Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Puas Kamu, Farris?
...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...
Susah banget buat fokus memasak, sementara Braun duduk di meja dapur, mengawasiku. Tiap kali aku mulai agak tenang, Braun selalu melakukan sesuatu yang membuatku takut lagi.
Aku belum pernah bertemu orang seperti dia … monster yang sama sekali enggak punya sisi manusia.
Waktu aku lagi mikir begitu, aku dengar pintu lift terbuka, dan sesaat kemudian, seorang cowok tampan dengan rambut cokelat muda dan mata cokelat, masuk ke dapur.
Begitu matanya jatuh ke aku, dia berhenti, masukkan tangan ke saku, dan cuma menatapku.
Pandanganku bolak-balik antara dia dan Braun, lalu Braun bergumam, “Senyum dong, bajingan. Akhirnya aku bakal makan menu yang sehat.”
Sekali lagi mata aku bergeser ke mereka, setiap otot di tubuhku siaga penuh sambil menggenggam pisau erat-erat.
“Iya, tapi bukan itu maksud aku,” kata cowok itu, memindahkan perhatiannya dari aku ke Braun. “Kamu benaran bawa dia ke penthouse?”
“Jangan sok kaget, Farris. Aku udah bilang,” jawab Braun.
Farris menghela napas lalu mendekat ke aku. Mataku langsung membelalak dan jantungku berdebar kencang, tapi ternyata dia cuma lewat di sampingku, buka kulkas, dan ambil sekaleng soda.
Dia bersandar di meja sambil buka kaleng itu, dan setelah menyesap, dia bilang, “Aku harap kamu masak cukup buat tiga orang. Aku pingin banget coba masakannya.”
“Dia lah ... yang megang pisaunya.” Mata Braun tertuju ke arahku. "Mending Kamu tanya dia langsung."
Farris menjauh dari meja, pandangannya turun ke pisau di tanganku sebelum akhirnya bertemu mataku.
“Hai, cantik. Aku Farris Delaney, orang sial yang harus nyebut Braun sebagai temenku.”
Dia mengeluarkan tangannya, menungguku buat menjabat, tapi aku cuma menatap dia tanpa bergerak.
Kalau dia temannya Braun, aku anggap dia sama bahayanya.
“Farris itu salah satu kepala Marunda,” kata Braun ke aku.
Dugaan aku benar.
Genggamanku ke pisau makin erat, karena diawasi oleh dua bos mafia kejam, jelas saja membuat rasa takutku dobel.
Bibir Farris melengkung membentuk senyum hangat, ada nada bercanda.
“Tenang, cantik. Aku yang paling santai di sini.”
“Berhenti manggil dia cantik,” dengus Braun tiba-tiba.
Farris tertawa, lalu berpaling dan duduk di meja dapur. Matanya ke Braun, ekspresinya nakal tapi masih kelihatan ramah.
“Hmmm … posesif?” godanya.
Aku menahan napas, kecemasanku makin naik melihat interaksi mereka.
“Go to hell aja, sana!” geram Braun, lalu menatapku tajam.
Mengancam.
“Seharusnya kamu lanjutin masak.”
Mataku turun ke dada ayam yang lagi aku iris tipis buat salad Honey Chicken Mustard Dressing.
“Kamu bakal bikin cewek itu mati kena serangan jantung, sebelum dia mati karena gagal ginjal.” sela Farris pelan.
“Emang apa alasan kamu datang ke sini?” balas Braun dengan marah.
Ya Tuhan.
Jangan ganggu binatang buas saat dia lagi ingin mencabik kepalaku.
Tanganku gemetar, terus memotong ayam. Tanpa sadar, aku merasa perih, saat tajamnya pisau menyayat jariku.
“Aduh,” kejutku sebelum sempat menahan diri, lalu buru-buru ke wastafel.
“Lihat tuh apa yang kamu lakuin,” gumam Farris.
Saat aku dengar dia mendekat, jantungku makin kencang, napasku jadi pendek-pendek dan panas.
Farris mengulurkan tangannya ke lenganku, tapi langsung berhenti saat Braun menggeram, “Kalau kamu sentuh dia, kita bakal punya masalah.”
“Kalau gitu mending kamu beresin potongan rambutmu,” balas Farris. “Atau aku bakal pergi. Dia enggak boleh terkena infeksi. Itu bakal bahayain transplantasinya.”
Udara langsung menegang. Aku memejam, menunggu bomnya meledak.
“Kamu lagi nguji kesabaran aku?" gumam Braun.
Aku dengar kursinya bergeser di lantai, lalu sedetik kemudian lenganku ditarik dan aku disingkirkan. Aku hampir jatuh karena gerakannya mendadak, mataku membelalak.
Braun menyeretku ke lantai atas, langkahnya jauh lebih panjang dari langkahku.
