NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENANGGUNG SEMUANYA

Farid kini duduk di ruang tengah bersama ibunya dan juga Vina yang sudah berganti pakaian lengkap.

Wajahnya masih tampak canggung sejak kejadian barusan—insiden tanpa sengaja Farid yang melihat Vina keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk.

Bu Neni yang tak luput menangkap gelagat aneh dari anaknya, melirik sekilas ke arah Farid. Ia tahu pasti ada yang tak beres. Sorot mata Farid, sesekali mencuri pandang ke arah Vina dan raut mukanya yang seperti menyimpan sesuatu.

“Ibu tebak, kamu ke sini malam-malam pasti habis kelahi lagi sama istri kamu, kan?” Tuding Bu Neni langsung dengan membuka obrolan.

Farid menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Ia tak langsung menjawab, malah mengalihkan pembicaraan.

“Ibu tadi dari mana? Kenapa waktu aku masuk rumah, pintu tertutup tapi yang ada cuma Vina?”

Alis Bu Neni terangkat, nada bicaranya masih datar. “Tadi Ibu ke rumah Bu Jannah, cuma sebentar. Vina numpang mandi di sini, air di rumahnya lagi mati dari tadi sore.”

Farid mengangguk pelan. Meski dalam hatinya masih ada sisa kecanggungan, ia mencoba tampak biasa saja.

Namun Bu Neni belum selesai. Ia kembali menatap tajam putranya. “Kamu belum jawab, Farid. Kamu sama Maira kelahi lagi, ya?”

Desahan kasar lolos dari bibir Farid. Ia bersandar ke sofa, lalu akhirnya menjawab,“Iya, Bu. Maira nggak mau bantu uang masuk Risky yang 50 juta.”

“Apa?!” Suara Bu Neni meninggi, membuat Vina ikut menoleh. Sorot mata Bu Neni langsung berubah penuh amarah. “Kenapa dia nggak mau bantu? Itu kan uang kamu juga, Farid! Suami-istri itu ya semuanya udah jadi milik bersama, harusnya saling bantu. Kenapa istrimu jadi pelit gini sekarang?!”

Nada suaranya makin naik. Ia sama sekali tak peduli ada Vina di sana, seolah semakin senang meluapkan amarahnya di depan orang lain.

“Sama adik ipar aja nggak mau bantu! Memangnya Risky siapa? Masih adik kamu sendiri, darah daging kamu! Masak nggak bisa bantu demi masa depannya!”

Farid hanya diam. Ia tahu jika sudah begini, ibunya tak akan mudah tenang. Tapi dalam hatinya, ada perasaan bersalah yang tak bisa ia bantah. Ia tahu, semua ini bermula dari ia yang membantu diam-diam keluarganya dan juga orang lain tanpa bicara dulu pada Maira.

“Makanya aku ke sini, Bu…” Ucap Farid dengan suara sedikit pelan, seolah sedang menyusun strategi.

Ia menatap ibunya yang duduk di sebelah, lalu melanjutkan, “Ibu kan tahu, kalau aku lagi marah atau ngambek, Maira pasti nyusul ke rumah ini. Dia pasti datang, nyoba bujuk aku biar pulang.”

Bu Neni menoleh cepat, menatap anak lelakinya dengan sorot penasaran. “Terus?”

Senyuman tipis tersungging dari wajah Farid, penuh rencana. “Besok… aku mau sok jual mahal, Bu. Biar dia kira aku benar-benar kecewa. Biar dia yang luluh. Kalau dia udah merasa bersalah, baru aku bicarakan lagi soal uang itu.”

Mata Bu Neni seketika berbinar. Mulutnya terbuka sedikit karena terkejut, lalu tertutup kembali seiring senyumnya yang perlahan mengembang. Ia menepuk paha Farid ringan.

“Bagus… jadi laki-laki emang harua banyak akal, jangan malah kamu yang di akalin dia. Mainin emosi istrimu sendiri.” Tawanya pelan namun terdengar puas.

Farid ikut tersenyum simpul.

Sementara itu, Vina yang diam-diam mendengar percakapan mereka, tersenyum miring. Ia tak ikut bicara, tapi jelas menikmati setiap retak kecil dalam rumah tangga Farid dan Maira.

Setelah beberapa hari mendekam di penjara, Bayu akhirnya bisa bernapas lega. Ia merebahkan diri di sofa ruang tamu, menyelonjorkan kakinya sambil memejamkan mata sejenak, menikmati udara bebas yang selama ini hanya ia impikan.

“Ah… enaknya udara bebas." Gumamnya puas. Ia menoleh ke arah istrinya, lalu tersenyum tipis. “Makasih ya, Sayang karena kamu udah nebus aku…”

Namun belum sempat Dini menjawab, suara tegas Bu Susi memotong. “Kamu bisa bebas karena perhiasan Ibu dijual!” Tegasnya sambil menatap Bayu dengan sorot tajam. “Nanti kalau kamu udah kerja, kamu harus ganti semua itu! Jangan pura-pura lupa!”

