NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA BARU DIBALIK HIJAB

Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Aurel saat kelopak matanya perlahan terbuka. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden ruang perawatan VIP, menyilaukan pandangannya yang masih terasa sedikit berat. Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan ia menyadari ada jemari hangat yang menggenggamnya erat.

Adam duduk di kursi samping tempat tidur, kepalanya bersandar di tepian kasur, Ia tampak tertidur lelap dalam posisi yang pasti sangat tidak nyaman. Wajah suaminya itu terlihat letih, namun garis ketenangan tetap terpancar di sana.

Ingatan malam tadi menghantam Aurel seperti ombak besar. Pesta itu, minuman dari Denis, rasa panas yang membakar tubuhnya, dan... ketegasan Adam yang membawanya ke rumah sakit meski ia sendiri dalam keadaan meracau tak terkendali. Aurel ingat betul bagaimana ia memohon pada Adam di dalam mobil, dan ia ingat betapa kuatnya Adam menolak untuk menyentuhnya.

Setitik air mata jatuh di pipi Aurel. "Pria ini benar-benar menjagaku," batinnya haru.

Seolah merasakan pergerakan, Adam terbangun. Matanya yang merah karena kurang tidur langsung menatap Aurel dengan penuh perhatian. "Aurel? Kamu sudah sadar? Apa ada yang sakit?"

Aurel menggeleng pelan, suaranya masih serak. "Aku sudah lebih baik, Adam. Terima kasih. Terima kasih sudah menjagaku... dan harga diriku."

Adam tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu tulus hingga membuat dada Aurel berdesir. "Itu kewajibanku. Aku tidak akan pernah mengambil apa yang bukan hakku dengan cara yang salah."

Setelah pemeriksaan terakhir oleh dokter, Aurel dinyatakan boleh pulang. Ia merasa tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Namun, saat ia hendak bangun untuk bersiap, ia menyadari bahwa gaun pesta malam tadi sudah tidak layak pakai karena terkena keringat dan sedikit berantakan.

"Aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu," ucap Adam sambil mengeluarkan sebuah tas jinjing berwarna putih dari lemari kecil.

Di dalamnya, terdapat sebuah gamis atau long dress berwarna biru muda yang sangat cantik. Bahannya jatuh dengan anggun, warnanya menyejukkan mata. Aurel mengambil baju itu dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Saat ia melihat dirinya di cermin, warna biru itu membuat kulitnya tampak lebih bersinar, namun ia merasa ada yang kurang.

Saat ia keluar dari kamar mandi, Adam sudah berdiri menunggunya dengan sebuah kotak kecil di tangannya.

"Ada satu lagi," ucap Adam lembut.

Adam membuka kotak itu, dan di dalamnya terdapat selembar hijab segi empat dengan warna biru senada, berbahan sutra yang sangat halus. Aurel terpaku. Ia menatap Adam dengan pandangan bertanya.

"Aurel," Adam melangkah mendekat, jarak mereka hanya terpaut beberapa jengkal. "Malam tadi, Allah telah menyelamatkanmu dari kehinaan melalui cara-cara yang mungkin menyakitkan. Kejadian itu menyadarkan kita betapa rentannya seorang wanita di mata pria-pria yang hanya mengandalkan nafsu."

Adam dengan lembut membantu Aurel mengenakan hijab itu di kepalanya. Gerakannya begitu santun, persis seperti saat ia menyampirkan selendang putih di hari akad mereka. Dengan jemari yang lihai, Adam merapikan hijab itu hingga membungkus rambut dan leher Aurel dengan sempurna.

Sambil merapikan bagian depan hijab istrinya, Adam mulai melantunkan sebuah ayat suci dengan suara baritonnya yang sangat merdu dan penuh khidmat.

"Ya ayyuhan-nabiyyu qul li azwajika wa banatika wa nisa'il-mu'minina yudnina 'alaihinna min jalabibihinn. Zalika adna ay yu'rafana fala yu'zain. Wa kanallahu gafurar rahima."

Suara Adam bergetar lembut saat ia melanjutkan dengan mengartikan ayat tersebut untuk Aurel:

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59).

Aurel mematung. Kata-kata itu seolah menghujam tepat di ulu hatinya. Selama sepuluh tahun ia merasa bahwa kecantikan dan pakaian mewahnya adalah senjatanya untuk berkuasa di dunia bisnis. Namun, malam tadi ia belajar dengan cara yang pahit bahwa kecantikan itu justru bisa menjadi bumerang yang menghancurkannya jika tidak dilindungi.

