Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujatan Netizen
Pagi di mansion Eduardo yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan perang mental bagi Almira. Di tangannya, sebuah ponsel pintar bergetar tanpa henti. Layarnya menyala terang, menampilkan deretan notifikasi dari berbagai aplikasi media sosial yang biasanya hanya ia gunakan untuk melihat resep masakan atau perkembangan tumbuh kembang bayi. Namun hari ini, kolom komentar di akun gosip terbesar di tanah air telah berubah menjadi lautan racun yang menenggelamkan kewarasannya.
Sejak berita tentang "Skandal Waris" dan latar belakangnya sebagai mantan pelayan bocor ke publik, identitas Almira dikuliti tanpa sisa. Foto-foto lamanya saat masih bekerja di dapur, dengan wajah polos dan seragam pelayan yang sederhana, disandingkan dengan foto Nadia Mahendra yang glamor dan berpendidikan tinggi.
"Cantik sih, tapi sayang cuma modal tampang dan 'perut' buat naik kasta. Kasihan Alex, hartanya harus terancam gara-gara perempuan ambisius kayak gini," tulis salah satu akun dengan ribuan pengikut.
"Typical pelayan penggoda. Pura-pura lugu padahal targetnya saham triliunan. Nadia Mahendra jauh lebih berkelas dan pantas jadi Nyonya Eduardo," timpal netizen lainnya.
Setiap kata yang ia baca terasa seperti belati yang menyayat harga dirinya. Almira mencoba meletakkan ponselnya, namun jemarinya seolah terikat untuk terus menggulir layar. Ia ingin melihat apakah ada satu saja orang yang membelanya, namun yang ia temukan hanyalah cacian, teori konspirasi, dan hujatan yang menyebutnya sebagai " parasit".
Almira luruh ke lantai di sudut kamar bayi. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menekan ponselnya ke dadanya, seolah-olah getaran notifikasi itu adalah detak jantung yang sedang sekarat. Isakannya mulai pecah, memenuhi ruangan yang sunyi itu dengan suara keputusasaan yang murni.
"Aku bukan parasit..." bisik Almira di sela tangisnya. "Aku merawatnya saat dia lumpuh... aku mencintainya saat dia tidak punya siapa-siapa..."
Namun suara-suara di internet itu lebih nyaring daripada kebenaran di hatinya. Mereka tidak melihat malam-malam tanpa tidur saat ia memijat kaki Alex yang kaku. Mereka tidak melihat bagaimana ia menahan tangis saat Alex menghinanya dulu. Dunia hanya melihat seorang pelayan miskin yang tiba-tiba berenang di atas tumpukan uang Eduardo, dan mereka membencinya karena itu.
"Nyonya? Anda di dalam?" suara pelayan senior, Bi Inah, terdengar dari balik pintu.
Almira segera menghapus air matanya dengan kasar, mencoba menormalkan napasnya yang tersengal. "I-iya, Bi. Ada apa?"
"Tuan Alex menelepon dari kantor. Beliau bilang akan pulang lebih awal untuk mengajak Nyonya makan siang di luar. Beliau ingin Nyonya bersiap-siap."
Almira menatap cermin besar di kamarnya. Wajahnya sembab, matanya merah, dan ada aura kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Bagaimana bisa ia pergi ke luar? Bagaimana jika orang-orang di restoran mengenalinya dan mulai berbisik-bisik seperti yang dilakukan netizen di kolom komentar? Rasanya seluruh Jakarta kini menjadi tempat yang tidak aman baginya.
Satu jam kemudian, Alex pulang. Langkahnya terdengar lebih mantap, menunjukkan perkembangan fisiknya yang luar biasa. Ia masuk ke kamar dengan senyum tipis, namun senyum itu langsung luntur saat melihat Almira masih duduk di tepi ranjang dengan pakaian yang sama, matanya yang sembab tak bisa lagi ditutupi oleh bedak tipis.
"Almira? Kenapa belum siap? Dan... kau menangis?" Alex menghampirinya, berlutut di depan istrinya dan memegang kedua tangannya yang dingin.
Almira tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan ponselnya yang masih menyala ke tangan Alex.
Alex membaca beberapa baris komentar pertama, dan seketika itu juga, rahangnya mengeras. Matanya berkilat penuh kemarahan yang bisa menghanguskan siapa saja. Ia melempar ponsel itu ke atas kasur dengan kasar.