Di tengah semua ketegangan dan ketakutan itu, air mata sudah panas di mataku, hampir jatuh, tapi aku tahan ... ingat kata-katanya kalau dia bakal bikin Papaku bayar setiap air mata yang aku keluarkan.
Waktu dia menyeretku ke ruangan yang aku yakin kamarnya, aku hampir terkena serangan panik.
Kalau kamar aku dihias abu-abu muda dan krem, kamar Braun itu hitam pekat. Sama seperti hatinya.
Aku diseret ke kamar mandinya, yang ukurannya dua kali lipat kamar tidur aku, dan aku berhenti mendadak di dekat meja wastafel.
Aroma parfum kayu khas dia jauh lebih kuat di kamar mandi, membuatku makin sadar betapa berkuasanya dia saat dia mencelupkan tanganku ke bawah aliran air.
Darahku masih mengalir waktu Braun ambil kotak P3K dari lemari dan membukanya.
Dia pegang tanganku, mengeringkan lukanya, lalu membersihkannya pakai tisu antiseptik.
Mataku malah fokus ke jari-jarinya saat dia mengeluarkan plester dari bungkusnya.
Aku panik sadar kalau dia punya tangan yang … menarik.
Jelas itu bukan sesuatu yang seharusnya aku pikirin sekarang.
Dia membalut ujung jariku, lalu matanya naik ke wajahku. Perutku rasanya seperti dipukul saat dia menatapku dari jarak sedekat itu.
“Tenangin napasmu!” perintahnya.
Baru saat itu aku sadar kalau aku hampir kehabisan napas.
Pandanganku kabur karena tekanan yang enggak tertahan, dan aku susah banget buat menenangkan diri.
Dia mendesah kesal, lalu jari-jarinya melingkar di leherku dan aku ditarik ke dadanya.
Perlakuan itu membuatku terkejut. Dan bukannya menenangkan, malah bikin semuanya makin kacau. Aku enggak boleh menangis. Dia bakal menyakiti Papa.
Mataku perih, tubuhku gemetar karena menahan air mata mati-matian.
Waktu ibu jarinya menyentuh kulitku, merinding langsung menyebar ke seluruh tubuh.
Aku mencoba menjauh, tapi itu cuma membuatnya melingkarkan lengan satunya di punggungku, menghimpitku ke dadanya. Mulutnya mendekat ke telingaku.
“Tenangin napasmu, Quinn,” bisiknya.
Aku terengah-engah, memejam sekuat tenaga, memaksa diri untuk tenang supaya dia melepaskanku.
Ini sama sekali enggak meyakinkan.
Aku malah pingin dia meninggalkanku.
Ya Tuhan, andai aku enggak pernah mejalani transplantasi itu.
Aku lebih milih mati daripada hidup tiap hari disiksa seperti ini.
“Shh .…” bisiknya di telingaku.
Merinding lagi.
Entah Bagaimana caranya, aku akhirnya bisa mengendalikan napasku lagi.
Waktu Braun kelihatan puas melihatku lebih tenang, dia menjauh. Tapi kemudian jari-jarinya menangkup daguku dan memaksa kepalaku mendongak untuk menatap dia.
Mata kami bertemu.
Enggak ada belas kasihan.
“Kamu sering kena serangan panik?”
"Enggak. Itu efek dari kamu aja, berengsek!" balasku dalam hati.
Aku menggeleng, melepas daguku dari genggamannya.
Dia mengangguk ke arah pintu. “Selesaiin masakannya. Habis itu kamu makan dan istirahat.”
Tanpa bicara apa pun, aku memutar badan dan berlari keluar dari kamar mandi. Aku enggak menengok kamarnya sama sekali, langsung ke koridor.
Saat sampai di puncak tangga, aku ingat kalau Farris masih ada di penthouse ini, dan aku enggak yakin aku mau sendirian sama dia.
Tiba-tiba Braun lewat di depanku, membuatku kaget lagi karena aku enggak dengar kapan dia datang.
Aku buru-buru mengikuti dia turun dan masuk ke dapur, tempat Farris lagi duduk sambil baca sesuatu di HPnya. Dia angkat kepala saat mendengar kami.
“Puas?” geram Braun ke dia.
Mata Farris turun ke perban di jariku sebelum dia senyum.
“Ya. Enggak terlalu susah, kan?”
“Diam,” gumam Braun. Nada brutalnya tadi entah ke mana. “Ayo ke ruang tamu. Aku enggak mau Quinn kehilangan jarinya.”
Saat mereka meninggalkan dapur, aku tarik napas dalam-dalam, memejam, dan menekan tanganku ke bekas operasi di perutku.
Ya Tuhan.
Bagaimana caranya aku bisa selamat dari mimpi buruk ini?