Adam menatap mata Aurel yang kini berkaca-kaca. "Hijab ini bukan penjara, Aurel. Ini adalah pelindungmu. Ini adalah cara Tuhan menunjukkan betapa berharganya dirimu. Aku ingin dunia mengenalmu sebagai wanita yang terhormat, bukan sekadar objek pandangan."

Aurel tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu. Ia menyentuh kain biru yang kini menutupi kepalanya. Ada rasa damai yang luar biasa menjalar di hatinya—rasa damai yang bahkan lebih besar daripada saat ia pertama kali sholat subuh berjamaah dengan Adam.

Ia melihat pantulan dirinya di cermin. Ia tidak lagi melihat Adelia Aurellia sang CEO yang dingin dan arogan. Ia melihat seorang wanita yang tampak begitu anggun, bersahaja, dan bercahaya.

Penebusan dan Langkah Baru

Saat mereka berjalan keluar dari lobi rumah sakit, Firman Syaputra sudah menunggu di dalam mobil. Pria itu tampak sangat terpukul, namun saat melihat putrinya keluar dengan balutan hijab biru, matanya membelalak tak percaya.

"Aurel?" gumam Firman dengan suara bergetar.

Aurel menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. "Pa, Adam sudah menyadarkanku. Semuanya."

Firman menangis di bahu putrinya. Ia kemudian menoleh pada Adam. "Adam, hari ini aku akan membawa semua bukti yang kita punya ke kantor polisi pusat. Denis dan ayahnya tidak akan pernah lepas dari hukum. Dan besok pagi, aku sendiri yang akan mengundang media untuk memulihkan nama baik ayahmu, Bramasta, secara resmi di depan seluruh negeri."

Adam mengangguk, ia menyalami tangan mertuanya. "Terima kasih, Pa. Ayah pasti tenang di sana mengetahui kebenaran sudah terungkap."

Sepanjang perjalanan pulang, Aurel tampak diam, sesekali Ia melirik suaminya. Ia menyadari bahwa pernikahan yang awalnya ia anggap sebagai pelarian nekat, ternyata adalah skenario terbaik yang Tuhan tuliskan untuknya. Ia kehilangan harga diri di depan Denis, namun ia menemukan martabat sejatinya melalui Adam.

"Adam," bisik Aurel di dalam mobil.

"Ya?"

"Bimbing aku terus, ya? Aku masih butuh banyak belajar untuk pantas mengenakan warna biru ini," ucap Aurel sambil merujuk pada hijabnya.

Adam tersenyum, kali ini ia memberanikan diri mencium punggung tangan istrinya dengan lembut. "Kita akan belajar bersama, Istriku. Perjalanan kita baru saja dimulai."

Pipi Aurel kembar merona, setiap kali Adam menyebut kata Istriku. Bahkan jantungnya ikut berdegup kencang. Ia juga merasa sedih saat teringat pada surat kontrak pernikahan mereka.

Malam itu, berita tentang penangkapan Denis Subandi dan pembersihan nama Bramasta menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi. Namun, bagi Aurel, berita terbesarnya adalah ia telah menemukan kembali Tuhannya, dan ia menemukan jati dirinya yang baru.

1
sry rahayu
🥹
sry rahayu
kasian Arumi
sry rahayu
😄
sry rahayu
syukurlah
sry rahayu
good luck adam
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wah nih mulut belom pernah makan sambel setan level neraka ya..... enak sekali ngomong nya
sry rahayu
selalu nunggu up nya thor
Trie Vanny
Selalu hadir untuk mendukung karya kakakku ini👍👍👍🤭
Ramanda.: Terimakasih Adikku 😍😍. Aku selalu padamu muachh.😘😘
total 1 replies
sry rahayu
semangat 💪
Irni Yusnita
semua cerita yg kau buat selalu bagus dan menarik 👍 lanjut Thor 👍
Wandi Fajar Ekoprasetyo
Weh singkat sekali langsung terkuak kasus yg udh lama.......Hem..... kira² ada balas dendam apa lagi nih dr keluarga Denis
Wandi Fajar Ekoprasetyo
semangat kak othor.....d tunggu up nya
Wandi Fajar Ekoprasetyo
mulai goyah pertahan Aurel
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wajah tenang penuh dendam
Ai Sri Kurniatu Kurnia
hadir
Lia siti marlia
hadir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!