Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu, cahaya musim dingin menyelinap masuk melalui celah tirai rumah sakit. Galuh duduk bersandar di ranjang, perbannya sudah berkurang, wajahnya masih menyimpan sisa bengkak namun garis barunya mulai terlihat jelas.
Shankara Birawa masuk membawa sebuah map hitam tipis. Ia duduk di kursi di hadapannya, meletakkan map itu perlahan di atas meja. Ada jeda sunyi sebelum ia berbicara, seolah memberi waktu bagi takdir untuk menahan napas. "Mulai hari ini," ucap Shankara tenang, "Nama Galuh tidak lagi ada."
Ia membuka map itu. Di dalamnya tersusun rapi contoh dokumen-dokumen: paspor, identitas internasional, riwayat pendidikan baru ... semuanya bersih, dan tanpa celah.
Shankara mendorong map itu ke arah Galuh. "Nanti, setelah wajahmu benar-benar pulih ... semua dokumen ini akan kucetak dan nama yang tertera di semua dokumen ini bukan lagi Galuh Astamaya, melainkan ... Freya Bianca."
Galuh menatap tulisan itu lama. Jari-jarinya bergetar saat menyentuh contoh kartu identitas yang sudah ada nama tapi belum ada fotonya. Nama yang ada di contoh kartu identitas itu terasa asing di lidah, namun justru memberi jarak yang ia butuhkan dari rasa sakit masa lalunya. "Freya Bianca ..." gumamnya pelan.
"Freya Bianca lahir di luar negeri," lanjut Shankara. "Tanpa masa lalu yang bisa ditarik dan diselidiki oleh siapa pun. Tanpa hubungan dengan keluarga Buana. Tanpa luka yang bisa mereka lacak."
Freya mengangkat pandangannya.
Shankara menatapnya lurus, melanjutkan. "Galuh Astamaya mati di kecelakaan malam itu. Dunia percaya itu. Dan dunia tidak pernah salah ... jika kita menyiapkan ceritanya dengan sempurna."
Freya menelan ludah. Ada perih yang singgah singkat di dadanya ... bukan karena takut, melainkan karena perpisahan terakhir dengan dirinya yang lama. "Lalu, apa yang harus aku lakukan pertama-tama, Tuan?" tanyanya.
Shankara tersenyum tipis, senyum seorang sutradara dalam kehidupan nyata. "Belajar hidup sebagai Freya Bianca," jawabnya. "Cara bicara, cara berpikir, cara berjalan di ruangan penuh kekuasaan. Kamu akan belajar hukum, etika bisnis, membuang semua kebiasaan Galuh ... dan yang terpenting, mengendalikan emosimu. Jangan sampai dendam yang membara di hatimu, menghancurkan rencana besar kita untuk meluluhlantakkan keluarga Buana."
Freya menegakkan bahu. Pantulan wajah barunya di kaca jendela menunjukkan seseorang yang berbeda ... lebih tenang, lebih berbahaya. "Baik, Tuan. Lagipula, aku tidak ingin balas dendam yang berisik," katanya pelan. "Aku ingin keadilan yang tak bisa mereka hindari."
Shankara mengangguk puas. "Dan itulah mengapa Freya Bianca akan menjatuhkan keluarga Buana ... bukan dengan teriakan, bukan juga dengan gerakan kasar, tapi dengan otak, taktik, fakta, dan sedikit kelicikan." Seringai tipis menghiasi bibir sensual lelaki bertato itu.
Freya Bianca menatap kembali identitas barunya. Nama baru. Dan sebentar lagi wajah baru akan terpampang di dokumen-dokumen penting itu. Dan yang paling penting adalah ... kehidupan baru untuk dirinya.
Di detik itu, Galuh benar-benar telah mati. Dan Freya Bianca mulai hidup ... bukan sebagai korban, melainkan sebagai badai yang sedang dipersiapkan.
_____
Hari-hari di Korea berlalu dalam ritme yang sunyi dan disiplin. Wajah Freya masih dalam masa pemulihan ... bengkak yang perlahan surut, perban yang dilepas satu demi satu.
Setiap pagi, ia menjalani pemeriksaan. Setiap malam, ia kembali ke kamar yang sengaja dibuat sederhana, jauh dari gangguan dunia luar.
Di sanalah Shankara Birawa mulai membentuknya.
Ia datang membawa setumpuk buku dan beberapa tablet berisi dokumen digital. Semuanya diletakkan rapi di atas meja kecil dekat jendela.
"Kamu belum bisa bergerak ke luar," kata Shankara tenang. "Tapi pikiranmu sudah harus melangkah lebih jauh."
Freya memandang tumpukan itu. Sampul-sampul tebal dengan judul serius: hukum pidana, hukum tata negara, etika kekuasaan, kejahatan korporasi, hingga buku-buku tentang psikologi pelaku dan korban.
"Bacalah," lanjut Shankara. "Bukan untuk menghafal pasal. Tapi untuk memahami bagaimana hukum bisa melindungi ... dan bagaimana ia sering dipelintir oleh orang-orang seperti keluarga Buana."
Freya mengambil salah satu buku. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi matanya tajam. "Aku bukan sarjana hukum," katanya pelan.
