"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Harapan di Atas Kertas Kado
Mansion Edward kembali ke ritme lamanya yang sunyi dan mekanis. Setelah kepulangan Achell dari apartemen Jake, Victor benar-benar kembali menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh. Pria itu tenggelam dalam tumpukan dokumen di ruang kerjanya, seolah-olah Achell hanyalah pajangan lain di rumah besar tersebut. Victor tidak datang ke kamar Achell untuk menanyakan kabarnya, tidak pula mengajak makan malam bersama. Ia hanya membiarkan gadis itu terkurung dalam kesunyian kamarnya sendiri.
Achell duduk meringkuk di atas sofa beludru di dekat jendela kamarnya. Sejak pagi, ia hanya menatap layar ponselnya tanpa minat. Sesekali ia menggulir beranda media sosial, namun pikirannya melayang jauh. Ia merasa seperti hantu yang menghuni rumah ini—ada, namun tak terlihat.
"Apa aku benar-benar tidak ada artinya bagimu, Uncle?" bisiknya pada pantulan dirinya di jendela yang mulai berembun karena udara London yang mendingin.
Tiba-tiba, mata cokelatnya terpaku pada angka digital di sudut kanan atas ponselnya. 12 Januari. Jantung Achell berdegup kencang secara spontan. Ia baru menyadari bahwa dua hari lagi adalah hari ulang tahun Victor yang ke-26.
Seketika, rasa sedih dan kecewa yang sejak kemarin mengepung hatinya perlahan memudar, digantikan oleh percikan semangat yang naif. Sisi "bodoh" Achell kembali bangkit. Ia segera berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan jemari yang saling bertautan.
"Ulang tahun," gumamnya dengan binar mata yang kembali muncul. "Mungkin ini kesempatanku. Mungkin jika aku memberikan sesuatu yang tulus, Uncle Victor akan menyadari bahwa aku bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menjadi beban. Mungkin dia akan membuka hatinya sedikit saja."
Harapan itu tumbuh dengan liarnya, menutupi kenyataan pahit tentang insiden kalung kemarin. Achell mulai merencanakan sebuah kejutan kecil. Ia tahu Victor membenci keramaian dan pesta yang dangkal, jadi ia memutuskan untuk membuat sesuatu yang lebih personal.
Ia memutuskan untuk membuatkan kue kesukaan Victor—Dark Chocolate Sacher Torte—dan memberikan sebuah hadiah yang sangat bermakna. Achell teringat Victor pernah bercerita tentang sebuah pena vintage keluaran tahun 1950-an yang sangat langka, yang dulu pernah dimiliki oleh kakek Victor namun hilang saat pindah rumah.
Achell segera menghubungi kolektor barang antik melalui ponselnya. Ia rela menguras seluruh uang tabungan yang ia kumpulkan dari pemberian orang tuanya selama bertahun-tahun demi mendapatkan pena tersebut.
"Dua hari lagi," bisik Achell sambil mengepalkan tangannya. "Aku harus memastikan semuanya sempurna."
Esok harinya, Achell menyelinap ke dapur saat Victor sudah berangkat ke kantor. Ia meminta Bibi Martha untuk tidak memberitahu Victor tentang aktivitasnya. Dengan gaun katun yang kini berlumuran tepung, Achell bekerja keras di dapur. Ia mencoba membuat kue itu berkali-kali sampai tekstur cokelatnya benar-benar pas. Tangannya sempat teriris pisau saat memotong cokelat batangan, namun ia hanya meringis kecil dan menutupinya dengan plester. Baginya, rasa sakit di jarinya tidak sebanding dengan kemungkinan melihat senyum Victor nanti.
"Nona Achell, Anda sungguh gigih," puji Bibi Martha sambil membantu merapikan sisa bahan kue. "Tuan Victor pasti akan sangat menghargai ini."
Achell tersenyum malu-malu. "Aku hanya ingin dia tahu kalau aku selalu mengingatnya, Bi."
Malam sebelum hari ulang tahun itu tiba, Achell hampir tidak bisa tidur. Ia sudah menyiapkan kado tersebut, dibungkus dengan kertas kado berwarna biru tua—warna favorit Victor—dan diikat dengan pita satin perak yang elegan. Di sampingnya, kue cokelat yang mengkilap sudah siap di dalam lemari es.
Achell kembali menatap foto Victor yang ia simpan di ponselnya. Foto yang ia ambil secara diam-diam saat Victor sedang membaca buku di taman musim panas lalu. Pria itu tampak begitu tenang, begitu maskulin, dan begitu jauh.
"Besok, Uncle. Besok aku akan membuktikan padamu bahwa aku mencintaimu lebih dari siapa pun di dunia ini," ucap Achell sebelum akhirnya memejamkan mata.
Ia sangat berharap, di usianya yang baru, Victor akan menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan lagi sebagai "gadis kecil berbau susu", melainkan sebagai wanita yang pantas berdiri di sampingnya. Sayangnya, Achell terlalu buta oleh cintanya sendiri hingga ia tidak menyadari bahwa semakin tinggi ia membangun harapan, semakin sakit pula saat harapan itu nantinya dijatuhkan dari puncak tertinggi.