Seokjin dengan cokelat panas, Aira mengunci diri di kamar. Namun, tugasnya sebagai Miss KA tidak mengenal kata istirahat. Di atas mejanya, sebuah surat resmi dengan logo perusahaan Lai Guanlin tergeletak manis. Surat itu dikirim melalui kurir rahasia ke alamat PO BOX Miss KA dan baru saja diambil oleh Beomgyu.

Aira membukanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

"Kepada Miss KA yang terhormat,

Saya adalah Lai Guanlin. Saya telah membaca setiap baris kata yang Anda tulis, dan saya merasa bahwa jiwa kita terhubung melalui karya Anda. Saya memohon dengan sangat agar Anda bersedia bertemu. Ada sebuah karakter dalam naskah terbaru Anda yang sangat mengingatkan saya pada seseorang yang baru saja saya kenal di dunia nyata seseorang yang terlihat lemah tapi memiliki api di matanya. Saya ingin membahas ini lebih lanjut sebelum kita memulai produksi film."

Aira tertawa pahit, air matanya menetes mengenai kertas surat itu. Guanlin, orang yang kau maksud itu adalah aku. Gadis cupu yang sepatunya kau bersihkan tadi pagi, batinnya miris.

Ia harus membalas surat itu. Sebagai Miss KA, ia harus tetap profesional. Dengan hati yang berat, Aira mulai mengetik di laptopnya. Ia harus menulis surat penolakan dengan gaya bahasa yang elegan dan misterius, menolak pria yang baru saja melindunginya di sekolah.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Yoongi masuk membawa nampan berisi makan malam. Ia melihat Aira yang sedang menangis di depan laptop.

"Masih menulis?" tanya Yoongi pelan. Ia meletakkan makanan itu dan duduk di tepi tempat tidur.

"Iya, Kak. Hanya... menyelesaikan satu urusan," jawab Aira sambil menutup laptopnya cepat.

Yoongi menatap adiknya lama, lalu ia menarik Aira ke dalam pelukannya. "Aira, jangan memikul dunia sendirian. Kau masih punya tujuh kakak yang bisa meruntuhkan dunia untukmu. Ingat itu."

Aira memeluk Yoongi erat, menghirup aroma kopi yang selalu menempel pada kakaknya itu. Ia merasa sangat berdosa karena masih menyembunyikan identitasnya. Namun di saat yang sama, ia tahu... jika rahasia ini terbongkar sekarang, badai yang lebih besar akan datang.

[TO BE CONTINUED]

📢 DUARRR! Aira beneran hancur banget hari ini! 😭 Di sekolah dilindungi Pangeran, di rumah didekap Bangtan. Tapi rahasia Miss KA makin mencekik lehernya! Gimana kalau Guanlin tahu dia ngirim surat ke orang yang di bully?

👇 VOTE [LOVE] kalau kalian mau Aira segera jujur ke Kak Yoongi!

💬 KOMEN Menurut kalian\, siapa yang lebih tulus? [A] Guanlin si Es Kutub | [B] Soobin si Malaikat | [C] Sunoo si Rubah Misterius atau [D] Heesung si kaku?

🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Perjalanan makin seru dan penuh emosi! Jangan sampai terlewat!

⭐ RATE 5 STARS biar Aira dapet kekuatan buat bales dendam ke Jennie dkk!

BehindTheSpotlight #MangaToonOriginal #AiraMissKA #BTSProtective #Guanlin #Sunoo #DramaKorea #SecretIdentity

1
Ayu Nur Indah Kusumastuti
Syuka banget sama FL nya, manja2 gitu deh
Noirsz: pembaca setia nih, mode lock on 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!