NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Pencarian Jalan

#

Arkan duduk di dalam mobil. Di parkiran apartemen sempit yang dia sewa—apartemen dua kamar yang nggak ada apa-apanya dibanding kamar dia dulu di rumah keluarga.

Tangan dia masih gemetar. Baju masih basah. Napas masih ngos-ngosan.

Tapi yang paling sakit bukan badannya.

Yang paling sakit itu... hatinya.

"Kenapa... kenapa aku nggak bisa bilang iya? Kenapa aku... kenapa aku masih ragu?"

Dia pukul setir. Keras. Berulang kali.

BRAK! BRAK! BRAK!

"SIAL!"

Dia bersandar di jok mobil. Nutup muka pake kedua tangan. Napas dalam. Dalam banget.

"Yesus... tolonglah... tunjukkan jalanku... aku... aku bingung..."

Tapi di hatinya... ada pertanyaan yang terus berputar.

"Apa... apa Yesus benar-benar Tuhan? Atau... atau Dia cuma nabi?"

Pertanyaan yang nggak pernah dia pikirin sebelumnya. Pertanyaan yang... yang sekarang jadi beban paling berat di pikirannya.

Dia ambil telepon genggam. Scroll kontak. Berhenti di satu nama.

**Papa**

Jari dia di atas tombol panggil. Ragu. Tapi... tapi akhirnya dia tekan.

Nada dering. Satu kali. Dua kali.

"Halo? Arkan?"

Suara Papa. Suara yang udah lama nggak dia denger. Suara yang... yang bikin dadanya aneh.

"Papa... ini aku... Arkan..."

"Nak... kamu gimana? Kamu baik-baik aja?"

"Aku... aku baik, Pa. Aku cuma... aku mau tanya... apa... apa aku bisa pulang? Sebentar aja. Aku... aku butuh ngomong sama Papa. Sama... sama Mama."

Hening sebentar.

"...Mama masih marah, nak. Tapi... tapi Papa kangen sama kamu. Kamu boleh pulang. Kapan?"

"Besok. Besok pagi. Boleh, Pa?"

"Boleh. Papa tunggu."

"Makasih, Pa."

KLIK.

Arkan tutup telepon genggam. Napas lega. Dikit.

"Semoga... semoga Papa bisa bantu..."

---

Besok paginya, Arkan nyetir ke rumah keluarganya. Rumah yang udah sebulan lebih nggak dia kunjungi. Rumah yang... yang dulu jadi tempat paling nyaman tapi sekarang jadi tempat yang dia takutin.

Dia parkir mobil di halaman. Turun. Jalan pelan ke pintu utama.

Pintu kebuka sebelum dia ketuk.

Papa. Berdiri di sana pake kemeja putih rapi, celana kain hitam. Wajahnya... capek. Tapi mata dia berbinar liat Arkan.

"Nak... akhirnya kamu pulang..."

"Papa..." Arkan peluk Papa. Erat. "Maaf... maaf lama nggak pulang..."

"Nggak apa-apa. Yang penting kamu sehat." Papa lepas pelukan. "Masuk. Mama di ruang tamu."

Arkan masuk. Langkah kaki dia berat. Jantung berdebar.

Di ruang tamu—ruang tamu yang luas dengan sofa kulit putih, lukisan mahal, lampu kristal—Mama duduk di sofa tengah. Pake dress hitam elegan. Rambut di-sanggul rapi. Wajahnya... dingin. Kayak patung es yang nggak punya perasaan.

"Mama..."

Mama nggak jawab. Cuma natap Arkan. Tajam.

"Arkan, duduk dulu." Papa nunjuk sofa seberang.

Arkan duduk. Jarak tiga meter dari Mama.

Hening.

Cuma suara jam dinding yang berdetik. TIK TOK TIK TOK.

"...Mama, aku... aku mau ngomong."

"Ngomong apa?" Suara Mama dingin. "Kamu mau bilang kamu masih sama dia? Wanita muslim itu?"

"Namanya Zahra, Ma. Dan... dan iya. Aku masih... aku masih cinta sama dia."

Mama ketawa sinis. "Cinta. Kamu pikir cinta itu cukup buat hidup?"

"Bukan cuma cinta, Ma. Aku... aku beneran sayang sama dia. Dia... dia orang yang baik. Dia berjuang sendirian buat hidup. Dia... dia nggak kayak cewek-cewek yang Mama kenal. Dia tulus."

