Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Dan Harapan
Tiga minggu setelah peluncuran buku, kebahagiaan masih terasa di setiap sudut sekolah. Buku "Hati yang Bersama" laris manis di toko buku sekolah dan beberapa toko di kota, bahkan ada permintaan untuk cetakan kedua. Pukul 08.00 pagi, Lila sedang duduk di kelas, mengerjakan tugas matematika, ketika Rian datang dan duduk di sebelahnya.
"Kak Lila, tahu nggak? Buku kalian sudah dibaca oleh kepala daerah loh! Dia ngirim pesan ke sekolah, bilang cerita kalian sangat menginspirasi dan mau mengundang kalian ke acara hari anak nanti," ujar Rian dengan mata yang bersinar.
Lila terkejut dan tersenyum. "Benarkah? Itu luar biasa! Aku harus ceritain ke Siti dan Ayah Rama, Ibu Rara secepatnya."
Tepat saat itu, pelajaran selesai. Lila bergegas ke kelas Siti, yang sedang duduk dengan Dina di halaman. "Siti, Dina! Dengarkan ini—kepala daerah mau undang kita ke acara hari anak!"
Siti melompat-lompat kegembiraan. "Wah, kak! Aku senang banget! Bisa kan kita bawa Ayah Rama dan Ibu Rara juga?"
"Pasti bisa, dek . Mari kita cari mereka sekarang—mereka katanya mau datang ke sekolah hari ini," jawab Lila.
Mereka berjalan ke ruang guru, di mana Rama dan Rara sedang berbicara dengan Bu Rina. "Ayah, Bu! Kita punya berita bagus!" seru Siti sambil berlari ke pelukan Rara.
Setelah Lila menceritakan tentang undangan, Rama tersenyum lebar. "Itu prestasi besar! Kita pasti akan ikut bareng kalian. Nanti kita bikin persiapan bersama ya, agar acara itu berjalan lancar."
Selama berbicara, Pak Anton datang dengan selembar kertas. "Ini surat resmi dari kantor kepala daerah. Acara akan diadakan di aula sekolah kita juga, dua minggu lagi. Mereka mau kalian membaca cuplikan cerita dari buku dan berbagi pengalaman."
"Baik, Pak. Kita akan persiapkan yang terbaik," jawab Lila dengan keyakinan.
Hari-hari berikutnya, mereka semua sibuk mempersiapkan untuk acara hari anak. Di ruang klab sastra, Lila dan Siti menyusun naskah bacaan, sedangkan Dina membantu membuat spanduk baru dengan gambar karakter dari buku. Rian mempersiapkan video ringkasan tentang proses pembuatan buku yang dia rekam beberapa minggu lalu.
Saat hari sore, ketika mereka sedang beristirahat di lapangan, Rara melihat Lila yang tampak sedikit pusing. "Kamu lagi capek ya, nak? Jangan terlalu memaksakan diri. Acara masih dua minggu lagi, ada waktu banyak untuk persiapan."
Lila mengangguk. "Terima kasih, Bu. Cuma aku sedikit khawatir apakah cerita kita cukup bagus untuk dibaca di depan banyak orang, termasuk kepala daerah."
Rama mendekati dan menepuk bahu putri nya . "Jangan khawatir. Cerita kalian sudah menyentuh banyak hati—termasuk kita. Yang penting, kamu baca dengan hati, maka orang lain akan merasakannya juga."
Di hari yang sama, setelah pulang sekolah, Dina mengajak Lila dan Siti ke rumahnya. "Aku mau tunjukkan sesuatu," ujarnya sambil membuka lemari dan mengambil kotak kayu. Di dalamnya, ada buku catatan yang dipenuhi gambar dan tulisan.
"Ini apa, Dina?" tanya Siti.
"Ini cerita yang aku tulis selama ini. Sebenarnya aku juga suka menulis, tapi takut orang tidak suka. Tapi setelah melihat kalian, aku jadi berani untuk melanjutkannya," jawab Dina dengan malu.
Lila membaca beberapa halaman dan tersenyum. "Ini sangat bagus, Dina! Kamu harus lanjut menulisnya. Nanti kalo sudah selesai, kita bantu bikin buku juga ya, sama seperti kita."
Dina mata sedikit merah. "Terima kasih, yah Lila. Kamu benar-benar mengubah hidupku."
Hari demi hari berlalu, dan akhirnya tiba hari acara hari anak. Pukul 07.30 pagi, sekolah sudah dipenuhi murid, guru, orang tua, dan tamu undangan—termasuk kepala daerah dan stafnya. Panggung di aula sudah dihiasi dengan bunga kertas yang dibuat Siti dan Rara, serta spanduk yang dibuat Dina.
Pukul 09.00 pagi, acara dimulai. Pak Anton membuka acara, kemudian menyambut kepala daerah yang naik ke panggung. "Selamat pagi semuanya. Hari ini kita merayakan hari anak dengan tema 'Cinta dan Harapan'. Dan kita punya tamu spesial yang akan berbagi cerita yang menginspirasi—Lila dan Siti, penulis buku 'Hati yang Bersama'!"
Lila dan Siti naik ke panggung, disambut tepukan meriah. Siti memegang mikrofon, melihat ke arah Rama, Rara, Dina, dan Rian yang duduk di barisan depan. Lila membuka buku dan mulai membaca cuplikan cerita tentang hari pertama dia merawat Siti—saat Siti masih kecil dan takut semuanya.
Selama bacaan, suasana aula menjadi tenang. Banyak orang menangis karena tersentuh oleh cerita mereka. Setelah selesai membaca, Lila berkata: "Kita ingin berterima kasih pada semua yang telah mendukung kita. Dan khususnya pada Dina, yang sekarang juga mulai menulis cerita sendiri. Karena kita percaya, setiap orang punya cerita yang layak untuk didengar."
Kemudian, Rian menayangkan video yang dia buat. Video itu menampilkan momen persiapan buku, peluncuran, dan hari-hari mereka bersama di sekolah. Semua orang tertekan hatinya dan tepukan meriah menggema lagi.
Setelah itu, kepala daerah naik ke panggung. "Cerita Lila dan Siti membuktikan bahwa di tengah sekolah, kita tidak cuma belajar pelajaran buku—kita belajar untuk mencintai, mendukung, dan membangun harapan. Oleh karena itu, saya ingin memberikan penghargaan kepada keduanya dan teman-teman mereka yang telah membantu!"
Dia memberikan medali penghargaan kepada Lila, Siti, Dina, dan Rian. Rama dan Rara naik ke panggung untuk memeluk mereka, mata penuh kebahagiaan. "Kita bangga banget sama kalian semua," ujar Rara dengan suara sedikit gemetar.
Sore hari, acara berakhir. Mereka semua berdiri di halaman sekolah, melihat matahari yang terbenam. Siti memegang tangan Lila, Rama, dan Rara. "Kak Lila, aku senang banget hidupnya ada Ayah, Bu, dan kamu. Sekolah ini benar-benar tempat di mana cinta dan harapan tumbuh ya?"
Lila tersenyum. "Ya, dek . Dan ini cuma awal dari banyak cerita yang akan kita buat bersama."
Mereka semua tersenyum, menyadari bahwa di tengah sekolah yang biasa itu, mereka telah menemukan sesuatu yang tak ternilai—keluarga, persahabatan, cinta, dan harapan yang akan selalu menyertai mereka ke mana pun mereka pergi.