"Berhenti membaca komen sampah begini, Almira!" bentak Alex pelan namun penuh tekanan. "Mereka orang-orang pengecut yang bersembunyi di balik akun anonim. Pendapat mereka tidak ada artinya!"
"Tapi mereka benar, Alex!" Almira meledak, air matanya kembali tumpah. "Di mata dunia, aku ini sampah. Aku wanita yang tidak tahu diri yang menghancurkan masa depanmu. Kamu dengar apa kata mereka? Kamu bisa kehilangan segalanya karena aku. Mereka bilang aku hanya memanfaatkanmu!"
"Siapa yang peduli dengan apa yang mereka bilang?!" Alex mengguncang bahu Almira. "Aku yang menjalani hidup ini, bukan mereka! Aku yang tahu siapa yang ada di sampingku saat aku tidak bisa berdiri!"
"Tapi aku peduli, Alex! Aku punya harga diri!" Almira berdiri, menjauh dari jangkauan Alex. "Setiap kali aku melangkah keluar, aku merasa semua orang menatapku dengan jijik. Aku merasa seperti pencuri di rumahku sendiri. Nadia... dia menang, Alex. Dia berhasil membuatku merasa kecil dan tidak pantas."
Di tengah perdebatan emosional itu, Rendy masuk membawa kabar bahwa Nadia Mahendra telah menunggu di ruang tamu bawah. Alex ingin mengusirnya, namun Almira, dengan sisa-sisa keberaniannya, meminta Alex untuk membiarkan Nadia masuk. Ia ingin menghadapi sumber rasa sakitnya secara langsung.
Nadia masuk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia meletakkan tablet di atas meja, yang menampilkan grafik tren pencarian nama Almira di internet yang meroket tajam dengan sentimen negatif yang luar biasa.
"Lihat ini, Almira," ucap Nadia dengan nada bicara yang seolah-olah penuh simpati namun sebenarnya sangat merendahkan. "Publik sudah menghakimimu. Kau adalah beban bagi citra Eduardo Group. Sejak berita ini naik, nilai valuasi perusahaan turun dua triliun rupiah. Kau bukan hanya mengancam warisan Alex, kau menghancurkan mata pencaharian ribuan karyawan."
Almira hanya terdiam, jari-jarinya saling meremas di balik punggungnya.
"Aku punya penawaran," lanjut Nadia, menatap Alex lalu kembali ke Almira. "Tinggalkan Alex. Pergilah ke luar negeri, bawa semua uang yang kau inginkan, tapi tinggalkan Adrian di sini agar dia bisa dibesarkan sebagai pewaris yang sah tanpa bayang-bayang 'skandal' ibunya. Jika kau melakukannya, aku akan membersihkan namamu dan memulihkan nilai saham Eduardo. Jika tidak... Alex akan jatuh miskin dalam waktu sebulan, dan kau akan selamanya dikenal sebagai wanita yang menghancurkan dinasti ini."
"Keluar, Nadia!" teriak Alex, ia berdiri dengan bantuan tongkatnya, menunjuk pintu keluar.
Nadia tersenyum tipis, menatap Almira untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Pikirkan baik-baik, Almira. Cinta tidak akan bisa memberi makan ribuan orang yang akan kehilangan pekerjaan karena kehadiranmu di sisi Alex."
Setelah Nadia pergi, keheningan di mansion itu terasa begitu mematikan. Alex mencoba mendekati Almira, namun Almira mundur. Pikirannya buntu. Ucapan Nadia dan komentar-komentar netizen tadi berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Parasit. Beban. Penghancur.
Almira berlari menuju kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Ia duduk di bawah pancuran air dingin yang menyala, membiarkan pakaiannya basah kuyup. Ia menangis sejadi-jadinya, suara tangisannya bersaing dengan suara air yang jatuh.
Di luar pintu, Alex menggedor-gedor dengan putus asa. "Almira! Buka pintunya! Kita akan lalui ini bersama! Al!"
Namun di dalam sana, Almira merasa benar-benar hancur. Ia mencintai Alex, ia mencintai Adrian, namun ia mulai meragukan apakah keberadaannya di rumah ini adalah sebuah berkah atau justru kutukan bagi pria yang ia cintai. Air mata Almira terus mengalir, menyatu dengan air dingin yang membasahi tubuhnya, sementara di luar sana, dunia maya terus berpesta di atas luka jiwanya yang kini sedang berada di titik nadir.