"Tulus?" Mama berdiri. "Arkan, kamu tau nggak... wanita kayak dia itu bahaya? Dia... dia bisa aja pura-pura baik buat dapetin uang kamu. Buat... buat dapetin posisi kamu. Dan kamu... kamu terlalu bodoh buat ngeliat itu!"

"Dia nggak kayak gitu!" Arkan ikut berdiri. "Zahra nggak pernah minta apa-apa dari aku! Dia bahkan... dia bahkan nolak uang aku berkali-kali! Dia... dia nggak peduli sama uang!"

"Kalau dia nggak peduli sama uang, kenapa dia masih deket sama kamu?!" Mama jalan deket. "Arkan, dengerin Mama. Wanita kayak dia... wanita miskin yang nggak punya apa-apa... mereka itu licik. Mereka tau gimana caranya bikin cowok jatuh cinta. Dan kamu... kamu jatuh ke perangkapnya!"

"Mama... Mama salah..." Arkan napas berat. "Zahra bukan kayak gitu. Dia... dia bahkan sekarang menjauh dari aku. Dia bilang... dia bilang kita nggak bisa bersama kalau aku nggak masuk Islam. Dan itu... itu bukan perangkap. Itu... itu keyakinannya."

Mama diam. Natap Arkan lama.

"...jadi kamu... kamu mau masuk Islam? Buat dia?"

"Aku... aku nggak tau, Ma. Aku bingung. Aku... aku masih percaya sama Yesus. Tapi... tapi aku juga mulai ngerti Islam. Dan aku... aku nggak tau apa yang bener."

PLAK!

Mama tampar Arkan. Keras. Pipi Arkan merah.

"MAMA!" Papa berdiri. "Kamu kelewatan!"

"Papa diem!" Mama natap Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Kamu... kamu mau ninggalin Yesus? Kamu mau... mau sembahyang ke Allah? Kamu mau jadi murtad?!"

"Aku nggak bilang aku mau murtad! Aku cuma... aku cuma bingung!"

"Bingung apanya?!" Mama teriak. "Kamu dari kecil Mama didik jadi Kristen yang baik! Kamu ke gereja tiap Minggu! Kamu baca Alkitab! Kamu percaya Yesus Tuhan! Dan sekarang... sekarang gara-gara cewek muslim itu... kamu mau ninggalin semua itu?!"

"Aku nggak mau ninggalin! Aku cuma... aku cuma mau cari kebenaran!"

"Kebenaran udah ada di depan mata kamu! Yesus itu Jalan, Kebenaran, dan Hidup! Yohanes 14 ayat 6! Nggak ada kebenaran selain Dia!"

"Tapi Ma... kalau... kalau Islam juga benar gimana?"

Mama diam. Napasnya ngos-ngosan. Tangannya gemetar.

"...Arkan, dengerin Mama baik-baik. Kalau kamu terus sama wanita itu... kalau kamu terus mikirin masuk Islam... Mama... Mama akan cabut kamu dari daftar ahli waris. Mama akan... akan pastiin kamu nggak dapet apa-apa dari keluarga ini. Nggak sepeser pun."

"Angelina!" Papa berdiri. "Kamu nggak bisa kayak gitu!"

"Papa diem! Ini demi kebaikan dia!" Mama natap Arkan lagi. "Arkan, Mama kasih kamu pilihan. Kamu putus sama dia sekarang. Balik ke gereja. Balik ke Yesus. Atau... atau kamu kehilangan keluarga ini selamanya."

Arkan diam. Pipi masih merah bekas tamparan. Mata berkaca-kaca.

"...Mama... kenapa... kenapa Mama nggak bisa ngerti?"

"Mama ngerti! Mama ngerti kamu lagi tersesat! Dan Mama... Mama cuma mau nolongin kamu balik ke jalan yang bener!"

"Tapi Ma... gimana kalau jalan yang aku pilih... gimana kalau itu jalan yang bener buat aku?"

"Nggak ada jalan lain selain Yesus!" Mama teriak. "Kisah Para Rasul 4 ayat 12! 'Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan!' Kamu ngerti nggak artinya?!"

"Aku ngerti! Tapi Ma... aku juga baca... aku juga baca ayat-ayat dalam Quran yang... yang bilang hal yang sama tentang Allah..."