Bayu hanya bisa mengangguk kecil. Ia tahu tak ada gunanya membantah ibu mertuanya itu saat ini. Dini yang duduk di sebelahnya ikut menoleh. “Udah, Bu…” Ucapnya, mencoba meredam suasana. “Nanti juga Ibu pasti dapat gantinya, kan? Asal kita jalanin rencana itu…”

Bu Susi mendengus, tapi tak menjawab. Tatapannya mengisyaratkan bahwa ia belum sepenuhnya rela dengan semuanya.

Tak lama kemudian, suara pintu kamar terbuka dan Danu muncul dari balik pintu dengan wajah kusut dan rambut masih acak-acakan. Ia menguap kecil sebelum pandangannya menyapu ke ruang depan.

“Mbak!” Panggilnya cepat. “Motor aku kemana? Tadi aku mau keluar, kok motor udah nggak ada?”

Semua orang di ruang tamu terdiam sesaat. Dini menoleh perlahan. “Ah… itu…” Ucapnya pelan, lalu menunduk sebentar. “Motor kamu Mbak jual… buat nebus Mas Bayu.”

“Apa?!” Danu membentak, nadanya meninggi. “Mbak kok tega sih?! Itu satu-satunya motor aku! Kalau Mbak jual terus aku keluar pakai apa?! Aku nggak mau tahu, motor itu harus balik sekarang juga!”

Bayu yang baru saja merasa tenang, tiba-tiba merasa jantungnya berdegup keras kembali. Wajahnya yang awalnya tenang langsung berubah masam. Ia bangkit dari sofa, berdiri dan menatap Danu dengan mata melotot.

“Diam, kamu!” Hardiknya lantang. “Masih untung kamu bisa tinggal di rumah ini, makan gratis, tidur gratis, nggak keluar uang sepeser pun! Sekarang kamu merengek motor? Motor itu dijual demi aku, ngerti?!”

Danu tetap tak terima, rahangnya mengeras. “Tapi itu motor aku! Kenapa dijual diam-diam? Aku juga masih butuh kendaraan buat kerja!”

“KERJA?” Bayu tertawa sinis. “Kamu kerja dari mana? Tidur dari pagi sampai sore! Keluar kamar cuma buat makan. Jangan sok-sok an bicara soal kerja kalau nyatanya kamu nggak ngasih apa pun untuk rumah ini!”

Danu terdiam sejenak. Wajahnya merah padam. Namun sorot matanya tetap menolak untuk mengalah. Ia membuka mulut, tapi tak sempat bersuara, karena Bayu melanjutkan dengan suara lebih keras.

"Kamu tuh enak tinggal di rumah ini, nggak bayar listrik, nggak beli beras, cuma karena motor itu di jula lalu dipermasalahin!"

Tangan Danu mengepal. Tatapannya kemudian beralih, menatap ibunya, berharap ada dukungan. Tapi justru yang bersuara adalah Pak Bowo yang dari tadi duduk santai di sudut ruangan sambil menghisap rokoknya.

“Yasudah jangan ribut lagi… nanti beli motor baru lagi kan bisa." Ucap Pak Bowo menengahi dengan santai, lalu menyemburkan asap rokok ke samping.

Mata Bu Susi sontak melirik tajam ke arah suaminya. Rahangnya mengeras. “Hah?”

“Bener, Pak?” Tanya Danu penuh harap.

Pak Bowo mengangguk pelan, masih tanpa melepaskan pandangan dari layar TV. “Iya… nanti ibu kamu yang beliin.”

DEG.

Mata Bu Susi membelalak, ia langsung menoleh tajam ke suaminya yang tak sadar telah melempar beban berat ke pundaknya.

“Oke bener ya, Bu!” Seru Danu sambil tersenyum senang. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung masuk kembali ke kamarnya dengan langkah ringan.

Begitu pintu kamar tertutup, Bu Susi langsung menghadap Pak Bowo dengan wajah penuh protes. “Pak! Uang dari mana mau beliin motor baru buat Danu?

Pak Bowo mengangkat bahu, menjawab ringan, “Ya kan ibu dapat jatah bulanan dari Maira. Ya udah, tinggal kredit aja. Nggak usah yang mahal-mahal.”

“Pak!” Suara Bu Susi meninggi, tapi buru-buru ia tahan agar tak meledak.

Wajahnya langsung memerah, rahangnya mengeras. Emosinya kini bercampur antara jengkel dan bingung—seolah semua urusan soal keuangan, dilemparkan sepenuhnya ke pundaknya.

“Enak sekali Bapak bicaranya! Semuanya Ibu yang nanggung!.” Desisnya pelan tapi tajam.

Pak Bowo tetap santai, tak merasa bersalah sedikit pun. Sementara Bu Susi merasa dadanya makin sesak, apalagi melihat sekarang suaminya dengan seenaknya menjanjikan motor baru untuk Danu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!