"Memang bukan!" jawab Shankara. "Tapi kamu punya satu keunggulan."
"Apa keunggulanku, Tuan?"
"Kamu pernah berada di posisi yang dihancurkan hukum yang tidak bekerja."
Freya menunduk, lalu membuka halaman pertama. Suara kertas yang dibalik terdengar pelan, namun tegas ... seperti langkah awal menuju medan perang yang berbeda.
Hari demi hari, ia tenggelam dalam bacaan. Ia menandai kalimat, mencatat istilah, bertanya tanpa ragu. Kadang kepalanya berdenyut, kadang emosinya naik ... namun Shankara selalu mengingatkannya satu hal.
"Jika kamu ingin menjatuhkan mereka," ucapnya, "Jangan biarkan amarah memimpin. Biarkan pengetahuan yang memegang kendali."
Freya mengangguk. Di cermin, wajah barunya mulai terlihat lebih jelas ... belum sempurna, tapi cukup untuk mencerminkan perubahan di dalam dirinya.
Perempuan yang dulu hanya ingin bertahan hidup ... kini sedang belajar cara berdiri di ruang kekuasaan.
Dan setiap halaman yang ia baca, setiap konsep hukum yang ia pahami, adalah satu batu bata ... fondasi bagi runtuhnya keluarga Buana di masa depan.
Tak hanya hukum, Shankara Birawa memperluas medan belajar Freya. Ia datang membawa map baru ... lebih tipis, namun isinya jauh lebih menentukan. Ia meletakkannya berdampingan dengan buku-buku hukum yang sudah dipenuhi catatan tangan Freya. "Kita lanjut ke tahap berikutnya," ucapnya.
Freya mengangkat wajah. "Apa lagi yang harus kupelajari, Tuan?"
"Bisnis," jawab Shankara singkat. "Dan etika." Ia membuka map itu. Di dalamnya ada grafik, laporan keuangan, studi kasus perusahaan besar yang jatuh bukan karena miskin uang ... melainkan karena keserakahan dan kesalahan moral.
"Keluarga Buana tidak hanya kuat di politik," lanjut Shankara. "Mereka punya jejaring bisnis. Yayasan. Proyek. Donatur. Semua terlihat bersih di permukaan. Mereka bak malaikat di depan umum, tapi monster di belakang layar." Freya menyimak tanpa menyela.
"Kamu harus paham bagaimana uang bergerak, bagaimana citra dibangun, dan bagaimana satu keputusan kecil bisa menjatuhkan imperium," katanya. "Karena kelak, kamu tidak akan berteriak dari luar. Kamu akan duduk di meja yang sama dengan mereka. Menjadi rekan bisnis mereka."
Freya membuka salah satu dokumen. Matanya menyusuri angka-angka, lalu berhenti. "Dan etika?" tanyanya.
Shankara menatapnya lebih lama kali ini. "Itu yang akan membedakanmu dari mereka. Kamu harus menjadi wanita anggung, elegan, pintar, memikat dan ... berkelas."
Hari-hari berikutnya berubah. Selain membaca dan berdiskusi, Freya mulai menjalani latihan yang tak tertulis di buku mana pun. Diajari oleh tangan kanan Shankara Birawa, Nova namanya.
Nova mengajarkan cara berjalan dengan punggung tegak, tanpa tergesa.
Cara duduk dengan tenang, tanpa terlihat defensif.
Cara berbicara singkat, jelas, dan tidak meminta pengakuan.
Ia mengajarkan Freya bagaimana menjadi perempuan berkelas ... bukan dengan kemewahan berlebihan, melainkan dengan kontrol diri.
"Wanita anggun," ujar perempuan berumur tiga puluh tahun itu. "Tidak pernah meninggikan suara untuk didengar. Dunia yang akan mencondongkan telinga kepadanya."
Freya belajar memilih kata, menahan emosi di wajah, tersenyum tanpa membuka seluruh isi hatinya. Ia belajar bahwa keanggunan bukan kepura-puraan, melainkan strategi.
Malam itu, Shankara berdiri di ambang pintu kamar Freya, memperhatikan gadis itu yang sedang membaca laporan bisnis sambil mencatat. "Kamu berubah cepat, Freya," katanya.
Freya mengangkat kepala. "Karena aku tahu, Tuan, jika aku datang sebagai Galuh ... mereka akan menghancurkanku lagi."
Shankara mengangguk. "Sebagai Freya Bianca," ujarnya, "Kamu tidak akan datang sebagai korban. Kamu akan datang sebagai perempuan terdidik, berkelas, dan tak bisa diremehkan."
Freya menutup bukunya perlahan. Wajah barunya kini hampir sempurna ... dan yang lebih penting, pikirannya telah jauh melampaui rasa takutnya.
Di cermin, Freya Bianca menatap balik.
Tenang. Anggun. Berbahaya dengan caranya sendiri.
Dan saat waktunya tiba, keluarga Buana tidak akan jatuh oleh amarah ... melainkan oleh kesalahan mereka sendiri, yang dibaca dan dimanfaatkan oleh seorang wanita yang mereka tak pernah kenal.
"Lingga Buana ... tunggu lah pembalasanku," desis Freya menyeringai.