"ITU DUSTA!" Mama nangis. Untuk pertama kalinya. "Arkan... Arkan please... jangan... jangan tersesat... Mama nggak mau kehilangan kamu... Mama nggak mau... nggak mau kamu masuk neraka..."

"Ma..." Arkan juga nangis. "Aku nggak mau masuk neraka. Tapi... tapi aku juga nggak mau hidup dalam kebohongan. Aku... aku butuh cari kebenaran sendiri. Dan kalau... kalau ternyata Islam itu bener... aku... aku harus ikutin hati nurani aku."

Mama mundur. Duduk di sofa. Nangis diam-diam.

Papa duduk di sebelah Mama. Pegang bahunya.

"Arkan..." Papa natap Arkan sedih. "Papa ngerti kamu lagi bingung. Papa juga pernah ngerasain kebingungan yang sama dulu. Tapi... tapi Papa mau kamu tau... keputusan masuk agama lain... itu keputusan paling besar dalam hidup. Kamu... kamu nggak boleh ambil keputusan itu karena cinta. Kamu harus... harus bener-bener yakin."

"Papa... aku tau. Makanya... makanya aku disini. Aku... aku mau minta bantuan Papa. Bantuin aku... bantuin aku cari kebenaran."

"Kebenaran udah ada, nak. Kebenaran itu Yesus."

"Tapi Pa... gimana kalau... gimana kalau aku salah selama ini? Gimana kalau... gimana kalau yang aku percaya selama ini... bukan kebenaran?"

Papa diam lama. Lama banget.

"...nak, Papa nggak bisa jawab pertanyaan itu. Yang bisa jawab cuma kamu sendiri. Tapi... tapi Papa mau kamu inget satu hal. Apapun keputusan kamu... Papa tetep sayang sama kamu. Papa... Papa nggak bakal ninggalin kamu."

"Papa..." Arkan nangis lagi. "Makasih, Pa..."

Mama berdiri. Lap air mata.

"Aku nggak bisa kayak Papa. Aku... aku nggak bisa terima kalau kamu ninggalin Yesus." Dia jalan ke tangga. "Arkan, kamu punya waktu satu bulan. Satu bulan buat mikir. Kalau setelah satu bulan kamu masih sama wanita itu... kalau kamu masih mikirin masuk Islam... kamu... kamu bukan anak Mama lagi."

Dan Mama naik tangga. Masuk ke kamar. Tutup pintu.

BLAM.

Arkan jatuh duduk di sofa. Nangis dalam diam.

Papa duduk di sebelahnya. Peluk Arkan.

"Nak... Mama cuma takut kehilangan kamu. Dia... dia sayang sama kamu. Tapi... tapi dia nggak tau cara nunjukinnya."

"Papa... aku... aku nggak tau harus gimana..."

"Kamu berdoa, nak. Minta Tuhan tunjukin jalan. Baik Yesus atau Allah... Tuhan itu Maha Tahu. Dia... Dia pasti kasih jawaban."

Arkan peluk Papa erat. "Papa... aku takut... aku takut kehilangan keluarga... tapi aku juga takut... takut kehilangan Zahra..."

"Kamu nggak akan kehilangan Papa. Papa janji. Apapun keputusan kamu."

Dan mereka duduk disitu. Pelukan yang hangat di tengah badai yang dingin.

---

Sore itu, Arkan pulang ke apartemennya. Dia duduk di lantai kamar kosong. Di tengah apartemen yang gelap.

Dia buka Alkitab di tangan kanan. Quran di tangan kiri.

"Tuhan... siapa yang bener? Yesus... atau Muhammad? Alkitab... atau Quran? Aku... aku bingung..."

Dia baca Alkitab. Yohanes 14:6. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Terus dia baca Quran. Surat Ali Imran ayat 19. "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam."

Dua pernyataan yang... yang bertolak belakang.

"Kenapa... kenapa harus pilih? Kenapa... kenapa nggak bisa keduanya bener?"

Tapi dia tau... dia tau cuma bisa pilih satu.

Dan pilihan itu... pilihan itu bakal nentuin segalanya.

Hidupnya. Cintanya. Keluarganya. Dan... dan akhiratnya.

"Tuhan... tolong... tunjukkan jalanku..."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 18...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!